
Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Samudera membangunkan Angkasa dan mereka harus melakukan ritual malam kedua.
Setelah keduanya bersuci. Mereka menuju ruang shalat dan melakukan hal yang sama sebagaimana mereka melakukan hal itu saat ritual pertama.
Kali ini Satria-ayah mereka tak terlihat. Mereka harus melakukannya tanpa pengawasan dari Satria.
Keduanya kemudian mengangkat takbir dan melakukan shalat sunah hajat dua rakaat untuk menyesapkan ilmu kanuragan yang kini sedang mereka jalani.
Saat takbir pertama, tiba-tiba saja suara petir menyambar dengan begitu kencangnya.
Lalu kilatan cahaya yang tampak menyambar dan memendarkan cahayanya ke seluruh alam sekitar yang menimbulkan suatu ketakutan yang sangat begitu mencekam.
Malam yang tadinya sepi dan sunyi kini berubah menjadi menakutkan. Sahutan petir dan juga kilatan cahaya halilintar mengiringi ritual malam ke dua bocah itu.
Saat keduanya telah sampai pada rakaat kedua dan mengucapkan salam, sebuah ledakan seperti benda yang terjatuh diatas atap rumah terdengar begitu sangat jelas juga keras.
Namun keduanya mencoba unruk terus fokus menyelesaikan ritual mereka hingga habis.
Sementara itu, Mirna masih berusaha untuk menyembuhkan luka lebam dibagian punggungnya yang terluka akibat terkena ajian Gelap Ngampar milik Ki Kliwon yang tak lain adalah kakeknya sendiri.
Mirna mencoba mengembalikan tenaga dalamnya dan bermeditasi, namun tak semudah yang Ia bayangkan, Ia kembali gagal dengan karena Ia terlalu banyak menyalurkan energi murninya kepada Angkasa dan juga Samudera saat terkena ajian Gelap Ngampar Ki Brewok pada malam itu.
Ribuan kekuatan kegelapan memperhatikannya yang kini sedang duduk bersila, hingga akhirnya sesosok makhluk kegelapan menerobos masuk melalui lubang pori-porinya yang luka lebam dan menyusuri aliran darahnya hingga bersemayam dijantungnya dan membuatnya menggelepar dan mengejangkan tubuhnya.
Sesaat Mirna tak sadarkan diri, dan tergeletak dilantai goa dengan tubuh menghitam dan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Perlahan Mirna mengerjapkan kedua matanya. Lalu memandang kesekelilingnya dan tampak ribuan kekuatan kegelapan yang masih mengelilinginya dan juga Ki Kliwon, Ki Genderuwo dan juga Nini Maru beserta Rey.
Mereka tampak bersuka cita melihatnya. Tubuh Mirna tiba-tiba menghitam. Dari sudut bibirnya mencuat taring yang sangat runcing dan tampak tajam. Lalu di bagian atas kepalanya tampak dua tanduk tumbuh menghiasi kepalanya.
Manik bola matanya menggelap dan tampak cahaya kegelapan mulai menguasainya. Kuku-kuku dijemarinya yang dulu begitu indah kini berubah meruncing dan panjang menghitam
Ia beranjak bangkit dari lantai dan berdiri tegak, lalu memandangi perubahan tubuhnya yang kini berubah sangat mengerikan.
"Mirrrnaaaa.. Akhirnya Kau kembali, Anakku! Setelah lama aku menunggumu, kini semua menjadi nyata! Hihihihihi... Hihihihi.." ucap Nini Maru dengan suaranya yang menggetarkan seluruh ruangan.
Mirna menggeram dengan suara yang tertahan dan sangat mengerikan.
"Mari bersama kita membalaskan sakit ibumu, Mirna!! Balaskan semua yang pernah mencampakkan ibumu melalui keturunanya!! Balaskan dendam ibumu!! Musnahkan Samudera dan Satria sebagai keturuan Ki Karso yang sudah membuat ibu sakit hati! Hancurkan mereka dan kekurga lainnya!!" ucap Nini Maru dengan suara yang menggelegar.
"Tidak akan ada yang dapat mengembalikan keadaanmu seperti semula, kecuali cinta sejati dari seseorang yang benar tulus mencintaimu!!" sumpah Nini Maru dengan lantangnya.
Kini Mirna bukanlah wanita yang cantik seperti dulu. Berkulit putih bening dengan segala keindahannya. Namun Mirna yang sekarang adalah sosok mengerikan yang dengan tampilannya yang menjijikkan. Kulitnya tampak benjolan-benjolan dan penuh nanah yang dan darah, Mirna telah berubah wujudnya.
