MIRNA

MIRNA
Episode 66



Satria menghampiri syafiyah yang tampak bersiap-besiap ke Puskesmas. Hari ini hari pertamanya bekerja setelah sekian lamanya Ia mengambil cuti untuk kecelakaan lumpuh yang dideritanya.


"Mas masih sanggup menanggung hidupmu, apakah Kau masih bersikeras untuk tetap bekerja?" Satria mencoba mencegah Syafiyah yang sedikit keras kepala.


"Mas.. Aku sekolah tinggi itu untuk mengejar karirku, dan Aku bosan dirumah terus, apalagi ada Mirna sekarang" jawab Syafiyah sembari memoles lipstik dibibirnya.


"Jangan selalu menyalahkan Mirna dalam segala hal, sebab Kamu yang dulu meminta Mas untuk menikahinya" ucap Satria mencoba mengingatkan.


"Ya.. itu saat Aku lumpuh, tetapi sekarang Aku kan sudah dapat berjalan normal" jawab Syafiyah yang mengenakan hijabnya, dan mengakhiri make up nya.


"Apakah Mirna sudah membuatkan sarapan untukku?" Tanya Syafiyah, tanpa menoleh kepada Satria, lalu meraih tas kerjanya dan berjalan melangkah keluar dari kamar.


Satria menatap punggung Syafiya dengan tatapan nanar, lalu Ia keluar dari kamar dan mengekori istri pertamanya dari arah belakang.


Di ruangan dapur, Mirna telah selesai membuat sarapan dan satu teko kecil teh manis hangat.


Syafiyah menuju meja makan, lalu Mirna mengambil piring dan meletakkannya dihadapan Syafiyah dan juga Satria.


Mirna menyendokkan seporsi nasi goreng kepada Satria, lengkap dengan topping telur mata sapi dan taburan bawang goreng.


Syafiyah tampak berdiam saja, lalu Mirna menyendokkan nasi goreng ke piring Syafiyah dengan topping yang sama.


"Kamu tidak sarapan, Sayang?" Tanya Satria saat melihat Mirna hanya menggeser kursi makan disebelahnya dan duduk tanpa menyentuh makanan apapun.


"Nanti saja, Mas" jawab Mirna yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu.


Satria mengarahkan sendokknya ke mulut Mirna "Makanlah, kamu sudah memasaknya dan juga harus mencicipinya" ucap Satria sembari menatap Mirna.


"Ta-tapi, Mas.." Ucap Mirna dengan merasa tak enak melihat tatapan Syafiyah hang tak suka.


"Jangan membantah suami, hukumnya dosa" ucap Satria dengan tatapan intimidasi.


Akhirnya Mirna membuka mulutnya dan menerima suapan dari Satria. 


"Masakanmu sangat enak, Mas suka" ucap Satria sembari menyuapkan nasi goreng itu kemulutnya.


Seketika telinga Syafiyah merasa panas mendengar pujian Satria untuk Mirna. Lalu tindakan Satria saat menyuapi Mirna membuatnya semakin terbakar.


"Nasi goreng ini tidak enak, rasanya sangat asin" ucap Syafiyah ketus, lalu mendorng piring makannya menjauh dari hadapannya.


Dengan perasaan kesal, Syafiyah menyalim tangan Satria dan berpamitan pergi bekerja.


Satria hanya menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian Syafiyah sembari mendenguskan nafas beratnya.


"Mas.. Mirna pulang kerumah di tepi hutan, Ya.. seminggu saja" pinta Mirna dengan nada memohon.


Satria menghentikan kunyahan terakhirnya, lalu menelannya paksa, dan meneguk air putih untuk melancarkan nasi itu melewati tenggorokannya.


"Mengapa harus kembali kesana, ini juga rumah kamu" ucap Satria menolak keinginan Mirna.


Ia tidak ingin berjauhan dengan Mirna, baginya Mirna candu yang tak dapat dilepaskannya.


"Hanya seminggu saja, Mas.. setelah itu Mirna kembali kerumah ini" jawab Mirna memohon.


"Satu hari saja Mas gak sanggup berpisah dari kamu? Apalagi seminggu, itu akan membuat Mas tersiksa" ucap Satria sembari menggengbam jemari Mirna.


"Mas kan bisa kunjungi Mirna kapanpun Mas mau" ucap Mirna dengan memelas.


"Mengapa kamu ingin pulang kesana? Ada banyak bahaya disana" Satria mengingatkan.


Satria merasa ini sangat berat, namun Ia dapat membaca isi hati istri mudanya itu, karena Ia merasa tak nyaman dengan sikap Syafiyah yang semena-mena terhadapnya.


