MIRNA

MIRNA
episode162



Nini Maru semakin uring-uringan saat mengetahui jika Samudera telah di khitan dan ini membuatnya semakin ketakutan.


"Bagaimana ini, Ni?"tanya Yanti kepada Nini Maru.


"Kita harus segera mencari 9 tumbal janin lagi.." titah Nini Maru.


"Lalu aku bagaimana, Ni?" tanya Rey dengan luka hangus dibagian keningnya karena dihempaskan oleh Nini Maru.


"Itu deritamu, cari sendiri" omel Nini Maru karena merasa kesal setelah Rey menggagalkan khitanan Samudera dan juga Angkasa..


Rey akhirnya kesal dan melesat lalu menghilang.


Malam kian kelam. Para peronda mulai berkeliling untuk terus mencari sosok kuntilanak yang malam itu pernah menyatroni rumah Didi.


Saat ini, setelah melakukan pendataan, ada 3 warga yang sedang mengandung dan hal ini akan membuat warga semakin memperketat ronda dan jangan sampai kecolongan.


Yanti menyelinap dibalik kegelapan malam. Ia melihat dua peronda yang yang saat ini berjalan berdampingan.


"Siaall..!! Kenapa mereka jadi ngeronda sih.." maki Yanti dengan kesal.


Sedangkan saat ini Ia sudah hampir dekat dengan rumah Yuni yang saat ini juga sedang mengandung.


Seketika Yanti memiliki ide "Ni.. Rubah wajahku jadi cantik, biar aku goda dulu akang-akang itu, setelah itu panggil Rey buat cabut lato-latonya" titah Yanti.


"Boleh juga idemu" jawab Ninj Maru lalu mencoba menggunakan sihirnya membuat luka diwajahnya menghilang dan terlihat cantik dihadapan dua peronda tersebut.


Setelah merubah wajahnya menjadinya cantik, kini Yanti dengan sedikit merobek gaunnya agar lebih pendek untuk menarik perhatian kedua peronda tersebut.


Yanti berjalan melenggang seolah sedang mencari sebuah alamat.


"Eh, Min.. Itu koq ada cewek jalan sendirian disekitar sini" ujar Likin kepada Amin temannya.


Lalu Amin mengarahkan sorot lampu senternya ke arah ssosok wanita yang dimaksud Likin.


"Eh, iya , kin.. Tapi itu beneran cewek apa kuntilanak sih, Kin?" Amin sedikit curiga.


"Tapi kakinya injek tanah, Min.. Mana mungkin kuntilanak" protes Likin.


Lalu tampak wanita itu semakin mendekat, dengan pakaian dan juga tubuh yang aduhai.


"Mau kemana, Mbak? Ini sudah malam, dan sepertinya si Mbak bukan orang sini" tanya Likin penasaran, namun matanya tak lepas dari dua buah melon milik sang wanita yang tampak menonjol dan sengaja dibiarkan menyembul keluar setengahnya.


Namun berbeda dengan Amin, Ia merasa sangat meremang dan tercium aroma kembang kenanga terbawa angin.


"Saya dari kota, Kang.. Mau cari alamat keluarga saya, tetapi sudah capek muter-muter tapi gak ketemu juga, mana rasanya capek banget" jawab wanita yang tak lain adalah Yanti.


"Emangnya nama saudaranya siapa?" tanya Amin yang merasakan sedikit merasa aneh.


Lalu Yanti memperlihatkan secarik kertas dengan sebuah nama palsu dan juga alamat palsu.


"Wah.. Ini tidak ada alamatnya dan juga nama orangnya disini, Mbak" jawab Likin dengan cepat.


"Aduuh.. Jadi saya harus gimana dong, Kang.. Saya sudah capek banget keliling seharian, mana lapar lagi" ucap Yanti berbohong.


"Kalau gitu ke pos ronda saja, Mbak. Mana tau nanti ada warga yang bisa tumpangi rumahnya.." jawab Likin bersemangat.


"Saya gak tau pos rondanya, Kang" jawab Yanti beralibi.


"Ayo, Neng.. Biar akang antar" jawab Likin bersemangat.


Dengan cepat Yanti menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah Likin.


Tiba-tiba Amin merasakan perutnya mulas.


"Kin.. Kamu duluan saja, perutku mulas, ntar aku nyusul" ucap Amin yang sudah tak tahan untuk menahan rasa mulas diperutnya, lalu dengan cepat ngacir ke arah semak.


