MIRNA

MIRNA
episode 206



Lisa sebagai orang yang pertama kali menemukan sosok itu dimintai keterangan oleh polisi dan kini Ia berada diruang penyidikan dab ada beberapa orang saksi lainnya, termasuk warga yang pernah dindih oleh sosok itu saat dirumah Surti.


Saat bersamaan, seorang petugas kepolisian membawa berkas laporan tentang tes DNA tentang lapiran warga seminggu yang lalu.


"Maaf komandan.. Hasil tes DNA yang dialporkan oleh warga tempo hari adalah milik Yanti yang merupakan buronan kita selama ini, dan penemuan sosok itu sama dengan ciri-ciri yang dilaporkan warga saat sosok itu menyatroni desa.." ucap seorang petugas kepolisian.


Seketika Lisa yang mendengarnya terhenyak dan juga terperangah. Ia menduga Yanti yang dimaksud adalah anak pak Badu yang menjadi majikannya saat membuka warung plusplus..


"Bagaimana mungkin Ia bernasib sangat mengenaskan seperti itu? Apakah ini akibat dari persekutuannya dengan iblis tersebut?" Lisa mulai mengingat semuanya.


Ia masih mengingat bagaimana Yanti memperlakukannya dengan tidak manusiawi saat menyekapnya waktu itu.


"Maaf, Pak.. Apakah Yanti yang dimaksud adalah Yanti anaknya Pak Badu?" tanya Lisa penasaran.


Seketika para penyidik memandang ke arah Lisa "Ya.. Apakah kamu memiliki informasi penting yang dapat membantu kami memecahkan masalah ini?" tanya Penyidik kepada Lisa.


Lisa menganggukkan kepalanya "Saya pernah menjadi korban penyekapannya saat Ia membuka warung ditepi hutan itu" jawab Lisa mulai buka suara.


Seketika para penyidik mempersiapkan beberapa pertanyaan kepada Lisa untuk mengungkap kasus yang selama ini tak terpecahkan.


"Berapa lama kamu mengalami penyekapan?" tanya penyidik tersebut.


"Saya tidak ingat, namun jelasnya sangat lama sekali" jawab Lisa.


"Apakah kamu mengalami penyiksaan selama penyekapan?"


Lisa menganggukkan kepalanya "Saya beberapa kali dihempaskan bagian kepala dilantai dan penyiksaan fisik lainnya" jawab Lisa.


"Apa yang membuat saudari Yanti menyekap anda?"


"Karena saya memergoki Yanti membunuh salah satu pelanggan warungnya" jawab Lisa dengan perasaan yang gemetar dan trauma jika mengingatnya.


"Lalu apa lagi?"


Lisa menghela nafasnya dan mencoba mengontrol degub jantungnya "Selama disekap dikamar rahasianya, saya disatukan dengan beberapa kerangka manusia dan salah satunya bahkan ada yang masih membusuk" Lisa menjeda ucapannya. Ia masih mengingat kengerian saat itu, dimana Ia harus hidup bersama dengan beberapa tengkorak dan juga jasad yang membusuk.


"Lalu saya juga menyaksikan jika Yanti melakukan ritual pemanggilan iblis yang mana Ia mempersembahkan tumbal janin yang entah dari mana Ia dapatkan juga tumbal organ inti pria yang diajaknya bercinta terlebih dahulu" Lisa menjelaskan panjang lebar tentang apa yang disimpannya selama ini.


Para penyidik mencatat semua apa yang dijelaskan oleh Lisa.


"Seperti apa sosok makhluk yang dipujanya?"


Lisa seketika bergidik mengenangnya. Bahkan Ia seperti merasakan kehadiran sosok itu saat ini. Dan..


Braaaaaaak...


Sebuah kursi tiba-tiba terlempar dengan sendirinya.


Seketika mereka terdiam, mereka merasakan bulu kuduk mereka meremang. Suasana hening dan juga sepi.


Setelah semuanya menguasai kondisi masing-masing, maka Lisa kembali meneruskan penjelasannya.


"Sosok itu mirip dengan iblis kuntilanak, namun tidak hanya itu saja, ada sosok lain yang mirip dengan genderuwo yang merupakan sosok dari pencabut organ inti pria yang telah ditumbalkan tersebut" ucap Lisa dengan begitu lancar.


Lisa menganggukkan kepalanya, dan beranjak dari kantor polisi menuju pulang ke rumah.


