
Sosok pria itu berusaha bangkit dari lantai dan ingin mengejar Samudera.
"Lari, Kak!" teriak Angkasa kepada Samudera yang sudah berusaha keluar dari pintu dapur dan menuju semak untuk mengambil sepeda motornya.
Sosok pria itu sudah berdiri kembali. Ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Bocah siaaalan!! Beraninya ikut campur dengan urusanku!" makinya dengan kesal, lalu Ia beranjak dan akan mengejar Samudera yang membawa lari tubuh Dody.
Angkasa menarik kain gorden pintu kamar, lalu mencoba menjadikan kain gorden sebagai senjata untuk menghindari senjata tajam yang dibawa pria paruh baya itu.
Angkasa menyabetkan kain gorden arah kaki pria yang berusaha mengejar Samudera, dan..
Braaaaak.. Kembali pria itu terjatuh tersungkur dilantai.
Sementara Samudera berlari dengan secepatnya. Beban tubuh Dody sedikit memeperlambat laju larinya.
Sesampainya disemak, Ia menurukan tubuh Dody, lalu mengambil sepeda motornya dan memutarkan arah.
Setelah itu Ia kembali memanggul tubuh Dody yang masih tak sadarkan diri.
Samudera menaiki sepeda motornya dan merubah posisi tubuh Dody dibelakang boncengan.
Sabuk ikat pinggang milik Dody sebagai pengikat tubuh Dody dan dirinya agar tidak terajtuh. Lalu Kedua tangan Dody Ia ikat kepinggang dengan memeluk pinggangnya yang Ia ikat dengan dasi sekolah milik Dody.
Lalu Ia mencoba menghidupkan mesin motornya. Dan sialnya mesin belum dapat menyala.
Saat ini Angkasa masih mencoba ingin meraih senjata tajam yang dipegang oleh pria itu.
Setelah berhasil kembali untuk bangkit, pria itu mencoba menyerang Angkasa dengan menyabetkan senjata tajam berbentuk sebilah parang panjang.
Wuuush... Ssstt..
Angkasa menghindari sabetan parang panjang itu, dan berbalik menyerang pria itu menggunakan kain gorden yang dipegangnya.
Pria itu semakin gencar menyerang Angkasa, dan..
kreeeeeesh...
Sebuah sabetan mengenai lengan Angkasa, dan darah mengalir dari bekas sabetan senjata tajam tersebut.
Angkasa meliriknya, tentu sakit, dan Ia hanya meringis menahannya.
Sementara itu, pria itu tersenyum dengan licik dan menatap tajam pada Angkasa.
"Enyahlah kau, Bocah!" makinya sembari terus menyerang Angkasa.
Disisi lain, Samudera terus mencoba menghidupkan mesin motornya. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya mesin motor miliknya hidup, dan Ia dengan segera menarik gas motor tersebut dan melaju menuju jalanan utama.
Mendengar suara motor Samudera meninggalkan rumahnya, Pria itu semakin marah dan berlari melalui pintu depan untuk mengejar Samudera yang sudah melaju menembus jalanan setapak.
Angkasa juga ikut mengejar pria itu, lalu keduanya masih berkejaran, mendapati Samudera sudah pergi, pria itu berbalik dan menyerang Angkasa.
"Beraninya Kau menantangku!" teriak pria itu dengan nada penuh amarah.
Saat Pria itu melayangkan senjata tajamnya, Angkasa menyabetkan kain gorden yang masih dipegangnya, lalu Ia melayangkan tendangan kepada pria itu, hingga membuat pria itu tersungkur ditanah dan senjata tajamnya terlempar tak jauh dari pria itu.
Saat Angkasa akan meraih senjata tersebut, sebuah pukulan dengan menggunakan tongkat kayu mengenai punggunya.
Angkasa mengerang kesakitan dan berguling ditanah untuk menghindari pukulan berikutnya.
Ia tak percaya, jika keempat dari pelaku rudal paksa Melly sudah berada dihalaman rumah pria itu.
Saat Angkasa ingin berusaha bangkit, salah seorang diantaranya menyerangnya dan Angkasa kembali bergulingan ditanah, lalu melakukan gerakan salto dan berhasil berdiri kembali.
Meskipun lengan dan juga punggungnya terluka, namun Ia mencoba untuk tetap dapat melawan ke limanya.
"Habisi, Dia!!" titah sosok pria yang seharus menjadi panutan, kini berubah menjadi sosok mengerikan yang tidak Ia kenal.
