MIRNA

MIRNA
Episode 55



Mirna sudah berada didapur. Seperti biasa mengerjakan tugas rumah tangganya. Lalu Ia membuat sarapan dan menghidangkannya kepada Satria yang sudah siap dimeja makan.


Satria memakan sarapannya. Semenjak Mirna tinggal seatap dengannya, membuat Satria tak perlu lagi pusing untuk memikirkan masalah makan dan juga membersihkan rumah, terutama Ia tidak lagi pusing dibagian kepala bawahnya.


Saat Satria sedang sarapan, Mirna ingin membawa sarapan untuk Syafiyah kekamarnya, namun Satria buru-buru mencegahnya "Jangan.. Biar Mas saja saya bawa kedalam kamar" cegah Satria dengan cepat.


Satria takut jika Syafiyah mengetahui Mirna berada seatap dengannya akan membuat kekacauan.


Mirna menganggukkan kepalanya dan Meletakkan kembali nampan berisi sarapan untuk Syafiyah. 


Setelah Satria menyelesaikan sarapannya, Ia membawa sarapan itu kepada Syafiyah dan mencoba menyuapinya.


Syafiyah menatap suaminya "Mas.. siapa yang memasak sarapan ini?" Tanya Syafiyah merasa curiga.


Bahkan Ia melihat rambut suaminya basah dan terlihat sangat rapi karena baru selesai mandi.


"Ada seseorang yang memasak sarapan " jawab Satria dengan tenang.


"Siapa? Mirna?"cecar Syafiyah dengan tak sabar.


Satria menatap istrinya "Ya.. mengapa?" Tanya Satria dengan tetap berusaha tenang.


"Mas.. dia itu berbahaya.." ucap Syafiyah mencoba memprovokasi.


"Kamu yang memaksa Mas untuk menikahinya.. maka Mas sudah menurutinya.. dan jangan berharap Kamu bisa meminta Mas untuk menceraikannya.." ucap Satria dengan tetap berusaha menjaga nada suaranya.


Syafiyah membeliakkan kedua matanya. Ia tidak menduga jika Satria berbalik mengembalikan kata-katanya.


"Ta..tapi Mas.."ucap Syafiyah ingin protes dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.


"Tidak ada tapi-tapi.. hiduplah berdamai dengannya, karena semua ini juga atas keinginanmu" jawab Satria mencoba membuat kedua istrinya akur dan damai.


Syafiyah memanyunkan bibirnya, lalu melirik kepada suaminya "Mas baru siap bercinta tadi malam dengannya, Ya" tanya Syafiyah dengan nada cemburu.


"Ya.. Dia melayani Mas dengan baik.." jawab Satria jujur "Mengapa? Apakah Kamu juga ingin melayani Mas?" Tanya Satria dengan nada selidik.


Syafiyah terdiam dan merundukkan kepalanya tanpa berani menatap kedua mata suaminya yang kini menatapnya dengan intens.


"Jika Kau ingin melayani katakan saja, tidak perlu merasa cemburu seperti itu.." ucap Satria dengan nada yang menjebak.


"Emmmm… fiyahkan lagi tidak sehat, bagaimana mau melayani Mas..?" Jawab Syafiyah dengan kikuk.


"Jika begitu biarkan Mirna yang melayani Mas, dan jangan mencoba memprotes.. jika Kamu siap melayani, maka katakan saja" ucap Satria, lalu menyuapkan suapan terakhirnya kepada Syafiyah.


Syafiyah terdiam dan mencoba beralibi mencari cara untuk tidak terjebak di dalam kepura-puraannya.


Satria keluar dari kamarnya, lalu menuju dapur. Tampak rumah sudah bersih mengkilap karena baru selesai dipel dan kini Ia mendengar Mirna jika istri keduanya itu sedang mencuci pakaian diruang belakang dibuat khusus untuk mencuci pakaian.


Satria tidak dapat memungkiri jika Mirna melakukan tugasnya sebagai istri dengan benar dan berusaha untuk menjadi istri yang diidamkan dan tidak mengecewakan Suaminya.


Satria mendenguskan nafasnya, Ia berusaha untuk bersikap adil dan juga menyayangi keduanya, namun jika salah satunya lebih condong, Ia tidak dapat memungkirinya.


Sementara itu, Kakek Nugroho memandang rumah Mirna yang tampak kosong. Tatapannya tampak begitu tajam, Ia masih membawa ikan di tangannya, dan berlalu dari rumah Mirna.


Pria berusia senja itu berjalan menyusuri jalanan raya, namun tak terlihat rasa lelah sedikitpun didalam dirinya.


Ia memasuki sebuah gang menuju warung Lela, seorang janda muda yang masih tampak aduhai dan juga menggoda.


Warung Lela sudah tampak dari kejauhan dan Ia masih terus berjalan untuk mencapai warung kopi milik sang janda.


Suasana warung masih tampak ramai. Beberapa orang pelanggan masih tampak berdiam dengan pesanannya.


Ada yang bermain catur dan ada juga yang memanfaatkan wifi gratis yang disediakan oleh Lela.


Kakek Nugroho memasuki warung dan tampak seperti tenang tanpa beban.


Lela merasa gemetar saat melihat pria senja itu datang ke warungnya. 


Namun Ia berusaha bersikap tenang, sebab masih banyak pelanggan yang nongkrong di warungnya.


Namun entah apa yang membuat para pelanggan itu tiba-tiba pergi satu persatu dari warung, hingga tidak ada lagi yang tersisa.


