
Saat malam menuju Dini hari, Syafiyah merasakan sakit karena kontraksi mulai menderanya.
"Mas.. Sakit banget Nih perutku.. Ini kontraksi Mas" sebut Syafiyah yang merasakan kontraksinya semakin inyens.
Satria tersentak dari bangunnya dan menoleh ke arah Syafiyah. Dengan siaga Ia menggendong sang istri menuju mobil untuk dibawa ke puskesmas.
Sementara itu Mirna ikut bersama untuk membantu proses kelahiran Syafiyah.
Satria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tak dapat melaju kencang.
Syafiyah terus merengek dan mengeluhkan sakit yang begitu menderanya.
Saat ditengah perjalanan, Yanti dalam sosoknya yang mengerikan menghadang ditengah jalan dan dengan tatapan penuh amarah Ia menahan mobil yang dikemudikan oleh Satria hingga berhenti mendadak.
Dengan kesal, Satria keluar dari mobil dan ingin mengeluarkan ajian segoro geni untuk menghalau makhluk itu. Namun Ia teringat akan Mirna yang ada didalam mobil bisa celaka jika sampai terkena penderan hawa panasnya.
Apalagi saat ini Mirna juga sedang hamil tua dan akan melahirkan.
Satria mengeluarkan tasbih pemberian dari pamannya Hamzah, lalu membacakan dzikir dan melemparkannya kepada Nini Maru dalam wujud Yanti.
Namun Yanti segera menghilang dan bertengger disebuah dahan pohon.
Satria mendengus kesal, lalu tasbih itu berputar kembali padanya.
Syafiyah semakin mengeluh kesakitan, dan keringat dingin semakin mengucur hebat.
Mirna keluar dari mobil, lalu membuka pintu jok depan dan menggendong Syafiyah.
"Mas.. Biar Mirna yang membawa Mbak Syafiyah ke puskesmas, Mas selesaikan saja makhluk sialan itu.!!" ucap Mirna yang kini sudah menggendong Syafiyah dan bersiap untuk pergi ke puskesmas.
Syafiyah bingung mengapa Mirna dapat dengan mudahnya menggendong tubuhnya, sedangkan Ia juga dalam keadaan hamil.
Dalam kecepatan cahaya Mirna melesat menuju puskesmas.
Sementara itu, Nini Maru yang melihat Mirna membawa Syafiyah pergi, dengan cepat melesat mencoba mengejarnya.
Satria yang melihat hal tersebut membolakan matanya dan mengeluarkan ajian segoro geni yang ditujukan kepada Nini Maru.
Namun diluar dugaan, Kakek Nugroho melesat memghalanginya, hingga Ia menjadi tameng bagi Nini Maru dan membuatnya terbakar, sedangkan Nini Maru berhasil kabur.
Satria dengan cepat kembali kedalam mobil untuk segera menyusul Mirna dan juga Syafiyah.
Mirna mendarat didepan pagar puskesmas, lalu mencoba berdiri dan berjalan santai menuju pintu masuk puskesmas, agar tak ada yang mencurigainya. "Sudah hampir dekat pintu masuk, Mbak bisa berdiri sebentar, sebab tidak masuk akal saya menggendong Mbak" Mirna.
Syafiyah menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk berdiri, lalu Mirna berteriak untuk meminta dibawakan kursi roda.
Para perawat dan juga bidan datang dengan cepat, sebab bagaimanapun Syafiyah masih kepala puskesmas dan kini masih diwakilkan.
Ditempat lain. Genderuwo yang kini terbakar masuk kedalam mobil Satria, dan mencoba menghalangi Satria dengan mencekik leher pria itu.
Dengan cepat Satria menepikan mobilnya, lalu melepaskan cekikan tersebut dan menarik keluar iblis yang sudah terbakar tersebut.
Sekelebat bayangan hitam datang dan menarik sang genderuwo dari cengkraman tangan Satria lalu membawanya menghilang.
"Siaaalll..!!" maki Satria lalu kembali ke mobil dan menuju puskesmas yang sebentar lagi akan sampai.
Syafihah dibawa keruang bersalin sementara itu Mirna ingin menemani, namun dihalangi oleh para tenaga medis.
Tetapi Syafiyah meminta agat Mirna diijinkan masuk.
Mirna akhirnya ikut masuk kedalam ruang bersalin untuk menemani Syafiyah melahirkan.
Disisi lain, Nini Maru sudah berada di atas bubungan puskesmas. Mirna merasakan kehadirannya. Ia dengan cepat menuju keluar dan melihat kearah bubungan, namun Nini Maru hanya memancingnya saja, sebab Ia sudah masuk kedalam ruang bersalin.
