MIRNA

MIRNA
episode-265



Mbok Titin yang bertubuh gempal itu menutup matanya dan merangkak mengitari sumur yang berada dibelakang rumahnya dengan tanpa sehelai benangpun sembari menutup matanya dan merafalkan mantra yang sebagai syarat ritulanya.


Ia rela menggadaikan Jiwa anaknya demi sebuah kekayaan semata dan secara instan.


Sementara itu, Satria dan keluarga kecilnya sedang berusaha membebaskan perjanjian Mbok Titin dengan dukun yang menjadi perantara untuk menjalin ikatan pesugihan pocong tersebut.


Tubuh gadis itu terangkat ke udara dan berputar-putar dengan cepat. Aroma busuk menyeruak memenuhi ruangan tersebut dan tubuh gadis itu bergetar hebat dengan gerakan seperti orang terkena tremor.


Sementara itu, tubuh gempal Mbok Titin tiba-tiba terlempar membentur dinding sumur dan terdengar suara..


Braaaaak..


"Aaaarrrgghh"


Mbok Titin mengerang kesakitan dan merasa seperti orang yang terkena cambukan yang sangat kuat.


Mbok Titin merasa bingung mengapa itu bisa terjadi? Sebab tidak ada orang yang mengetahui apa yang sedang dilakukannya dan tiba-tiba saja seperti ada serangan yang menghantamnya.


Saat bersamaan, tubuh remaja itu terbalut cahaya keperakan dan berhenti berputar. Lalu dari dalam tubuh gadis itu tampak keluar dua sosok berbalut kain putih dan tepatnya adalah pocong melesat membelah kegelapan malam dan menerobos masuk ke dalam tubuh wanita gempal itu.


Seketika wanita itu membolakan matanya, dan nafasnya tersengal merasakan sakit dan tidak nyaman pada tubuhnya.


Tubuh remaja itu perlahan turun dan mendarat dengan sempurnah dan tak berselang lama kedua matanya mengerjap dan melihat Ia berada diruangan yang mewah dan Ia tidak tahu Ia sedang berada dimana. Namun Ia merasakan tubuhnya terasa ringan dan tidak ada lagi rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya beberap hari belakangan ini.


Sesaat Ia tercengang melihat Satria, Mirna dan Angkasa serta Samudera yang sedang duduk bersila menghadapinya.


Gadis itu beranjak bangkit dan menatap bingung "Aku dimana?" tanyanya bingung.


"Kamu ada ditempat yang aman. Dimana rumah kakekmu?" tanya Mirna dengan cepat.


Lalu gadis itu menyebutkan satu daerah yang sangat jauh dari kediamannya.


"Kami akan mengantarkanmu ke sana, namun janji, jangan sampai kamu kembali lagi ke rumah itu apapun yang terjadi" ucap Mirna dengan penuh penekanan.


Setelah mendengar kesepakakatan dari gadis itu, maka dengan cepat Mirna meminta gadis itu memejamkan matanya dan kemudian si gadis itu memejamkan matanya dan dengan cepat Mirna melesat membawa gadis itu ke pada keluarganya yang berada dikampung halaman.


Sementara itu, Mpok Titin masih berada dipinggir sumur dan nafasnya tersengal karena dua pocong yang dipujanya itu sudah digadaikan oleh jiwanya sendiri.


Mbok Titin beranjak bangkit dari tempatnya. Lalu Ia berjalan menuju rumahnya dengan sempoyongan.


Mirna sudah mengantarkan gadis itu ke tempat yang lebih aman dan membentengi sang gadis agar tidak dapat lagi diganggu oleh dua pocong tersebut dan kini Ia akan hidup normal seperti biasanya.


Kini Samudera dan Angkasa melewati satu ujian lagi dan mereka berhasil untuk menyelesaikannya tanpa diketahui oleh keduanya meskipun belum selesai sepenuhnya.


****


Keesokan paginya, Mbok Titin pergi ke Kesekolah dan berjualan seperti biasanya. Namun Ia tampak berbeda.


