MIRNA

MIRNA
episode-254



Mirna membawa Sosok sopir yang tak lain adalah Rey kedalam hutan. Lalu Ia mencari pohon beringin dan mengikat kedua pergelangan kaki Rey dan juga mengikat kedua tangan Rey kebelakang dengan menggunakan sulur pohon beringin dan membiarkannya tergantung begitu saja.


Hujan turun begitu deras dengan disertai panas mentari yang lumayan mulai menyengat, dan ini adalah waktu dimana para jin atau syetan berkeliaran.


"Mirna.. Lepaskan Aku!! Mengapa Kau tega membuatku tergantung seperti ini? Tidakkah kau ingin mencoba bercinta denganku? Kau akan merasa kecanduan jika sudah mencobanya" ucap Rey meyakinkan Mirna.


Ternyata rudal milik Rey sudah berdiri tegak sejak saat menyetir mobil tadi. Ia merasa tidak dapat menahan lagi hasratnya yang sudah menggebu untuk merasakan kemolekan tubuh Mirna.


Mirna memanggil kuntilanak kuning yang sedari tadi sudah memperhatikan mereka.


Makhluk itu menghampiri Mirna, lalu Mirna membisikkan sesuatu kepada Kuntilanak kuning dan tampaknya iblis betina itu menyetujui ucapan Mirna.


Setelah mencapai kesepakatan, kuntilanak kuning datang menghampiri Rey, lalu tanpa meminta persetujuan Rey, Ia menggauli sosok keturunan genderuwo itu dengan penuh semangat.


"Heei.. Lepaskan aku.. Aku tak sudi memberikan rudalku untukmu!" teriak Rey dengan kasar dan berusaha memberontak.


Sementara itu, Mirna ingin beranjak dari tempat tersebut karena tak ingin menyaksikan pergumulan dua iblis tersebut.


Namun sebuah desiran angin kencang dan tendangan mengenai lengannya sehingga membuatnya terpental dan menabrak pohon beringin tempat dimana Rey dan Kuntilanak kuning sedang bercinta.


Wuuuusshh...


Mirna dengan cepat berpegangan pada sulur pohon beringin dan berayun disana, lalu tampak Ki Kliwon sedang menatapnya penuh amarah.


Namun Kuntilanak Kuning sudah berhasil membuat Rey mencapai puncak bercintanya dan iblis betina itu tertawa cekikikan, lalu memilih pergi.


"Heeii..iblis sialan!! Awas saja kalau kau sampai mengandung anakku, aku tak rela" maki Rey kepada kuntilanak kuning yang menanggapinya dengan cekikikan, lalu menghilang.


Ki Kliwon merubah dirinya menjadi Jenglot yang dengan taring yang meruncing dan rambut panjangnya yang melebihi tinggi badannya.


Mirna melesat turun ke rerumputan dan menatap makhluk kecil tersebut hanya beberap centimeter saja.


Makhluk itu berputar-putar diudara, lalu sebuah asap hitam bergulung-gulung membalut tubuhnya dan seaat melesat menuju ke arah Mirna.


Wuuussssh..


Asap hitam itu melesat cepat ingin mengikat tubuh Mirna, namun sebuah sambaran cahaya keperakan menghantam asap hitam itu dan membuat sosok jenglot itu terpental, sedangkan Rey yang rudalnya masih berdiri tegak, tiba-tiba tersentil cahaya keperakan dan membuat rudal miliknya terbakar.


"Aaaaaargh.." teriak Rey kesakitan dan meminta bantuan kepada Jenglot untuk melepaskan ikatan tersebut.


Lalu Sekelebatan bayangan menyambar Mirna dan membawanya pergi dari hutan tersebut.


Kuntilanak kuning datang kembali, lalu mencoba memadamkan api yang membakar rudal milik Rey dengan menggunakan gaunnya dan ternyata usahanya berhasil, lalu Ia melepaskan ikatan Rey.


Sementara itu, Satria membawa Mirna masuk ke dalam mobil. "Mengapa Kau sampai membawanya ke dalam hutan?" tanya Satria dengan nada cemburu.


"Lalu aku harus membawanya kemana? masa iya ke hotel" ucap Mirna santai.


Satria mendenguskan nafasnya dengan berat, lalu membawa Mirna ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Ia disambut Mala yang sedari tadi sudah menunggunya dengan perasaan cemas.


