MIRNA

MIRNA
episode 188



Semenjak kejadian terbongkarnya pembunuhan berantai disekolah, para staf sekolah memasang cctv dan meningkatkan pengawasan bagi para siswanya.


Setelah para jasad dan kerangka disempurnakan, diharapkan tidak ada lagi sisiwa yang kerasukan dan peristiwa ini tidak terulang lagi dan semua staf sekolah dan tenaga pengajar diberikan bimbingan untuk tidak mengikuti jejak dari sang penjaga sekolah yang memiliki prilaku menyimpang tersebut.


Namun kabar tentang tewasnya penjaga sekolah yang saat itu berada diruang tahanan dengan kondisi mengenaskan dan kehilangan senjata pamungkasnya menjadi daftar panjang warga desa yang mati mengenaskan.


Akhirnya kasus penjaga sekolah itu ditutup karena pelakunya juga sudah tewas mengenaskan sebelum diadili dipengadilan.


Kabar kematian penjaga sekolab didalam ruang sel tahanan dengan kehilangan lato-latonya membuat warga bersorak riang. Bahkah mereka mengadakan syukuran atas kematian penjaga sekolah tersebut karena merasa itu adalah balasan yang setimpal atas perbuatannya terhadap para korban yang merupakan siswi disekolah tersebut.


Jika selama ini ada korban meninggal kehilangan lato-latonya warga merasa kasihan, namun tidak kali ini, justru warga bersyukur atas berita tersebut.


Dibalik itu semua, kepolisian semakin merasa bingung, sebab pelaku dari pencabut lato-lato itu dapat memasuki ruangan sel tahanan, dan ini sangat janggal.


Saat cctv diperiksa, tidak ada tampak siapapun yang masuk kedalam ruangan sel tahanan.


Hanya teman bercinta sesama jenis yang menjadi saksi kematian penjaga sekolah itu saja yangvtampak memasuki ruang kamar mandi, namun tidak ditemukan adanya tanda-tanda bahwa Ia yang mencabut paksa lato-lato tersebut, dan tidak dapat disimpulkan sebagai pelakunya.


Sedangkan kakek Nugroho yang disinyalir sebagai tersangka juga tidak lagi nampak berkeliaran didesa maupun ditempat lainnya.


sementara itu, sejak terungakpnya kasus pembunuhan berantai yang diungakp seorang bocah berusia 6 tahin melalui penglihatan mata bathinnya yang tak lain adalah Angkasa, Kini Angkasa menjadi bocah yang sangat dikagumi warga, ditambah paras tampan dan juga bersikap ramah terhadap para warga membuatnya begitu dikagumi.


Namun tidak semua menyukainya, sebab bagi para pelaku kejahatan, Angkasa adalah ancaman yang perlu disingkirkan dengan segera.


Kemampuan yang dimilki oleh Angkasa sebagian dianggap sebagai berkah, namun juga dianggap bencana bagi lainnya.


Dilain sisi Yanti yang kini mengalami tubuhnya yang berkudis dan berborok dengan kondisi yang tampak mengenaskan.


"Ni.. Bagaimana ini, lihatlah tubuhku sekarang.." ucap Yanti sembari menggaruk tubuhnya penuh dengan luka dan borok yang sangat menjijikkan.


Nini Maru mendehem, Ia masih mencari cara agar mendapatkan tumbal janin dan membuat Rey ataupun Kakek Nugroho mau bercinta dengan Yanti agar dapat mengobati boroknya.


Malam ini kita akan mencari Rey serta wanita yang sedang mengandung. Kita harus dapat memnadikanmu dengan darah wanita yang baru keguguran itu dan juga cairan milik Rey ataupun kakek Nugroho" ucap Nini Maru dengan perasaan gelisah.


Rey dan Kakek Nugroho sepertinya tampak kompakan tidak ingin mendekati mereka saat ini, mereka tidak berminat pada tubuh Yanti yang penuh dengan luka borok mengerikan.


Setiap kali Yanti menggaruk luka itu, maka akan terkelupas dan darah amis bercampur dengan nanah akan keluar bersamaan, dan tentu saja itu sangat menjijikkan.


