
Saat kedua bocah itu masuk ke dalam rumah, Satria telah menunggunya dengan tatapan sarkas dan kedua tangan berkacak pinggang yang ditujukan pada kedua puteranya.
Kedua bocah itu langsung menciut nyalinya, merundukkan kepalanya dan tidak berani menatap pada kesahajaan seorang Satria.
"Darimana?" tanya Satria, tenang. Namun membuat nyali kedua bocah tak lagi seberani saat mengerjai Nini Maru.
"Maaf, Yah.. Tadi kami singgah makan bakso, ini salah Samudera, karema Samudera yang ngajakin" ucap Samudera dengan nada lirih, sembari merundukkan kepalanya. Tak ada keberanian apapun meski hanya untuk menatap dua bola mata itu.
"Lain kali jika Ayah suruh segera pulang, ya pulang.. Jangan kelayapan nggak jelas" ucap Satria yang pastinya Ia tahu apa yang dilakukan oleh kedua puteranya.
Mirna datang menghampiri "Dengar apa yang dikatakan oleh Ayah, sekarang masuk ke dalam ke kamar dan salin pakaian mengaji kalian. Ini kenapa pakaian kalian kenapa ada noda lumpur? Kalian main lumpur, ya?" tanya Mirna mencoba setenang mungkin.
Keduanya terdiam, dan segera masuk ke dalam ke kamar, lalu mengunci pjntu kamar dan segera bersalin pakaian dengan pakaian tidur.
Samudera memeriksa lututnya yang terasa perih, tampak luka lecet dan juga dibagian siku karena karena dilempar oleh Yanti saat terkena sentuhan oleh Angkas saat kejadian tadi.
"Sakit, Kak?" tanya Angkasa.
Samudera menggelengkan kepalanya, Ia mengambil salep untuk mengoleskan lukanya tersebut.
"Anak laki-laki tidak boleh cengeng hanya karena luka seperti ini" jawab Samudera menegasakan.
Angkasa menganggukkan kepalanya, sembari memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh sang kakak.
"Ayah kalalu marah nyeremin, Ya Lak?" ujar Angkasa mengungkapkan isi hatinya.
Samudera menengadahkan kepalanya, Ia mengganggukkan kepalanya, mencoba membenarkan apa yang apa yang dikatakan oleh Angkasa.
Selama ini mereka tidak pernah melihat ayahnya marah, sebab Satria orang yang sangat dingin dan namun hangat saat bersama kedua puteranya jika dalam kondisi bersantai.
"Eh, Dik.. Kenapa yah itu iblis tapi wujudnya seperti manusia? Tapi kenapa bisa hangus sebelah, mana wajahnya hancur lagi?" tanya Samudera lirih.
Angkasa terdiam sejenak "Dia pernah tersambar petir" jawab Angkasa.
Seketika Samudera membolakan matanya "Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Samudera dengan penuh penasaran.
"Dia kan ngikutin terus sampai ke puncak waktu kita liburan" jawab Angkasa.
Samudera mengerutkan keningnya "Aneh.. Punya dendam apa dia sampai ngikutin terus?" Samudera berguman lirih.
Angkasa mengangakt kedua bahunya dan beranjak ke atas ranjang, lalu mencoba untuk tidur, dan menarik selimutnya.
Samudera menutup tutup salepnya dan ikut naik ke ranjang untuk segera tidur.
*****
Pagi yang cerah, suasana balai desa sudah ramai dipenuhi oleh warga yang ingin melihat ketiga remaja yang akan disidang dan ada juga petugas kepolisian disana untuk menjadi penengah.
Kedua remaja putera itu hanya merundukkan kepalanya saat dihadapkan pada warga dan juga para aparatur desa dan juga kepolisian.
Setelah dilakukan tes urine, ketiga positif menggunakan narkoba dan akan melakukan tindakan rehabilitasi juga.
Mereka dicecar berbagai pertnyaan, sebab selama ini warga memberlakukan pembatasan jam malam agar tidak kelayapan diluar rumah jika tidak berkepentingan, apalagi sampai melakukan kemaksiatan dan itu akan mengundang iblis yang telah meneror warga selama ini.
