
Chakra Mahkota mengatupkan sayapnya. Ia menurunkan Mirna dan kemudian menghilang. Mirna mebghela nafasnya Ia merasa lega karena berhasil mencegah Nini Maru mengambil tumbaln persembahan. sebab jika Nini Maru kembali mendapatkan tumbal, maka akan ada energi yang menguatkannya, dan mempercepat penyempurnaannya.
Mirna membelai perutnya dengan lembut, dan mengendap-endap masuk ke dalam rumah.
Saat melintasi kamar utama, Ia mendengar suara rintihan Syafiyah, Ia memastikan jika Satria sedang menunaikan tugas malamnha bersama Syafiyah, sebab tanpa sengaja Ia melihat Syafiyah menggunakan pakaian dinas malam untuk menggoda Satria.
Mirna berjalan menuju kamarnya, lalu merebahkan dirinya dan membuka cadar serta pakaiannya untuk menggantinya dengan pakaian tidur.
Sementara itu, Syafiyah yang selama ini tak perduli dengan tugasnya dalam melayani suaminya, semenjak kehadiran Mirna dalam kehidupan rumah tangganya, Ia mulai mencuri perhatian Satria.
"Baru tau kalau Mas Satria ternyata tangguh diranjang. Kenapa gak dari dulu aku melayaninya" guman Syafiyah dalam hatinya setelah terkapar dalam satu adegan saja.
Hal yang berbeda dari Mirna ialah, Mampu melayani Satria batas kemampuan suaminya. Sedangkan Syafiyah yang hanya manusia normal, tentulah tak mampu dengan semuanya.
Syafiyah terlelap setelah selesai membersihkan dirinya. Kemudian Satria menyelinap keluar dari kamar dan menuju kamar Mirna.
Sesampainya dikamar Mirna, Satria menghampiri Mirna yang tampaknya baru tertidur.
Tanpa sengaja Ia melihat pundak depan bagian kiri Mirna terlihat lebam. Satria membolakan matanya, lalu menyentuh luka lebam tersebut dan memejamkan matanya. Alangkah terkejutnya Ia saat mengetahui jika itu adalah bekas sebuah tendangan makhluk yang tak kasat mata dan ingin penyempurnaan.
Ia melihat kejadian yang baru saja menimpa Mirna. Satria terdiam sejenak, lalu memandang wajah Ayu nan rupawan yang tampak begitu tenang. Satria membelai lembut rambut Mirna, lalu mengecup unung kepala istrinya dengan penuh cinta.
Kemudian Ia menyentuh luka lebam itu dan memijatnya perlahan, agar aliran darahnya tak membeku.
"Kamu terlalu nakal, mengapa kamu keluar sendirian dan membahayakan dirimu?" guman Satria lirih.
Lalu Satria mengambil salep didalam laci nakas dan mengoleskannya pada luka itu. Seketika Mirna mengerjapkan kedua matanya dan menatap sang suami yang tampak sedang mengobati lukanya.
Mirna menangkap jemari tangan Satria, lalu Mirna menekankan pada luka lebamnya, dan seketika luka itu menghilang.
Satria menatap Mirna sembari tersenyum. Bukannya Mirna tak mampu mengobati luka itu, namun hanya sebuah alasan untuk melihat sedalam mana rasa peduli Satria padanya.
Mirna mengikatkan kedua kakinya dipinggang Satria, dan dengan senyum nakalnya meraih tubuh pria pujaannya dalam dekapannya.
"Kamu baru saja bertempur, pasti kamu lelah" bisik Satria ditelinga Mirna. Namun Mirna bukanlah sosok yang memiliki rasa lelah, dan Ia tak memperdulikan oehan Satria, Ia menginginkan sesuatu.
"Mas yang menahanku menginap dirumah ini, maka Mas harus bertanggungjawab atas segalanya" bisik Mirna sembari memagut lembut bibir Satria.
Lalu keduanya terlibat permainan ranjang panas yang diiringin dengan rintik hujan yang mengguyur bumi malam ini. Keduanya tenggelam dalam surga duniawinya.
Sementara itu, Bejo yang kini sedang menggendong bayinya sudah mendapatkan perawatan intensif, begitu juga dengan istrinya. Sedangkan sopir ambulance dan perawat yang terluka juga dibawa keruangan UGD.
