
Ki Genderuwo masih bergulingan dilantai rumah Nek Surti dengan api yang sudah padam karena membakar bulunya.
Ia terbaring lemah karena merasakan hawa panas yang menjalar disekujur tubuhnya.
"Dasar.. Satria sialan!!" maki Ki genderuwo dengan geram. Matanya yang semakin memerah membuat Ia tampak menyeramkan.
Sementara itu, Nini Maru masih rebahan didipan bambu yang sudah tampak reot tersebut. Sedangkan Rey masih menatap keduanya yang tampak sama-sama mengenaskan.
Rey masih memikirkan cara untuk menculik Mirna. Ia sudah tak sabar ingin mencicipi kemolekan Mirna yang selama ini dalam khayalannya.
Angannya melayang jauh. Andaikan Mirna dapat Ia miliki, maka alam semesta akan menjadi serasa miliknya dan yang lainnya mengontrak.
Namun sesaat Ia terdiam karena memikirkan kondisinya yang kini berwujud sempurna menjadi Genderuwo.
Ia mengira ucapan Nini Maru yang mengatakan jika tumbal lato-latonya sempurnah menjadi genap 40 buah, maka Ia akan menjadi sempurnah, dan yang dimaksud sempurnah itu adalah tampan. Namun kenyataannya Ia justru semakin kacau karena harus menjadi genderuwo sempurnah dengan bulu lebat, bertaring dengan bola mata merah dan tentunya memiliki aroma bau khas mirip kabel atau singkong terbakar.
Ia sebenarnnya merasa kesal karena harus menuruti apa yang disarankan oleh Nini Mari tidak sesuai ekspektasi yang dibayangkannya.
Ki Genderuwo teringat akan Lela, dan Ia bergegas melesat pergi. Sepertinya Ia butuh mendinginkan tubuhnya dan Lela adalah salah satu tempat terbaiknya untuk menyalurkan hasratnya.
Sesampainya diwarung Lela, Ia melihat warung itu sudah tutup dan Ia menerobos masuk untuk melihat sang pujaan hatinya.
Lela tampak gelisah. Dan aroma khas tubuh ki Genderuwo sudah begitu sangat Ia kenal. Ketika Ki genderuwo berada didekatnya, Lela seketika mengetahui jika makhluk itu hadir didekatnya dan Ia sangat begitu bahagia.
"Ki.. Ki genderuwo.. Kamu itukah..?" ucap Lela yang sudah sangat rindu akan belaian makhluk iblis tersebut.
Seketika Ki Genderuwo merubah wujudnya menjadi sosok Kakek Nugroho. Lalu Ia menghampiri Lela dan mendekap Wanita yang telah bersekutu dengannya dan tanpa menunggu lama, mereka memadu kasih dengan penuh kerinduan yang terdalam.
Ditempat lain. Mirna duduk bersila memejamkan matanya. Ia melihat Nini Maru yang sedang berbaring dengan mata terpejam, dan Rey yang sedang mengkhayalkan diirinya tampak tersenyum-senyum sendiri.
Meskipun Nini Maru adalah ibunya, namun makhluk itu adalah Makhluk sesat dan pembangkang yang penuh api dendam dan mereka telah berseberangan jalan.
Maka Mirna tidak akan mengampuni Nini Maru meskipun itu ibunya sendiri, sebab Nini Maru sudah berusaha untuk mencelakai ibu mertua dan papa mertuanya.
Mirna meraih sebuah tasbih yang Ia dapatkan dari Syech Maulana saat perjalanan mereka menuju kediaman beliau.
Mirna mulai melafazkan sebuah Asma Sang Rabb dengan begitu fokus dan mencoba melesat menghampiri kediaman rumah Nek Surti yang kini menjadi tempat hunian mereka.
Mirna berada diluar rumah tersebut. Namu Rey, Nini Maru, dan Ki Kliwon sangat mengetahui jika itu adalah aroma kehadiran Mirna. Dengan tersentak karena kaget, Mereka menembus dinding dan beranjak keluar untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Mirna.
Tubuh Mirna terbungkus cahaya keperakan, seolah seperti terlindungi oleh sesuatu.
Ketiga iblis memandang silau sehingga mereka melindungi pandangan mereka dengan menyilangkan pergelangan tangan kewajah mereka untuk mencegah sinar itu merusak pandangan yang menyakitkan.
"Mirna..!! Apa yang Kau lakukan? Aku ini ibumu! Mengapa Kau melakukan hal ini. Hentikan sekarang juga!" ucap Nini Maru dengan nada penuh amarah.
