MIRNA

MIRNA
Episode 44



Mala membuka pintu rumah, lalu mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah yang diekori oleh Bayu.


Tampak Satria baru saja keluar dari kamarnya dan membalas salam ibunya.


Satria meneluk Mala dengan kerinduan yang sangat dalam "Ibu mengapa jarang menemuiku?" tanya Satria layaknya seorang anak kecil yang merindukan Ibunya.


"Maafkan Ibu, sebab ada kesibukan lain dirumah" jawab Mala merasa iba kepada puteranya.


Satria melepaskan pelukannya, dan menyapa Bayu, sang Ayah sambungnya.


Pria tampan paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan Satria mengajak duduk disofa.


"Sebenarnya ada apa sayang?" tanya Mala dengan lembut juga penasaran.


Satria menghela nafasnya dengan sangat berat, ada beban dalam hatinya yang ingin Ia keluarkan dengan segera.


"Syafiyah, Bu" ucap Satria dengan lirih.


Mala mengerutkan keningnya, Ia tahu jika Syafiyah dalam kondisi lumpuh, namun apa yang membuat puteranya begitu terlihat sangat kacau.


"Iya. Ada apa dengan Syafiyah? Apakah kalian bertengkar?" tanya Mala dengan penasaran.


Satria menggelengkan kepalanya "Ibu tanya sendiri saja orangnya, Bu.. Ia sedikit aneh akhir-akhir ini" ucap Satria sembari menyandarkan kepalanya disandaran kursi.


Mala mekirik Bayu, dan Bayu mengerjapkan kedua matanya, lalu Mala beranjak bangkit dari duduknya, dan menemui menantunya dikamar.


Mala menghampiri Syafiyah yang masih terbaring dilantai. Lalu menarik kursi kerja Satria dan duduk disisi ranjang.


"Apa kabar,Sayang?" sapa Mala dengan lembut.


"Baik, Bu.. Ibu bagaimana kabarnya?"tanya Syafiyah balik"


"Alhamdulillah, baik.. " jawab Mala sembari tersenyum manis kepada menantunya.


Mala mendenguskan nafasnya dengan berat, Ia bingung harus memulai katanya darimana. "Emm.. Sebenarnya Kamu ada masalah apa dengan Satria? Bisa cerita dengan Ibu?" ucap Mala hati-hati.


Syafiyah menatap Mala dengan sendu, lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah "Tidak ada masalah apapun, Bu.. Hanya.." Syafiyah menjeda ucapannya "Hanya saja fiyah ingin Mas Satria menikah lagi" ucap Syafiyah dengan perasaan yang bergemuruh.


Hatinya bercampur aduk, siapapun wanitanya tentu tidak rela jika suaminya menikah lagi. Namun Ia merasa kasihan melihat Satria yang tanpak tersisa karena tidak mampu menyalurkan hasratnya.


Sedangkan untuk memenuhi hasrat Satria, Ia sebagai istri tak mampu.


Mala tercengang mendengar pernyataan dari menantunya, namun apa yang diucapkan oleh menaantunya tidak dapat dibenarkan dan tidak juga dapat dipersalahakan.


"Apakah Kamu sudah memikirkan dengan apa yang kamu ucapkan? Bagaimana jika kelak suatu saat Kamu menyalahkan sikap Satria karena menikah lagi?" cecar Mala kepada menantunya.


Syafiyah menggelengkan kepalanya."Tidak, Bu.. Saya sudah memikirkannya dan tidak akan lagi menarik ucapan Saya" ucap Syafiyah meyankinkan.


Mala merundukkan kepalanya, mencoba memikirkan apa yang sedang diucapkan oleh menantunya.


"Tolonglah, Bu.. Bujuk Mas Satria untuk untuk mengabulkan permintaan Saya.. Biarkan Mas Satria hidup bahagia, jangan karena merawat Saya Ia terenggut hak nya" ucap Syafiyah memohon.


"Nanti akan Ibu fikirkan, namun jangan pernah menyalahkan anak Saya dikemudian hari, sebab kamu yang memintanya" Mala kembali menekankan ucapannya.


Syafiyah menganggukkan kembali kepalanya "Fiyah janji tidak akan mengungkit masalah ini dikemudian hari" ucap Syafiyah meyakinkan.


"Namun siapa gadis yang akan dinikahkan kepada Satria?" tanya Mala bingung.


"Mirna" jawab Syafiyah cepat.


Mala tertegun dan menatap menantunya "Mirna?" Mala mengulangi ucapan Syafiyah.


Syafiyah menganggukkan kepalanya "Ya.. Mirna.. Beberapa hari ini Ia bekerja dirumah, Ia bahkan merawat Syafiyah dengan baik" ucap Fiyah dengan semangat.