Malam mulai beranjak sunyi, kegelapan kian mencekam dan membuat sebagian warga mulai menutup pintu rumah mereka. Semenjak beredar kasus pembunuhan disertai dengan pencabutan lato-lato, membuat warga mengurangi aktifitasnya diluar rumah pada malam hari.


Setelah shalat Isya berjamaah, maka mereka akan segera mengunci rumah mereka dan tidak ingin menjadi korban kekejian pembunuh misterius tersebut.


Saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Bu Ratna tampak gelisah. Ia mondar-mondir dirumahnya dengan wajah pucat.


Mbak Ratna ingin meminjam mobil Satria untuk membawa Raisa ke puskesmas, namun rasa sungkan karena waktu hampir larut, membuatnya begitu dilema akan keputusannya.


Saat bersamaan, Nini Maru bersama Yanti sedang mencium aroma janin yang sangat manis dan tak sabar untuk mencarinya. Namun mereka ragu, karena itu adalah janin halal dan sangat sulit untuk didapatkan.


Tetapi keduanya tak memiliki pilihan lain, sebab mereka harus mendapatkan tumbal janin secepatnya.


Saat itu, Bu Ratna mencoba memberanikan diri dan menghilangkan rasa sungkannya untuk demi sang puteri tercintanya.


Ia melangkah menuju perkarangan rumah Satria. Saat inj Ia merasakan desiran angin yang sangat kuat dan juga dingin bagaikan berada di salju.


Namun yang membuat Bu Ratna kaget Ialah aroma amis dan juga anyir antara darah dan nanah yang sangat tak biasa.


Seketika Mbak Ratna merasakan bulu kuduknya meremang dan Ia tau jika ini sangat tidak wajar.


Mbak Ratna kembali ke rumahnya, Ia ingin melihat kondisi puterinya yang sedang mengerang kesakitan, sedangkan menantu laki-lakinya belum juga pulang dari bekerja karena berdagang di kota.


Ditengah rasa kebingungannya, Angkasa tiba-tiba memanggilnya, karena saat Bu Ratna berada didepan halaman rumahnya, Ia baru saja dari dapur mengambil air minum, dan Ia tahu jika Bu Ratna membutuhkan pertolongan.


"Oma.. Oma.. Ini Angkasa" ucap Angkasa dari luar rumah Bu Ratna.


Dengan cepat wanita itu keluar dan membuka pintu, lalu melihat bocah tersebut berdiri diambang pintu rumahnya.


"Eh, Angkasa, kenapa malam-malam keluyuran, nanti ayah kamu marah" ucap Bu Ratna.


"Tadi Angkasa lihat Oma berdiri dihalaman rumah, mungkin saja oma butuh bantuam, makanya Angkasa keluar" jawab Angkasa.


"Emm.. Iya. Sebenarnya Oma mau minta tolong ayah kamu buat anterin Tante Raisya ke puskesmas karena mau melahirkan, dan Oom belum balik dari berdagang" jawab Mbak Ratna dengan cepat.


Angkasa menganggukkan kepalanya "Bentar, Oma.. Angkasa akan bangunkan Ayah dulu" ucap Angkasa yang berpamitan kepada Bu Ratna dan menuju ke rumahnya. Namun saat akan memasuki rumah, Angkasa melihat sosok Yanti sedang berada dibawah jendela kamar Raisya yang tampaknya akan mencari celah untuk masuk.


Dengan mengendap-endap, Angkasa mengambil sebuah potongan batu bata sisa peembangun pagar rumah mereka, namun Satria memberi pintu disamping pagar untuk memudahkan Bu Ratna keluar masuk ke perkarangan rumahnya.


Bocah itu memperhatikan Yanti yang tampak sangat bau dan menjijikkan, dan..


Plaaaaaak..


Sebuah lemparan mengenai kepala Yanti yang membuat wanita itu terpekik nyaring dan didengar oleh Bu Ratna yang mana suaranya bercampur dengan suara Nini Maru yang sangat menyeramkan.


Yanti memegangi kepalanya yang penuh borok dan kini bertambah benjol terkena lemparan batu bata yang dilakukan oleh Angkasa.


Dengan perasaan marah dan jengkel, Nini Maru memaksa tubuh Yanti melesat dan menerkam tubuh Angkasa yang masih berada ditempat persembunyiannya.