MIRNA

MIRNA
episode 117



Dino mau tak mau beranjak dari duduknya, meskipun sebenarnya Ia sangat tertarik dengan tawaran Yanti barusan, namun lagi-lagi Dino harus menghalanginya.


Saat mereka keluar dari warung, Didi merasakan adanya hawa negatif didalam warung Yanti, namun itu apa Ia tak tahu.


Yanti sangat kesal dengan jawaban Didi yang terkesan menolaknya. "Dasar belagu sekali pemuda itu" Yanti berguman kesal sembari menggaruk organ intinya yang gatal.


Bersamaan dengan hal itu, didalam kamar rahasia Yanti, darah masih mengalir dari luka di abgian pangkal kaki pria korban kebiadaban wanita setengah iblis dan juga Rey.


Sedangkan dikamar utama Yanti, terdapat ceceran darah yang berada dibawah ranjang Yanti tak terkena pengepelan saat pagi tadi, darah itu sudah mengering.


Yanti meraih hewan buruan tersebut dan mengulitinya untuk diolah menjadi rendang sebagai sajian untuk para pelanggan yang nantinya akan minum tuak diwarungnya.


Dilain sisi, Dino tampak kesal kepada kepada Didi yang sedari tadi terus bertingkah aneh kepadanya.


"Kita ke warung Mbak Lela, nanti setelah itu Kita berburu lagi" ucap Didi kepada Dino, lalu keduanya berjalan menuju warung Lela yang berjarak 800 meter dari Warung Yanti.


"Tapi nanti naik motor saja, capek juga jalan kaki" ucap Dino menyarankan.


"Iya.. Nanti motornya Kita titipkan saja dirumah Mbak yang cantik itu" ucap Didi menimpali.


Dino tersenyum mencibir "Yaelah.. Ternyata mengakui juga kalau si Mbaknya cantik.." cibir Dino kepada Didi.


"Aku kan laki-laki normal, ya kalau memang cantik ku katakan cantik, kalau tidak ya tidak. Aku hanya mengagumi kecantikannya bukan berarti berniat untuk berbuat lebih. Coba bayangkan kalau suaminya tau Kita mencoba menggoda istrinya, emang kamu mau lato-lato kamu hilang seperti beberapa penemuan mayat yang hingga kini tidak terpecahkan kasusnya?" ucap Didi mencoba mengingatkan.


Seketika Dino bergidik mebayangkannya "Ya enggaklah, masa Iya aset masa depanku harus berakhir tragis seperti itu" jawab Dino merasa takut.


"Nah, makanya jangan coba-coba berfikiran aneh dengan istri orang, mending kamu godain Mbak Lela, janda muda tanpa anak" ucap Didi bergurau, sembari terkekeh karena warung Mbak Lela sudah terlihat dari arah simpang.


Dino tertawa mendengar gurauan Didi, namun sesaat Ia terdiam "Eh, Di.. Sepertinya kakek yang berjanggut putih sering bawa ikan itu sering ke warung Mbak Lela, dan tatapannya aneh gitu" ucap Dino menduga-duga.


Didi tertawa renyah "Masa Iya Mbak Lela mau sama aki-aki, yang ada belum apa-apa sudah lemas duluan" gurau Didi yang semakin membuat keduanya terpingkal.


*****


Mega menggantung dilangit senja. Syafiyah sudah sampai dirumah, namun Ia tidak melihat Mirna berada dirumah.


Hari ini Syafiyah pulang sedikit lambat dari biasanya, sebab ada beberapa urusan dipuskesmas.


"Kemana Dia? Tak biasanya rumah sepi" guman Syafiyah dalam hatinya, lalu memasuki kamar untuk membersihkan dirinya. Syafiyah merasakan gerah yang sangat luar biasa, Ia memasuki kamar mandi dan ingin segera membersihkan dirinya.


Tanpa sengaja Ia melihat perutnya yang semakin membuncit. "Bagaimana jika Ia lahir? Aku pasti kerepotan untuk mengurusnya, dan tidur nyenyakku pasti akan tergangnggu dengan suara-suara tangisnya yang mana akan membuatku mengantuk saat bekerja dipagi harinya" Syafiyah berguman lirih.


