
Mbok Titin menatapa penuh amarah dan memasang wajah tak suka "Awas saja jika sampai kalian membocorkan rahasia saya, maka saha tidak segan-segan akan meneror kalian!!" ancam Mbok Titin dengan penuh amarah.
Angkasa dan Samudera saling pandang, lalu Mbok Titin beranjak pergi meninggalkan kantin dengan penuh amarah.
Samudera dan Angkasa menuju keluar dari kantin dan mengekori si Mbok dari belakang. Wanita berusia 50 tahun itu sepertinya menuju ke suatu tempat dan dan tentunya bukan pulang ke rumahnya.
Kedua boca itu menggunakan jaket hoidie dan menyungkup kepalanya dengannya menggunkan penutup kepala dari jacket tersebut.
Mbok Tutin memasuki sebuah persimpangan dan memasuki jalan tikus yang tampak penuh semak belukar disisi kanan dan kirinya.
"Dia mau kemana?" tanya Samudera penasaran.
"Kerumah seorang dukun. Tetapi ini sudah pukul 16.20, apakah kita tidak kemalaman jika mengikutinya? Sepertinya rumah dukun itu lumayan jauh.. Bisa kemalaman kita" ujar Angkasa.
"Tapi aku sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukannya" ucap Samudera yang rasa penasarannya semakin tinggi.
Setelah menempuh perjalann hampir satu jam, keduanya menghentikan motornya dari jarak jauh, lalu meletakkannya dibalik semak agar tidak ada yang melihatnya.
Mereka berjalan mengendap-endap dibalik semak. Hari semakin senja dan safak dilangit mulai merona jingga pertanda pergantian Ashar dan Maghrib akan segera tiba.
Seaat mereka melihat sebuah rumah panggung berdiri dengan tampak rapuh dan pencahayaan yang tampaknya terbuat dari pelita semakin menambah kesan seram pada rumah tersebut.
"Ini sudah mau maghrib, Kak.. Kita sebaiknya shalat dulu, cari tempat yang bersih" ujar Angkasa sembari mengamati sekitar hutan yang banyak dedaunan kering berjatuhan.
"Disitu saja. Kita tayyamum saja" Samudera menyarankan sembari berbisik.
Lalu Angkasa menganggukkan kepalanya dan mereka menuju tempat yang pantas untuk dijadikan tempat mereka shalat.
Tak ada terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Sebab rumah itu jauh dari keramaian dan terletak berkilo-kilo meter dari rumah penduduk.
Setelah memastikan waktu maghrib tiba, keduanya shalat berjamaah dan setelah menyelesaikannya, keduanya menatap sekitar semak yang hampir mirip hutan sudah menggelap.
Keduanya kemabki mengenakan sepatu sekolahnya dan tas ranselnya. Lalu mereka berjalan disuasana yang mulai meremang dan menuju kegelapan.
Mereka akhirnya tiba didekat rumah panggung tersebut, namun merasa kesulitan untuk mengintai.
Dari dalam rumah itu tercium aroma dupa dan kemenyan yang sedang dibakar. Mereka menuju sebuah dinding yang diyakini adalah kamar rahasia, sebab dari situlah aroma kemenyan dan dupa yang sedang dibakar.
Mereka mencari celah berlubang dari dinding kayu yang rapuh tersebut.
Lubang kecil sudah dapat dijadikan tempat untuk mengintai.
Seorang pria berpakaian serba hitam dan memegang sebilah keris sedang berkomat-kamit membacakan mantra pemanggilan iblis.
Namu samar-samar ada suara lain disebalik dinding yang tampak menyebut-nyebut nama seorang wanita yang tampaknya Ia begitu sangat merindukan wanita itu sehingga membuatnya defresi.
"Rina.. Rina Sayang.. Dimana kamu?" guman pria itu menyebut nama satu wanita yang tampaknya menghilang dari kehidupannya.
Sementara itu, Angkasa dan Samudera memilih fokus untuk melihat dan mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Mbok Titin dan dukun hitam tersebut.
"Ki Brewok.. Bagaimana ini? Jiwa anak saya yang saya gadaikan kin bertukar menjadi jiwa saya..? Bahkan ada dua bocah yang sudah kurang ajar ikut campur dengan urusan saya dan sepertinya mereka yang menculik anak saya" tutur Mbok Titin dengan nada penuh kecemasan, sebab Ia harus menanggung resiko dari pertukaran penggadaian jiwa tersebut.
