
Rina merasa mengantuk karena Ia merasakan hawa dingin yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, lalu terlelap setelah terseret ke lembah dosa.
Yanti menghampiri tubuh Jali yang kini masih terlihat bernyawa, namun suaranya tercekat ditenggorokannya.
Tubuhnyanya terus mengejang layaknya ayam yang sedang disembelih, tanpa syahadat, dan juga dalam kondisi habis bermaksiat, sungguh kematian yang khusnul khatimah, alias mati dalam kehinaan.
Yanti membuka lebar kedua pangkal kaki Jali, meraup darah yang mengucur dari luka menganga yang diakibatkan karena tercabutnya organ vital yang dimiliki pria itu.
Yanti melumurkan darah tersebut kesekujur tubuhnya, dan membuatnya tampak seperti sedang berlulurkan darah dengam aroma amis yang sangat menyengat.
Kedua mata Jali membeliak dengan mulut ternganga serta suara layaknya orang sedang mendengkur, terdengar serak dan juga mengenaskan.
Tak puAs sampai disitu, Yanti menyesap darah tersebut dengan sangat rakus dan juga tampak seperti orang yang begitu sangat kehausan.
Ia tak lagi memperdulikan dirinya, Ia sudah menjadi manusia setengah iblis yang kini menjadi tidak manusiawi.
Setelah kehabisan darah, akhirnya Jali tak lagi bergerak untuk selamanya. Ia kini sudah meninggalkan raganya, dan memandanginya dengan penuh kebingungan.
Yanti merasa sudah sangat cukup dengan apa yang kini Ia dapatkan. Perlahan luka hangusnya kian membaik meski hanya sekian persen saja.
Setelah mendapatkan yang Ia inginkan, kini Yanti beranjak pergi meninggalka kamar yang tadinya penuh dengan lenguhan dan rintihan hasrat menggebu, seketika berubah menjadi kengerian yang sangat mencekam.
Nini Maru mengarahkan kepada Yanti agar menuju ke tempat dimana Tia dan juga Tini kini sedang melayani para pria penyuka kemaksiatan.
Disebuah rumah kosong, dan tentunya pria itu adalah mereka yang tidak bermodal dan hanya dapat membayar sewa jasa tanpa mampu membayar sewa hotel.
Kedua pasangan maksiat itu sedang dalam kondisi mabuk kepayang. Mereka tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan yang terlalu dalam.
Bahkan setidaknya Tia dan juga Tini yang kini sudah beberapa tahun menjadi pekerja pelayan jasa kehangatan tubuh telah mengidap penyakit yang pastinya akan menularkan kepada diri mereka.
Saat mereka asyik dalam perbuatan asmaranya, Tia merasakan jika Ia mencium aroma amis darah yang terasa begitu dekat dengan dirinya.
Namun karena Ia harus bekerja secara profesional karena Ia harus melayani pelanggannya, Ia mencoba mengabaikannya.
tiba-tiba Ia merasakan bulu kuduknya meremang karena merasakan hawa dingin dan juga hawa negatif yang terasa begitu sangat mengerikan.
Pria yang kini sedang menggaulinya tak lagi memperdulikan apa yang terjadi dan apa yang sedang dirasakan oleh Tia, Ia terus saja memacu gerakannya untuk mencapai pelepasannya.
Sementara itu, Satria yang baru saja memberikan energi kepada Mirna, merasakan aroma kemaksiatan itu begitu terasa.
Ia masih tidak habis fikir mengapa warga tidak merasa takut dengan peringatan para polisi agar tidak berkeliaran dimalam hari jika buka karena hal yang sangat penting dan peringatan para ulama agar tidak melakukan kemaksiatan terutama berzinah, semua agar tidak menjadi korban dari tumbal janin dan juga tumbal organ vitAl yang kini sedang meneror warganya.
Satria mengakui jika semua ini adalah imbas dari balas dendam dari kuntilanak yang pernah dipelihara leluhurnya, namun jika saja warga mendengarkan apa yang dihimbaukan oleh kepolisian dan juga para ulama desa, maka hal semacam ini tidak akan terjadi.
