MIRNA

MIRNA
episode 95



Syafiyah melajukan mobilnya. Ia tampak sedang terburu-buru karena ada rapat lain diluar kecamatan.


Ia harus mengejar waktu untuk sampai ditempat yang dituju. Syafiyah perlahan merasa mual karena sepertinya sangat lelah, dan Ia mencoba meminum obat anti mual agar janinnya tidak rewel didalam.


Sementara itu, Yanti mengeluhkan kulit wajahnya yang melepuh akibat tersiram air panas oleh ayahnya, Badu.


Seketika kulit wajahnya menggembung dan tampak berair. Ia mengambil jarum dan menusuknya hingga cairan itu keluar dan meninggalkan rasa panas serta rasa perih yang sangat menyiksanya.


Ia menggerutu dengan kesal. Lalu mencoba mencari body lotion untuk dioleskan ke wajahnya yang tampak memerah dan rusak sebagian.


Saat itu Ia mendengar suara rintihan dari Lisa yang sepertinya sangat bosan karena terkurung didalam kamar terus, namun Ia tidak dapat membebaskan Lisa, sebab akan sangat berbahaya bagi kerahasiaannya.


Sesampainya didalam kamar, Ia melihat Lisa yang tampak lusuh dan juga kacau.


Yanti membawa semangkuk mie instan dan sepiring nasi.


"Ne.. Makan, Mbak.. Jangan sampai mati kelaparan" ucap Yanti, sembari menyodorkan makanan itu dengan kasar.


Yanti kemudian beranjak dari kamar tersebut dan meninggalkan Lisa yang tampak sangat kacau.


Lisa merasakan sangat mual, sebab aroma busuk dari jasad remaja laki-laki yang menyisakan tulang belulang dan tengkorak kepala yang membusuk karena sudah dua hari diletakkan begitu saja dilantai kamar dan tanpa disempurnakan.


Nasi yang akan ditelannya seakan terasa batu dan tidak dapat masuk kedalam tenggorokannya. Namun rasa lapar membuatnya untuk memaksa nasi itu masuk kedalam tenggorokannya.


Belatung mulai menggeroti tengkorak tersebut, dan lalat hijau berterbangan mengerumuni sisa-sisa daging yang masih menempel ditulang belulang itu.


Seketika Lisa tak mampu menahan rasa mualnya, hingga akhirnya Ia memuntahkan kembali apa yang sudah dimakannya.


Ia tampak begitu sangat frustasi. Sesaat terdengar suara keributan diluar warung Yanti. Dimana ketiga remaja laki-laki itu kembali datang ke warung Yanti dan mempertanyakan keberadaan sahabat mereka.


" Saya tidak memperhatikan jika kalian membawa teman berapa orang, dan mengapa kalian menanyakannya kepada saya?!" jawab Yanti dengan kesal.


Ketiga remaja itu saling tatap, dan mereka yakin jika mereka datang bersama dengan jumlah 4 orang laki-laki.


"Tapi, Mbak.. Kami yakin teman kami ikut kemari malam itu" ucap seorang diantaranya.


"Ya kalaupun ikut kan bukan tanggungjawab saya buat mengawasinya? Emangnya kalian anak TK yang harus saya awasi terus?" jawab Yanti ketus.


Ketiga remaja laki-laki itu saling pandang dan membenarkan ucapan Yanti.


"Mungkin teman kalian itu main ketempat teman lainnya atau kemana" ucap Yanti mencoba beralibi.


"Tetapi orangtuanya sudah mencarinya keseluruh keluarganya dan tidak menemukannya" jawab Seorang diantara mereka.


Yanti mendenguskan nafas kesalnya "Ya itu kan bukan urusan saya.. Sudahlah.. Jangan ganggu saya! Saya lagi sibuk!!" ucap Yanti dengan sangat ketus.


Lalu Ia beranjak pergi meninggalkan ketiga remaja laki-laki yamg masih bingung dengan kehilanagan teman mereka.


Lisa yang mendengar percakapan itu, rasanya ingin berteriak dan mengatakan jika yang mereka cari telah menajdi tulang belulang yang tak berbetuk lagi.


Karena Yanti meninggalkan para remaja itu, maka ketiganya juga memilih pergi.


****


Petang menjelang, safaq menggantung dilangit jingga.


Syafiyah baru saja selesai dari rapatnya. Ia melihat arloji ditangannya dan tampak sudah hampir maghrib.


