MIRNA

MIRNA
episode-239



"Apa maksudnya? Apakah Kakek saudara ayahku yang bagaimana?" tanya Samudera penasaran.


"Aku adalah kakek buyutmu.. Ayahmu adalah cucuku dari sebelah ayahnya yang bernama Roni.. Kemarilah, akan ada yang aku perlihatkan pada kalian!" ucap Syech Maulana dengan nada yang begitu sangat tenanng.


Lalu keduanya beranjak dari posisinya berjalan menghampiri syech Maulana. Syech Maulana menggenggam pergelangan tangan kedua bocah itu lalu mereka melintasi lorong waktu menuju sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Tampak oleh Keduanya seorang pria paruh baya sedang duduk bersila menghadap dupa dan membakar kemenyan dengan dengan aroma dan asapnya yang sangat menyengat dan menyebar.


Lalu sesosok makhkuk berpakaian putih dengan wajah hancur dan juga menyeramkan saling berhadapan. Awalhnya mereka terlihat tampak baik-baik saja, dan sosok bergaun putih yang tak lain adalah Nini Maru itu menjalankan tugasnya atas perintah Sosok pria tambun paruh baya untuk menjalankan misi mengambil janin seorang warga yang akan melahirkan.


Semuanya berjalan beberapa tahun lamanya, sehingga akhirnya sang dukun hotam yang tak lain adalah Ki Karso akhirnya menikahkan anak gadisnya yang sangat cantik bernama Mala kepada seorang pemuda bernama Roni yang mana Roni adalah anak dari Syech Maulana.


Berbesan dengan seorang Syech, membawa Ki Karso menuju pertaubatan nasuha. Sehingga Ia memutuskan hubungan buhulnya dengan sosok kuntilanak itu.


Mendapati dirinya dicampakkan begitu saja, maka Nini Maru menjadi dendam dan merasa jika Ia tidak dihargai.


Lalu Ki Kliwin yang nota bene adalah saingan Ki Kardo memanfaatkan dendam Nini Maru untuk ikut membantu membalas dendam sosok kuntilanak itu. Hingga akhirnya anaknya yang bernama Reza melakukan persekutuan dengan Nini Maru dan mengincar Mala.


Namun Nini Maru menjebak Reza untuk melakukan pergumulan, hingga melahirkan anak bernama Mirna, dan Mirna kini adalah wanita yang menikah dengan Satria.


Seketika Angkasa yang melihat semua kejadian tersentak kaget dan Ingin melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Syech Maulana.


"Lepasin..!! Ternyata Aku hanyalah keturuna dari iblis laknat tersebut" ucap Angkasa yang merasa terpukul dengan semua apa yang dilihatnya.


Sedangkan Samudera masih bingung dan mengerutkan keningnya.


"Kakek buyut tidak menipu kami, Kan?" tanya Samudera dengan perasaan yang sangat gundah. Bagaimana mungkin yang mereka lihat itu tampak begitu nyata.


Syech Maulana masih mencengkram pergelangan tangan Angkasa yang berusaha memberontak ingin meloloskan dirinya. Ia masih belum terima jika dirinya terlahir dari sosok keturunan mengerikan tersebut.


Lalu Syech Maulan membawa keduanya ke sebuah tempat yang menuju ruangan. Ia melepaskan keduanya, Angkasa ingin melarikan dirinya namun setiap dinding yang Ia sentuh tak dapat Ia tembus dan seolah seperti baja yang sangat tebal dan kuat.


Syech Maulana hanya memandanginya saja dengan senyum tipisnya. Setelah usahanya yang gagal, lalu Syech Maulana menghampirinya dan menunutunnya untuk duduk disebuah altar bersama dengan Samudera.


"Dengarkan apa akan saya katakan! Kau memang mewarisi darah jin dari sebelah ibumu, namun kau juga mewarisi darah manusia suci sama seperti Samudera dan itu berasal dariku!" ucap Syech Maulana menatap tajam pada Angkasa.


Remaja putera itu sedikit bergetar ditatap seperti itu oleh pria sepuh dengan berjangut panjang dan sudah beruban.


"Tenangkan hatimu, agar Kau bisa mencerna apa yang akan Kakak katakan.!" ucap Syech Maulana, tenang, namun juga penuh penekanan.