"Penggadaian jiwanya sepertinya tidak dapat dilembalikan lagi, Mbok.. Mereka telah menguncinya jiwa anak kamu dan tidak dapat tertembus oleh pandangan saya" Jawab Ki Brewok dengan nafas tersengal karena sedari tadi tak dapat menembus pandangannya.
"Lalu bagaimana dengan dua bocah itu? Apakah mereka sangat berbahaya? Masih kecil sudah ikut campur urusan orang" Mbok Titin menggerutu dengan kesal.
Ki Brewok membolakan kedua matanya. Sorot matanya sangat tajam dan dengan tiba-tiba Ia melemparkan kerisnya ke arah dinding tempat dimana Samudera dan Angkasa mengintai.
"Breengsek.. Berani-beraninya mereka datang kemari mengekorimu, Mbok!" ucap Ki Brewok kesal.
"Maksudnya?" Mbok Titin bingung.
Ki Brewok beranjak bangkit dan mencabut kerisnya yang tertancap didinding kamarnha yang rapuh, lalu mendobrak jendela dan melompat keluar menemui dua bocah tersebut.
"Eh, Bocah..!! Ngapain kalian kemari? Besar juga nyali kalian??! Mau cari mati, ya?!" hardik Ki Brewok kesal.
Mbok Titin yang merasa penasaran ikut melongok dari jendela, dan dengan cahaya temaram rembulan ia terperangah melihat dua bocah itu sampai mengikutinya ke rumah Ki Brewok.
Samudera dan Angkasa bersiga saat melihat Ki Brewok membawa keris tersebut dengan tatapan marah.
"Kalian yang datang, itu tandanya kalian yang mencari mati!" ucap Ki Brewok dengan geram sembari melayangkan sabetan kerisnya ke arah Angkasa yang berada tak jauh dari tempatnya.
Angkasa menghindari sabetan tersebut dengan memundurkan tubuhnya kebelakang.
Lalu Samudera melayangkan tendangannya kearah tubuh Ki Brewok. Namun sayang, Ki Brewok membaca serangan itu, sehingga..
Kreeeess..
Ujung keris tersebut menggores pergelangan kaki kanan Samudera.
"Arrrrrrgggh.." erang Samudera menahan perih dan darah mengucur dari pergelangan kakinya.
Angkasa menyerang dengan tiba-tiba dan menendang punggung ki Brewok hingga membuat tubuh pria berusia 50 tahunan itu tersungkur ditanah berumput.
Mbok Titin hanya menjadi penonton dari jendela rumah tersebut.
Ki Brewok beranjak bangkit. Samudera dan Angkasa bersiaga Ki Brewok mengacungkan kerisnya menghadap langit kelam. Ia merafalkan mantra memanggil Sekutunya Nini Maru meminta bantuan untuk memusanahkan dua bocah yang dianggap usil tersebut.
Langit menggelap. Rembulan tertutup awan kelam dan tak ada cahaya terlihat.
Angin datang dengan sangat kencang dan bertiup seolah akan menerbangkan apa saja yang ada. Samudera dan Angkasa saling menggenggam tangan untuk saling melindungi dan keduanya menggenggam tasbih mereka sembari terus berdzikir dan memohon pertolongan kepada sang Rabb.
Tiba-tiba halilintar menampakkan kilatan cahayanya yang seolah siap menyambar apa saja. Suara petir menggelegar membelah langit kelam yang semakin menyeramkan.
Kedua bocah itu terus metafalkan doa yang dimunajadkan kepada Sang Rabb penguasa Alam semesta.
Duuuuuuaaar..!!
Suara ledakan petir sertai kilatan cahaya yang membakar ujung pohon kelapa hingga hangus dan patah.
Kraaaaaak...
Bummmm...
Suara patahan dari pohon kelapa yang kemudian terjatuh ke tanah dengan suara dentuman yang sangat dahsyat.
Sesaat hujan turun dan mengguyur tubh dua bocah serta Ki Brewok yang memanggila kedatangan Nini Maru.
Sesaat aroma kembang kenanga menyeruak disekitar tempat tersebut dan diiringi hujan lebat yang membuat mereka basah kuyup.
Lantunan doa terus mereka munajadkan saat melihat sosok Nini Maru menampakkan wujudnya dengan gaun merahnya yang basah terkena hujan .