Sesaat Ia merasakan ada sesuatu yang melintas dibelakangnya, sebuah desiran angin dan seperti sebuah bayangan hitam melintasinya.


Seketika Ia merasakan bulu kuduknya meremang dan segera memasuki mobil.


Syafiyah menghidupkan mesin mobilnya, namun ia merasakan punggungnya seperti ada sesuatu yang terasa menempel dan membuatnya tak nyaman.


Ia lalu melajukan mobilnya dan melaju dengan kencang.


Entah mengapa Ia merasakan jika Ia sungguh tak nyaman. Ia merasa gelisah dengan membuatnya seperti ada yang mengikutinya didalam mobil.


Diperjalanan adzan maghrib berkumandang, lalu tampak ada sesuatu yang melintas dari seberang jalan, sosok wanita bergaun merah, dan membuatnya mengerem mendadak.


Ciiiiiiiiiittttttsss....


Suara decit ban mobil dijalanan aspal yang membuat Syafiyah tersentak kaget.


Ia celingukan, mencoba melihat kanan dan kiri mencari sosok wanita bergaun merah yang mencoba melintas menyeberangi jalan, namun tak terlihat dimana rimbanya.


Syafiyah kemudian kembali melajukan mobilnya membelah jalanan. kegelapan mulai tampak menyelimuti langit dan kini jalanan tampak sepi, karena banyak warga yang sedang melakukan ibadah shalat maghrib dan tentunya mereka menutup pintu mereka.


Rasa tak nyaman mulai terasa, Ia mendengar auara dering phonselnya berulang kali. Panggilan dari Satria, dan Ia baru mengingat jika Ia belum mengabari Satria jika ada rapat, sebab Ia sangat terburu-buru.


"Iya, Mas.. Ada apa?" tanya Syafiyah saat mengangkat panggilan masuknya.


"Kaku kemana saja? Kenapa belum pulang?"Tanya Satria dari seberang telefon.


"Aku lupa beritahu jika ada rapat di kecamatan sebelah karena tadi buru-buru, dan pulang kesorean. Sudah dulu ya, Mas. Aku sedang nyetir" ucap Syafihah, lalu mematikan phonselnya.


Satria merasa tak nyaman Ia merasakan jika Syafiyah dalam ancaman. Ia begitu sangat gelisah.


Lalu Satria mencoba melacak keberadaan posisi Syafiyah dan akan menyusulnya.


Namun saat keluar dari pintu rumah, Mbak Ratna tiba-tjba datang dan mencoba meminta tolong meminjam mobilnya karena ada suatu keperluan mendadak, yang mana anaknya setahun yang lalu pernah keguguran kini akan melahirkan dan harus segera dibawa ke puskesmas.


Satria tak mampu menolaknya, dan mencoba membantu membawa anak Bu Ratna ke puskesmas karena sudah pecah ketuban.


Sementara itu, Syafiyah merasakan semakin tak nyaman atas apa yang dirasakannya.


Ia mendengar suara desisan dari belakang joknya, dan karena merasa penasaran, Ia mencoba melihat dari kaca dashbor, dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat sosok wanita bergaun merah dengan wajah hancur sedang duduk di jok tengah sembari menatapnya dengan tatapan seringai.


Seketika Syafiyah membolakan matanya dan gemetar karena ketakutan.


Ia membanting stir mobilnya ketepi jalan dan mencoba keluar dari mobil dengan berniat hendak menghindari sosok itu. Namun tampaknya Sepatu highlessnya menghalangi jalannya, sehingga Ia melepasnya dan berjalan kaki ditengah kesunyian dengan berharap ada seseorang yang melintas untuk memberikan pertolongan kepadanya.


Saat sedang berjalan dengan tertatih, tiba-tiba saja sosok wanita bergaun merah itu sudah berada tepat dihadapannya.


Seketika Syafiyah berteriak histeris karena wajah hancur menyeringai kepadabya dengan bola mata memancar merah.


Sosok itu memanjangkan tangannya hendak menggapai Syafiyah, tubuh wanita gemetar ketakutan dan tak dapat bergerak diam terpaku ditempatnya.


Sesaat sebuah sosok wanita bercadar melesat cepat melemparkan selendanganya dan meraih tubuh Syafiyah, lalu membawanya dengan cepat dalam menembus kegelapan malam yang sunyi sepi.


Syafiyah tidak lagi dapat melihat siapa wanita bercadar itu, Ia lemah dan tak sadarkan diri dalam ketakutan, Ia jatuh pingsan dalam dekapan wanita bercadar itu.