Sepanjang perjalana menuju pulang kerumah, Ia tak hentinya memikirkan kondisi Yanti yang saat ini sungguh mengenaskan.


Mungkin itu azab baginya karena selama ini sudah membunuh beberapa pria dan membiarkan jasadnya penuh belatung tapa fardhu kifayah.


Sementara itu, para medis merasa sangat kesulitan karena banyaknya belatung yang bersarang dikepala dan hampir disekujur tubuhnya.


Bahkan dibagian organ intinya dan juga tonjolan di dadanya yang sungguh sangat mengerikan.


Mereka memastikan jika fisik Yanti sudah tidak dapat dipertahankan untuk waktu yang cukup lama.


Dan yang paling mengenaskan, setelah diuji laboratorium, ternyata Yanti mengidap penyakit HIV and Aids yang mana virus itu telah menyebar keseluruh tubuhnya dan merusak imunitas sehingga membuat pembusukan dibagian organ tubuhnya semakin cepat.


Ditambah lagi belatung yang sudah merusak otaknya dan organ tubuh lainnya.


Pihak kepolisian telah memanggil orangtua Yanti untuk meminta keterangan dan informasi serta memberitahukan jika sosok yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan itu adalah anaknya.


Badu tidak tahu harus berkata apa. Bahkan Ia tidak harus bersedih ataukah merasa menyesal karena sudah merasa gagal mendidik anak semata wayangnya. Andai saja dahulu Yanti menerima lamaran dari seorang pemuda yang baik didesa ini meskipun lamarannya yang tidak seberapa, mungkin hidupnya tidak semengenaskan saat ini.


Setelah memberikan informasi yang seadanya, maka Badu diperbolehkan pulang, dan Ia menjenguk ke puskesmas untuk melihat tubuh Yanti yang masih bernyawa namun tak sadarkan diri.


Bukan hanya wajahnya yang hancur berantakan, tetapi sekujur tubuhnya juga.


Ia tak kuasa menahan air matanya. Dahulu anaknya adalah salah satu gadis tercantik didesanya. Ia juga merupakan primadona dengan banyaknya pemuda yang ingin mempersuntingnya.


Namun karena dianugerahi wajah cantik dan tubuh yang aduhai, membuatnya menjadi sombong dengan menolak setiap lamaran hang datang.


Ia menantikan pangeran yang ada dalam angannya seorang pangeran tampan dan memiliki kekayaan yang berlimpah, namun semua itu tak pernah Ia dapatkan.


Hingga akhirnya Ia terkejut saat mengetahui Syafiyah tetangganya di nikahi seorang pengusaha kaya dengan rupa tampan nan penuh pesona. Ia merasa iri dan ingin mendapatkan pria tersebut.


Lalu tanpa sadar Ia terjerat persekutuan dengan iblis yang membuatnya terbawa arus kesesatan dengan segala janji manis oleh iblis tersebut.


Namun semua tak seindah yang dibayangkannya. Bukannya mendapatkan apa yang diinginkannya, namun hanya kepalsuan dan azab yang sangat mengerikan.


Badu mencoba menyentuh jemari tangan puterinya yang kini hanya tinggal tulang yang tersisa. Ia tak pernah membayangkan nasib puterinya yang sangat mengemaskan tersebut.


Sesaat jemari itu bergerak, hanya sesaat saja, dan hal itu membuat hati Badu merasa kian nelangsa.


Badu mendekati telinga kanan puterinya, Ia mencoba membisikkan kalimat syahadat berulang-ulang kali dan berharap puterinya mendengarnya dan mengikuti apa yang Ia bacakan.


Tampak bibir Yanti bergerak, bersama berjatuhannya belatung yang bersembunyi dibalik mulutnya.


Entah apa yang diucapkannya, namun Badu berharap jika itu adalah kalimah suci yang seharusnya diucapakannya saat terakhirnya.


Namun tampaknya Nini Maru tidak terima dalam hal tersebut. Ia ingin Yanti mati dalam keadaan bersekutu dengannya. Ia terus memperlihatkan dirinya kepada Yanti dengan ajakan untuk terus menjadi pengabdinya hingga diunung usinya.


Seketika tubuh Yanti bergetar hebat. Ia seperti dalam kondisi yang sedang tertekan, dimana Ia harus mengikuti bisikan Ayahnya, atau bisikan Nini Maru yang berada tepat ditelinga kirinya.