Namun Ia juga mengetahui jika Mirna juga sedang mengandung, dan nantinya jika Ka tidak melahirkan anak ini, maka perhatian Satria akan beralih kepada Mirna, dan Ia tak ingin itu terjadi.


Syafiyah mempercepat mandinya. Ia menyalin pakaiannya dan ingin segera duduk didepan teras.


Setelah selesai berdandan, Ia duduk diteras sekedar mencari angin, dan matanya tertuju pada simpang rumahnya "Kenapa Ia belum juga pulang? Apakah Ia pulang kerumahnya ditepi hutan?" Yanti kembali berguman.


Ia melihat Bu Ratna sedang menaiki sepeda motornya dan pergi ke warung untuk berbelanja "Mbak Fiyah.. Hampir Maghrib, jangan diluar rumah, apalagi sedang mengandung" Bu Ratna mengingatkan.


Syafiyah menanggapinya dengan senyum datar.


"Berisik banget sih.. Apa gak tau kalau lagi gerah saja" Guman Syafiyah lirih.


Syafiyah masih menatap Simpang jalan rumahnya, Ia masih penasaran, mengapa Mirna belum juga kembali.


Ternyata Ia merasa takut juga tinggal sendirian, namun Ia merasa jaga image dan tak ingin Mirna mengetahuinya.


Hingga Bu Ratna kembali dari warung, Syafiyah masih duduk diteras.


Bu Ratna menggelengkan kepalanya melihat sikap Syafiyah yang terkesan sangat keras kepala.


Adzan Maghrib berkumandang dengan begitu merdunya. Syafiyah masih bertahan diteras dan Ia masih memainkan phonselnya.


Ia berniat ingin menghubungi Satria, namun mengurungkan niatnya sebab pertengkaran waktu itu dan saat ini pastinya Satria masih shalat Maghrib.


Adzan telah selesai. Sesaat Syafiyah merasakan semilir angin yang berhembus dengan begitu sangat dingin dan aroma kabel terbakar menyeruak disekitarnya.


Syafiyah merasakan bulu kuduknya meremang, dan perasaan tak nyaman. Sesaat Ia melihat sosok pria senja berjanggut putih menatapnya dibalik pohon rambutan yang ada disamping rumahnya.


Syafiyah menajamkan pandangannya untuk melihat pria senja berjanggut putih itu yang terus saja menatapnya dengan tatapan yang begitu tampak menyeramkan.


Sesaat kedua bola mata pria senja itu berubah menjadi merah menyala dan dan melesat cepat menghampirinya yang masih duduk termangu dan seperti terpaku hingga tak dapat bergerak dan mengeluarkan suaranya.


Sosok itu sudah berada tak jauh darinya dan tangannya mengulur panjang hendak menjamah perut Syafiyah yang tak diam tak mampu bergerak.


Lalu dengan tiba-tiba, sebuah tendangan menerjang sosok pria senja tersebut hingga terpental jauh.


Syafiyah membolakan matanya, Ia masih syok dengan apa yang dilihatnya barusan, lalu Ia menatap seseorang yang baru menyelamatkannya dari sosok mengerikan tersebut.


Ia melihat Mirna yang kini berada dihadapannya dengan tatapan sendu dan mengulurkan tangannya agar Syafiyah segera masuk kedalam rumah, karena saat Maghrib waktunya para makhluk tak kasat mata berkeliaran dan mencari tempat untuk mengganggu manusia yang masih berada diluaran.


Syafiyah beranjak bangkit dari bangkunya dan terburu-buru masuk kedalam rumah dan nafasnya tampak memburu.


Syafiyah masuk kedalam kamar dan menguncinya.


Wanita itu bingung bagaimana caranya tiba-tiba Mirna sudah berada didepannya, dan itu sangat tidak masuk akal, sebab Syafiyah tidak melihat Mirna yang berjalan dari arah simpang.


"Mengapa Ia bisa melakukan tendangan seperti itu? Bukankah Ia sedang hamil? Apakah Ia tidak takut keguguran?" Syafiyah merasa sangat bingung dengan Mirna yang dianggapnya sangat begitu aneh.


"Siapa Dia sebenarnya? Bahkan orangtuanya juga tidak diketahui hingga kini. Mengapa Ia bisa ditemukan Mas Satria saat kembali dari luar negeri waktu itu?" Guman Syafiyah yang mulai mencari-cari identitas Mirna sebenarnya.