MIRNA

MIRNA
episode 97



Yanti melihat kulit wajahnya mengelupas, warna merah, panas dan perih bercampur menjadi satu.


Saat Ia sedang mematut wajahnya dicermin, Ia merasakan aroma kembang kenanga menyeruak masuk kedalam kamarnya.


Ia memastikan jika sosok itu adalah Nini Maru yang sedang menagih tumbal janinnya.


Yanti melihat kedalam cermin, tak terlihat keberadaan sosok tersebut. Lalu dengan tiba-tiba muncul sosok Nini Maru dari dalam kaca yang membuat Yanti tersentak dan mudur beberapa langkah.


Jemari tangan keriput dan kuku runcing itu menerobos keluar dari cermin yang digunakan oleh Yanti.


Nafas Yanti memburu tak karuan melihat Nini Maru yang sepertinya sudah sangat tak sabar untuk menagih janjinya.


"Malam ini Kamu harus mencari tumbal janin untukku, dan Aku tidak dapat menunggu lama lagi" ucap Nini Maru dengan geraman.


Yanti bergetar ketakutan, Ia tak mampu menjawabnya, sebab Ia masih berfikir untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tumbal berikutnya.


"Apakah Kau mendengar apa yang Aku ucapkan?!" tanya Nini Maru dengan suara geraman yang sangat membuat bulu kuduk meremang.


Yanti hanya menganggukkan kepalanya dan tak dapat membantah. Lalu sosok itu menghilang meninggalkan ketakutan pada Yanti.


Ia tidak ingin gagal dalam mendapatkan gagal lagi, sebab Nini Maru bisa saja merampas mobilnya dengan caranya.


Ia masih mendengar dentuman musik diruang karoeke. Ke empat remaja itu masih melayani para tamu yang datang. Ia masih belum dapat keluar, karena wajahnya yang rusak dibagian sisi kiri.


"Sebaiknya Aku meminta bantuan sosok bayangan hitam untuk melancarkan aksiku esok malam" guman Yanti dengan berupaya berfikir keras untuk mencari siapa target berikutnya.


Yanti merasa jika keempat remaja itu pasti salah satu diantaranya ada yang mengandung, namun masih hitungan minggu.


Jika Mbak Lisa pasti sudah hitungan sebulan lebih. Namun sepertinya Nini Maru menginginkan janin yang lebih besar.


Baru saja Yanti menyebut sosok Rey, desiran angin menerpa wajahnya. Ia merasakan kehadiran sosok Rey.


Meskipun rupa Rey sangat jelek, namun Rey sangat perkasa, membuat Yanti selalu ketagihan.


"Ada apa?" tanya Rey dengan suara parau.


"Aku butuh bantuanmu.. Aku sudah banyak memberikan korban lato-lato padamu, tidakkah Kamu dapat menolongku kali ini saja" ucap Yanti memohon.


Rey tersenyum menyeringai, lalu menganggukkan kepalanya.


"Carikan lagi tumbal remaja laki-laki. Sebab remaja rasanya sangat manis" ucap Rey mencoba memberikan syarat.


Yanti menganggukkan kepalanya "Esok akan aku carikan, dan malam ini aku ingin beristirahat sejenak" ucap Yanti dengan mata yang mulai mengantuk.


"Aku ingin salah satu remaja wanita itu menemaniku" ucap Rey dengan seringai.


"Pilih saja mana yang kau suka" jawab Yanti santai, lalu beranjak keranjangnya, meskipun sebenarnya Yanti berharap dapat bercinta dengan Rey malam ini, mamun Rey lebih memilih remaja puteri yang kini menjadi pelayan diwarungnya.


Rey bergegas menghilang, lalu memasuki ruang karaoke dan mengintai remaja puteri bernama Tia, yang tercantik diantara mereka serta bertubuh aduhai.


Kondisi mabuk dan juga sakaw membuat mereka tidak menyadari kehadiran Rey dan dengan mudahnya Ia membawa Tia kedalam kamar lalu menggumulinya disana.


Pagi telah menjang siang. Mereka terbangun dari tidurnya, Tia mengusap kedua matanya yang masih terasa berat. Ia merasa bingung sejak kapan berada didalam kamar, namun melihat kondisinya Ia memastikan ada yang membawanya dan manggaulinya.


Sementara itu, Yanti sudah terbangun sejak pukul 5 subuh. Ia mengambil uang para pria hidung belang itu dengan jumlah tarif pelayanan para remaja itu, dan juga uang untuk minuman dan makanan yang mereka pesan.


Sebab jika tidak diambil dari saat sekarang, maka para pelanggan pria itu akan pulang begitu saja tanpa membayarnya.


Setelah memberikan uang tips kepada keempat remaja itu, Yanti melirik satu persatu perut dari pelayannya. Ia berharap dari mereka ada yang mengandung.


Lalu Ia meminta mereka untuk duduk sejenak "Mbak ingin memastikan jika diantara kalian ada yang mengandung" ucap Yanti dengan tatapan penuh selidik.