Bejo tak menduga jika pengalamannya barusan membuat Ia mengingatnya seumur hidup. Bejo merasakan jika didesanya ada seseorang yang sedang menganut ilmu hitam dan pesugihan.
"Sepertinya di desa ini ada yang sudah menyimpang dari norma agama" guman Bejo yang terus berjaga dan memangku anaknya.
Bejo masih duduk ditepian ranjang yang berdampingan dengan istrinya. Bayi itu menangis karena haus, lalu Bejo beranjak dari ranjang dan menghampiri istinya agar menyusui sang bayi.
Istri Bejo meraihnya dan mulai menyusui bayi mereka yang berjenis perempuan, bayi menyusu dengan sangat lahab, dan tangisannya kian mereda.
Setelah selesai menyusu, Bejo melantunkan ayat-ayat suci, lalu meniupkan ke ubun-ubun puteri kecilnya, agar tidak ada makhluk yang menganggunya.
Keesokan paginya Bejo dan istrinya sudah diperbolehkan pulang. Kepulangan mereka disambut warga dengan antusias karena mereka ingin mendengarkan cerita langsung dari Bejo, sebab mobil ambulance mereka mengalami kecelakaaan saat menuju puskesmas.
Para ibu-ibu mengambil bayi Bejo, lalu mengunyahkan kunyit bengle dan melegakkannya di ubun-ubun si jabang bayi. Dimana kepercayaan warga desa masih terus menganut kepercayaan itu untuk menjauhkan roh jahat mengganggu si jabang bayi.
Warga desa membawa Istri bejo kekamar, lalu membantu menyalinkan pakaian yang sudah tampak sangat kacau dan penuh noda darah. Sebagian ada yang membantu membersihkan rumah dan juga memasak.
Sedangkan para prianya masih mendengarkan cerita Bejo yang membuat bulu kuduk meremang. Hanya mendengarkan ceritanya saja sudah membuat mereka bergidik, apalagi mengalaminya secara langsung, dan tentunya Bejo juga memiliki nyali yang sangat berani.
Namun nyali seseorng bisa datang jika dalam kondisi terdesak dan terkumpul secara tiba-tiba.
Seketika warga saling pandang. Mereka mencoba memberikan pendapat dan pandangan mereka masing-masing.
"Dikampung Kita sepertinya ada yang sedang menganut ilmu hitam. Sebab beberpa warga laki-laki yang meninggal dunia sudah beberapa kali kehilangan lato-latonya" Kang Botak mulai berasumsi.
"Ya.. Jika yang mengincar janin sepertinya adalah pesugihan" warga lain menimpali.
"Apa jangan-jangan ini ada kaitannya dengan keturunan almarhum Ki Karso? Cobakaliam perhatikan, Ia tidak bekerja dan tidak pernah keluar rumah, namun kekayaannya berlimpah" seorang warga menimpali.
"Jangan menuduh seseorang secara cepat. Sebab jika tidak terbukti maka akan jatuh fitnah" Kang Botak mencoba menenangkan warga. Sebab Ia pernah bekerja memasang platfom dirumah istri muda Satria dan merasa tidak ada ganjil.
"Tapi di desa ini hanya Ki karso yang dulunya memelihara pesugihan itu" warga lain mempertegasnya.
"Tetapi belum tentu juga cucunya sebagai penerusnya.."Kang Botak mencoba menepis dugaan para warga.
Lalu terdengar suara riuh warga yang saling berbicara satu sama lain dengan berbagai macam dugaan yang memenuhi isi kepala mereka.
Kini warga kembali cemas dan khawatir akan istri atau puteri mereka yang sedang mengandung. Jika istri Bejo selamat, itu semua karena takdir dan keberuntungan, namun warga lain tidaklah sama takdir kehidupanya.
"Sebaiknya ita harus waspada untuk menjaga warga desa agar tetap aman. Bagi yang keluarga wanitanya ada mengandung dan memiliki bayi, sebaiknya tingkatkan pengamanan yang lebih ketat" Ucap Kang Botak mencoba memberikan sarannya.
Lalu warga menganggukkan kepalanya. "Mas Bejo sebaikanya beristirahat saja dahulu, sebab malam nanti akan berjaga. Kai tahu jika mas Bejo lelah karena semalaman berjaga." ucap Kang Botak kepada Bejo.
Lalu Bejo menganggukkan kepalanya, sebb Ia memang sudah sangat lelah dan mengantuk.