Saat bersamaan, Satria terlempar dari duduk dan menghempas ke tepian ranjang. Darah mengalir dari sudut bibirnya yang terluka parah dibagian dalam.
Upayanya menerobos masuk ke dalam benteng pertahanan Nini Maru mendapatkan perlawanan dari ribuan makhluk kegelapan yang bersatu dengan membentuk kekuatan yang semakin kuat dan tak tersentuh.
Satria kembali ke sejadahnya, lalu duduk bersila dan dengan nafasnya yang tersengal.
"Mirna.. Kembalilah" gumannya lirih, lalu memejamkan matanya dan berdzikir kembali untuk menerobos benteng kekuatan hitam yang terus saja menghalanginya.
Sementara itu, Samudera dan Angkasa sudah menyelesaikan ritual mereka, dan kini keduanya bersahur dengan menu yang sama, yaitu nasi putih dan juga air putih yang menjadi syaratnya.
Setelah bersahur, keduanya kembali ke kamar dan tertidur hingga nanti waktu subuh akan tiba.
Keduanya dikejutkan oleh suara duntuman yang sangat keras dan diatas atap rumah yang mana ini kedua kalinya terjadi saat mereka masih melakukan ritual mereka.
"Astagfirullahaladzim" Guman keduanya saat mendengar suara dentuman tersebut.
Kilatan cahaya halilitan dan juga petir yang menyambar terus saja terjadi. Hingga keduanya memohon kepada Sang Pencipta untuk meredakannya.
Dengan segala kekuatan doa yang mereka munajadkan, perlahan suara halilintar dan juga petir yang menyambar tampak mereda dan menghilang.
Lalu keduanya mencoba untuk tertidur kembali dan akan bangun diwaktu subuh tiba.
Satria masih terus memunajadkan doa-nya. Berharap sebuah keajaiban terjadi.
"Ya, Rabb.. Kembalikan Ia ke jalan-Mu, dengan segala kekuatan-Mu.. Laa hauwla walaa kuwaata illahbillah" Satria terus saja membacakan dzikirnya dan mengharapkan sang Rabb meridhai segala doanya.
Ditempat lain, Mirna tampak berdiri dengan memandangi semua para iblis dan siluman yang kini menatapnya dengan penuh hormat.
"Musnahkan mereka!!" titah Mirna dengan suara parau yang sangat menakutkan.
Maka dengan cepat kekuatan kegelapan berpendar dan menghilang menuju sasaran yang mereka maksudkan.
Melihat Mirna telah terpengaruh oleh kekuatan kegelapan, Nini Maru dan sekutunya tertawa dengan begitu sangat riangnya.
Kemudian Nini Maru, Ki Kliwon dan juga Ki genderuwo menghilang menuju peraduan mereka.
Sedangkan Rey masih menatap Mirna yang kini berdiri terpaku menatap nanar.
Rey menghampiri Mirna. Meskipun Mirna tak secantik dahulu, namun Ia tetap mencintai wanita itu.
Ia menghampiri Mirna dengan cepat "Mirna.. Sudah lama aku menantimu saat seperti ini. Marilah bercinta denganku. Kita ciptakan anak keturunan yang sangat kuat dan akan menguasai dunia kegelapan" ucap Rey dengan rayuan yang sangat menggoda.
Rey memperlihatkan rudalnya yang sudah berdiri tegak sebesar anak lesung penumbuk padi.
"Tidakkah kau ingin mencobannya? Aku mendapatkan dengan tumbal 40 pasang lebih lato-lato dari para pria pembuat kemaksiatan. Kau akan merasakan kepua-san Mirna!" ucap Rey yang terus mengacung-ngacungkan rudalnya kepadanya Mirna.
Mirna melirik rudal tersebut, jika sampai digunakan untuk merudal wanita didunia, maka yang ada akan mati seketika wanita tersebut.
"Ayolah, Mirna.. Aku sudah sangat lama menantikan masa-masa ini. Apakah aku perlu merudal paksamu?!" ucap Rey yang semakin kesal karena Mirna tak jua meresponnya, sedangkan Ia sudah dalam kondisi yang sangat meresahkan.
Mirna melirik rudal Rey yang sedari tadi terus menagcung. Perlahan Ia memegangnya dan..