"Emanya kenapa, Mbak? Apakah kami tidak boleh bekerja disini lagi jika mengandung?" tanya Tia yang tak sabar, sebab Ia akan kebingungan mencari uang untuk membeli shabu nantinya.


"Bukan, Mbak akan membayar dengan bayak uang jika kalian ada yang mengandung, dan pertahankan selama 4 bulan, maka kandungan itu harus digugurkan dan Mbak akan membayar janin yang digugurkan itu dengan jumlah yang sangat fantastis" ucap Yanti memberikan iming-iming.


Ke empat remaja itu saling pandang "Saya sedang telat datang bulan, Mbak" sahut Tia dengan antusias.


"Baik, Mbak" jawab Tiq sumringah.


"Kami juga mau, Mbak" jawab ketiganya bersamaan.


"Baiklah.. Namun ingat, jangan sampai rahasia ini terbongkar. Sebab jika ini terbongkar, kalian akan menanggung akibatnya, namun jika sampai ini berjalan sesuai rencana, maka satu janin akan saya hargai dengan harga satu mobil matic gede" ucap Yanti dengan licik, sehingga membuat keempat remaja itu semakin kegirangan.


"Baiklah.. Mbak sedang urusan, kalian boleh pulang" ucap Yanti, lalu dijawab anggukan keempat remaja puteri itu.


Setelah Keempat remaja itu pergi, Yanti mengunci warungnya, dan mulai mencari mangsa seorang remaja putera untuk ditumbalkan kepada Rey agar dapat melancarkan aksinya malam nanti.


Yanti mengendarai mobilnya menyusuri jalanan, dan sudah berjalan terlalu jauh, namun belum juga terlihat sosok remaja yang akan dijadikannya korban.


Matanya celingukan kesana kemari, mencari target yang diinginkan.


Hingga akhirnya Ia melihat sepasang muda-mudi didekat perkebunan kelapa sawit yang sedang bertengkar. Tampak remaja puteri itu menampar wajah remaja laki-laki tersebut.


Lalu remaja puteri itu yang juga membawa sepeda motor dan masih berseragam SMA meninggalkan remaja laki-laki itu dengan mengendarai sepeda motornya dengan raut wajah penuh amarah.


Yanti serasa mendapatkan peluang, lalu menepikan mobilnya.


Remaja itu mengerutkan keningnya, lalu memcoba melihat siapa pemilik mobil tersebut.


Yanti membuka pintu mobilnya, lalu mengedipkan matanya kepada remaja itu "Masuk" ucap Yanti kepada remaja itu.


Meskipun tampak bingung, remaja itu beranjak dari motornya dan menghampiri mobil Yanti.


"Ada apa, Mbak?" masuk sebentar, saya mau bicara" ucap Yanti dengan nada begitu santai.


Karena merasa penasaran, remaja itu mengikuti perintah Yanti dan masuk kedalam mobil.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya remaja itu penasaran setelah menutup pintu mobil.


Yanti tersenyum seringai "Ada masalah apa dengan pacarnya?" tanya Yanti sok akrab.


Remaja itu cengengesan dan malu-malu.


"Anu, Mbak.. Cuma pengen nyusu tapi dia marah dan menampar saya.." jawab Remaja itu dengan senyum malu-malu.


"O.. Cuma pengen nyusu.. Kalau itu saya bisa kasih koq, bahkan lebih dari nyusu" ucap Yanti mencoba menjebak korabnnya.


Remaja itu membolakan matanya "Beneran, Mbak, Boleh?" tanyanya dengan penuh semangat.


Yanti menganggukkan kepalanya, lalu menyingkap kaos yang dipakainya.


"Jih.. Kalau mau buruan, ntar ada yang keburu liat" ucap Yanti menyodorkan buah melon tanpa Bra tersebut.


Remaja yang memasuki masa pubertas itu tanpa menunggu lama melahabnya dengan rakus.


perlahan senjata remaja itu mulai menegang, lalu Yanti meminta remaja itu melepaskan celana sekolahnya, dan dituruti dengan cepat oleh remaja tersebut.


Sembari celingukan Yanti sengaja memancingvagar senjata itu terus tegak, dan sebuah kelebatan bayangan hitam datang disaat remaja itu terlena dalam sensasinya yang memabukkan, dan..


Kreeeeekkk...sssrrrt....


Sebuah cabutan menyakitkan mengiringi remaja yang hampir mencapai puncak surgawinya saat dimasih dalam genggaman tangan Yanti.


Tak ada suara erangan kesakitan, sebab semuanya terjadi begitu sangat cepat dan tidak terduga.


Hanya tubuh yang mengejang bagaikan ayam yang dipotong dengan bola mata membeliak menahan sakit yang tak terperikan.


Sosok itu segera menelannya dan memakannya, lalu dengan cepat Rey menyingkirkan tubuh remaja itu kedalam parit yang berisi air dan Yanti mencoba mendorong sepeda motor milik remaja itu dan menimpakannya diatas tubuh remaja tersebut.


Kemudian Yanti menutupinya dengan pelepah sawit, lalu pergi dengan cepat meninggalkan lokasi tersebut.