MIRNA

MIRNA
Episode 111



Yanti mematut dirinya di cermin. Kulit wajahnya yang rusak karena tersiram kopi panas oleh Badu, Ayahnya, masih membekas di dengan sangat jelas.


Yanti merasa bingung harus dengan apa menghilangkannya, sebab Ia untuk ke apotik sangatlah takut jika nantinya akan bertemu dengan ayahnya secara tak sengaja di apotik.


Karena merasa bingung, Yanti memesan obat penghilang bekas luka secara online. Setelah pemesan dikomfirmasi, Yanti menutup aplikasi belanjanya, lalu keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk membuat makan siangnya.


Ia melihat Tia sedang memainkan phonselnya, tampaknya berita tentang kematian remaja tanpa lato-lato itu masih saja hangat diperbincangkan, sebab kejadian itu bukan hanya terjadi sekalibatau dua kali, namun hampir mencapai belasan orang yang meninggal dengan kehilangan lato-latonya.


"Tia.. Kamu dari tadi main phonsel terus dan tidak tahu kerjaan lain apa?" ucap Yanti sedikit kesal.


"Apaan sih, Mbak.. Kan tugas saya cuma melayani tamu, bukan memasak dan yang lainnya yang tidak berhubungan dengan perjanjian Kita" ucap Tia santai..


Seketika wajah Yanti berubah masam. Ia sangat marah dan kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut Tia yang sudah berani membantahnya. Namun karena Tia merupakan penghasil tamu terbanyak dan saat ini juga sedang mengandung, maka Yanti mencoba menahan ledakan emosinya.


Yanti mendenguskan nafas kesalnya, lalu melanjutkan memasaknya.


Sembari memasak, tangan Yanti tak henti-hentinya menggaruk area organ intinya yang terasa gatal, dan sepertinya darah tak juga berhenti keluar dari pasca kegugurannya.


"Kenapa bisa begini, Sih?" ujar Yanti yang merasa tersiksa dengan rasa gatal yang menyiksanya.


Ia selesai memasak makan siang, menu sambal mercon kepiting bakau, lalu makan dengan lahabnya.


"Makan, Tia. Ntar malam kamu harus dapat pelanggan yang banyak dan jangan membuatku merugi" ucap Yanti dengan mulutnya yang masih tersumpal nasi dan daging kepiting.


Tia beranjak dari sofa karake, lalu menghampiri Yanti yang sedang lahab memakan makan siangnya.


"Wah.. Kepiting, bisa nambah hormon nih" ujar Tia tak sabar untuk menyantab makan siangnya.


Sembari makan, tangannya terus saja berseluncur dilayar phonselnya yang mengikuti perkembangan berita tentang kematian sahabat sekolahnya itu.


"Kenapa organ VitaLnya bisa hilang, Ya?" ucap Tia sembari menyuapkan makanannya.


Seketika Yanti berhenti sejenak dengan suapannya, lalu menatap pada Tia yang sedang membaca berita ulasan tentang kematian remaja berseragam sekolah tersebut.


"Masih tentang berita itu juga?" Tanya Yanti yang seakan tak suka Tia terus mengikuti perkembangan kasus kematian remaja itu.


Tia menganggukkan kepalanya "Polisi mengumumkan hasil autopsi jika almarhum teman saya itu baru selesai bercinta dengan seorang wanita, dan irgan VitaLnya masih tegak berdiri dicabut paksa saat Ia merasakan pelepasan surgawinya, dan itu sangat mengerikan juga tidak manusiawi" ucap Tia yang seolah ucapannya begitu sangat bijak.


Yanti menatap pada Tia. "Sudahlah.. Lagian ngapain juga kamu prihatin ma temanmu itu? Dia kan pemuda mEsum" ucap Yanti yang sudah tidak nyaman dengan celoteh Tia.


"Tetapi bagaimanapun juga Dia sahabatku, Mbak.. Dan kematiannya sangat misterius, sebab tidak ada sidik jari yang ditemukan di sekujur jasad tubuh temanku, dan ini ternyata kasus bukan yang pertama kalinya, sebab polisi sudah mebemukan kasus ini berulang kali dan tidak tahu siapa pelakunya" Tia kembali berceloteh dan menyantab suapan terahkhirnya.


