MIRNA

MIRNA
episode 131



Syafiyah meringis kesakitan dan darah mengucur dari pergelangan kakinya yang terjepit.


Warga sudah berusaha untuk membantunya,namun sepertinya besi yang menjepit tersebut sangat sulit dilepaskan. Bahkan mereka meminta bantuan tukang las untuk menggerinda besi yang menjepit tersebut.


Warga semakin ramai berkerumun dan mencoba untuk mengevakuasi Syafiyah. Namun anehnya besi itu tidak mau terpotong, bahkan tergorespun tidak.


Mereka saling pandang dan kebingungan, sebab belum pernah ada kejadian besi tidak bisa dipotong menggunakan mesin gerinda.


Darah terus merembes dari luka dipergelangan kakinya dan membuat Syafiyah semakin lemah.


Dalam situasi yang sangat genting, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti diseberang jalan, dan seseorang keluar dengan berlari menyeberangi jalan.


Orang-orang memandanginya dan memberi jalan kepada seorang pria yang kini sudah berada disisi mobil.


Melihat sosok Rey yang menancapkan besi dikaki Syafiyah, Pria itu langsung mencekiknya, dan para warga bingung dengan apa yang telah dilakukan oleh pria yang tak lain adalah Satria.


Mereka melihat Satria seolah sedang mencekik leher seseorang yang tak jauh dari besi yang menancap di kaki Syafiyah.


Namun akhirnya Rey berhasil meloloskan dirinya dan menghilang.


Satria mencabut besi itu dengan sangat mudahnya dan kemudian Ia membopong tubuh sang istri menyeberangi jalan dan membawanya pulang.


Sesampainya dirumah, tampak Mirna sedang membersihkan ceceran minyak yang tertumpah dan mengepelnya.


Lalu Ia membuatkan makan malam untuk Syafiyah, sebab Ia tahu jika Syafiyah belum makan malam.


Satria membawa Syafiyah kedalam kamarnya, lalu memeriksa luka yang tampak menganga di pergelangan kaki kanannya, sedangkan punggung kaki kirinya mengalami luka bakar akibat terkena minyak goreng panas saat ingin membuat telur ceplok.


Satria memanggil Mirna untuk menjaga Syafiyah sejenak, sebab Ia ingin mengambil peralatan dokternya yang Ia simpan di kamar Mirna.


Wanita itu menghampirinya, dan mematuhi apa yang dikatakan oleh suaminya.


Dalam pandangannya yang samar, Syafiyah melihat Mirna berada disisinya dengan membersihkan darah yang terus mengalir dari luka yang dialaminya.


Tak berselang lama, tampak Satria membawa sebuah koper yang berisi berbagai alat medis yang sudah lama disimpannya.


Ia memulai operasinya sendiri untuk mengobati luka Syafiyah.


Ia melihat tulang sendi dipergelangan kaki Syafiyah bergeser, lalu Mirna datang dan dengan cepat menekannya, hingga kembali keposisi sebenarnya.


Syafiyah berteriak histeris menahan sakit saat Mirna melakukan pengobatan alternatifnya dan Ia mengomel tak jelas dalam ketidakberdayaannya.


Lalu Satria mulai melakukan pengobatan dan menjahit luka yang sangat menganga tersebut. Membutuhkan waktu yang cukup lama, karena luka itu cukup lebar.


Sementara itu, Mirna melihat punggung telapak kaki Syafiyah mulai memerah karena bekas luka bakar yang dialaminya saat akan menggoreng telur ceplok.


Mirna mengambil salep yang ada dikoper milik Satria dan mengoleskannya untuk meredakan rasa nyeri dan juga panas yang dirasakan oleh sang Madu.


Setelah selesai dengan jahitan diluka Syafiyah, Satria membereskan semua peralatannya, lalu Mirna mengambilkan makan malam untuk Syafiyah dan memberikannya kepada Satria. Ia tahu jika Ia yang menyuapinya dipastikan Syafiyah akan menolaknya.


Lalu Satria menyuapinya, dan Mirna keluar dari kamar tersebut, Ia tidak ingin menambah suasana hati Syafiyah memburuk.


Mirna membawa koper milik Satria dan menyimpannya kembali kedalam kamarnya ditempat dimana Satria meletakkannya semula, agar jika diperlukannya kembali tidak bingung untuk mencarinya.


Syafiyah masih tidak percaya jika suaminya tiba-tiba pulang.


