MIRNA

MIRNA
episode 196



Para guru dan staf tercengang melihat suami sang bendahara yang tertidur nyenyak dan berbau alkohol.


Karena merasa kesal, bendahara tersebut menggetok kepala suaminya menggunakan kantong kresek yang berisikan uang tersebut.


Pria yang masih dalam kondisi mabuk itu hanya mengusap keningnya dan kembali tertidur.


Akhirnya para guru dan staf memanggil RT setempat dan meminta perkara mereka diselesaikan secara terbuka dan musyawara.


Setelah RT datang, maka bendahara berjanji diatas hitam putih dengan materai yang ditandatangani jika uang yang sudah dihamburkan oleh suaminya akan diganti secepatnya, dan uang tabungan yang tersisa akan dibagikan segera denang mendapatkan setengahnya dulu.


Setelah selesai, Para guru dan juga staf kembalj kesekolah. Mereka menghampiri Angkasa dan mengucapkan terimakasih atas penerawangan yang dilakukan oleh Angkasa.


Kini nama bocah itu sering disebut-sebut sebagai bocah indigo dan memiliki kemampuan yang tidak biasa dan membuat bocah itu terkadang merasa sedikit terganggu, namun jika itu suatu permasalahan yang pelik, maka Ia akan mencoba membantunya.


Hari menjelang sore. Satria sedang berada di kota beberapa hari ini karena mengurus perusahaan.


"Bu... Kami pergi mengaji ke Mushallah, Ya.." teriak keduanya kepada Mirna yang berada dikamarnya.


Mirna keluar dan menghampiri kedua puteranya.


"Iya.. Selesai mengaji balik kerumah dan jangan keluyuran ke mana-mana" ucap Mirna mengingatkan.


Keduanya mengangguk dengan cepat, dan menyalim tangan sang ibu, lalu bergegas keluar menaiki sepedanya.


Keduanya mengayuh sepeda dengan cepat, karena adzan maghrib sudah berkumandang.


Saat melintasi pohon rambutan tempat biasa kang ujang mangkal menjual bakso, Angkasa melihat sosok ceking berdiri memandanginya, bocah itu menghentikan kayuhan sepedanya dan membuat Samudera juga berhenti.


"Ada ap, Dik?" tanya Samudera penasaran.


Angkasa melirik dengan ujung matanya, menunjukkan sesuatu yang berada dibawah pohon rambutan tersebut yang kini sedang menatapnya dengan tatapan berbeda.


Sanudera membolakan matanya, dan bergidik melihat penampilan pria tua dengan tubuh ceking dan kuku panjang hingga melengkung berwarna hitam.


kulit keriput diwajahnya tampak menambah kengerian pada sosok ceking tersebut.


tubuh itu hanya bagaikan tulang yang berbalut dengan kulit saja. Manik mata sosok renta itu memancarkan cahaya berwarna merah dan semakin menambah kengerian yang sangat begitu kuat.


"Sudahlah.. Ayo kita ke mushallah.. itu bukan manusia" ucap Samudera kepada Angkasa.


Lalu keduanya kembali mengayuh sepedanya dan menuju mushallalh untuk shalat berjamaah.


Seperti biasanya mereka akan belajar mengaji dan shalat isya berjamaah, lalu pulang kembali ke rumah masing-masing.


Samudera dan juga Angkasa kembali mengayuh sepedanya dan akan segera pulang ke rumah.


Tampaknya Kang Ujang tidak berjualan malam ini, sebab tidak ada gerobaknya mangkal dibawah pohon rambutan yang tumbuh dipinggir jalan tersebut.


Suasana sepi dan sunyi karena hujan turun dengan rintik-rintik, sehingga membuat suasana malam semakin dingin dan warga merasa malas untuk keluar dari rumah.


Sesaat kedua bocah itu terhenti mengayuhkan sepedanya, karena sosok pria ceking yang mereka lihat saat magrib tadi tiba-tiba menghadang keduanya.


Pria itu menatap Samudera, dan tujuanya adalah menculik bocah tersebut dan akan menukarnya dengan Angkasa.


Pria ceking itu menatap dengan penuh amarah dan sorot mata yang bercahaya merah, lalu melesat terbang melayang diudara dan menyambar Samudera dengan cepat dan akan membawanya pergi.