Mala memeluknya dengan penuh kehangatan. Namun sesaat Mala mencium aroma khas tubuh Mirna yang tak biasa. Ya, aroma itu bagaikan Ia kenal, seperti bunga kenanga, namun tidak begitu kentara. Mendadak Mala melepaskan pelukannya, dan mencoba menepis dugaannya.


Selama ini Mala memang tidak mengetahui siapa keluarga Mirna. Sebab Satria membawanya dari hutan larangan setelah menempuh perjalanan pencairan ajian segoro geni.


Satria mengatakan jika Mirna hanyalah gadis pendaki yang tersesat dan tertinggal dari rombongan. Sementara hutan larangan tidak pernah ada satupun yang menjamahnya karena banyak menyimpan misteri, sehingga tak satupun warga yang berani memasukinya.


"Kamu tidak terluka-kan?" tanya Mala sembari menepis semua dugaan yang tak mungkin terjadi.


Mirna mengetahui apa yang sedang difikirkan oleh ibu mertuanya, namun Ia berusaha untuk tenang.


"Alhamdulillah, Bu.. Saya baik-baik saja" jawab Mirna.


"Oh, syukurlah.. Ayo masuk" ajak Mala yang membawa Mirna masuk ke ruangan rawat inap Shinta.


Lalu Ia menganggukkan kepalanya dan mengikuti Mala masuk ke dalam ruangan tersebut.


Lalu Mirna mendekati Shinta yang sedang terbaring. "Bagaimana kondisimu, Adik ipar?" ucap Mirna dengan penuh kelukusan.


"Alhamdulillah baik, Kak.. Kakak bagaimana?" tanya Shinta sembari menelisik dua bola mata indah itu.


Ia seperti pernah melihatnya. Bola mata yang sama saat memyelamatkannya dari maut yang hampir merenggut nyawanya saat terjatuh dari lantai dua.


Tetapi tidak mungkin dan hal mustahil jika Mirna dengan secepat itu datang ke rumahnya, sedangkan jarak kota dan kampung halaman memakan jarak tempuh 8 sampai 9 jam perjalanan dan itu sangat mustahil.


Mirna melirik luka Shinta pasca operasi dan Ia mencoba menyentuhnya. Luka itu menggores lambung Shinta, sehinga Shinta banyak mengeluarkan darah saat dibawah kerumah sakit.


Dan hingga kini Shinta hanya bisa makan bubur dan tidak boleh memakan makanan keras serta pedas.


Saat jemari Mirna menyentuh jahitan dikulit Shinta, tiba-tiba rasa perih saat makanan yang tadi masuk ke dalam lambungnya menghilang, ada sensasi dingin yang menyejukkan, Shinta merasa aneh, namun tak berani mengungkapkannya.


Setelah itu, Mirna menatap Shinta penuh keteduhan, tatapan yang begitu membuat siapa saja akan merasa nyaman, dan perlahan Shinta mengantuk dan menguap.


Mirna beranjak dari ranjang Mirna, lalu berjalan menghampiri Satria dan duduk disofa.


Mala memberikan makan siang kepada Mirna, dan Mirna meraihnya "Makasih, Bu" ucap Mirna, dan Mala menganggukkan kepalanya.


Mala masih penasaran dengan siapa jati diri menantunya. Namun apakah mungkin semua dugaannya itu benar? Jika Iya, tidak mungkin seorang titisan Jin ifrit melakukan ibadah sjalat dan tidak terbakar saat mendengar seseorang membaca Al-quran.


Mala merasa iseng duduk disisi Mirna yang sedang duduk menyantab makan siangnya.


Ia membacakan ayat Qursi dalam hatinya dan surah An-nas. Ia ingin melihat reaksi Mirna saat Ia membaca ayat tersebut.


Namun sampai Ia habis membacanya berulang kali, Mirna tidak bereaksi aneh dan menyantab makan siangnya dengan santai.


Mala menghela nafasnya dengan berat, dan membuang semua dugaan buruknya terhadap menantunya tersebut.


Sementara itu, Shinta tak dapat lagi menahan kantuknya untuk segera tidur. Rasa sensai dingin dari sentuhan yang diberikan oleh Mirna barusan membuatnya merasa nyaman dan mengantuk, lalu akhirnya tertidur pulas.


Sementara itu, Mala meyakinkan jika Mirna menantunya adalah manusia dan bukan titisan iblis.