Seketika Mirna menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan cepat membentang lebar.
Maka pendaran cahaya yang keluar dari tubuhnya membuat ketiga Iblis itu terpental dan merasakan hawa panas serta rasa sakit yang luar biasa.
Lalu seketika sukma Mirna melesat menghilang dan meninggalkan ketiga Iblis itu yang kini terpental dengan tubuh yang mengenaskan ke tengah jalan utama yang berada tak jauh dari rumah almarhum Nek Surti.
"Dasar anak sialan..!! Aku lahirkan dan aku besarkan namun menjadi pembangkang dan pembelot..!!" ucap Nini Maru dengan kesal dan memegangi pinggangnya yang sakit.
Seaat, dari kejauhan tampak sebuah sepeda motor melaju kencang dan diatasnya tampak dua pengendara motor tersebut terlihat tergesah-gesah, dan..
Buuuuuughh... Buuuum...
"Weeeeei.. Sialan, Ni bocah, pakai nabrak segalah, gak lihat apa orang lagi tengah jalan!" maki Nini Maru dengan kesal.
"Maaf, Ni.. Sengaja..!! Kita lagi buru-buru" jawab bocah yang mengendarai motor tersebut.
Nini Maru tercengang dan tentu saja Ia mengetahui siapa kedua bocah itu.
"Dasar, Cucu gak ada akhlak.!!" maki Nini Maru, dan melesat mengejar kedua bocah itu.
Sesampainya didekat keduanya, Nini Maru menghadang keduanya dengan berdiri ditengah jalan, dan..
Buuuuugh...
Buuumm...
Motor itu kembali menabrak Nini Maru dan membuatnya terpental kembali.
"Aaaaarrrrgh..."
Dasar syetan keras kepala, sudah dibilang lagi buru-buru tapi gak ngerti juga" Omle Angkasa yang sedang membonceng Samudera yang baru saja pulang menghadiri acara cerdas cermat yang diadakan dikampung sebelah.
Karena sudah larut malam, keduanya terburu-buru hendak pulang, namun Nini Maru berbuat ulah dengan menghadang mereka.
Nini Maru mencoba mengejar keduanya, lalu mencengkram leher baju koko yang dikenakan oleh Samudera sehingga bocah itu terpisah dengan Angkasa.
Angkasa dengan cepat mengerem motornya dan melihat Samudera dibawa oleh Nini Maru melayang diudara.
Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, Samudera merafalkan Ayat Qursi sebagai andalan untuk melumpuhkan syetan.
Sedangkan Angkasa berbalik mengejar Nini Maru yang membawa Samudera ke kediaman Nek Surti sembari tertawa cekikikan.
Mendapati Samudera membacakan ayat qursi, seketika Ia melemparkan tubuh Samudera hingga tersungkur ditanah.
Lalu Angkasa bergegas untuk menghampiri kakanya yang tampak terluka oleh perbuatan Nini Maru.
"Dasar, Syeetaan..!!" maki Angkasa dengan kesal, sebab tubuh Samudera mengalami luka yang cukup parah dan Ia ingin menghajar iblis tersebut yang kimi sedang berada diatap rumah Nek Surti.
Namun Samudera tampak mengerang kesakitan dan Angkasa memilih untuk membawa kakaknya pulang untuk diobati.
"Awas, Kamu, Ya.. Tunggu pembalasanku!!" ancam Angkasa dengan nada kesal.
Nini Maru hanya memandangnya penuh geram. Ia bingung mengapa keturunannya menjadi pembelot dan bahkan memusuhinya.
Nini Maru yang sudah habis kesabarannya melesat melayang ingin mencakar kepala Angkasa yang sedang memapah tubuh Samudera.
Namun Angkasa bergerak lebih cepat dari yang diduga. Ia melayangkan tasbihnya dan menghantam wajah Nini Maru sehingga membuat wajah Nini Maru robek parah dan tampak hancur mengerikan.
Lalu Angkasa menangkap dengan cepat tasbih yang terbang kembali kepadanya.
Kemudian berusaha mengemudikan motornya dengan kecepatan yang tinggi membawa Samudera kembali pulang untuk diobati.
Sedangkan Nini Maru mengerang kesakitan karena wajahnya yang hancur berantakan.
~~Mohon dukungannya untuk novel Mirna ya reader. Doakan author tetap sehat dan bisa menamatkan novel ini akhir bulan.. Makasih banget buat Reader yang sudah terus mengikuti kisah Mirna hingga sejauh ini.. Tanpa Kalian Author bukanlah siapa-siapa..🙏🙏~