
Setelah kepergian Mirna dari ruang kerjanya, Syafiyah melihat bekal makanan yang dibawah wanita itu. Ia mengakui jika Ia sangat lapar saat ini.
Ia melihat satu porsi nasi goreng dengan toping telur ceplok dan lalap mentimun serta dau salada.
Ia mencoba mencicipinya, dan Ia sudah tahu pasti rasanya enak. Syafiyah menguyah sarapannya dengan sangat lahab dan mengahbiskannya dalam sekejab saja.
Saat akan mengambil gelas air minumnya, Ia melihat gelang tasbih yang melingkar dipergelangan tangannya, dan mentapnya sejenak, lalu memanyunkan bibirnya dan meraih gelas tersebut lalu meneguk airnya.
Tak berselang lama, Ia mendengar suara ketukan pintu diruang kerjanya "Masuk" ucapnya.
Tampak seorang pegawai honorer masuk kedalam ruang kerjanya "Bu, ada pegawai Dinas Kesehatan datang berkunjung dan ingin bertemu" ucap Pegawai tersebut memberitahu.
Syafiyah terperangah, Ia bahkan tidak mengingat jika hari ini ada jadwal pertemuan dengan pegawai Dinas kesehatan.
"Ya.. Saya segera turun" ucap Syafiyah, lalu bergegas hendak turun saat pegawai honorer itu meninggalkan ruangannya.
Syafiyah yang tampak tergesah-gesah, tanpa sadar pergelangan tangan kirinya menyenggol sudut meja kerjanya dan membuat gelang tasbihnya tersangkut.
Karena ceroboh, Ia menariknya begitu saja dan membuat gelang itu terputus, lalu bulir-bulirnya berhamburan dilantai.
Ia yang sedang terburu-buru, memandangi sejenak bulir tasbih yang berhamburan di lantai, lalu meninggalkannya begitu saja.
Syafiyah menapaki anak tangga menuju lantai dasar untuk menemui pihak Dinas kesehatan.
Namun saat Ia menapaki anak tangga terakhir, Ia merasakan desiran angin yang terasa dingin seperti es, lalu Syafiyah mengusap pundaknya yang serasa meremang, lalu melanjutkan langkahnya menemui para pegawai Dinas kesehatan yang sudah menunggunya diruang tunggu.
Pertemuan itu membahas tentang adanya Vaksin dan pemberian obat cacing untuk anak usia balita dan juga akan mengadakan pemberian seminar kepada para kader posyandu yang berada dibawah naungan puskesmas yang sedang di kepalai oleh Syafiyah.
Saat sedang fokus dalam pertemuan tersebut, Syafiyah merasakan jika Ia begitu tak nyaman. Ia mencium aroma kembang kenanga yang menyeruak keruangan kerjanya.
Sesaat mata Syafiyah tertuju pada satu sosok yang ikut duduk pada barisan para pegawai Dinas kesehatan yang sedang menatapnya dengan begitu tajam.
Seketika Syafiyah membolakan matanya karena terkejut. Namun Ia berusaha untuk tidak melihat makhluk itu, sebab tidak etis jika Ia berteriak ketakutan karena akan menimbulkan berita hebohnya nantinya.
Meskipun Syafiyah merasa sangat ketakutan, namun Ia mencoba bersikap tenang dan mendengarkan setiap apa yang disampaikan.
Setelah acara selesai, Syafiyah terburu-buru naik ke atas dimana ruang kerjanya berada.
Syafiyah membuka kunci ruang kerjanya dan masuk dengan cepat.
Ia memandangi lantai ruang kerjanya dan mencoba mencari bulir tasbih yang tadi berhamburan dilantai.
Namun setelah mencarinya, tak sebutirpun yang Ia dapatkan, Ia merasa bingung kemana bulir-bulir itu pergi menghilang.
Syafiyah mengacak pingganganya, lalu mengerutkan keningnya dan terus memandangi setiap inci dari lantai ruang kerjanya.
Karena tak menemukan apa yang dicarinya, Shafiyah mencoba melupakannya dan kembali ke meja kerjanya.
Sementara itu, seorang wanita bernama Lela sedang mengalami mual dan juga tak nyaman dalam perutnya. Ia mengalami muntah dan memasaknya memuntahkan isi perutnya.
Setelah puas dengan muntahan diperutnya, Ia kembali ke warungnya karena ada pelanggan yang memanggil dirinya untuk membeli sarapan.