Mbok Titin terperangah melihat ruang rahasianya dibobol dan Ia kehilangan puterinya. Namun untuk melaporkan hal tersebut Ia takut akan berbalik kepadanya. Sebab jika ditanya apa yang hilang dan Ia jawab puterinya karena Ia kurung diruangan itu tentu akan membuatnya menjadi tersangka lain dengan kasus penyekapan dan sebagainya.


Suasana kantinnya masih sama seperti biasanya. Dua pekerjanya juga masih bekerja dengan baik dan anak-anak masih ramai membeli ditempat tersebut.


Maka dari itu, jika kita membeli makanan atau minuman ditempat luar, jangan lupa membaca doa sebelum makan.


Mbok Titin mulai tak seceriah dua hari sebelumnya. Ia ikut melayani siswa dan meracik makanan yang dijualnya, namun tak ada lagi wajah ceria, Ia seprti kehilangan auranya.


Tatapannya seperti kosong dan terkadang ngelantur.


Samudera dan juga Angkasa tampak prihatin kepada Mbok Titin, dan sebaiknya Mbok Titin bertaubat melepaskan diri darinikatan perjanjian ghaibnya dengan iblis tersebut.


Namun keinginan untuk cepat menjadi kaya tampaknya tak menyurutkan hatinya meskipun kini nyawanya yang harus tergadaikan.


"Kasihan Mbok Titin. Ingin cepat kaya, namun dengan jalan pintas" ucap Angkasa dengan lirih.


"Keinginan akan dunia telah menutup mata hatinya" sahut Angkasa.


Ditempat lain. Mala baru saja selesai mengurus rumahnya. Meskipun memikiki asisten rumah tangga, namun Ia masih tetap ikut mengerjakannya karena Ia terbiasa pembersih dan tidak dapat tinggal diam.


Ia berjalan menuju taman dan dudk dibangku Taman yang berada dibawah pohon rindang tersebut.


Namun Ia merasakan suasananya tidak senyaman saat seperti waktu yang lalu. Kini ada perasaan seperti sesuatu yang mengganjal hatinya.


Wuuuuuusss..


Desiran angin menerpa hijab yang dikenakan oleh Mala. seketika Mala membenahi hijabnya yang terangkat.


Sesaat Ia mencium aroma kembang kenanga yang menyeruak dari pohon tempat Ia bersandar.


Seketika Mala merasakan kehadiran makhluk yang selalu menjadi momok menakutkan tersebut.


"Haaahh!! Sepertinya keberadaan tak jauh dari tempat ini" guman Mala dalam hatinya.


Mala mencoba memperhatikan sekelilingnya, dan Ia merasakan jika bulu kuduknya meremang dan sangat tak biasa.


Mala beranjak dari tempat, dan berjalan menuju keluar dari pagar taman. Namun Ia merasakan seolah ada sesuatu yqng mengikutinya. Mala membaca tas'awuz dan ayat qursi, perlahan rasa meremang dipunggungnya menghilang dan Ia bergegas masuk kedalam rumah.


"Mengapa aromanya seperti sangat begitu dekat? Apakah Ia berada disekitar sini?" Guman Mala lirih.


Ia menyingkap tirai jendelanya, menatap pohon didepannya yang tumbuh tinggi menjulang.


Jika malam hari pohon itu akan terlihat indah karena Bayu memberikan penerangan yang cukup dan juga lampu hias warna-warni yang dililitkan dibatang dan dahan pohon tersebut.


Mala masih menatap pohon tersebut, dan terlihat matahari telah meninggi tepat diatas bayangan manusia serta hujan rintik-rintik.


"Astaghfirullah.. Pantas saja aku merasakan hal yang tidak nyaman. Ternyata Aku berada diwaktu tempat mereka berkeliaran. pukul 12 siang adalah waktu mereka untuk keluar dan tempat yang dilarang bagi manusia untuk berkeliaran.


"Namun aku meyakini jika itu adalah Dia.. Dan ini snagat berbahaya. Aku mengenali aromanya yang cukup khas. Aku harus waspada dan berhati-hati" Mala kembali meyakinkan hatinya jika apa yang menjadi firasatnya adalah benar.


Ia menatap tajam pada rimbunan daun tersebut, segala doa Ia munujadkan untuk meminta perlindungan kepada sang Rabb pencipta Alam semesta.