
Langit mulai senja. Mentari bersembunyi di ufuk barat. Samudera beristirahat sejenak karena Ia harus mencari tempat untuk berteduh.
Setelah melihat pohon besar untuk menjadi tempat perteduhan, Samudera melangkahkan kakinya menghampiri pohon tersebut.
Ia meletakkan tas ranselnya dan membuat perapian untuk menjadi penerangan dan penghangat tubuh.
Ia mengjidupkan kompor potablenya yang biasa digunakan oleh para pendaki. Lalu Ia menyeduh susu untuk menjaga staminanya. Sesaat bayangan Mirna melintas dibenaknya. Ia teringat jika setiap pagi sang ibu selalu membuatkan sarapan dengan segelas susu yang mana meskipun mereka sudah remaja, namun pemenuhan gizi dan nutrisi mereka tetap diperhatikannya, sehingga menjadi kebiasaan bagi dirinya selalu untuk minum susu.
Saat melihat perbekalannya, Ia ternyata kehabisan bekal. Ia harus berburu ayam hutan atau kelinci untuk dapat mengisi perutnya yang keroncongan.
Samudera meletakkan barang-barangnya dibawah pohon. Lalu dengan berbekal pisau sangkur, Ia menyibak semak belukar untuk mencari hewan buruan.
Sedangkan Widuri tampaknya sedang pergi entah kemana, namun Samudera tak perduli, sebab Ia juga sudah biasa sendiri dari awal perjalanannya.
Greeeeessseeek..
Suara gresekan dari dalam semak. Samudera bersembunyi dan mengintai dari balik semak. Dalam keremangan aia melihat seekor kelinci sedang keluar dari semak dan bergerak menuju rerumputan, lalu..
Wuuuussssh...ssssttss..
Samudera membidik perut kelinci dengan pisau sangkurnya sembari mengucapkan shalawat dan basmalah, lalu..
Krrrreeeekk...
Kelinci itu tertembus perutnya oleh ujung pisau sangkur dan menggelepar.
Samudera bergegas menghampiri hewan tersebut, dan memungutnya, dan membawanya ke bawah pohon tempat Ia berteduh. Samudera membersihkannya dan mensucikannya dengan menggunakan air yang dibawanya saat berada di air terjun.
Samudera memanggang daging kelinci buruannya diatas api unggun yang membumbung tinggi. Ia mencium aroma yang sangat khas dan menggugah selera, dan perlahan dagingnya mulai matang.
Bocah itu menyantabnya perlahan dan menikmati daging tersebut. Perlahan safaq menghilang dari langit senja. Pertanda Maghrib akan tiba dan Samudera bersiap untuk menyambut waktu Maghrib.
Setelah shalat Maghrib Ia duduk sembari beristirahat. Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang.
Wussssh...
Dan memadamkan api unnggunnya. Suasana semakin gelap dan tampak semakin mencekam.
Perlahan Samudera mencium aroma hangus terbakar, seperti mirip singkong bakar atau kabel terbakar.
Dari kejauhan tampak dua bola mata merah sedang bergerak melayang menghampirinya.
Lalu dengan tiba-tiba muncul dihadapannya sosok tinggi besar dan berbulu menatapnya dengan seringai da taring tajam menyembul dibalik sudut mulutnya yang dipenuhi bulu tebal.
Samudera tersentak dan berusaha berdiri tegak.
Bocah itu meraih tongkat yang didapatnya dari siluman banteng. Lalu Ia menatap makhluk dihadapannya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Heeei, Bocah!! Kamu itu telah menantang kematian! Menyerahlah. Jika kau memang ingin menukar jiwamu, maka tidak perlu repot-repot menemui Mirna, sebab aku diutus untuk mengambil jiwamu dan memberikanya padanya!" ucap Sosok makhluk itu dengan nada mengejek.
"Aku tidak mempercayaimu. Jika Ibu menginginkannya, maka Ia yang akan datang untuk mengambilnya sendiri, mengapa harus mengirim Makhluk laknat seperti kalian!" jawab Samudera.
Seketika makhluk tersebut membolakan matanya dan merasa tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Samudera.
