MIRNA

MIRNA
episode 212



"Aaaaaaarrrrghh..."


Nini Maru terpekik kesakitan dengan suara lengkingan yang hanya terdengar oleh pria tampan itu.


Begitu halnya dengan jin qorin Yanti yang tampak sangat kesakitan dan kini menabeak dinding goa dan jatuh terpental ke lantai dengan kesakitan dan hawa panas seakan membakar tubuhnya.


Saat bersamaan, Nini Maru juga terpental dan masuk ke goa dengan wajahnya terbakar dan tampak hangus.


Suara erangan keduanya membuat Ki Kliwon merasa terganggu dan sangat kesal. Ia membuka matanya da melesat melihat kedua iblis betina yang kini meraung-raung kesakitan.


Saat ia berda diruang goa tempat Nini Maru dan Yanti yang tampak kesakitan dan bergulingan dilantai. Sementara Nini Maru wajahnya tampak hangus dan kemarin hampir sembuh kini semakin parah dan tampak memperburuk kondisinya.


"Apa yang terjadi pada kalian?" bukankah ini ajian segoro geni, mengapa kalian bisa terkena ajian ini kembali?" tanya Ki Kliwon dengan penasaran.


"Sakit, Ki.. Ini karena Satria menantu sialaaan itu..!!" ucap Nini Maru dengan sangat kesal sembari memegangi wajahnya.


Lalu Ki Kliwon menggeram kesal "Bukankah saya sudah mengatakan jangankalian berkeliaran dahulu, perdalam pertapaan kalian dan penyerapan energi negatif agar kalian lebih kuat, tetapi kalian terlalu keras kepala..!!" ucap Ki Klieon dengan nada geram dna juga emosi.


Sementara itu, Wanda dibawa ke puskesmas dengan menggunakan mobil ambulance yang menjemput dari puskesmas. Dengan kecepatan tinggi ambulance melaju kencang karena Wanda sudah hampir melahirkan dan kepala bayi sudah mulai tampak didepan pintu jalan lahir.


Para medis mencoba membantu Wanda agar mengikuti intruksi dari para bidan yang ikut dalam perjalanan tersebut.


Sedangakan pria yang menggunakan mobil hitam itu mengikuti ambulance dan memastikan tidak ada lagi makhluk iblis yang mencoba menghadang atau mengganggu kembali.


Ternyata sang jabang bayi tak sanggup menunggu sampai ke puskesmas, Ia lahir didalam perjalanan dan Bidan yang mengikuti perjalanan tersebut akhirnya menyambut bayi perempuan tersebut dan bayi itu lahir dalam kondisi selamat.


Sedangkan placenta masih tertinggal didalam rahim, Bidan harus mengeluarkan placenta karena ini sangat berbahaya dan dapat mengakibat pendarahan juga kematian jika tidak ditangani dengan segera.


Tak berselang lama, mobil ambulance mengalami pecah ban, hingga membuat mobil ambulance mengalami kendala. Saat ini Bidan sedang menangani bayi yang baru lahir dan Ia hampir melupakan jika placenta milik Wanda ikut keluar bersama sang jabang bayi.


Seketika mobil ambulance menepi dipinggir jalan , dan mobil hitam itu ikut berhenti, lalu seorang pria yang sedari tadi mengikuti mereka menggedor pintu ambulance agar segera membuka pintu tersebut.


Didi mencoba membuka pintu ambulance dan berharap jika pemilik mobil itu mau mengantarkan mereka ke puskesmas.


Namun diluar dugaan, pria itu masuk kedalam mobil ambulance dan memeriksa Wanda yang sudah mengalami pendarahan karena placenta yang tertinggal.


"Heei.. Apa yang kau lakukan terhadap istriku?" tanya Didi dengan wajah marah karena pria yang tak lain adalah Satria memeriksa jalan lahir istrinya, dan tentu saja itu membuatnya sangat tidak senang. Sementara Bidan yang kini menanangani bayinya masih sibjk memotong tali pusat sang jabang bayi.


Satria menatap kepada Didi dengan sorot mata sarkas "Istrimu sedang pendarahan karena placenta tertinggal didalam, jika tidak ditangani maka kematian yang akan menjemputnya" ucap Satria tanpa ekspresi apapun.


