
Nini Maru melesat menembus kegelapan, dibawah sebuah pohon beringin yang tumbuh tinggi dan kokoh, Ia tampak duduk bersila.
"Ni.. Berapa lagi janin yang akan kita butuhkan?" tanya Yanti kepada Nini Maru.
"Heemm. Sepertinya 8 korban lagi" jawab suara itu dengan parau.
Yanti menganggukkan kepalanya, Sepertinya Kita harus cepat mencari tumbal kekurangannya, Ni.. Kita harus dapat tukar gaun ini, Ni.. Jadi warna Merah.. Masa iya putih terus, mana sudah 6 tahun lagi" omel Yanti kepada Nini Maru.
"Maka itu kita harus cepat mencari tumbal untuk menutupi kekurangannya dan juga penyempurnaannya.." Jawab Nini Maru menyemangati Yanti.
Saat keduanya masih terlibat perbincangan. Tampak sosok kuntilanak kuning sedang melintas dihadapan keduanya, lalu Ia nangkring diatas sebuah dahan, Ia tertawa cekikikan melihat perdebatan keduanya.
"Apa lihat-lihat?! Pakai ngeledek lagi, awas kalau sampai gaun merahku ku balik lagi, aku jadiin pembantuku, kamu.." ucap Nini Maru kesal.
"Dari enam tahun lalu ngomongnya juga gitu, basi tau?!" jawab Kuntilanak Kuning dengan nada mencibir.
Seketika ucapan kuntilanak kuning membuat Nini Maru merasa tersinggung "Dasar breengseek..!! Lihat saja nanti, akan ku buktikan apa yang Aku ucapkan.!" Ucap Nini Maru yang beranjak dari duduknya.
"Mana Ku percaya..! Sedangkan anakmu sendiri saja menjadi pengkhianat dan membelot darimu, bagaimana mungkin Kau bisa menjadi sempurnah, cucu sendiri yang akan menghancurkanmu" jawab kuntilanak kuning dengan mencibir.
Nini Maru semakin geram dan juga kesal, Ia lalu melesat menghampiri kuntilanak kuning dan menjambak rambut panjang sosok kuntilanak kuning yang saat itu sedang nangkring cantik diatas dahan hingga membuat kuntilanak kuning terajatuh. Lalu keduanya terlibat perkelahian dan adu jambak.
"Siaallan, Kamu.. Mati bunuh diri karena patah hati saja banyak gaya..!" ucap Nini Maru yang terus memintal rambut kuntilanak kuning dengan sangat kuat, lalu menendangnya hingga melayang jauh.
Nini Maru menatap geram dan penuh kekesalan kepada Kuntilanak kuning yang selalu mencibirnya tersebut.
"Awas saja jika Ia berani mencibirku lagi" Nini Maru menggerutu dengan nada kesal.
Lalu Ia kembali duduk dibawah pohon beringin dengan kondisi masih sangat marah.
"Mengapa ada kuntilanak kuning, Ni? Aku tau selama ini hanya ada kuntilanak putih dan Merah" ucap Yanti dengan penasaran.
Nini Maru mencoba untuk tenang dan mengontrol emosinya.
"Itu si Kuning kuntilanak mati karena bunuh diri dan patah hati" jawab Nini Maru dengan kesal.
"Memangnya ada warna lain lagi Ni?" tanya Yanti semakin penasaran.
"Ada..Hitam dan Biru.." jawab Nini Maru. "Dulunya Aku kuntilanak Hitam karena terikat persekutuan dengan Ki Karso. Namun beriring waktu, Ia menuju pertaubatan dan membuangku begitu saja. Dulunya aku sangat ditakuti dan juga disegani diantara kuntilanak, namun setelah Ki Karso mencampakkanku, Aku menjadi begitu sangat terhina..!!"ucap Nini Maru menjelaskan.
Yanti menganggukkan kepalanya "Lalu mengapa sempat menjadi merah dan ingin kembali lagi menjadi merah?" tanya Yanti dengan penasaran
"Karena ada dendam yang belum terbalaskan..!!" jawab Nini Maru dengan menegaskan.
Yanti menganggukkan kepalanya dan mencoba mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nini Maru.
Sementara itu, Rey tampak tampak senang sekali jika karena telah mendaptkan korban baru, Ia kini harus mencari beberapa korban lagi untuk penyempurnaannya untuk dapat menaklukan Mirna menjadi Istrinya kelak, lalu melahirkan anak yang mampu menguasai kegelapan.