Ia menyerang Samudera dengan melesat dan melayangkan cakarnya yang tajam.
Dengan cepat Samudera menahan serangan tersebut dengan menggukan tombak berkepala tanduk banteng.
Lalu Samudera bergerak melompat diudara dengan bertumpu pada batang tombak, lalu melayangkan tendangagan kakinya pada tubuh makhluk itu.
Buuughh...
"Aaaaarrghh.." teriak gunderuwo meringis kesakitan saat tendangan kaki Samudera mendarat tepat didadanya, saat bersamaaan Ki Genderuwo menancapkan kuku runcingnya tepat dibetis Samudera dan..
Kreeeeessssh..
"Aaaaaarrgh.."
Samudera meringis kesakitan saat menyadari jika Ki Genderuwo telah merobek betisnya dengan menggunakan kukunya runcing dan tajam.
Lalu Samudera berusaha menahan rasa sakitnyanya yang ribek dan membiru akibat serangan Ki genderuwo.
Menggunakan tombak yang dipegangnya, Ia berusaha untuk melawan rasa nyeri dan juga sakit akibat serangan balasan dari Ki Genderuwo.
Makhluk itu tersenyum menyeringai dan mengejek boca dihadapannya yang kini sedang berada pada kesakitan.
Ki Genderuwo kembali menyerang Samudera yang tampak meringis dan tidak memberikan kesempatan pada Samudera meski hanya untuk mengambil nafas sejenak.
Cakarannya siap mencabik dan mendarat ditubuh Satria.
Remaja itu dengan cepat mengayunkan tombaknya yang telah dialiri oleh ajian segoro geni dan saat kuku runcing itu hampir menyentuh kuli Samudera, bocah itu dengan cepat menghujamkan tombak bertanduknya ke arah dada kiri Ki Genderuwo yang tidak menyadari jika Samudera telah mengecohnya.
Dan..
Jleeeeeb..
Ujung tombak yang berbentuk tanduk banteng tersebut menembus dada Ki Genderuwo yang berada tepat didada kiri makhluk mengerikan itu.
"Aaaaaaasrrrggh.." erangan Ki genderuwo yang membolakan matanya yang memerah karena Samudera menikamnya menggunakan ujung tanduk tersebut.
Seketika hawa panas menjalar keseluruh tubuhnya. Ki genderuwo bergerak dan berusaha untuk dapat melolosnkan dirinya dari tombak yang menancap didada kirinya.
Ki genderuwo merasakan tubuhnya bagaikan sedang dipanggang diapi unggun.
Ia menggeliatkan tubuhnya berusaha untuk dapat lolos dari ujung tombak, namun semakin Ia bergerak menggeliatkan tubuhnya, maka ujung tanduk tersebut semakin bergerak menembus tubuhnya hingga kepunggung.
Api terus menjalar hingga akhirnya tubuh Ki genderuwo terbakarì dan perlahan api membumbung tinggi dan membuat Ki genderuwo berteriak kesakitan dengan raungan yang semakin menggila.
Suara lolongan kesakitan Ki genderuwo terdengar hingga sampai ke dalam goa. Namun Nini Maru dan juga Ki Kliwon hanya saling pandang.
Lalu mereka mengirimkan bala tentara berupa kuntilanak putih yang merupakan kuntilanak kasta terendah dalam dunia perkuntilanakan dan mereka mau tak mau garus menuruti perintah dari apa yang diperintahkan oleh Nini Maru dan Ki Kliwon.
Dalam jumlah yang sangat banyak, mereka menghampiri Samudera dan menantang bocah itu untuk melepaskan Ki Genderuwo yang kini sedang dalam pemanggangan dan perlahan menghangus lalu menjadi butiran debu.
Pasukan kuntilanak putih berbaris membentuk pertahanan berlapis untuk menyerang Samudera yang kini tampak berdiri tegak tanpa rasa takut sedikitpun melihat banyaknya pasukan kuntilanak putih yang bersiap untuk menyerangnya
Aroma kembang kenanga, kantil, melati dan juga kembang bungo tanjung menyeruak ditudara malam menyertai kehadiran para pasukan kuntilanak.
Dengan tanpa rasa takut sedikitpun, Samudera menatap tajam pada pasukan tersebut yang kini menyerangnya dengan menggunakan caka tajam mereka dan secara bersamaan melayang menerkam Samudera.
Lalu Samudera memutar tombaknya hingga 360° dan seketika hawa panas memendar membuat udara malam yang dingin menjadi panas dan tiba-tiba saja api membakar gaun para kuntilanak putih, lalu menjalar membakar tiga lapis pertahanan yang dibentuk oleh makhluk tersebut dan seketika mereka berteriak kesakitan dan kabur melarikan diri dari serangan Samudera dengan gaun mereka yang terbakar.
Ada dari mereka yang melarikan diri dengan tubuh hangus lalu menjadi butiran debu.
Sedangkan yang masih dapat menyelamatkan diri memilih untuk pergi menjauh agar tidak diperbudak oleh Nini Maru dan Ki Kliwon.
Suara riuh dari gaun kuntilanak yang terbakar dan jeritan kesakitan juga mewarnai malam ini. Sebenarnya Samudera tidak tega, sebab mereka hanya terpaksa melakukannya akibat tekanan dari Nini Maru dan Ki Kliwon yang memperbudak mereka.
Samudera membiarkan mereka melarikan diri dan tidak berusaha menyerang kembali.
Samudera kembali ke bawah pohon dan menyalakan kembali api unggun yang tadi mati dengan tiba-tiba.
Samudera duduk diakar pohon, lalu meletakkan tombak miliknya disisi kananya. Ia memeriksa luka dibetisnya dan melihat luka menganga akibat cakaran dari Ki Genderuwo.
Merasakan luka itu sangat sakit. Ia membuka ranselnya, mencoba mencari kemejanya dan berniat untuk merobeknya sebagai pembalut luka tersebut.
Namun belum sempat Ia merobek kemejanya, sebuah cahaya ungu melesat menghampirinya dan merubah wujudnya menjadi sosok peri cantik yang tak lain adalah Widuri.
Sosok itu menyentuh luka Samudera dan dalam sekejap luka itu sembuh seketika.
Samudera menatap pada peri tersebut "Terimakasih!" ucap Samudera, kepada peri tersebut.
"Maafkan, Aku datang terlambat, sebab ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan, hingga kamu harus menghadapi semua bahaya itu sendirian, " ucap Widuri merasa bersalah.
Samudera menganggukkan kepalanya "Tak mengapa, Aku tak ingin menyusahkanmu. Tetapi Kamu itu mirip karakter Pak Ladushing yang selalu datang setelah masalah telah selesai!" ucap Samudera dengan nada menyindir.
Widuri hanya dapat tersenyum miris mendengar cibiran dari Samudera.
Lalu keduanya terdiam dalam ke sunyian malam.
"Aku ingin beristirahat!"ucap Samudera.
"Tidurlah, aku akan menjagamu!" ucap Widuri.
Lalu Samudera memejamkan kedua matanya, Ia sangat mengantuk dan juga lelah. Perlahan kedua matanya terpejam dan tak dapat lagi Ia tahan, dan pandangannya mulai mengabur, lalu menggelap seketika.
Widuri memberikan sebuah perisai cahaya ungu untuk melindungi tubuh Samudera dari hewan melata dan hewan buas ataupun makhluk astral lainnya yang bisa saja menyerangnya dengan tiba-tiba saat bocah itu sedang tertidur pulas.
Ditempat lain. Nini Maru dan juga Ki Kliwon merasakan jika Samudera akan segera tiba. Mereka sudah mempersiapkan segala penyambutan kedatangan bocah itu dengan segala bala tentara yang siap menghancurka tubuh remaja itu dan penyambutan jiwa yang mereka inginkan sebagai penebus jiwa Mirna dan Kemenangan akan balas dendam mereka segera berada didepan mata.
~Alhamdulillah atas segala doa para reader Author dan debay sehat dan sudah dapat menulis lagi untuk menyelesaikan novel Mirna hingga akhir. Debay-nya cewek dan diberi nama Kanza Arsyila. Semoga namanya menjadi doa terbaik dalam kehidupannya, aamiin..