
Rey menyusuri kegelapan malam. Hatinya sangat begitu senang mendapatkan lato-lato terakhirnya. Ia nangkring didahan pohon, lalu menguyah lato-lato dan senjata yang juga bergantungan itu.
Setelah mengahbiskan tumbal terakhirnya, Ia akan melakukan ritual percobaan kepada salah satu wanita untuk membuktikan ketangkasannya.
Ia melesat menghilang mencari sosok wanita sebagai percobaannya sebelum nantinya dapat bersanding dengan Mirna sang pujaan hatinya.
Ia teringat akan Lela. Sudah sepuluh tahun tidak dikunjungi, pastinya Ia sudah semakin menua.
Kini Lela berumur 40 tahun, dan masih belum terlalu tua, dan Ia melihat Lela masih sibuk dengan dagangannya. Meskipun tidaklah seramai dulu, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Malam yang semakin, larut, dan pelanggannya perlahan pergi satu persatu. Lela masih menantikan kehadiran ki Genderuwo yang selalu membuatnya kecanduan diranjang, sudah sangat lama sekali Ia tidak dikunjungi, dan yang membuat heran, tidak ada satu priapun yang berniat menikahinya, karena aura Lela sangat suram dan tampak tidak bercahaya wajahnya sebab tertutup oleh aura kegelapan yang selama ini menutupi wajahnya.
Setelah menutup warungnya, Lela masuk kerumahnya dan mengunci pintu.
Rasa cintanya terhadap Ki genderuwo telah membuatnya menutup hati dan mata untuk pria manapun, dan Ia juga tidak berhasrat kepada yang namanya pria dari golongan manusia.
Rey menerobos masuk dan melihat Lela seperti sedang melamun.
Rey memanfaatkan fikiran kosong dari Lela untuk merasukinya. Lalu Rey menghampiri Lela yang kini sedang melamun diatas ranjang dengan tatapan kosong.
Melihat makhluk berbu-lu itu ada dihadapannya, tiba-tiba Lela tersentak. ras kerinduan pada Ki Genderuwo membuat Lela menganggap jika Rey yang ada dihadapannya adalha Ki Genderuwo.
Ia beranjak bangkit dari ranjangnya dan menghampiri Ki genderuwo "Ki.. Kemana saja, Kamu? Mengapa begitu lama tak mengunjungiku?" tanya Lela dengan hati yang sangat nelangsa.
Rasa kerinduannya begitu sangat dalam dan membuat Rey tersenyum sumringah.
Ia menyambut dekapan Lela yang tampak begitu kehausan akan hasratnya yang sudah lama terpendam.
"Maafkan aku yang sudah lama tak mengunjungimu, dan malam ini aku akan memu-askanmu dengan segala hasratmu yang terpendam" ucap Rey dengan segala rayuannya.
Lalu Rey menggiring Lela ke ranjang, dan mulai melakukan aksinya, membelai lembut Lela hingga membuat wanita itu terlena dan menuruti segala apa yang dilakukan oleh Rey.
Sementara itu, Baron yang kini berada diruang praktik bidan meratapi nasibnya yang sial karena harus kehilangan lato-latonya.
Tak berselang lama, kedua orangtuanya datang menjemputnya, mereka merasa sangat terkejut dengan apa yang menimpa puyera semata wayangnya. Bagaimana mungkin kelak puteranya akan hiduo tanpa senjata andalannya.
Bagi seorang pria, hidup tanpa senjata andalannya sangatlah mengenaskan. Namun kedua orangtuanya mencoba membesarkan hati puteranya. Mereka belum menyadari jika putera mereka kehilangan lato-lato itu karena perbuatan kejinya yangbyelah menodai Tasya.
Disisi lain, Rey sudah membuat Lela terkapar. Ia tidak menduga jika khasiat yang didapatkannya begitu dahsyat. Namu baru saja Ia mengagumi ketangkasannya, Ia mendapatkan tendangan yang sangat kuat dari arah depan hingga membuatnya terpental jauh sampai kedalam goa.
Bruuuuuuuk...
Braaaaaaak...
Tubuh Rey terbentur dinding goa lalu terlemapar di lantai.
"Aaaaaaarrrghh.."
Rey mengeluh kesakitan saat mendapati tubuhnya terluka.
lalu sosok tinggi besar dan berbu-lu lebat berwarna hitam itu menatapnya dengan marah dan bola mata memancar merah.
"Apa salahku, mengapa bapak menghajarku?!" ucap Rey dengan tatapan kesal.
