MIRNA

MIRNA
episode 119



Didi dan Dino masih betah diwarung Mbak Lela menikamati wifi gratis dan juga pesanannya.


"Eh. Din.. Aku merasa koq aneh ya sama warungnya Mbak Yanti?" ucap Didi sembari memainkan phonselnya.


"Maksud kamu apa sih, Di?" jawab Dino tanpa menoleh ke arah Didi karena asyik dengan phonselnya.


Didi menyeruput es dinginnya "Itu, warungnya bau amis darah gitu, baunya menyengat banget" ucap Didi sembari meletakkan gelasnya diatas meja dan menatap nanar lurus kedepan.


Dino menghentikan selancar diphonselnya, lalu menoleh ke arah Didi, sahabatnya.


"Maksudmu? Darah manusia atau hewan? Mungkin sajakan darah hewan buruan seperti yang dibelinya dari kita" Dino mencoba menganalisa dengan dugaannya.


Didi mengangkat kedua bahunya "Entahlah.. Tapi Aku merasa aneh saja. Masih ingat gak waktu kita nemuin mayat tanpa alat Vital? Lokasinya itu tepat dibelakang warungnya, dan itu sudah dua kali terjadi" Didi mulai menggali memorynya.


Dino menganggukkan kepalanya "Iya sih, tapi kan penemuan mayat itu sebelum ada warung Mbak Yanti, dan belum tentu Dia pelakunya" ucap Dino mencoba menepis semua dugaan Didi tentang kecurigaan sahabatnya itu.


"Iya juga sih.. Tapi sepertinya di desa ini sudah banyak kasus kematian para laki-laki dimulai dari remaja hingga yang dewasa dan kehilangan alat Vitalnya" ucap Didi menimpali.


Dino menganggukkan kepalanya "Iya juga sih, baru-baru ini juga ada kasus remaja yang ditemukan diperkebunan kelapa sawit dan alat Vitalnya hilang" Dino membenarkan ucapan sahabatnya.


"Dan kasusnya menguap begitu saja tanpa mengetahui siapa pelakunya" ucap Didi dengan lirih. Mereka berbincang seolah sedang berbisik agar tidak didengar pengunjung lain.


Saat mereka asyik mengobrol, tampak Kakek Nugroho datang masuk ke warung.


Semakin lama penampakan Kakek Nugroho sedikit berbeda, Ia tak lagi serenta waktu pertama kali kehadirannya. Ia sedikit tampak lebih berisi dan wajahnya sedikit lebih muda, entah apa yang sudah dilakukannya dapat memperbaiki keriput diwajahnya.


"Aku setiap kali bertemu kakek Nugroho kenapa merasa merinding Ya, Din?" ucap Didi merasakan hawa yang tidak enak saat melihat kehadiran pria senja itu.


"Ah.. Kamu bisa saja, Di.. Sudahlah.. Ayo main game lagi, bentar lagi Mbak Lela mau tutup" ucap Didi mengingatkan.


Lalu keduanya kembali bermain game online dan asyik dengan phonselnya masing-masing.


Tanpa mereka sadari, Kakek Nugroho dan Mbak Lela sudah saling mengobrol satu sama lain dan terlihat begitu intens.


Pelanggan lain mulai berpulangan satu persatu dan kini tinggal Didi dan Dino yang masih asyik bermain phonsel, sedangkan Kakek Nugroho dan Mbak Lela kini sudah merubah posisi duduk mereka menjadi bersebelahan.


Keduanya duduk sangat rapat dan tanpa sengaja Didi melihat tangan pria senja itu sudah berada didalam daster Mbak Lela dan sedang memainkan gundukan kenyal itu.


Seketika Didi menyenggol kaki Didi "Pulang, Yuk.." ajak Didi kepada Dino dengan berbisik.


"Bentar lagi, nanggung" jawab Dino sembari terus memainkan phonselnya.


Didi terus melirik apa yang dilakukan pria senja itu "Bussyeeet.. Itu Aki makin tua makin menjadi.. Bisa-bisanya Mbak Lela mau digituin sama tu Aki" guman Didi lirih dalam hatinya.


"Udah.. Yuk balik" ajak Dino yag sudah menyelesaikan permainan game onlinenya.


"Yuuk.." lalu keduanyanya beranjak pergi meninggalkan warung.


