
Mirna tersentak. Ia merasakan sesuatu telah terjadi pada Lisa. Namun Ia tak dapat pergi menemui Lisa, sebab Ia mendapat amanah dari Satria untuk menjaga Syafiyah.
Jika Ia melanggarnya dan terjadi sesuatu pada Syafiyah, maka Ia akan dipersalahkan.
Selain itu, Rey juga tampaknya terus mengitari rumah dan mencari celah untuk dapat masuk kedalam rumah agar dapat mencelakai Syafiyah dan mungkin juga dirinya.
Saat ini Chakra Mahkota sedang bersama Satria yang sampai saat ini belum kembali dan pergi entah kemana.
Mirna merasakan jika Yanti telah menajdi bagian dari Nini Maru, dan sedang menyusun rencana untuk mengambil janin dalam kandungan Syafiyah yang murni berasal dari sesama manusia.
Mirna melihat Syafiyah masih terlelap tidurnya, dan Mirna harus tetap berjaga untuk tetap memastikan Syafiyah baik-baik saja.
Sementara itu, Satria terbang bersama Chakra Mahkota menemui Widuri sang peri yang kini sedang berada di dalam goa.
Ia ingin meminta bantuan kepada Widuri agar menjaga Mirna dan juga Syafiyah.
Sebab saat ini, Nini Maru sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan kekuatan dan kehidupan Satria.
Ia meminta bantuan pada Widuri, sebab Peri itu dipercaya memiliki kelembutan dan juga kekuatan yang tidak membahayakan janin dati kedua istrinya.
Sedangkan ilmu yang dimiliki oleh Satria adalah segoro geni yang sangat berpengaruh pada janinnya karena berhawa panas. Apalagi kepada Mirna.. Jika sampai Satria menggunakan ilmu itu untuk menghancurkan lawannya dan Mirna berada di dekatnya, maka Mirna juga akan hancur, sebab gen Mirna sebagiannya berasal dari jin.
Oleh sebab itu Satria tak dapat dengan sembarangan menggunakan ilmunya saat Mirna sedang mengandung apalagi menghancurkan musuh saat Mirna dekat dengannya.
Widuri menganggukkan kepalanya, lalu menatap dengan tatapan sendu, sebuah tatapan yang hanya Ia yang mengetahuinya.
Lalu Satria kembali melesat bersama Chakra Mahkota dan juga Widuri yang kini berada ikut dipunggung belakang Satria.
Saat hampir menjelang subuh, Satria sudah kembali ke rumah dan mendapati Mirna masih duduk dikursi kerja milik Satria dan terus berjaga dalam mengawasi Syafiyah.
Melihat kepulangan Satria, Mirna beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami lalu memeluknya, dan Ia tersentak saat menyadari jika Widuri ikut bersama.
Mirna melepaskan pelukannya. Lalu memandang kepada peri cantik itu.
"Hai.. Kita bertemu lagi?" sapa Widuri dengan senyum termanisnya.
Mirna membalas senyuman Widuri.
Lalu Satria memegang pundak Mirna "Mas untuk sementara ini akan pergi ke kota, jika Kau rindu datanglah menemuiku, saat ini Mas tidak dapat berlama-lama disini sebelum tiba masa kelahiran anak-anak kita" ucap Satria menjelaskan.
Mirna menatap Satria dengan tatapan sendunya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Mas.. Tak mengapa jika itu demi kebaikan kita semua" jawab Mirna dengan lirih.
Lalu Satria menoleh ke arah Widuri "Aku titipkan mereka padamu?" ucap Satria dengan penuh harap.
Widuri mengerjapkan kedua matanya, sembari menganggukkan kepalanya, Lalu Satria menatap Pada Mirna dan berpamitan untuk pergi.
Sementara itu, Syafiyah masih mendengkur dalam tidurnya.
Widuri merubah wujudnya menjadi seorang manusia dan akan membantu Mirna untuk menjaga Syafiyah dari gangguan Nini Maru dan juga kroninya.
Syafiyah terbangun saat mentari menyapanya melalui kaca jendela yang telah tersingkap tirainya.
Saat Ia mengerjapkan kedua matanya, Ia melihat seorang wanita yang tak kalah cantiknya dari Mirna telah berada disisinya dengan membawa baki berisi sarapan pagi.
"Si-siapa Kau?!" tanya Syafiyah dengan tatapan tak suka.
Wanita itu tersenyum dengan sangat manis, menambah aura kecantikannya kian terpancar.
"Saya orang suruhan Satria, yang siap menjaga anda setiap saat dan melayani segala keperluan yang anda butuhkan" jawab Widuri dengan setenang dan selembut mungkin.
Syafiyah mengerutkan keningnya "Bohong, Mana mungkin Mas Satria mengirimkan orang seperti kamu" ucap Syafiyah dengan kesal.
"Mirna...!! Mana Mas Satria?" teriak Syafiyah dari dalam kamar.
"Mas Satria sudah berangkat ke kota sedari tadi, dan Mbak masih tertidur pulas" jawab Mirna.
Syafiyah mendengus kesal "Mengapa tidak mebangunkanku?"
"Mbak Syafiyah tampak sangat lelap dan tidak tega untuk membangunkannya" jawab Mirna.
"Lalu siapa Dia?!" tanya Syafiyah sembari melirik Widuri.
Mirna tersenyum tipis "Dia yang membantu Mirna menjaga Mbak Syafiyah hingga proses kelahiran" jawab Mirna dengan tenang.
Syafiyah membolakan matanya, dan mengacak rambutnya "Tinggalkan saya sendiri" ucap Syafiyah.
Lalu Mirna menatap Widuri, dan mengerjapkan ke dua matanya, memberi isyarat agar mereka segera keluar dari kamar Syafiyah.
Lalu Widuri menganggukkan kepalanya dan mereka keluar bersamaan.
"Jika membutuhkan sesuatu, panggil saja, Mbak" ucap Mirna sembari menutup pintu kamar Syafiyah.
Syafiyah merasa sangat kesal. Sebab jikapun Sateia mengirimkan orang untuk menjaganya, namun mengapa mesti yang cantik dan memesona.
Satu Mirna saja sudah membuatnya terbakar cemburu, apalagi kini harus berhadapan dengan dua wanita cantik dalam satu rumah.
Syafiyah meraih phonselnya, lalu mencoba menghubungi Satria.
Tampak panggilannya berdering dan melihat jika phonsel Satria sedang online.
"Hallo.. Mas.." ucap Syafiya saat pbonselnya tersambung.
"Iya, Sayang"
Syafiyah mengubah mode panggilan menjadi panggilan vedeo, dan tampak Satria telah berada didalam kamarnya yang luas.
"Kenapa, Mas pergi gak permisi sama fiyah??" omel Syafiyah.
"Kamu tertidur lelap, dan gak tega membangunkanmu" jawab Satria selembut mungkin.
"Mas kenapa pergi ke kota lagi?" tanya Syafiyah dengan penasaran.
"Ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan" jawab Satria dengan cepat.
Syafiyah mendenguskan nafasnya "Lalu mengapa Mas mengirim wanita lagi untuk menjaga Syafiyah?"
"Jangan membantah kali ini, mereka ikhlas menjagamu, maka turuti apa yang dikatakan mereka" ucap Satria.
Syafiyah tercengang "Apa mesti yang cantik?"
"Ya.. Karena mereka yang bisa jagain kamu"
Satria sangat kesal, lalu mematikan phonselnya. Ia merasa sangat tak mengerti mengapa suaminya harus mengirim satu wanita cantik lagi kedalam rumahnya.
"Jangan-jangan Mas Satria ada niatan mau nikah lagi? Bakal tambah saingan lagi" gumannya lirih.
Satria menatap nanar pada dinding kamarnya. Ia tahu jika Syafiyah dalam kondisi bahaya, namun sikap Syafiyah selama mengandung selalu membuatnya terpancing emosi, Ia takut tak dapat mengendalikan emosinya dan akan berakibat fatal. Sebab marahnya Satria akan menggelegar dan tak terkendali.
Satria lebih memilih mengasingkan dirinya hingga sampai nanti akhirnya tiba Syafiyah melahirkan.
Sebagai penganut ajian segoro geni, terkadang harus dapat menjaga dan menetralkan emosinya, serta menjaga lisannya agar tidak terkeluarkan sumpah serapah.
Pandangan matanya saja mampu menundukkan lawannya dan gemetaran, apa jadinya jika sampai Ia emosi karena sikap keras kepala Syafiyah dan membuatnya tak terkobtrol, dan hal itu akan membuat kandungan Syafiyah terganggu.
Berbeda Mirna, jika sampai Ia mengeluarkan ajian tersebut, mala Mirna bisa saja terbakar atau mengalami luka parah.