MIRNA

MIRNA
episode-263



Didi melemaparkan pemantik api ke rumah almarhum Nek Surti dan diikuti oleh warga lainnya.


Nini Maru merasa kesal melihat Didi yang menjadi provokator dalam pembakaran rumah Nek Surti.


Lalu Keempat iblis itu melesat mencari tempat tinggal baru untuk mereka.


Tanpa terasa, mereka menemukan sebuah pohon besar didepan rumah Mala dan Bayu.


Pohon rindang itu sengaja tidak ditebang oleh Bayu dan diberi pagar serta taman dengan rumput yang hijau seluas 20m x 20m sebagai taman mini untuk mengenang Roni suami almarhum Mala sebelum menikah dengan Bayu.


Roni yang dulunya sempat mengidap skizoprenia karena tidak sengaja melakukan pembunuhan kepada Reza yang merupakan Ayah Mirna yang terjadi karena pergumulan silang dengan Nini Maru dan lahirlah Mirna.


Karena dihantui bayangan Reza, sehingga membuat Roni menjadi depresi dan berlanjut skizoprenia.


Tanpa sengaja Roni bertemu Bayu yang kembali ke desa karena membuntuti Mala saat dari kota karena tergoda kecantikan Mala, hingga akhirnya Bayu menjalin pertemanan dengan Roni hingga sampai Roni menjemput ajalnya karena meninggal tertabrak sepeda motor, saat itu Bayu baru mengetahui jika sahabatnya yang mengalami skizoprenia itu adalah suami wanita yang diincarnya.


Bayu ingin mengenang persahabatannya dengan Roni, membeli padang rumput yang luas tempat mereka sering bertemu dengan satu pohon yang besar, dan padang rumput itu dijadikannya sebagai residience perumahan pertama di desa itu.


Namun, pohon yang menjadi kenangannya dengan Roni tetap Ia biarkan tumbuh dan ia jadikan taman sebagai kenangan antara dirinya dan Roni.


Keempat Iblis itu nangkring dipohon tersebut dengan perasaan kesal karena Didi dan warga telah membakar rumah mereka.


Api membumbung tinggi, membakar rumah yang melapuk tersebut. Warga memandanginya dengan penuh geram, sebab dirumah itu juga Nek Surti meninggal dunia secara mengenaskan dan kini mereka menemukan Lulu dan juga Fery serta mbah dukun yang mati mengenaskan dirumah tersebut.


Fery baru saja akan dimakamkan, sebab pemakamannya terhalang hujan badai malam tadi. Belatung yang menggerogoti tubuhnya tak dapat dibersihkan karena sudah merayap kedalam dagingnya yang membusuk.


Saat dimandikan juga sudah diusahakan agar tidak ada belatung yang tersisa, namun mereka tidak mungkin melakukannya karena daging tersebut sudah tidak dapat disentuh terlalu berlebihan karena akan berlepasan dari tulangnya.


Seperti yang diduga oleh warga, polisi menghentikan penyelidikan atas kematian Mbah dukun yang terburai ususnya dan kehilangan lato-latonya dan ditambah pihak keluarga tidak ada yang melaporkannya, maka kasus itu menguap begitu saja.


Samudera dan Angkasa sudah kembali bersekolah dan mereka belajar seperti biasanya. Apa yang dialami oleh Samudera malam tadi sudah membuat mereka harus mewaspadai sosok Nini Maru yang terus mengincar keberadaan Samudera sebagai tumbal persembahan terakhir.


Bel berbunyi. Jam istirahat telah tiba, dan keduanya beranjak ke kantin untuk membeli makanan ringan.


Setelah memesan dua porsi mi goreng, keduanya duduk di kursi yang disediakan. Sembari menunggu pesanan, keduanya saling ngobrol dan tampak Tasya menghampiri keduanya.


"Hai.. Boleh gabung?" tanya Tasya yang membawa semangkuk bakso dan tanpa persetujuan ke duanya sudah duduk di kursi kosong dengan meja yang sama.


Samudera hanya menganggukkan kepalanya dan mencoba tersenyum ramah.


Tasya sudah mulai tampak tegar dan dapat mengendalikan dirinya dari segala bully-an yang datang menerpanya, semua itu berkat Samudera yang memberikan dorongan dan semangat kepada Tasya, hingga Ia dapat melewati segala cobaan yang ada.