"Mirna mengabari Mas, jika Ia ada keperluan penting di rumahnya ditepi hutan, dan Ia meminta Mas segera pulang karena tidak ada yang menjaga Kamu" jawab Satria berbohong.


Syafiyah terdiam sejenak "Apakah itu tandanya jika Mirna tak mengatakan jika mereka bertengkar dan Ia mengusir Mirna dari rumah?" Syafiyah berguman lirih dalam hatinya.


"Dan saat Mas melintasi jalan, Mas melihat mobil kamu mengalami kecelakaan" Satria kembali melanjutkan ucapannya.


"Fiyah mau ke apotik, beli salep untuk luka dikaki Fiyah" ucap Syafiyah lirih sembari menahan sakit di pergelangan kakinya.


"Jangan pernah membantah ucapan suami. Bukankah Mas sudah menitipkan kamu pada Mirna untuk menjagamu saat Mas sedang tidak dirumah?" ucap Satria yang memberikan suapan terakhirnya.


Sayafiyah menatap pada suaminya "Mengapa Mas sekarang selalu membela Mirna? Apakah karena Ia lebih cantik dari Fiyah? Hingga Mas sekarang begitu perduli dan perhatian padanya?" sergah Syafiyah sembari menelan kunyahannya dengan cepat, lalu meraih gelas diatas meja nakas dan meneguknya dan menelan obat yang sudah disediakan hingga habis.


"Jangan pernah marah jika Mas lebih perhatian pada Mirna. Ingat.. Kamu yang dulu memaksa Mas untuk menikahinya, dan ternyata Ia jauh lebih penurut dibanding kamu.. Dan Mas berterima kasih karena Kamu telah memilihkan istri yang tepat buat Mas" ucap Satria yang membuat Syafiyah terperangah.


"Apa.? Jadi Mas mulai membandingkan Fiyah dengan Mirna?" sergah Syafiyah yang merasa jika suaminya mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Mirna.


"Bukan membandingkan, hanya saja itu kenyataan" jawab Satria penuh penekanan disetiap katanya.


Syafiyah menatap dengan penuh kesal "Mas jahat.. Mas jahat sama fiyah.." ucapnya sembari menangis terisak.


Ia kini merasa jika lukanya bukan hanya dikakinya saja, tapi Ia merasa juga terluka hatinya karena kenyataannya Sang Suami terang-terangan membela madunya.


Satria menatap istrinya itu dengan sendu. Ia sebenarnya tidak tega bersikap keras pada Syafiyah, namun Ia hanya ingin Syafiyah merubah sikap egonya yang sangat berlebihan.


Akhirnya Syafiyah tertidur akibat pengaruh obat yang diminumnya, meskipun terkadang terdengar suara isakannya yang mengiringi tidurnya.


Satria membenahi letak tidur Syafiyah, lalu menyelimutinya, dan mengatur suhu pendingin ruangan agar Syafiyah tidur pulas.


Satria mengecup ujung kepala Syafiyah, lalu membelainya lembut.


Setelah itu Ia pergi meninggalkan Syafiyah dan menuju ke kamar Mirna.


"Bagaimana kondisi Mbak Fiyah, Mas?" tanya Mirna yang baru saja menyalin pakaiannya.


Satria mengunci pintu kamar Mirna dan duduk ditepian ranjang.


"Jangan sampai Nini Maru mendapatkan janin Syafiyah, sebab ini akan sangat berbahaya" ucap Satria lirih.


Mirna menghampiri suaminya "Mirna akan berusaha semaksimal mungkin, Mas.. Meskipun Mbak Syafiyah mencoba menolak Mirna" jawab Wanita itu dengan tulus.


Satria menghela nafasnya dengan berat " bersabarlah dengan sikapnya, dan Mas tau jika Kamu pasti dapat mengatasinya" jawab Satria lirih.


Mirna menganggukkan kepalanya "Apakah luka dikaki Mbak Syafiyah kita sembuhkan secepatnya atau dibiarkan sembuh secara normal?" tanya Mirna penasaran.


"Biarkan sembuh secara normal dan Ia harus mengajukan cuti" jawab Satria dengan cepat.


"Baiklah.. Terserah Mas saja.."


"Kamu harus menjaga diri kamu dari Rey.. Jangan sampai Ia berhasil mempengaruhimu apalagi menyentuhmu" Satria mengingatkan.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu menatap sang suami dengan penuh makna.