"Mbak.. Kami pulang, dulu" teriak Dino yang terus melangkah pergi dengan diiringi oleh sahabat Didi.


Lalu keduanya mengendarai motornya menuju pulang. Keduanya sering bermain bersama sebab rumah mereka saling berhadapan dan itu menjadikan mereka akrab.


Sementara itu, Lela hanya pasrah dengan perlakuan Kakek Nugroho yang selalu menggarapnya dalam wujud genderuwo yang menyeramkan.


Disisi lain, Yanti merasa saat ini sangat bahagia karena hasil dari tumbal janin Rina Ia mendapatkan harta yang sangat banyak. Namun Ia masih menumpukkaan harta bendanya dalam sebuah peti.


Dan Yanti telah memasak rendang daging biawak dan tupai yang dibelinya dari Didi dan juga Dino.


Daging itu akan Ia jual dengan harga mahal sebagai teman minum tuak bagi pelanggannya.


Yanti merasa sangat beruntung karena ke empat para remaja itu bekerja dengan sangat baik dsn menghasilkan uang yang sangat banyak.


Nini Maru memenuhi janjinya memberikan uang yang banyak dan juga Perhiasan emas permata.


Setelah menghidangkan daging rendang tersebut, Yanti meminta pembayaran diawal dan memeras para pria mabuk itu dengan harga tinggi dan juga layanan dari para ke empat remaja tersebut.


Setelah mendapatkan semua bayarannya. Maka Ia menuju kamarnya. Perlahan Ia mencium aroma anyir darah.yang mana arahnya dari bawah ranjangnya, Ia tidak ingin jika anyir darah itu berasal dari darah yang pria kemarin yang telah dibantainya.


Yanti mencoba mengidupkan senter phonselnya, lalu mengarahkan cahaya senter itu pada bawah ranjangnya.


Sesaat Ia mencari subernya, dan alangkah terjutnya Ia saat melihat ada darah mengering didekat kaki ranjangnya, dan Ia merasakan mual saat mencium aroma anyir darah yang memualkan perut tersebut.


Bersamaan dengan hal itu, Yanti melihat sosok pria berwajah pusat pasih yang berbaring dibawah ranjangnya.


Seketika Yanti membekap mulutnya agar tidak berteriak mengeluarkan suara saat melihat sosok tersebut.


Dengan cepat Yanti menjauh dari bawah ranjang dan menaiki ranjang serta menarik selimut untuk menutupi ketakutannya.


Ia mengingat jika pria adalah korbannya saat malam itu.


"Kembalikan organ vitalku" ucap suara dari bawah ranjang dengan suara parau.


Seketika Yanti membolakan kedua matanya karena merasa sangat ketakutan mendengar permintaaan suara tersebut.


"Mengapa Ia bisa datang kembali lagi? Bukankah Ia sudah tewas?" guman Yanti dengan lirih dan penuh ketakutan.


Sesaat ranjangnya digoyang dengan cepat dan membuat Yanti semakin gemetar.


"Kembalikan organ Vitalku" Suara parau itu semakin mengguncang ranjang Yanti dengan kuat, sehingga membuat wanita itu semakin ketakutan dan akhirnya terlempar ke lantai.


Sesaat Ia melihat sosok pria itu dari kolong ranjang yang menatapnya dengan seringai mengerikan.


Yanti merasa gugup, dengan cepat Ia berusaha bangkit dan mencoba akan keluar dari kamarnya, namun kakinya seolah ditarik oleh pria berwajah pucat tersebut, dan Yanti meronta ingin melepaskan dirinya, namun pria menariknya kebawah ranjang dan menatapnya dengan tajam.


Yanti semakin ketakutan dan berusaha untuk melepaskan dirinya, namun pria itu semakin mencengkram pergelangan kakinya dan tersenyum menyeringai saat jarak mereka begitu dekat dengan kedua tangan ingin mencekiknya.


Seketika Yanti berteriak sekuatnya, sehingga membuatnya tersentak, dan Ia mendapati dirinya sedang bermimpi.


Keringat dingin mengalir membasahi sekujur tubuhnya yang baru saja mengalami mimpi buruk dan juga sangat membuatnya bergidik.


"Dasar..!! Sudah mati saja juga buat repot.!!" guman Yanti kesal dengan nafasnya yang memburu dan degub jantungnya yang berdegub dengan kencang.