Akhirnya Angkasa mencoba menenangkan dirinya dan mengikuti apa yang akan dititahkan oleh Syech Maulana.


"Kemarilah, duduklah dengan tenang bersamaku!" titah Syech Maulana.


Lalu Angkasa menurutinya dan duduk bersila menghadap pada Syech Maulana.


Lalu pria itu menatap teduh kepada Angkasa yang kini hatinya mulai tampak sedikit tenang.


"Dari bangsa jin dan Manusia, ada yang memilih jalan lurus dan juga ada yang memilih jalan sesat. Bahkan anak seorang Nabi beriman yang tak lain adalah Nabi Nuh sendiri memilih kesesatan meskipun Ayahanya seorang Nabi" Syech Maulana menjeda ucapannya.


Lalu Ia kembali melanjutkan ucapannya "Dan dari bangsa jin juga ada yang memilih jalan lurus meski keturunannya adalah sesat, yaitu Ibumu, Mirna. Ia memilih jalan yang berbelok dari Ibunya yang tersesat dan kini benar-benar memilih kebenaran, lalu Kau akan memilih jalan yang mana?" tanya Syech Maulana kepada bocah remaja itu.


Angkasa terdiam dan mencoba merenungkan apa yang dikatakan oleh Syech Maulana. Ia menatap pada Samudera yang sedari tadi hanya diam sebagai pendengar.


Samudera menatap sang adik, meskipun Ia mengetahui kebenarannya jika Ibunnya Mirna yang Ia anggap sebagai ibu kandung selama ini adalah keturunan jin yang sangat menyeramkan, namun kasih sayang Mirna padanya begitu tulus dan hal itu membuatnya tidak pernah akan menganggap Mirna adalah sosok jin.


Samudera menggenggam jemari tangan Angkasa dengan kelembutan, lalu tatapannya meyakinkan jika Ia tetap menyayangi sang adik meskipun mereka terlahir dari ibu yang berbeda.


Tatapan Samudera padanya membuatnya meyakini jika Ia begitu sangat dihargai.


"Bagaimana? Apakah yang kau akan kau pilih? Jika Kau mengikuti jejak Ibumu, maka Kau harus membantu ibumu untuk melenyapkan sosok Nini Maru meskipun itu adalah nenekmu sendiri" ucap Syech Maulana.


Seketika Angkasa menatap pada Syech Maulana yang kini menyungingkan seulas senyum penuh keteduhan.


Angkasa menganggukkan kepalanya, lalu memantabkan hatinya untuk mengikuti jejak sang ibu.


"Saya akan membantu ibu untuk melenyapkan makhluk itu" ucap Angkasa dengan penuh keyakinan.


Syech Maulana tersenyum lega, Lalu Ia menyentuh ujung kepala kedua cucu buyutnya itu sembari memejamkan matanya. Lalu sebuah cahaya keperakan menyelimuti keduanya dan membuat tubuh keduanya bergetar.


Setelah beberapa menit kemudian, lalu cahaya itu menghilang dan wajah keduanya semakin tampak bercahaya dan ketampanannya berkalilipat.


"Baiklah, kalian akan melewati beberapa cobaan sebelum dapat mengemban tugas ini, dan kalian harus melewatinya dengan hati yang lapang. Sekarang pulanglah, sampaikan salamku pada kedua orangtua kalian" ucap Syech Maulana dengan tenang.


Lalu keduanya menganggukkan kepalanya, berpamitan lalu beranjak pulang.


Angkasa bingun saat dengan mudah menembus dinding yang tadi saat akan melarikan diri bagaikan plat besi yang sangat tebal, namun saat ini dinding itu hanya setipis cahaya saja.


Keduanya bergandengan tangan menuju kembali pulang ke raga mereka.


Sesampainya sukma mereka memasuki kembali raga yang sudah sebulan mereka tinggalkan, membuat raga itu bergetar hebat saat melakukan penyatuan.


Satria dan Mirna yang mengetahui ke dua puteranya kembali, menyambut keduanya dengan pekukan hangat.


"Akhirnya kalian kembali setelah sebulan lamanya melakukan perjalanan" ucap Mirna dengan hati yang sangat senang.


Keduanya terperangah mendengar penuturan sang Ibu yang mengatakan mereka sudah sebulan meninggalkan raga mereka.