"Tapi janji jaga diri baik-baik, ya.." ucap Satria dengan terpaksa merelakan Mirna untuk kembali ke tepi hutan.


Mirna menganggukkan kepalanya, dan tersenyum senang.


"Mas, kalau lapar makan dirumah Mirna saja, Mirna akan selalu memasak untuk Mas" ucap Mirna dengan senyum merekah.


Satria tersenyum datar, Ia merasa hampa jika harus berjauhan dengan Mirna. Namun semua harus konsekuensinya jika beristri dua, dimana tidak akan ada wanita yang siap di madu, meski mulutnya mengatakan boleh, namun tetaplah hatinya terbakar cemburu.


Setelah selesai membersihkan rumah dannjuga melaundry cucian milik Syafiyah dan suaminya, Mirna meminta diantarkan oleh Satria pulang kerumahnya.


Dengan rasa terpaksa Satria mengantarkannya, dan mengemasi pakaian Mirna sebagiannya saja, sebab Mirna berjanji hanya seminggu saja.


Acara penyambutan Syafiyah yang akhirnya masuk kembali terbilang cukup hangat, ada berbagai kata sambutan dan makanan yang mana kepala puskesmas mereka sudah kembali menjalankan tugasnya.


Setelah selesai acara penyambutan, Syafiyah duduk dikursi kerjanya. Ia menatap dinding kaca yang menghadap jalanan.


Sesaat Ia pandangannya menangkap mobil Satria melintasi jalanan, dan terdapat Mirna duduk di jok depan.


"Mau kemana Mas Satria bersama Mirna? Apa mereka ingin berbelanja ke kota?" Syafiyah mulai resah dengan penampakannya tersebut, tentu rasa cemburu kian bergelayut didalam relung hatinya.


"Dasar, Mirna..!! Udah dikasih ijjn menikah dengan Mas Satria tetapi seolah-olah ingin menguasainya" gerutu Syafiyah dengan kesal.


Tiba-tiba saja suara ketukan pintu diluar ruangan kerjanya terdengar begitu sangat mengagetkannya, Syafiyah tersentak dari lamunannya.


"Masuk" ucapnya.


Seorang pegawai administrasi memasuki ruangan kerjanya dan menyerahkan berberapa berkas untuk ditanda tangani.


Sementara itu, Mirna dan juga Satria hampir sampai di rumah Mirna.


Rumah itu tampak begitu lengang dan karena sudah beberapa kinggu ditinggalkan penghuninya.


Sesaat Mirna menoleh sebuah bangunan yang berdiri diatas sebidang tanah yang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah miliknya.


Mirna melihat sekilas bangunan yang terbuat dari papan dan kayu tersebut. Tanpa sengaja Mirna melihat sosok wanita yang tak lain adalah Yanti, gadis yang pernah menjadi asisiten rumah tangga Satria dan melakukan percobaan pembunuhan kepada Syafiyah.


Mirna tersenyum sinis, Ia mengetahui kelak apa yang terjadi dibangunan tersebut. Lalu Ia memalingkan wajahjya dan menatap lurus kedepan, sebab Satria sudah memasuki halaman rumahnya yang sangat mungil.


Sesampainya didalam rumah, Satria memandangi seisi rumah, Ia berniat akan mengganti sofa Mirna yang sudah tampak lusuh dengan sofa yang baru.


Mirna memasuki kamarnya, Ia berniat akan mengganti sprei yang sudah berdebu karena dua minggu tidak diganti.


Namun belum sempat Mirna untuk menggantinya, Satria sudah menyergapnya dari arah belakang.


"Mas.. Mirna mau ganti sprei dulu" ucap Mirna mencoba memberitahu Satria.


"Nanti saja, karena percuma kamu ganti kalau juga akan berantakan lagi" jawab Satria yang sudah mendaratkan kecupannya dileher jenjang milik Mirna.


Bukan Mirna namanya jika tak membalas cumbuan Satria, dan sikap agresif Mirna itulah yang membuat Satria tak mampu menjauh dari istri keduanya.


Dalam sekejab saja mereka telah berada diatas ranjang, bergumul dengan sangat panas dicuaca siang hari yang terasa panas menyengat karena Mirna lupa menghidupkan kipas angin, hingga keduanya bermandikan keringat.


Namun hal tersebut tak membuat Satria menghentikan aksinya, Mirna telah membuatnya mabuk kepayang, dan tak mampu lepas dari kecanduannya bercinta dengan sang istri.