
Yanti semakin merasakan perutnya semakin sakit dan rasa mulasnya semakin sering, dan..
Wuuussshhh...
Sesuatu meluncur dengan cepat dari jalur rahim Yanti yang tidak pernah diduganya sama sekali.
"oooooeeeekkkk"
Suara tangisan bayi yang menggema di pagi hari itu membuat Yanti tersentak. Bagaiamana mungkin dalam semalam Ia dapat hamil dan melahirkan anak dalam bentuk buruk rupa.
Yanti merasa kebingungan karena anak itu sangat hitam dan berbulu. Dua bola matanya memerah dan memiliki taring disudut bibirnya.
Yanti beringsut dari duduknya ranjangnya. Namun tanpa diduga, bayi itu tiba-tiba merangkak mengahampirinya yang menambah ketakutan pada wanita itu.
Belum sempat Yanti menghindar, Bayi mengerikan itu menuju jalan lahirnya, lalu menghisap darah yang keluar dari sana layaknya sedang menyusu.
Yanti membolakan matanya. Sepertinya Ia mengerti jika bayinya ini bukan meminum ASI, melainkan darah.
Ia terus menyesap darah ibunya sendiri, hingga Yanti merasa lemah. Bahkan Ia tidak membiarkan setetespun tersisa.
Setelah merasa darah yang mengalir itu habis tanpa sisa, tiba-tiba saja Ia sudah tumbuh bagaikan anak usia 1 tahun.
Yanti kembali bingung dengan pertumbuhan bayi mengerikannya itu. Terkadang tatapan bayi itu juga membuatnya bergidik.
"Jika darah minuman? Maka makanannya?" seketika Yanti membolakan matanya dan membayangkan anak yang dilahirkannya ini memiliki keanehan.
Yanti beranjak dari ranjangnya dan berniat hendak membersihkan dirinya. Namun sepertinya masih ada darah yang keluar dari jalur rahimnya saat Ia bergerak.
Dengan cepat bayi menyeramkan mengendus aroma amis darah, lalu melompat dan membuat Yanti terjengkang dilantai. Tanpa belas kasih anak itu kembali meyesap darah sang ibu yang merembes dari jalan tempat Ia dilahirkan.
Yanti merasa semakin lemah, dan Ia merasa tubuhnya seperti darah ditubuhnya habis dihisap oleh sang bayinya sendiri.
Pandangan matanya berkunang, dan akhirnya Ia tak mampu lagi mempertahankan rasa yang semakin berat menggelayuti dikedua bola matanya dan seketika menggelap.
Bayi itu tampak rakus sekali.
Ia belum juga merasa puas. Ia kini berubah menjadi bayo berusia 2 tahun, lalu berjalan menuju keluar dari kamar setelah melihat ibunya tak sadarkan diri.
Ia mencium aroma manusia dikamar sebelah. Ternyata dugaan Yanti yang mengira jika Tia sudah pulang itu salah. Sebab gadis itu masih berada didalam kamar itu dalam kondisi sakaw dan mabuk bersama seorang pria.
Lalu bayi 2 tahun itu menyelinap masuk kedalam kamar tersebut dan melihat seorang pria yang sedang terkapar dilantai tanpa busana.
Dengan cepat naluri iblisnya memuncak. Sebuah kelebatan bayangan hitam membantunya dengan mencabut lato-lato pria itu dan tentunya darah mengucur dari pangkal kaki sang pria yang tak sempat berteriak karena bayi dua tahun itu sudah melompat dan menggigit lehernya, dan dalam sekejap pria itu meregang nyawa.
Sang bayi menuju pangkal kaki, lalu menyesap darah itu hingga habis dan pertumbuhannya kian bertambah.
Perlahan Ia menggigit daging sang pria, dan dalam hitungan menit Ia melahab habis daging pria tersebut dan menyisakan tulang kerangka dan tengkoraknya.
Lalu anak itu kini berubah menjadi anak usia 8 tahun.
Ia berjalan gontai karena kekenyangan, dan keluar menuju kamar ibunya.
Ia memasuki kamar Yanti, lalu berbaring diatas ranjang dengan perut yang kekenyangan, lalu tertidur.
hari menunjukkan pukul 12 siang. Yanti mengerjapkan kedua matanya. Kepalanya terasa berat. Ia mengalami anemia karena hampir kehabisan darah.