Lalu keempat kakak kelasnya itu masing-masing membawa tongkat kayu dan mengelilingi tubuh Angkasa.
Angkasa hanya bersenjatakan kain gorden harus menghadapi ke empat remaja tersebut yang memegang senjata kayu dan perlahan mulai mengayunkan senjata tongkat kayu tersebut.
Wuuush..
Angkasa merundukkan kepalanya, lalu dengan cepat melayangakan kakinya dengan gerakan menggunting pergelangan kaki salah seorang remaja tersebut dan membuat remaja itu tersungkur ditanah.
Angkasa dengan cepat meraih tongkat kayu tersebut dan kini tongkat itu sudah berada ditangannya.
Angakasa melilitkan kain gorden tipis dibagian lengannya yang terus mengeluarkan darah terkena sabetan senjata tajam milik sosok pria itu.
Ketiga remaja tersebut kembali melayangkan serangan, lalu Angkasa mencoba menahan serangan itu menggunakan tongkat kayu yang kini menjadi miliknya.
Taaaak.. Taaaak..
Suara benda berbahan kayu itu saling beradu. Angkasa diserang secara bersamaan. Ia harus dapat menahan serangan yang terus berdatangan dari segala arah.
Sosok pria itu hanya menonton dengan sinis. Ia ingin para remaja brandal itu yang menghabisi Angkasa dan Ia tanpa diduga, Ia menyerang dari arah belakang. Namun Angkasa berhasil menghindarinya dan serangannya itu menyasar pada salah satu remaja brandal tersebut dan senjata tajamnya tepat mengenai punggung remaja itu.
"Aaaaaaarrrggghh.."
Teriak remaja itu penuh kesakitan. Punggungnya robek dengan luka yang cukup dalam dan Ia terkapar ditanah dengan bersimbah darah.
Ketiga rekannya saling pandang, mereka tidak tahu harus menyalahkan siapa, dan mereka juga tidak memiliki waktu untuk itu.
Lalu mereka kembali menyerang Angkasa, dan suara tongkat kayu saling beradu kembali dan tidak ada satupun warga yang mengetahui peristiwa itu, sebab rumah pria itu jauh dari rumah warga lainnya.
Salah satu dari remaja itu berhasil menendang Angkasa dan membuat tubuh Angkasa tersungkur ditanah.
Angkasa bergulingan ditanah, saat salah satu dari ketiga remaja itu mencoba menyerangnya. Darah mengalir dari sudut bibir Angkasa. Ia tak sempat menyekanya.
Sosok pria menghampirinya dan bersiap menusukkan ujung parang panjangnya ke perut Angkasa, namun remaja itu dengan cepat mundur kebelakang, dan..
Jleeeeeb...
Ujung senjata tajam itu menghujam tanah dengan sangat dalam, dan hampir saja junior Angkasa menjadi sasarannya.
Saat bersamaan, seorang remaja datang menyerang dengan tongkat kayunya, Angkasa mencoba menangkapnya, dan menarik tongkat itu dengan kuat hingga memutar tongkat itu beserta pemiliknya dan melemparkanya dengan kencang, sehingga remaja itu terpental.
Kedua remaja yang tersisa merasa terperangah saat mengetahui tiba-tiba Angkasa memiliki tanaga yang sangat kuat.
Angkasa menahan parang panjang tersebut yang masih tertancap ditanah dan itu membuat pria itu tak dapat mencabutnya.
Angkasa melayangkan tendangannya dan pria itu terpental beberapa meter dari dirinya.
Kedua remaja itu saling pandang, dan Angkasa bergerak salto, lalu menghadapi kedua remaja itu dengan gerakan cepat menghajar keduanya dan memberikan tinjunya kepada kedua remaja tersebut hingga membuat mereka terkapar ditanah.
Sementara itu, sosok pria itu bangkit dan dengan cepat meraih senjata tajamnya yang tertancap ditanah dan menendang Angkasa yang masih memunggunginya sehingga membuat Angkasa terjerembab ditanah.
Angkasa mengerang kesakitan. Ia segera berbalik dan kini sosok pria itu menyerangnya dengan senjata tajamnya dan membuat Angkasa mencoba menangkap senjata yang kini sudah berada ditangannya, dan pria itu menekan ujung senjatanya untuk menyasar dada kiri Angkasa yang kini sedang berusaha untuk menahan agar tidak tertusuk ujung pedang tersebut.