"Aaaaaaarrrghh.." teriak Rey kesakitan dan wajahnya meringis menahan rasa sakit dan panas yang menjalar ke sekejur batang rudalnya, sebab Mirna mencengkram kuat batang rudal tersebut dan menancapkan kukunya yang runcing dan melemparkan tubuh Rey ke sembarang arah hingga melesat jauh dan menabrak sosok kuntilanak kuning yang sedang bersantai diatas dahan pohon.
Melihat kehadiran Rey yang datang tiba-tiba dengan rudal mengacung, si kuntilanak kuning tertawa nakal, lalu dengan cepat menghampiri Rey dan bercinta dengan Rey.
Mirna masih berdiri dengan tegak. Ada sebutir serpihan cahaya yang masih bersemayam didalam dilubuk hatinya. Ukurannya sangat kecil, hanya sebesar sebutir pasir.
Ia merasakan sebuah kegusaran, kehamapaan dan kegelisahan. Ada cinta yang Ia rasakan, namun itu apa, dan siapa yang saat ini terus berusaha untuk memintanya kembali.
*****
Samudera dan Angkasa akan berangkat ke sekolah. Namun Satria tak jua keluar dari kamarnya. suasana dirumah kian sepi dan mencekam.
Keduanya berangkat ke sekolah dan mengendarai motornya.
Lalu mereka menembus jalanan yang masih sunyi karena masih terlalu pagi. Saat milintasi rumah Nek Surti yang tampak masih lengang.
Tiba-tiba saja sebuah kelebatan asap berwarna hitam tampak bergululung di udara dan mengejar kedua bocah yang sedang mengendarai sepeda motor tersebut.
Lalu Samudera menambahkan kecepatan laju motornya untuk menghindari serangan tersebut.
Angkasa melihat gulungan asap hitam itu terus mengejar mereka dan hampir mendekat. Seketika Angkasa meraih tasbih miliknya dan membacakan ajian Segoro Geni, lalu dengan keyakinan hatinya melemparkan tasbih tersebut ke arah kerumunan awab hitam tesebut dan membuat awan hitam itu berpendar dan salah satu dari pendaran itu melesat melayang menyambar Samudera yang masih mengendarai motornya.
Samudera mencoba untuk melawannya, Ia melayangkan tinjunya dan penuh keyakinan untuk membacakan rafal ajian segoro geni dan ternyata makhluk itu melayang, sedangkan motor mereka oleng dan tergelincir dijalanan hingga membuat keduanya terjatuh.
Motor itu terlempar hingga beberapa meter, sedangkan kedua bocah itu terseret dijalanan aspal.
Dari arah depan, sebuah dum truck yang melaju kencang mengangkut pasir melaju kencang dan sang sopir yang masih menyulut rokoknya tak melihat kedua bocah yang sedang terlempar dijalanan aspal, dan saat ia berhasil menyulut rokoknya Ia melihat dua orang berseragam SMA sedang terkapar dan berusaha bangkit, hingga Ia terperanga dan mencoba mengerem mendadak meski jarak tubuh Samudera yang berada didepan badan mobilnya hanya beberapa inci saja.
Ciiiiiittt....suara decitan ban mobil yang beradu dengan aspal karena proses pengereman.
Para pengendara yang melintas membuat mereka menghentikan kendaraannya dengan mendadak dan berteriak karena pastinya Samudera sudah terlindas oleh ban Dum truck yang berada didepannya.
Angkasa merangkak menghampiri sang kakak yang kini berada dibawah badan mobil bagian depan.
Sedangkan para pelintas mencoba menahan sopir tersebut agar tak melarikan diri. Lalu warga yang berkerumun mencoba membantu Angkasa untuk mengeluarkan tubuh Samudera dari kolong mobil dan seketika mereka tercengang saat melihat Samudera tidak terlindas ban Dum truck dan hanya beberapa inci saja mungkin jika Raab menghendaki maka tubuh bocah itu sudah remuk.
Seketika mereka mengucapkan syukur dan kerumunan asap hitam itu menghilang bersama bersianarnya mentari dengan sinarnya yang sangat begitu terang.
Samudera dan Angkasa hanya mengalami luka-luka lecet karena terseret oleh badan aspal dan pakaian mereka yang mengalami robek dibebetap bagian.
Keduanya mencoba beranjak bangkit dengan tertatih sembari mengucapkan terimakasih kepada warga yang sudah berusaha menolong mereka.
Namun hari ini mereka masih mengikuti ujian semester kenaikan kelas dan terpaksa mereka harus berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian meski kondisi mereka sangat kacau.