Satria mengambil wudhu untuk menghilangkan hadas kecilnya karena habis bercinta dengan Mirna, sedangkan untuk hadas besar Ia belum sempat melakukannya karena Ia merasakan jika Nini Maru sedang mengintai sosok janin dalam rahim Tia dan juga Tini.
Sementara saat Rey sedang melakukan pembunuhan kepada Jali, Satria juga dalam kondsisi sedang menyelamatkan Mirna yang kehabisan tenaga dalam karena mencoba menyalurkannya kepada kedua puteranya.
Satria melesat menghampiri tempat dimana dua pasang pekaku kemaksiatan sedang bergumul dalam mencapai dosa yang mereka anggap biasa.
Sedangkan Yanti sedang siaga menanti saat yang tepat untuk mengambil janin yang diincarnya.
Dengan cepat Satria mendaratkan sukmanya dihadapan Yanti yang tentunya kini sedang bersemayam Nini Maru ditubuhnya yang terlihat sangat mengenaskan.
Melihat kehadiran Satria yang tiba-tiba muncul dihadapannya membuat Yanti tersentak karena terkejut, dan Ia tiba-tiba merasa tersipu malu dengan kehadiran sang pria tampan yang membuatnya begitu tak mampu menyembunyikan perasaannya.
Belum sempat hilang senyum dibibirnya, Satria telah memberikan sebuah tendangan yang membuat wanita itu terpental jauh dan senyumnya hilang seketika.
Nini Maru mengomel dengan Yanti yang terlalu terbawa perasaan dan tak dapat mengendalikan perasaannya yang hanya bertepuk sebelah tangan.
"Dasaar, Bodoh.. Bisa-bisanya kamu baper dengan pria itu, Ayo.. Pergi" maki Nini Maru yang kini merasakan sakit dibagian dadanya karena Satria melakukan tendangan yang menggunakan tenaga dalam dan meninggalkan bekas luka lebam didada Yanti.
Wanita itu meringis kesakitan. Ia mengira kehadiaran Satria yang tiba-tiba muncul dihadapannya adalah karena pria itu ingin mengajak Yanti berkencan, namun belum sempat Ia berkhayal jauh, khayalannya sudah dihempaskan begitu saja dan membuat Yanti harus menahan rasa sakit dibagaian dadanya yang tampak lebam dan juga rasa sakit bercampur malu karena perasaannya yang tak bersambut dengan baik.
"Dasar tidak peka dan juga tidak memiliki perasan sedikitpun" guman Yanti yang berusaha untuk bangkit dan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, Tia dan juga Tini yang masih bermaksiat tampak tak menyadari jkma ada yang melihat mereka.
Satria menghampiri gubuk reot tersebut dan mengguncang tiangnya yang membuat kedua pasangan mesum itu terdiam sejenak karena tiang gubuk tampak berguncang dan akan roboh.
Saat mereka masih bengong karena merasa hasratnya yang juga menggantung dan juga tanggung, tiba- tiba gubuk itu roboh dan menimpa mereka.
Satria lalu pergi menghilang dan meninggal dua pasangan pelaku kemaksiatan tersebut.
Tia dan juga Tini merasakan sakit disekujur tubuhnya karena tertimpa kayu penyanggah, serta dua orang pria pelaku mesum tersebut salah satunya senjata andalannya terjepit balok kayu yang rubuh dan rasanya itu sangat sakit sekali.
Mereka meringis kesakitan dan berusaha keluar dari reruntuhan gubuk reot tersebut dan dengan tubuh penuh luka keluar darah yang merembes disudut bibirnya.
Kini mereka memunguti pakaian mereka yang berserakan dan mengenakannya kembali karena luka disekujur tubuh mereka.
Merasa tidak tuntas dalam sewa jasa kehangatan tubuh dua wanita yang sudah rusak total tersebut, kedua pria itu hanya mengantarkan Tia dan juga Tini ke pinggir jalan tempat kedua sang wanita mangkal, lalu melemparkan uang 29 ribu rupiah dan mereka ngacir menggunakan sepeda motornya.