"Aaaaaarrrgghh.. Ibuuuu..."


Teriak Sanudera yang memanggil Mirna dengan teriakan memiinta tolong.


Suara bocah itu yang menggema, namun tak sesiapapun yang mendengarnya, seolah-olah warga tuli akan teriakan Samudera yang saat ini sedang dicengkram oleh makhkuk jelmaan Jenglot Ki Kliwon.


Namun Angkasa dengan cepat melompat dan menangkap pergelangan kedua kaki Sanudera dan ikut melayang diudara bersama Samudera.


Hal yang dilakukan oleh Angkasa membuat aliran daya yang sama seperti sengatan listrik mengalir melalui tubuh Samudera dan menjalar menyengat tubuh ceking tersebut yang sudah membawa tubuh kedua bocah itu terbang tinggi melayang di udara.


Dan secara refleks, sengatan itu sangat menyakitkan hingga membuat Ki Kliwon menjatuhkan tubuh kedua bocah tersebut yang kini melayang di udara.


"Aaaaaaarrrgh... Teriak ke dua bocab itu saat menyadari mereka akan terjatuh ke bawah dan membentur aspal jalanan.


Keduanya menutup mata mereka tidak berani untuk melihat kebawah yang mana aspal jalanan akan menyambut mereka.


Sekelebat bayangan menangkap tubuh keduanya dan membawanya mendarat dengan aman.


Kedua bocah itu masih tidak berani membuka matanya, mereka masih takut, hingga tangan lembut membelai kedua ujung kepala keduanya.


Seketika keduanya membuka matanya, dan melihat siapa yang saat ini sedang mendekap mereka penuh cinta dan membelai kepala mereka saat sedang merasa ketakutan.


"Ibuuuu.." teriak keduanya, lalu memeluk erat Mirna dengan wajah yang masih ketakutan karena dengan tiba-tiba dan membuat kedua bocah itu merasa syok.


Mirna mendekap keduanya penuh cinta kasih dan membawanya pulang ke rumah.


Sesampainya dirumah, Mirna membawanya ke kamar, lalu menyalin pakaian mengaji keduanya dengan pakaian tidur dan tampak keduanya masih menggigil ketakutan.


Ia kembali mendekapnya dan membelai lembut kedua puteranya, mencoba memberikan rasa cintanya agar keduanya tenang.


"Bu.. Itu tadi siapa?" tanya Samudera dengan rasa takut yang menderanya.


Selama ini mereka tidak takut saat menghadapi Yanti, namun karena makhluk itu tadi membawa mereka terbang tinggi dan menjatuhkannya secara tiba-tiba, dan hal itu yang membuat mereka ketakutan.


"Belum saatnya kalian mengetahui siapa makhluk itu, nanti akan tiba masanya kalian akan membinasakannya" ucap Mirna dengan lembut.


Kedua bocah itu membolakan matanya mendengar ucapan Ibunya.


"Mengapa harus kami, Bu?" tanya Angkasa penasaran.


Mirna terdiam sesaat "Sudahlah, hari sudah malam, kalian tidur saja, dan esok akan ke sekolah" Mirna mencoba mengalihkan pembicaraannya.


Tanpa bantahan, kedua bocah itu akhirnya menuruti ucapan ibunya. Dengan belaian lembut Mirna, akhirnya mereka tertidur dan sesekali menarik tangan Mirna untuk selalu meminta ditemani dan tak ingin jauh.


Setelah kedua bocah itu tertidur, Mirna memejamkan kedua matanya. Ia duduk bersila dan menggerakkan tubuhnya membentuk sebuah gerakan tangan yang lembut dan tampak cahaya biru muda membentuk bola cahaya dan Ia mengarahkannya kepada kedua bocah itu.


Seketika cahaya biru tersebut meresap masuk ke tubuh keduanya. Mirna mencoba menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh kedua bocah itu, Ia harus memberikan perlindungan kepada ke duanya, hingga waktu yang ditentukan itu tiba.


Setelah merasa cukup, Ia beranjak bangkit dan dengan tubuh sedikit sempoyongan dan menuju ke kamarnya.