Kakek Nugroho memesan kopi hitam kepada Lela, dan Lela tidak dapat menolaknya.


Ia menyedu kopi hitam untuk Pria senja, dan menghidangkannya.


Saat Lela menghidangkan kopi itu, tatapan mereka beradu, dan seketika Lela bagaikan terbuai dalam Sesuatu yang memabukkan.


Suasana seketika tampak hening, tak satupun tampak ada yang melintas dari depan warungnya.


Lela tak lagi mengingat apapun saat Pria senja itu menggiringnya kedalam kamar dan dikamar itu, pria senja dengan hasrat memburu menggarap sawah milik Lela.


Hingga 2 jam lamanya pria itu melakukan penggarapan sawah Lela, hingga membuat janda muda itu terkapar kelelahan.


Setelah menyalurkan hasratnya, Kakek Nugroho meninggalkan Lela begitu saja.


Lela mencoba memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai dan mengenakannya.


Saat Ia menuju kewarungnya, Ia melihat Didi dan juga Dino tampak memandangi warungnya seperti tampak bingung.


Karena penasaran, Lela.menghampiri keduanya yang berada didiluar warung.


"Didi, Dino.. ada.apa?" Tanya Lela dengan penasaran.


Kedua pemuda itu tersentak kaget karena Lela yang tiba-tiba menyapanya.


"Eh.. Mbak Lela.. sampai kaget Kitanya tiba-tiba datang" ucap Dino sembari memegang dadanya.


"Yaelah.. masih muda saja kagetan" jawab Lela dengan kelakar.


"Koq dari tadi tutup sih, Mbak warungnya" ucap Didi lalu masuk kedalam warung.


"Siapa yang tutup, dari tadi Mbak buka koq warungnya" jawab Lela meyakinkan kedua pemuda itu.


Kedua pemuda itu saling pandang satu sama lainnya.


"Beneran lho, Mbak.. kami lihat warung Mbak tutup" jawab keduanya.


Lela menggaruk dagunya, Ia merasa bingung atas semua kejadian yang menimpanya. Namun janda tanpa anak merasakan nyata apa yang terjadi dengannya.


Didi dan juga Dino masuk ke dalam warung Lela. Lalu mereka memesan makanan dan minuman kepada Lela.


"Mbak.. biasa ya.. teh susu dingin 2 dan lontong pecal dua.." pinta Didi kepada Lela.


Lela hanya menganggukkan kepalanya dan Ia Pergi ke dapur untuk membuat pesanan kedua pemuda itu.


Sembari membuat pesanan, Lela masih memikirkan  tentang peristiwa 2 jam yang lalu. Ia merasakan jika pria senja itu menggempurnya layaknya seorang pria berusia muda.


Tenaga Kakek Nugroho tampak begitu maksimal di usianya yang sudah senja.


Lela memegang perutnya yang mulai membuncit. Ia sangat takut jika warga mengetahui kehamilannya, maka Ia akan digunjing atau juga diusir dari kampung ini.


Lela sudah mencoba menggugurkan janin berusia 3 minggu itu, namun tak juga hendak gugur.


Setelah menyelesaikan pesanannya, Ia duduk di warung sembari menatap nanar ke depan.


Perlahan pembeli lain mulai berdatangan  dan warung Lela semakin  ramai, sehingga membuat Lela hampir kewalahan.


Setelah pukul 11 malam, Lela akhirnya menutup warungnya, lalu Ia masuk kedalam rumahnya.


Ia merasakan sangat lelah karena warungnya sangat ramai.


Lela membersihkan dirinya, bahkan Ia lupa jika belum mandi hadas saat bergumul dengan pria senja itu.


Lela masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Saat janda itu memasuki kamar, Ia dikejutkan kembali oleh sosok kakek Nugroho yang sudah berada di dalam kamarnya.


"Apa yang Kakek lakukan disini?" Tanya Lela bergidik namun setiap kali menatap mata pria senja itu hasratnya bergelora.


Kakek Nugroho tidak menggubris ucapan Lela, Ia menghampirinya dan menarik handuk janda muda tersebut hingga terlepas "Pertahankan janin dalam kandunganmu hingga berusia 3 bulan, maka Aku akan memberikanmu kekayaan berlimpah" ucapannya terdengar sangat menyeramkan.


Lela terdiam kembali saat pria menggarapnya. Hingga pukul 1 malam, pria senja itu pergi dari rumahnya dengan meninggalkan berbagai perhiasan mahal di atas ranjangnya.


Lela terperangah melihat semua perhiasan mahal tersebut.


Lela tidak pernah membeli perhiasan semahal itu selama hidupnya.


Ketika menikah dengan Gugun, Ia hanya mendapat kesengsaraan, namun setelah kematian suaminya, Ia menghidupi dirinya dengan membuka warung kopi.


Melihat mudahnya mendapatkan perhiasan yang sangat mahal tersebut, membuat Lela merasa mencari kekayaan itu sangat mudah dan instan.


Sepertinya Ia begitu menikmati dan menerima tawaran dari pria senja nan misterius tersebut.


Jika hanya hamil 3 bulan saja, maka orang tidak akan mengetahuinya. Setelah memikirkan semuanya, Lela mencoba untuk tidur karena esok Ia harus bangun dan memasak dagangan lontongnya.


~Maaf ya Readers.. Babnya ada yang tertukar..jadi Author perbaiki.. Doakan author sehat selalu dapat bisa up setiap saat..🙏🙏~