Saat matanya memandang ranjang tidurnya, Ia melihat bayinya sudah sebesar anak berusia 8 tahun.
Meskipun kepalanya terasa sangat pusing, namun Ia mencoba merangkak untuk keluar dan berusaha bangkit dengan berpegangan dinding.
Setelah mencapai pintu, Ia berjalan tertatih mencari sesuatu yang dicurigainya.
Ia melihat kamar yang ditempati Tia terbuka pintunya.
Yanti berusaha untuk mencapai pitu tersebut. Benar dugaaannya, Ia membolakan kedua matanya saat melihat kerangka manusia yang tergeletak dilantai.
"Breenggsek..!!" maki Yanti dengan kesal. Ia harus segera menyingkirkan kerangka itu sebelum Tia terbangun.
Dengan sisa tenaganya, Ia menyeret kerangka manusia itu ke arah dapur menuju kamar rahasia.
Swtelah dengan usahanya yang cukup keras, Ia berhasil membawa kerangka itu masuk dan melemparkannya begitu saja. Lalu menguncinya kembali.
Ia mendengar suara keributan didalam kamar tersebut. Mungkin biawak itu marah karena hanya disisakan daging yang sedikit saja.
Yanti masih merasakan tubuhnya sangat lelah, Ia butuh asupan energi untuk mengembalikan tenaganya yang terkuras.
Ia melihat ada sisa daging buruan yang dimasaknya. Lalu Ia menyantabnya sembari berbaring, karena Ia benar-benar sangat lemah.
Setelah menghabiskan makanannya, Yanti merangkak menuju kamarnya. Lalu berbaring di lantai dan ingin mengembalikan staminanya.
Perlahan bocah itu bertumbuh cepat. Saat Ia bangun dari tidurnya, Ia sudah menjadi remaja seusia 16 tahun. Ia terbangun dari tidurnya dan mendapati wanita yang melahirkannya terbaring dilantai.
Melihat ibunya terbaring dengan pakaian tersingkap, membuat naluri kela- kiannya hadir dengan cepat.
Namun Ia teringat akan Tia yang berada dikamar sebelah saat menyantab pria yang bersama wanita itu.
Ia beranjak dari kamar sang ibu, menuju kamar Tia yang masih tertidur karena mabuk.
Dengan cepat Ia melompat ke atas ranjang, lalu menatap gadis muda namun sudah sangat rusak.
Ia dengan tak sabar menggarap sang wanita, dan untuk pertama kalinya menumpahkan bibitnya didalam rahim wanita itu.
Tia merasakan tubuhnya sedang digarap seseorang. Namun karena kondisi sakau dan juga mabuk, Ia tak mampu membuka matanya.
Ia hanya dapat merasakan jika seseorang itu terasa begitu sangat rakus dan tak memberi jeda padanya.
Semakin lama makhluk mengerikan itu tak juga menghentikan aksinya, hingga Tia tak sanggup lagi menanggungnya dan mengalami kelelahan, lalu tak sadarkan diri.
Setelah menyalurkan hasratnya, remaja buruk rupa itu meninggalkan Tia dalam kondisi tak sadarkan diri. Lalu kembali menuju kamar ibunya.
Yanti terasadar dari pingsannya. Ia menatap ke atas ranjang, dan alangkah terkejutnya Ia ketika melihat sang anak yang baru beberapa jam lalu dilahirkannya sudah seusia 16 tahun.
Yanti semakin pusing memikirkannya.
Remaja itu menatap wanita melahirkannya dengan tatapan mengerikan. Sebab kedua bola matanya memerah dan gigi taringnya menyeringai.
Yanti bergidik dibuatnya. meskipun itu adalah anak yang dikandung dan dilahirkannya, namun melihat fisik sang anak dengan tatapan seperti iti membuatnya sangat bergidik ketakutan.
Yanti beranjak dari lantai dan mencoba keluar dari kamarnya.
Kemudian Ia menguncinya dari luar. Sepertinya Yanti harus membuat anaknya itu berada di kamar rahasia tanpa sekamar dengannya, sebab Ia takut jika sewaktu-waktu Ia akan disantap juga saat terlelap.