"Kau bertanya apa? Mengapa kau menggauli wanitaku, dan kau bertanya apa?!" hardik Ki Genderuwo dengan sangat marah.
Rey berusaha beranjak bangkit meski dengan sempoyongan.
"Aku hanya ingin mencoba rudalku apakah benar berfungsi dengan baik sebelum aku mencobanya kepada Mirna!" jawab Rey dengan merasa tak bersalah.
"Tapi bukan Lela yang harus jadi barang percobaanmu! Bisa dengan siapa saj, semisalnya Yanti!!" ucap Ki Genderuwo.
Seketika Rey mengerutkan keningnya "Aku tak sudi dengan Yanti, sudah jelek penuh belatung pula!" jawab Rey dengan sengit.
Namun sesaat Nini Maru teringat akan Yanti. "Tinggu, kemana Yanti sebenarnya? Sudah beberapa hari tidak pulang ke goa semenjak pertengkarannya dengan Rey" ucap Nini Maru yang baru menyadari jika salah satu rekan mereka telah menghilang.
Seketika mereka saling pandang. Mereka tidak menyadari jika personil mereka telah berkurang satu.
Ki Kliwon mencoba memejamkan matanya dan menerawang dimana keberadaan Yanti saat ini.
Sesaat pandangan bathinnya tak dapat melihat dimana keberadaan Yanti saat ini.
Ki Kliwon membuka matanya "Siaaaal..!! Aku tidak dapat menerawang keberadaannya. Sepertinya ada sebuah cahaya keperkan yang menghalangi pandanganku!" ucap Ki Kliwon dengan nada kesal.
Lalu Nini Maru yang merasa penasaran mencoba memejamkan matanya dan ikut mencari keberadaan Yanti yang raib tak berjejak.
Nini Maru memfokuskan pencariannya, namun tak juga menemukan Yanti, sama halnya yang dirasakan oleh Ki Kliwon, sebuah dinding cahaya keperakan menghalangi pandangan mereka dan tak dapat menembus pencarian tentang keberadaan Yanti.
Nini Maru mencoba menyentuh dinding cahaya itu dan berusaha menerobos masuk, namun ternayta diluar diugaanya, Ia terpental karena cahaya itu bagaikan aliran listrik yang menyengatnya dengan daya ribuan Volt.
"Aaaaaarrggh.. Sial..!!" Maki Nini Maru yang merasakan sangat sakit disekujur tubuhnya.
Nini Maru mengerjapkan kedua matanya dan merasakan sakit yang luar biasa.
"Sepertinya ada yang menyembunyikan Yanti dan memiliki niat tertentu" ucap Nini Maru sembari meringis kesakitan.
Keempat iblis itu tidak tahu siapa yang menyembunyikannya. Sesaat mereka merasakan kehilangan Yanti, sebab bagaimanapun Yanti selalu menjadi alat yang dapat membantu mereka mendapatkan tumbal yang mereka inginkan.
Namun dengan tertutupnya pandangan mereka, membuat tidak ditemukannya jejak yang jelas.
"Kita harus relakan kepergian, Yanti. Dan kalian berdua, tolong jangan membuat masalah hanya karena seorang wanita bernama Lela tersebut. Jika kalian tidak dapat aku cegah nantinya, maka Aku terpaksa melenyapkan Lela!" ancam Nini Maru kepada kedianya.
Mendengar ancaman Nini Maru, akhiranya membuat Ki genderuiwo harus pasrah berbagi Lela dengan Rey.
Rey tersenyum sumringah. Setidaknya Ia dapat menikmati Lela kapan saja.
Sedangkan Ki genderuwo dengan terpaksa merelakan berbagi Lela
"Ingat..!! Kita sudah kehilangan Yanti dengan misterius, maka jangan sampai kita kehilangan satu personi lagi. Kita ini harus bersatu demi tujuan yang satu!" Nini Maru kembali mengingatkan para rekan iblisnya.
Lalu mereka kembali bertapa untuk menambah energi mereka.
Namun Rey sangat penasaran dengan wajahnya setelah memakan tumbalnya yang terakhirnya dengan menggunakan sebuah ceruk didalam goa yang biasa diapakai oleh Ki kliwon dengan sangat terkejut.
"Aaaaaaarregh.." Rey terpekik ketakutan dengan melihat hasil dari wajah dan tubuhnya setelah penyempurnaan tumbal yang baru Ia sempurnakan.