Seketika Didi bergetar mendengar penuturan Satria "Tapi Aku tidak mempercayaimu, bisa saja Kau ingin mencari kesempatan dalam kesempitan" serga Didi yang tidak dapat mempercayai orang asing itu begitu saja.


Satria tersenyum miris "Tenanglah.. Aku seorang dokter, jangan banyak tanya karena nyawa istrimu dalam bahaya..!" ucap Satria dengan tegas.


Setelah memeriksa placenta itu lengkap tidak ada yang tertinggal, Satria meraih plastik kresek yang ada didekatnya dan memasukkannya kedalam kantong kresek tersebut, lalu menyerahaknnya kepada Didi.


"Setelah urusan ini selesai, kuburkan placenta ini dengan layak, jangan sampai Kau membuangnya, bersihkan dan sucikan sebelum dikubur, karena makhluk iblis laknatullah sangat menyukainya.


Secara bersamaan, ban mobil ambulance sudah selesai diperbaiki, dan kembali melanjutkan perjalanan ke puskesmas.


Didi tidak pernah bertemu dengan pria itu, namun Ia mengucapkan terimakasih kepada pria itu karena telah menyelamatkan nyawa istrinya.


Akhirnya mobil ambulance tiba dipuskesmas, dan Wanda segera dibawa ruangan perawatan untuk dibersihkan dan diberi obat antibiotik agar tidak terjadi infeksi saat penanganan diperjalan tadi.


Setelah Wanda dan juga bayinya selesai dibersihkan, Didi segera mengiqamahkan bayi perempuannya, dan Ia sangat bersyukur bayi dan juga istrinya selamat.


Peristiwa menghilangnya mkbil ambulance hang berada didepan mata para medis dan juga kepolisian membuat rumor yang berkembang.


Mereka menafsirkan jika itu ulah Jin qorin Yanti yang masih menghantui warga. Sebab warga yang saat itu berkerumun tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran Yanti yang dengan wujud mengerikan, dan membuat warga yang saat itu berkumpul berhamburan pergi meninggalkan lokas kecelakaan.


Saat ini, polisi sedang berjuang melepaskan sopir ambulance yang terjepi dibadan mobil menggunakan alat pemotong logam berupa gerinda.


Sopir itu tampak kelelahan dan kehabisan tenaga. Darah mengalir dari dua kakinya yang terjepit hingga batas lutut.


sopir ambulance tersebut tampak meringis menahan sakit, karena polisi mengalami kesulitan dan ini membutuhkan waktu yang sangat lama.


Saat polisi hampir menyerah dengan usaha evakuasi tersebut, Satria kembali ke lokasi kejadian dan Ia memastikan jika para kepolisian itu sedang diganggu makhluk iblis yang mengincar lato-lato sang sopir karena iblis tersebut sudah sangat lama tidak mendapatkan tumbal lato-lato.


Satria turun dari mobil dan melihat para polisi sudah kelelahan melakukan evakuasi karena alat yang digunakan mereka tidak dapat memotong badan mobil dan itu hal yang sangat aneh.


Ternyata Rey yang sedang mengerjainya dan Ia mencoba menghalangi para petugas tersebut sembari menyesap darah yang keluar dari luka sopir ambulance.


Melihat kehadiran Satria, Ia segera ngacir dan melesat pergi untuk menghilang.


Sedangkan Satria menghampiri petugas kepolisian, lalu dengan sangat mudahnya Ia melepaskan kaki sopir ambulance dengan menekan dan merobek badan mobil bagaikan merobek roti sobek saja.


Hal tersebut membuat petugas kepolisian tercengang dan merasa bingung.


Sementara itu, Satria mengangkat tubuh sang sopir yang sudah tak sadarkan diri dan memyerahkannya kepada kepolisian untuk segera dibawa ke puskesmas dan mendapatkan perawatan.


Setelah itu Satria kembali menaiki mobilnya dan melaju pulang sebelum polisi bertanya apapun tentangnya.


Pihak kepolisian membawa sopir yang terluka ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan.