
6 tahun kemudian..
Kedua anak laki-laki itu tumbuh dengan sangat menggemaskan dibawah asuhan Mirna dan juga Satria.
Keduanya sudah mulai masuk sekolah satu dasar dan wajah mereka sangat hampir terlihat mirip.
namun anehnya, wajah keduanya mengambil wajah Mirna, kemungkinan karena Sayafiyah semasa mengandung sering cekcok dengan Mirna, hingga wajah Samudera mirip dengan Mirna.
Kemanapun Samudera pergi, maka disitu Angkasa akan mengikutinya. Dalam segala hal mereka harus sama. Dari mulai peralatan sekolah, hingga atribut lainnya.
Masalah dengan kepintaran, keduanya sama-sama pintarnya, dan terkadang gurunya menjadi bingung saat memberikan rangking kepada kedua anak itu, dan Angkasa akan meminta kepada gurunya, agar Samudera saja yang diberi rangking satu, dan Ia rangking 2.
Dari kecil, watak Angkasa sudah terlihat selalu mengalah, namun Ia sangat menyayangi Samudera sebagai Kakaknya.
Hari ini Mirna terlambat menjemput keduanya pulang sari sekolah. Samedera dan Angkasa sedang menunggu di pagar sekolah. Tampak seorang wanita berambut panjang dengan wajah setengah hancur berjalan tertatih mengahmpiri keduanya.
"Dik.. Boleh minta minumnya" ucap Wanita berambut panjang yang tak lain adalah Yanti datang menghampiri keduanya didepan pintu pagar.
Samudera menurunkan botol air minumnya "Ibu mau minum ini?" tanya Samudera dengan jiwa polosnya, lalu menjukurkannya melalui pintu gerbang tersebut.
"Keluarlah dari pintu pagar itu, biar Ibu senang mengambilnya" rayu sang wanita tersebut.
Angkasa mencegahnya "Jangan..! Ibu melarang kita berdekatan dengan orang asing, beriakn saja dari dalam pagar ini" cegah Angkasa, karena saat ini Ia melihat rupa dai wanita itu sangat mengerikan, namun dalam pandangan Samudera hanyalah wanita yang biasa saja.
Samudera terdiam, lalu menganggukkan kepalanya. Wanita itu tampak marah dan merasa sangat kesal terhadap Angkasa, karena sudah memprovokasi anak tersebut.
Namun saat Angkasa mentapnya dengan tajam, Yanti memilih pergi.
"Ni.. Mengapa cucumu itu sangat sulit didekati" ucap Yanti dengan kesal "Mengapa tidak Kau culik saja Dia Kau jadikan pengikutmu?" tanya Yanti.
"Apakah matamu buta, jika Chakra Mahkota selalu mengukutinya, apakah kau ingin celaka? Sedsngkan gaunku saja belum ku dapatkan kembali" jawab Nini Maru, dari dalam tubuh Yanti.
"Berapa tumbal lagi yang kita butuhkan untuk menyempurnakanmu?"tanya Yanti lagi.
"Mungkin 10 janin lagi, dan untuk penutupnya Aku ingin anak itu sebelum Ia dikhitan" Nini Maru mengingatkan.
Yanti menganggukkan kepalanya dan akan berusaha mencari tumbal lainnya untuk dapat diberiakn kepada Nini Maru.
Disisi lain, Inspektur Jefry kini hidup bagaikan buah simalakama. Bagaimana mungkin Ia hidup dengan tubuh gagah, namun tak memiliki kebanggaan bagi seorang pria, Ia masih mengingat peristiwa itu, dimana Yanti dan sosok misterius tersebut merenggut senjatanya dengan keji.
Pihak kepolisian mengehentikan kasus tentang Yanti, sebab mereka menganggap penjelasan yang diberikan oleh Inspektur Jefry dan Adhit yang kini mengalami kelumpuhan dikaki kanannya yang terjepit badan mobil karena kecelakaan waktu itu.
Pihak instansinya, menganggap penjelasan yang diberikan oleh kedua anggotanya itu adalah hal yang tidak dapat dijelaskan oleh akal dan dianggap sebagai khayalan.
Namun Jefry dan Adhit menganggap ini adalah nyata. Maka keduanya tetap melanjutkan untuk mengungkapkan misteri kasus yang belum terpecahkan tersebut.
Apalagi Jefry merasa tidak rela jika Yanti terus bebas hidup berkeliaran, sedangkan Ia hidup dalam penderitaan.
Beberapa waktu ini Ia pernah melihat Yanti beberapa kali berkeliaran. Namun wanita itu tampak begitu sangat mudah menghilang dan tak terdeteksi.
"Kenapa Ibu lama sekali menjemput kita?" Guman Samudera yang tampak mulai bosan.