Setelah keluarga mereka bertemu, akhirnya disepakati keluarga ke dua remaja putera itu harus membayar uang ganti rugi kepada keluarga remaja puteri sebesar 10 juta rupiah untuk uang damai dan berjanji tidak lagi akan mengulanginya.
Setelah penandatanganan kesepakatan dengan materai, maka ketiga remaja itu dimasukkan ke pusat rehabilitas untuk menjalani pemulihan terhadap bahaya kecanduan narkoba, apalagi mereka masih usia remaja dan juga masih status pelajar.
Sementara itu, hal yang mereka tidak tahu, jika sang remaja puteri telah mengandung dan itu terlihat saat tes urine, yang mana pihak laboratorium sudah mencantumkan hasil pemeriksaan uji cobanya, namun pihak kepolisian terlupa membacanya.
Perlahan warga membubarkan dirinya, lalu pulang ke rumah masing. Sepertinya kemaksiatan yang dilakukan oleh remaja tidak akan menimbulkan rasa jera jika hanya ditetapkan hukum damai dan membayar sejumlah uang.
Ini akan membuat pelaku kemaksiatan contohnya remaja tidak merasa takut untuk melakukannya, sebab hanya dengan membayar uang damai saja masalah telah selesai, hal ini akan sangat ditakutkan menjadi momok mengerikan bagi mereka yang memiliki para anak remaja.
Sementara itu, Dino masih menunggu kedatangan teman Wanda yang dikabarkan akan datang hari ini.
Ia sudah tak sabar ingin bertemu, dan tidak ingin menjomblo terlalu lama. Dino sudah mengutarakan niatnya kepada kedua orangtuanya dan disambut dengan rasa bahagia. Kedua orangtuanya akan menjual sebagian tanah miliknya untuk melamar sang calon menantu, dan sisanya akan membuatkan usaha untuk Dino agar memilki usaha yang lebih baik, ketimbang harus berburu hewan liar setiap hari.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sang wanita datang juga. Seorang wanita yang masih berusia sekitar 25 tahun, namun Ia janda tanpa anak.
Setelah pertemuan itu dan merasa ada kecocokan, maka akhirnya Dino memutuskan untuk menikah secepatnya tanpa harus memandang siapa wanita.
Didi mendukung niat sahabatnya, meskipun wanita itu seorang janda, namun tidak salahnya untuk Dino mengakhiri masa lajangnya.
Untuk sementara waktu, Sahabat Wanda itu menumpang sejenak dirumah Didi, sebab keluarganya akan tiba beberapa hari lagi dan sedang mempersiapkan berkas-berkas untuk keduanya melakukan pernikahan.
Wanda merasa senang, sebab akan ada temannya bercerita untuk melewati masa-masa kehamilannya kelak.
Sahabatnya itu dapat tidur bersama ibu mertuanya untuk sementara waktu.
Didi merasa lega, sebab jika Dino sahabatnya menikah, maka itu artinya akan menjauhkan Dino dari kemaksiatan dan menghindarkan sahabatnya dari incaran korban kehilangan lato-lato yang saat ini sedang sangat ditakuti oleh warga.
Dilain tempat, ketiga remaja yang kini sedang menjalani pembebasan dari rasa kecanduan dipusat rehabilitasi sudah dimasukkan ke dalam ruangan khusus.
Sang remaja puteri ditempatkan di khusus untuk puteri dan begitu juga dengan remaja putera yang ditempatkan diruangan berbeda.
Sang remaja puteri merasakan perutnya sangat mual, Ia tidak menyadari jika Ia sedang mengandung, sebab pengaruh sakau yang dialaminya membuat jaringan sel otaknya sedikit terganggu. Ia sudah melakukan hal itu kepada dua sahabatnya sejak 3 bulan yang lalu, dan mereka melakukannya saat jam istirahat pelajaran dibelakang sekolah.
Janin dirahimnya kini mulai berkembang dan detak jantungnya mulai terdengar begitu normal, Ia masih begitu sangat mungil dan membutuhkan asupan yang baik dari sang calon ibunya.
Namun sang ibu selalu memberikannya minuman alkohol dan juga narkotika yang membuatnya harus merasakan apa yang dikonsumsi oleh sang calon ibunya. Tetapi janin itu sepertinya tampak sangat kuat dan memilih untuk bertahan hidup.