Saat bersamaan, Syafiyah sudah pecah ketuban dan bayi akan segera meluncur, Nini Maru sudah bersiap di bawah ranjang bersalin.
Mirna melemparkan selendangnya kearah Nini Maru, dan bayi itu sudah berada ditangan sang bidan.
Hooooooeeeekk..
Suara tangisan dari sang bayi laki-laki menggema diseluruh ruangan bersalin, dan ini sangat membuat Nini Maru semakin panik.
Namun Nini Maru kesal dan membuat amarahnya semakin meledak. Mirna mengawasi bidan yang sedang membersihkan sang bayi agar tidak disentuh oleh Nini Maru.
Mirna mencoba menghalau Nini Maru, namun Ia berpindah-pindah dengan cara menghilang, membuat Mirn kerepotan.
Namun diluar dugaan Nini Maru menyasar pada Syafiyah. Ia mengakat ranjang Sayafiyah yang saat ini masih proses mengeluarkan placentanya.
Seketika suasana heboh dan para medis berteriak, karena para medis tidak tahu siapa yang mengangkat ranjang tersebut, dan dengan satu hempasan, Syafiyah melambung ke udara dan jatuh kelantai sebelum Mirna sempat menangkapnya sebab Ia sedang menggendong sang bayi yang baru siap dibersihkan.
Para medis terpekik melihat kejadian tersebut, lalu kembali mengangkat tubuh Syafiyah dan meletakkannya ke atas ranjang yang kini sudah dikembalikan semula.
Syafiyah menagalami patah tulang pinggang dan pendarahan hebat.
Sementara Mirna bingung harus mengurus yang mana.
Mirna menghampiri Syafiyah yang kini sedang berusaha dirawat oleh medis. Ia tidak bisa melepaskan sang bayi sembarangan, sebab Nini Maru mengincar bayi tersebut.
Syafiyah mengeluarkan darah dari mulutnya, Ia menggerakkan jemarinya dan menginginkan Mirna untuk mendekatkan bayinya.
Mirna memandang wajah bayinya, lalu tersenyum dengan menahan rasa sakit.
"Be-beri Ia nama Sa-mudera.. Dan Aku titipkan Oa kepadamu, besarkan dan beri Ia kasih Sayang yang tulus seperti kau menyanyangiku" ucap Syafiyah sembari menatap sayu pada Mirna.
Dan tak berselang lama, Syafiyah mengucapkan kalimah syahadat, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Mirna merasa bingung.. Ia tak tak mampu mengucapkan kata apapun, sedangkan bayi Syafiyah menangis ingin menyusu.
Para medis panik melihat Syafiyah sudah tidak bernyawa lagi.
Dan Satria baru tiba dipuskesmas dan melihat kondisi yang sangat kacau.
Sesaat Ia diam termangu dan tak mampu berkata apapun, hanya air matanya yang menjadi ungkapan hatinya yang hancur saat ini sembari mengecup kening Syafiyah tak lagi dapat bergerak dan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Saat bersamaan, Mirna juga merasakan mulas diperutnya, dan seketika suasana kembali heboh.
Mirna meminta Satria untuk memegang sang bayi, dan Satria segera meraihnya dan saat itu juga Meng-adzankan sang bayi laki-lakinya.
Saat adzan selesai, Mirna pun melahirkan anak laki-laki dihari yang sama dengan waktu yang berbeda satu jam saja.
Satria merasa bahagia dan juga berduka disaat yang bersamaan.
Setelah bayi Mirna dibersihkan, kini Kembali lagi Satria meng-adzankan anak keduanya dan suasana haru juga berduka saat bersamaan.
Bayi Syafiyah terus menangis dan ingin menyusu "Pak Satria, ini Bayi Almarhum Ibu Syafiyah ingin menyusu apakah kita beri susu formula?" ucap Perawat tersebut memberi tahu.
Mirna yang mendengarnya menoleh ke arah sang bayi laki-laki tersebut.
"Berikan padaku.. Aku akan menyusuinya" jawab Mirna.
Hal tersebut membuat perawat itu terperangah dan memandang Satria.
"Apakah tak merepotkanmu?" tanya Satria.
Mirna menggelengkan kepalanya "Anggap saja aki memiliki anak kembar, meski dari rahim yang berbeda, namun mereka akan satu susuan, hingga membuat mereka kelak akan memiliki satu ikatan bathin yang kuat" ungkap Mirna.
Satria tak mampu mengatakan apapun dan menyerahkan bayi laki-laki dari istri pertamanya untuk susui oleh Mirna. Bahkan kini Mirna menyusui dua bayi itu sekaligus secara bersama.
Sementara itu, Satria mengurus jenazah Syafiyah untuk segera diurus dan dibawah pulang, sebab waktu sudah mendekati subuh dan nantinya akan segera dikebumikan.