"Mungkin ada urusan" jawab Angkasa.
"Kita pulang jalan kaki sajalah.. Lagipula tidak terlalu jauh, Aku sudah lapar" jawab Samudera.
"Tapi jika nanti tiba-tiba Ibu datang, kita tidak terlihat disini, pasti Ibu bingung mencari kita" cegah Angkasa.
Melihat Samudera nekad keluar dari pagar, Angkasa ikut untuk mengejar kakanya dan setengah berlari "Kak.. Tunggu" pekiknya sembari mengejar Samudera.
Keduanya berjalan menyusuri jalanan raya sembari bergurau.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil hitam melaju kencang dan menepi tepat disisi mereka.
Seorang pria menyeramkan membuka pintu mobil dan memaksa Samudera untuk masuk kedalam mobil. Melihat hal itu, Angkasa membuka tas sandangnya dan memukul kepala pria menyeramkan itu.
"Heeii.. Lepaskan kakakku" teriak Angkasa dengan geram, lalu menggigit lengan sang pria dengan kuat.
"Aaaargh..." teriak pria itu dengan reangan kesakitan.
"Dasar Kau sial..!!" maki pria itu dengan geram.
Lalu Samudera meninju wajah pria itu dengan kuat, dan berhasil melarikan diri.
Siapa sangaka tinju tangan bocah usia 6 tahun itu dapat meninggalkan luka lebam yang sangat parah.
"Lati, Dik.." ajak Samudera kepada Angkasa, lalu keduanya berlari menghindari kejaran pria menyeramkan tersebut.
Kita harus cepat, sebentar lagi sampai dirumah" ucap Angkasa yang mensejajarkan larinya dengan Samudera.
Tampak mobil itu terus mengikuti mereka, hingga mereka sampai melihat rumah kosong dan Samudera berbelok ke rumah itu untuk bersembunyi.
"Kak.. jangan ke situ, kita lari pulang saja" teriak Angkasa.
"Sudah cepat, Kita sembunyi disitu saja" jawab Samudera. akhirnya mau tak mau Angkasa mengikuti kakaknya bersembunyi dirumah kosong tersebut.
Keduanya bersembunyi dibalik didinding kamar. Terdengar suara derap langkah laki-laki dewasa mengikuti mereka dengan langkah yang menyeramkan.
Samudera meraih sebuah balok kayu yang terdapat didalam kamar kosong tersebut. Lalu meletakkan jemari tekunjuknya didepan bibirnya, agar Angkasa tak berisik.
Melihat Samudera membawa balok kayu, Angkasa ikut mengambil satu batang penyapu dan ikut bersembunyi dibalik tubuh Samudera.
Terdengar suara pintu dibuka. Langkah itu memasuki rumah dan menutup kembali pintu tersebut.
Lalu langkah itu terus masuk dan menuju ke arah kamar.
Kedua bocah anak lelaki itu sudah bersiap siaga, dan ketika bayangan pria itu masuk mendekati kamar, Samudera dengan sigap memukulkan balok kayu tersebut ke arah pinggang sang pria, sebab tinggi tubuhnya hanya mencapai itu saja.
"Aaaargh.." pekik pria itu tersungkur dilantai. Lalu Samudera melompat keluar dari Kamar, dan Angkasa mengikutinya, lalu Angkasa ingin memukul kembali pria itu, tetapi mata sang pria berubah berwarna merah dan mengeluarkan taring disudut bibirnya, dan Angkasa mundur 3 langkah lalu menarik tangan Kakaknya untuk keluar dan segera membuka pintu.
"Cepat, Kak.. Dia bukan manusia" ucap Angkasa yang terus berlari kencang. Samudera merasakan jika Angkasa memiliki daya lari yang luar biasa kencang.
Angkasa yang ditariknya seolah seperti melayang saja dan mereka tiba didepan pintu pagar rumah, lalu berhenti dengan nafas tersengal "Kenceng banget lari, Kamu" ucap Samudera sembari tersengal.
"Tapi tadi pria itu bukan manusia, Kak.." ucap Angkasa menjelaskan sekali lagi.
"Masa sih? Kenapa kakak lihat biasa saja? Kakak kira dia penculik" jawab Samudera, lalu membuka pintu pagar rumah.
"Beneran, Aku lihat matanya merah, dan memiliki gigi taring sama seperti wanita yang meminta air minum didepan pagar sekolah tadi" jawab Angkasa.
"Ih.. Sereem" jawab Samudera.
Saat bersamaan, Tampak Mirna yang mengendarai motor matic masuk kedalam halaman rumah "Heem.. Ibu cari ke sekolah, ternyata sudah sampai rumah" ucap Mirna sembari turun dari motornya.