Mirna adalah impiannya, impiannya menaklukkan wanita itu sudah sangat lama terpendam dan Ia tidak dapat menahan hasratnya saat melihat kecantikan wanita itu.
Saat pertama dahulu, Ia sudah hampir menggagahinya saat ditepi sungai ditengah hutan, namun Satria yang tiba-tiba saja datang membuatnya harus menelan kegagalan.
Bayangan wajah Mirna seakan tak lepas dari ingatannya, Ia terlalu menginginkannya dan juga sangat mengharapkannya.
Disisi lain, dua anak milik Satria akan menjadi penghalang untuk Ia mendapatkan Mirna. Rey harus mencari cara untuk melenyapkan kedua bocah itu, terutama samudera, darah murni anak manusia itu sangat diinginkannya untuk menjadi tumbal penutup.
Namun Samudera telah berkhitan, itu artinya Samudera akan memasuki masa baligh, dan ini akan mengurangi masa kemurniannya, sebab jika Ia memasuki masa balihh, maka Ia sudah menanggung masa dosa sendirinya, bukan lagi bocah yang bersih tanpa dosa.
Rey tampak melamun dan temangu disebuah dahan pohon, lalu tiba-tiba sosok genderuwo datang menghampirinya, dan kini duduk disisinya.
Rey menoleh kepada sosok yang tak lain adalah bapaknya sendiri.
"Ada apa?" tanya Rey dengan nada malas. Saat ini Ia begitu ingin sendiri menik-mati bayangan wajah Mirna dalam sepinya malam, dan kesunyian yang membuatnya semakin merindukan sosok itu.
Tenggelam dalam angan yang tak tersentuh, saat cintanya tak pernah bersambut, hanya karena Ia buruk rupa dan juga bukan sosok impian sang wanita pujaannya.
Namun keiinginannya yang kuat untuk mendapatkan wanita itu, membuatnya terus berjuang mencari tumbal organ vital bagi siapa saja pelaku kemaksiatan yang akan membuatnya melakukan penyempurnaan wujudnya.
"Kamu enak-enakkan mengkhyal disini, tetapi Aku yang harus menanggung semua kekacauan yang ada, ibaratanya kamu yang makan nangka, tetapi Aku yang kena getahnya" ucap Genderuwo tersebut.
Rey menoleh kepada Sang Genderuwo yang seprtinya tampak sangat kesal "Emangnya ada masalah apa?" tanya Rey dengan santai.
Genderuwo itu semakin kesal dengan pertanyaan dari Rey.
"Apakah kamu tidak lihat jika wajahku disebar dimana-mana sebagai buronan karena dituduh pelaku pembunuhan berantai dan juga pengambilan organ vitAl para korban yang telah kamu lakukan?" ucap Genderuwo dengan kesal.
Rey menatapnya dengan tatapan mencibir "Sama polisi saja takut, seharusnya mereka yang takut dengan Kita" jawab Rey dengan angkuh.
Genderuwo itu mendengus kesal "Mereka sudah melibatkan paranormal untuk memburuku, dan waujudku sebagai kakek Nugroho sudah tidak dapat lagi berkeliaran sembarangan, karena sudah menjadi buronan" ucap Genderuwo tersebut.
"Cuma paranormal doank juga kacang.. Sudahlah, jangan difikirkan" jawab Rey seenaknya saja.
"Mereka membakar rumahku" ucap Genderuwo itu lagi.
Rey mendengus kesal.. "Masih banyak pohon bambu, nginep saja disitu" jawab Rey asal, lalu melesat menghilang meninggalkan Genderuwo yang masih curhat, namun ditinggalkan begitu saja oleh Rey.
Rey pergi mencari tempat ternyaman untuk kembali mengkhayal dan membayangkan wajah Mirna yang akan membuatnya begitu bahagia.
"Dasar anak gak ada sopan-sopannya, orangtua masih ngomong sudah ditinggal pergi" gerutu genderuwo dengan kesal, lalu melesat kembali ke rumah Lela yang kini menjadi tempat ternyamannya.
Selain menjadi tempat ternyaman, Lela juga akan memberikan kepu-asan yang membuatnya semakin betah tinggal dirumah sang janda.