Mala mendeguskan nafasnya dengan berat, dan menghelanya. Mala menyadari jika Mirna gadis baik dan juga cantik, namun mereka tidka mengetahui siapa keluarga dari Mirna, bahkan gadis itu tidak memiliki catatan sipil, jika dinikahkan secara negara, maka harus mengurus semua catatan sipilnya.


Mala menghampiri Satria yang tampak mengobrol dengan Bayu.


Melihat kehadiran Mala, kedua pria itu terdiam dan menghentikan obrolannya.


"Apakah sudah mendengarnya dari Syafiyah?" tanya Satria dengan penasaran.


Mala menganggukkan kepalanya, dan menatap puteranya.


"Lalu Ibu bilang apa dengan Syafiyah? Apakah Ibu sudah menasehatinya?" cecar Satria kepada Ibunya.


Mala menatap puteranya dengan sendu "Mungkin yang dikatakan Istrimu ada benarnya, sebaiknya Kamu memikirkannya" ucap Mala dengan lembut.


"Koq Ibu mendukung Syafiyah sih, apa kata orang-orang nantinya jika melihat Satria menikah lagi karena Istri Satria lumpuh" ucap Satria dengan lemah.


Bayu terperangah mendengar ucapan Satria.. Ia bingung bagaiamana masih ada pria yang menolak saat disuruh menikah lagi oleh istrinya, hampir saja Bayu tertawa geli melihat anak sambungnya itu.


"Jangan pernah hiraukan omongan orang lain, kamu persiapkan saja data-data pribadi Mirna agar Kamu dapat menikah secara agama dan juga negara" ucap Mala menyarankan.


"Satria tidak tahu nama Ayahnya" ucap


Setelah perdebatan yang cukup pelik, akhirnya Mala berpamitan pulang, karena sudah hampir tengah malam.


"Coba Kamu renungkan apa yang sedang diinginkan oleh istrimu, tidak mungkin juga kamu tidak memiliki keturunan" ucap Mala mencoba mendukung permintaan menantunya, sebab ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.


Satria tertegun dengan ucapan Ibunya, dan Mala sudah meninggalkan puteranya yang kini dalam dilema.


Satria memasuki kamarnya, dan melihat Syafiyah sudah tertidur pulas.


Entah mengapa Ia merasa iba dengan melihat istrinya tersebut. Ia takut tidak dapat berbuat adil nantinya saat Ia memutuskan untuk menikahi Mirna.


Satria menaiki ranjang tidurnya, dan menatap istrinya dengan seksama. Ia tidak mengerti mengapa Syafiyah begitu bersikukuh untuk memintanya menikahi Mirna.


Satria mencoba memejamkan kedua matanya, lalu melupakan sejenak permasalahannya.


Sementara itu, Mirna sedang dalam kegelisahan. pertemuannya dengan Satria setiap saat, semakin membuatnya begitu merindukan pria itu, namun pria itu tampak menjauhinya dan tidak ingin melihatnya.


Ia hanya inginkan pria itu menerima kehadirannya, dan melihat betapa besar cinta dan pengorbanannya. Ia sanggup menjadi pengkhinat kepada Nini Maru demi mengejar cinta Pria itu, namun Satria masih tampak bersikap dingin kepadanya.


Mirna mencoba bersabar dan terus menunggu hingga nantinya Satria benar-benar menganggapnya ada.


Mirna mencoba menyenandungkan senandung cintanya untuk Satria.


Ia berharap pria itu mendengarnya dan membuka hati untuknya.


"kutunggu dirimu"


"dipenantian panjangku"


"hadirlah membawa cinta"


"hingga akhinya kita bersatu"


"mengikat janji yang tertunda"


Satria tersentak dari tidurnya, Ia mendengar sayup-sayup senandung itu kembali didendangkan oleh gadis tersebut. Satria mencoba menghayatinya dan meresapi setiap bait kata yang disenandungkan.


"Mirna" guman Satria dalam hatinya, Ia mencoba menepis bayangan gadis itu, namun semakin Ia mencobanya, semakin jelas tampak dimatanya wajah sang gadis saat pertemuan mereka didalam goa, yang mana gadis itu memilih pergi bersamanya dan meninggalkan tempat tinggalnya yang selama itu menjadi tempat Ia menanti kehadiran seseorang.


Saat Satria sedang memikirkan Mirna, tiba-tiba saja Widuri datang dan tidur disisinya.


Satria tersentak kaget melihat ulah peri cantik itu yang tiba-tiba saja datang keranjangnya.


"Kalau datang itu jangan buat kaget napa" gerutu Satria kepada Widuri.