Sementara itu Likin membawa Yanti ke pos ronda. Saat ditengah perjalanan, Yanti berpura-pura mengekuh jika kakinya keram karena lelah berjalan seharian.


Likin akhirnya mengajak Yanti berhenti dan duduk disebatang kayu tumbang "Ya sudah.. Kita duduk disini dulu, sembari nunggu Amin" ucap Likin, yang dijawab anggukan oleh Yanti.


Lalu mereka duduk dibatang pohon tumbang dengan jarak yang sangat dekat.


Yanti berpura-pura mengurut pergelangan kakinya yang keram.


"Sakit, Mbak? Sini saya bantu" ucap Likin menawarkan.


Yanti menganggukkan kepalanya, dan tampak Likin sangat bersemangat sekali. Ia mulai mengurut kaki Yanti, namun Otak dari Likin sudah tercemar saat melihat betapa halusnya kulit Yanti.


Sementara itu, Rey tampak melesat dan memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Yanti.


Likin mulai tersengal, dan Yanti sadar akan hal itu "Kenapa, Kang?"


"Gak ada, Mbak.. cuma Mbaknya cantiknya banget" jawab Likin.


"Oh.. Saya kira ada apa" ucap Yanti yang sengaja merunduk dan memperlihatkan bongkahan buah melonnya.


Likin semakin tak dapat mengendalikan dirinya. Matanya terus menatap area tersebut.


"Akang mau? Kalau mau boleh Koq" ucap Yanti dengan sebuah pancingangan.


Tentu saja hal itu membuat Likin semakin terperangah.


"Beneran, Mbak.?" tanya Likin tak sabar.


Yanti menganggukkan kepalanya "Tapi jangan disini, kita dibalik pohon itu saja" Yanti menawarkan.


Likin yang sudah gelap mata, akhirnya mengiyakan ajakan Yanti dan menuju kebalik pohon, namun Ia lupa jika sendalny terlepas sebelah dan Likin tidak menyadarinya.


Sementara itu, Amin sudah selesai buang hajat dan membersihkannya dengan dedaunan, lalu kembali menuju ke pos ronda.


Ia tak lagi melihat Likin, dan mengira sudah sampai dipos ronda, dan mempercepat langkahnya.


Sesampainya di pos ronda, Ia bertanya kepada ke dua rekannya yang baru balik dari patroli.


"Ada lihat Likin, gak? Bersama seorang gadis cantik?" ucap Amin kepada kedua rekannya.


Keduanya menggelenkan kepalanya.


Seketika Amin tersentak "Siaaal..!! Jangan-jangan wanita ituu.." ujar Amin, lalu dengan cepat memutar tubuhnya.


"Panggil warga lain, kita cari Likin bersama" titah Amin. Lalu salah seorng diantara mereka berlari kesalah satu rumah warga untuk mengabari yang lainnya.


Dalam sekejab saja warga berkumpul untuk mencari Likin yang dikabarkan menghilang bersama wanita cantik.


Lalu warga bersama-sama mencari keberadaan Likin yang tiba -tiba raib entah kemana.


Dibawah pohon nan rindang, Likin sedang terlena dengan buaian yang diberikan oleh Yanti, hingga Ia tak menyadari jika para warga kebingungan mencarinya.


Likin hampir mencapai puncak surgawinya, Ia masih terlena dan terbuai lautan asmara.


Sesaat Amin melihat satu buah sendal yang tertinggal di dekat batang pohon yang tumbang.


"Sepertinya Likin dibalik pohon itu, ayo kita grebek" ucap Amin memberi komando.


Lalu warga menggerebek dibalik pobon tersebut. Dan alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Likin sedang mengejang karena sosok wanita sedang menyesap darah milik Likin yang menyembur dari luka dipangkal kakinya, sedangkan organ intinya menghilang.


Sontak warga terkejut dan berteriak histeris, lalu meraih Pemantik api dan melemparkannya kepada Yanti yang kini sudah dalam kondisi terkepung.


Wanita itu menyeringaikan senyumnya dan menatap penuh kengerian.


Pemantik api mengenai gaunnya, namun dengan cepat Ia mengibaskannya dan meraup darah daei luka parah yang berada dipangkal kaki tersebut dan mengoleskanya keseluruh tubuh dan wajahnya, seketika Yanti menghilang dan warga tak dapat melihatnya, meskipun sebenarnya Ia sudah menyelinap dari kepungan warga dan menuju rumah Yuni.