Tia menoleh dengan tatapan penuh penasaran "Maksud Mbak, bagus bagaimana?" tanya Tia yang sudah selesai menyantab makan siangnya.


"Emmm.. Maksud Mbak ya bagus jiak polisi masih menyelidiki kasusnya" jawab Yanti dengan gelagapan. Ia sedikit kikuk karena terjebak oleh ucapannya sendiri.


"Oo.. Kirain Mbak senang dengan kinerja polisi yang sampai saat ink belum dapat mengungkap kasus yang misterius terus tersebut, soalnya sudah banyak korbannya yang kehilangan organ Vitalnya" ucap Tia sembari menutup layar phonselnya.


Yanti hanya tersenyum datar dan menghabiskan sambal rawitnya.


Tia meneguk air putih, dan beranjak dari tempatnya tanpa membereskan sisa piring kotornya dan melenggang pergi meninggalkan dapur begitu saja.


Yanti melihatnya teramat kesal, namun mau bagaimana lagi, Ia membutuhkan Tia sebagai tempat sumber keuangannya.


Dengan menggerutu, Yanti membereskan semua peralatan dapur dan piring yang kotor, namun semua harus dikerjakannya, sebab saat ini Ia tidak dapat menghasilkan uang karena pasca melahirkan dan area organ intinya sedang dalam kondisi gatal yang menyiksa, serta luka dibagian wajahnya membuat Ia tampak begitu menyeramkan.


Sementara itu, Lisa mulai dapat merangkak ke kamar mandi, namun Ia bingung karena mengalami kebisuan, dan sepertinya sulit berbicara.


Setiap hari selalu saja ada yang memberinya makan, dan wanita bercadar yang tak pernah Ia ketahui dari mana dan kapan datangnya.


Lisa masih trauma dengan sehala kekerasan yang dilakukan oleh Yanti, dan Ia tidak ingin bertemu lagi dengan wanita mengerikan itu.


Lisa sagat bergidik membayangkan saat Yanti bergumul dengan makhluk mengerikan dan juga membantai pria yang baru saja diajaknya bercinta dan mencabut paksa organ vital mereka yang masih dalam kondisi on, dan seseosok mengerikan memakannya dengan mentah-mentah bahka satu jasad remaja di makan habis oleh sosok itu.


Lisa sebenarnya merasa bosan berada didalam kamar seharian, namun itu lebih baik daripada saat Ia disekap oleh Yanti yang tanpa perikamunisaan dan mendapat siksaan serta kelaparan.


"Apakah sumber kekayaan yang didapat Yanti berasal dari persekutuan dengan dua iblis dan juga menumbalkan janin serta lato-lato dari pria yang diajaknya bercinta?" guman Lisa, yang kini duduk bersandar di tepian ranjang.


"Dan.. Janin yang dijanjikannya akan dibayar mahal itu juga ditumbalkan untuk makhluk wanita iblis bergaun merah?" Lisa kembali mencoba menganalisis apa yang menjadi dugaannya.


Lisa membelai perutnya yang membuncit, kini usia kandungannya masih berjalan dua bulan. Ia bingung dengan janin tersebut, Ia takut jika tiba-tiba Mas Paijo pulang dan mengetahui Ia sedang mengandung, maka ini akan membuat pertengkaran yang besar.


Tetapi jika Ia merasahaskakannya itu juga tidak dapat dilakukannya sebab janin itu pasti berkembang terus dan tidak dapat ditutupi.


Lisa merasa dilema, Ia harus mencari cara bagaimana dapat melenyapkan janin yang kini bersemayam didalam rahimnya, dan ini tidak boleh ada yang mengetahauinya.


Sementara itu, Paijo yang berada dirantau merasa gelisah, sebab sudah dua bulan lamanya Lisa tidak dapat dihubungi karena phonselnya mati dan membuat dirinya memutuskan untuk pulang dari perantauan dan melihat kondisi Lisa.


Paijo ingin pulang kampung, dan akan mencari pekerjaan dikampungnya saja, sebab dirantau orang Ia juga sudah tidak sanggup lagi, karena persaingan kerja yang keras.