Pesanan dua porsi mie goreng datang ke atas meja, dan keduanya mengucapkan basmallah sembari memejamkan matanya, lalu berniat akan menyantabnya. Namun tiba-tiba ke duanya menghentikan niatnya untuk menyantab makanannya, sebab mie goreng yang akan mereka santab itu tiba-tiba berubah menjadi gumpalan belatung dan cacing tanah yang menggeliat diatas piring mereka.


Keduanya saling pandang dan memanggil si mbak kantin untuk membungkusnya saja dan itu demi menjaga hati si penjual kantin.


Seorang wanita paruh baya yang membantu untuk melayani para siswa tersebut membungkus mie goreng itu dan memberikannya kepada kedua bocah itu.


"Mengapa kalian tidak makan bersamaku? Apakah kehadiranku merusak mood makan kalian?" tanya Tasya yang merasa tersinggung.


Tasya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Angkasa yang terdengar ngawur.


"Emmm.. Tasya kami ada keperluan sebentar, kami duluan ya, ntar lain kali kami traktir makan deh!" ucap Samudera mencoba membuat Tasya tidak tersinggung.


Tasya hanya dapat menganggukkan kepalanya, lalu keduanya beranjak pergi. Dan setelah sampai diluar kantin, keduannya berlari menuju kebelakang toilet dan membuat api dengan menggunakan ranting kayu lalu membuka mie goreng yang dipesan tadi.


Keduanya membakar mie goreng tersebut dan tampak belatung serta gumpalan cacing tanah itu tampak menggeliat saat terbakar api tersebut.


"Mau makan saja dijahilin, iseng banget" ucap Samudera.


"Ini sepertinya bukan ulah si kuntil deh, Kak..!!" ucap Angkasa.


Samudera menoleh kepada Adiknya sembari memasang wajah bingung.


"Terus ulah siapa?" tanya Samudera penasaran.


"Yang punya kantin pakai pesugihan" Jawab Angakasa berbisik.


Samudera terperangah mendengar jawaban Angkasa.


"Kamu yang bener saja? Kalau salah bisa jatuh fitnah" ucap Samudera mengingatkan.


Angkasa beranjak bangkit. "Kalau tidak percaya coba ikutin Aku" Ucap Angkasa berjalan meninggalkan belakang bangunan toilet.


Samudera mengekori adiknya dari arah belakang, dan sesampainya didekat kantin, Angkasa berhenti dan menggenggam pergelangan tangan Samudera.


"Coba kakak pandang apa yang sedang duduk didekat dapur itu," bisik Angkasa.


Saat Samudera melihatnya, alangkah terkejutnya Ia saat melihat sosok pocong sedang duduk didekat meja dapur dan sedang melihat kearah penggorengan.


"Haaah.. Itu ngapain si pocong disitu? Tanya Sanudera bingung.


" Dia itu di puja, Kak.. Buat pesugihan pemilik kantin agar dagangannya laris" jawab Angkasa.


"Terus.. Pelanggannya diberi makan seperti tadi?" tanya Samudera penasaran.


Angkasa menganggukkan kepalanya "Apalagi yang makan tidak baca Basmallah, maka jelas Ia tanpa sadar memakan makanan itu" jawab Angkasa.


Samudera bergidik mendengarnya, lalu terdengar suara bel berbunyi dan mereka bergegas masuk ke kelas. Namun mereka tidak menuadari jika mereka sedang diuji untuk dapat menghentikan praktik pesugihan itu agar tidak terjadi korban dari tumbal yang diminta.


Keduanya memasuki kelas. Masih terngiang bagaimana jadinya jika mereka memakan mie goreng yang mereka pesan tadi dan itu sangat menjijikkan.


Disisi lain, Nini Maru dan ketiga rekannya tampak masih beristirahat di rumah barunya yang meruapakan pohon rindang tempat bersantai yang paling enak apalagi dimalam hari.


Mala baru saja keluar dari rumahnya dan memandang pohon yang berada didepan rumahnya yang menjadi kenagan bagi Roni dan juga Bayu.


Sesaat Mala merasakan aura dari pohon tersebut yang sepertinya berbeda dari biasanya, dan terasa sedikit membuat bulu kuduk meremang.