Lela merasakan tubuhnya sangat lemah. Sepertinya Ia sedang telat datang bulan. Ia mengingat sudah beberapa kali bercinta dengan pria senja tersebut, si makhluk Me-Sum.
"Mbak, Lontong satu porsi, teh manis panas satu" ucap Seorang pelanggan kepada Lela.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan menuju lemari setileng untuk meracikkan pesanan pelanggannya.
Lela mengantarkannya ke meja pelanggan itu, lalu Ia duduk di kursi kosong dan memijat kepalanya yang terasa sangat pusing.
Seketika Ia merasakan kepalanya terasa sangat berat, bagaikan memikul beban yang terasa berat.
Ia melihat seakan dunianya gelap dan berputar, lalu Ia merebahkan kepalanya diatas meja warung, dan perlahan pandangan matanya mulai meredup dan tampak gelap begitu saja.
Pelanggan itu sudah selesai dengan srapannya, lalu Ia memanggil Lela untuk membayar makannya, namun setelah memanggil cukup lama, Ia tak mendapatkan jawabannya.
Pekanggan itu menduga jika Lela sedang tertidur pulas.
Lalu pelanggan itu membawa piring kotor dimeja yang menjadi tempat Lela yang sedang tertidur.
Pelanggan itu meletakkan uang untuk pembelian sarapannya dibawah piring dan pergi meninggalkan Lela.
Hampir senja dan begitu lamanya Lela tertidur, Ia melihat sekelilingnya, dan ternyata sudah berada didalam kamarnya. Lela merasa bingung mengapa Ia sudah berpindah ke kekamarnya dan entah siapa yang memindahkannya.
Saat Ia masih dalam kebingungan, tiba-tiba saja matanya tertuju pada sosok berbulu yang berdiri disudut kamarnya tepatnya dibalik pintu kamar.
Sosok itu memandang kepada Lela dengan sorot mata liar. Lela tersentak kaget, namun seketika sosok itu merubah wujudnya menjadi Kakek Nugroho dan menghampirinya ditepian ranjang.
Langit semakin kelam, dan akan bertukar menjadi malam. Pria senja itu membelai rambut Lela dengan lembut, tatapannya begitu sangat lapar akan hasrat.
Lela tak dapat berkutik saat menatap sorot mata pria senja itu, Ia begitu terhipnotis.
Semakin lama, belaian itu turun keperut Lela, Ia berhenti disana, dan merasakan ada sebuah tanda-tanda kehidupan yang akan membentuk menjadi sesosok calon janin.
Pria senja itu menatap wajah Lela yang tampak sendu, hingga terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang, dan Makhluk itu beranjak dari kamar Lela dan menghilang.
Lela tersentak, lalu berusaha bangkit dari tidurnya, Ia mengusap wajahnya dan menuju kamar mandi.
Entah mengapa Lela tak lagi merasa takut dengan makhluk Me- sum tersebut.
Ia menikmati segala apapun yang dilakukan oleh sosok mengerikan dan menjijikkan itu.
Setelah selesai dari kamar mandi, Lela kembali ke kamarnya dan menyalin pakaiannya, lalu menuku ke warungnya.
Terlihat sepi, Ia melihat satu piring kotor terletak diatas meja warung, dan Ia melihat ada beberpa lembar uang yang ditinggalkan oleh pelanggannya.
Lela mengambilnya dan memasukkan kedalam dompetnya.
Setelah Maghrib berlalu, Pelanggannya mulai datang, dan diantaranya adalah Didi dan Dino yang menjadi pelanggan setianya.
Lalu keduanya memesan pesanan mereka, sebelum menikmati Wifi gratis hang disediakan oleh Lela.
Tak berselang lama, beberapa para pria juga masuk dan memesan makanan dan minuman, lalu mereka mengambil papan catur dan bermain catur bersama temannya.
Lela sibuk membuatkan pesanan pelanggannya dan berusaha menyelesaikan semua pesanan dengan baik.
Hingga akhirnya sosok Kakek Nugroho datang ke warungnya untuk memesan segelas kopi hitam kepada Lela.
Lela melihat kakek Nugroho memilih duduk menyendiri di sudut warung ketimbang menimbrung dengan para pelanggan lainnya.
Tatapan pria senja itu tampak liar dan tajam menatap kepada Lela.
Lela mengantarkan pesanan kopi tersebut, saat jatak mereka begitu dekat, Ia melihat pipi kanan pria itu tampak lebam, dan itu adalah jejak pukulan Mirna saat menyelamatkan Syafiyah saat malam itu disumur belakang.