MIRNA

MIRNA
Episode 84



Lela membuka warungnya. Ia merasa selama mendapat saingan daru Yanti, warungnya mulai berkurang pelanggannya. Hanya beberap orang yang memang tidak menyukai minuman keras dan hanya bersantai yang masih tetap setia padanya.


Dari pagi tadi, Lela hanya mendapatkan empat orang pelanggan saja.


Saat menjelang sore hari, tampak Kakek Nugroho datang menemuinya dan memesan segelas kopi hitam padanya.


Lela pergi ke dapur dan menyeduh kopi hitam yang diminta oleh pria senja itu.


Setelah selesai, Lela mengantarkannya dan memberikannya kepada sang kakek.


Saat ini sudah menjelang maghrib, dan tiba-tiba saja Lela mencium seperti bau kabel terbakar atau juga singkong bakar.


Lela menajamkan indra penciumannya dan tampak seperti tak jauh dari sisinya.


"Kek.. Ada mencium aroma singkong bakar, Gak?" tanya Lela lirih. Meskipun Lela menyadaei jika Kakek Nugroho menjadi pria simpanan yang terkadang sangat misterius, namun Lela menikmati kehidupannya, Ia berusaha menerima kehadiran pria me- sum tersebut.


Pria senja itu menggelengkan kepalanya, namun Lela tidak salah dengan indra penciumannya, sebab Ia benar mencium aroma tersebut.


Namun Lela mencoba berfikir positif, jika kakek itu tak menciumnya, mungkin karena pria itu sudah sangat sepuh, sehingga tidak merasakan lagi aroma bau apapun.


Sesaat adzan berkumdang, tampak kakek Nugroho meminta ijin kekamar mandi, dan meninggalkan Lela seorang diri.


Sesaat buku kuduk Lela serasa meremang karena setelah kepergian kakek Nugroho yang beralasan ke kamar mandi, namun membuat suasana semakin terasa sangat menyeramkan. Apalagi belum ada pelanggan lain yang datang.


Setelah beberapa menit, Kakek Nugroho tak juga tampak keluar dari kamar mandi. Lela merasa curiga, sebab tak ada suara gemericik air yang terdengar dari kamar mandi.


Lela mencoba mengetuk kamar mandi dan memangil oria senja itu, namun tak ada jawaban yang terdengar.


Lela merasa curiga, Ia menduga jika si kakek terpeleset dikamar mandi dan jatuh pingsan, sehingga tak menyahuti panggilannya.


Lalu Lela mencoba membuka pintu kamar mandi dan Ia sangat terkejut, karena tak menemukan pria senja itu disana.


Lela merasa bingung, Namun Ia merasakan desiran angin keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Ia membuka pintu tadi.


Lalu Lela merasakan bulu kuduknya kembali meremang dan semakin merasa seram saja.


"Kemana kakek Nugroho? Mengapa Ia tak berada dikamar mandi? Bukankah Ia tadi mengatakan ingin kekamar mandi?" Lela berguman dalam hatinya.


Sesaat Lela menggelengkan kepalanya, karena merasa bingung dengan apa yang sedang dihadapinya.


"Ah.. Sudahlah.. Mungkin si kakek sudah pulang, dan Aku tidak melihatnya.


Lalu Lela memilih untuk mandi, sebab Ia juga belum mandi sore. Setelah selesai mandi, Ia menuju kamarnya dan akan memilih pakaian yang akan dikenakannya.


Lela adalah wanita pecinta daster, sehingga Ia memilih menggunakan daster model kembang payung dengan motif bunga telang.


Saat Lela mematut dirinya dicermin yang berukuran setinggi dirinya, Ia tersentak kaget karena melihat sosok berbulu dengan tubuh besar dan mata merah disudut pintu kamarnya.


Lela bergetar dan mendadak pucat. Lalu Ia mencoba memberanikan diri untuk melihat sosok itu dengan menolehkan wajahnya.


Namun saat Ia menoleh, wujud itu tak terlihat dan membuat Lela semakin ketakutan. lalu Lela kembali melihat ke cermin dan sosok itu tampak masih berdiri disudut pintu.


Lalu dengan cepat Lela melihat kembali ke sudut pintu, dan sosok itu tak terlihat.


Namun saat Lela ingin berlari dan keluar dari pintu kamarnya, sebuah tangan mencengkram pundak Lela,dan hal itu membuat Lela semakin ketakutan dan Ia seperti tak mampu bergerak.


Lela merasakan tubuhnya kaku, bahkan untuk berteriak saja Ia tak dapat melakukannya.


Suaranya bagaikan tercekat ditenggorokan dan matanya hanya dapat terbuka menyaksikan kesunyian yang begitu mencekam.


Lela melirik tangan yang sedang mencengkramnya itu tampak jari-jemari tangan yang berukuran sangat besar, hitam dan ditumbuhi bulu lebat.


Lela semakin bergetar ketakutan dan hanya nafasnya yang terdengar menderu mengikuti detak jantungnya yang terus berpacu dengan cepat.


Lalu tangan itu menarik Lela dengan tenaganya yang sangat luar biasa.


Tangan itu menghempaskan tubuh Lela diatas ranjang, sehingga membuat Lela terlentang di atas ranjang.


Dengan wajah memucat, Lela menyaksikan wajah menyeramkan penuh dengan bulu dan mata memerah, lalu taring disudut mulutnya tampak mencuat menambah kengerian yang teramat menyeramkan.


Lela membuka mulutnya untuk berteriak sekuatnya dengan menggunakan tenaganya yang tersisa. Namun tampaknya Ia tak dapat mengeluarkan suaranya.


Sosok itu kemudian menghampiri Lela dan menaiki ranjang yang membuat Lela membolakan matanya karena ketakutan.


Nafas Lela semakin menderu dan wajahnya semakin memucat dan rasanya ia ingin pingsan saja, namun kenyataannya Lela tak juga pingsan.


Ia harus dipaksa menyaksikan wajah menyeramkan itu semakin mendekatinya.


Lalu yang membuat nafas Lela semakin sesak Ialah saat mata merah itu menatapnya penuh hasrat membara dan tak sabar ingin menggagahi wanita yang sudah terperangkap dalam ketidak berdayaan tersebut.


Sosok itu menyeringai, Lela berusaha membuka matanya, Ia tak ingin menatap wajah menyeramkan itu mencumbunya.


Sosok itu berusaha melucuti pakaian Lela, namun Lela yang penasaran mencoba membuka sebelah sudut matanya, alangkah terkejutnya Ia, saat ini melihat Kakek Nugroho yang tengah bergumul diatas tubuhnya.


Lela bingung, dan tidak mengerti mengapa sosok itu menghilang dan kini hanya ada kakek Nugroho.


"Ka-kakek.." ucap Lela yang akhirnya merasa lega karena yang kini dilihatnya pria senja itu. Setidaknya Ia tidak bercinta dengan makhluk menyeramkan berbulu hitam yang tadi dilihatnya.


"Diamlah.. Aku akan membantumu membuat warungmu kembali ramai, dan syaratnya kamu harus siap melayaniku"ucap pria itu terus memacu gerakannya menjemput puncak surgawinya.


Mendengar pria itu akan membantunya meramaikan kembali warungnya, Lela akhirnya tersenyum sumringah dan merelakan dirinya digagahi pria tua renta itu.


Setelah selesai dengan pergumulannya Kakek Nugroho lalu berpamitan keluar dan seaampainya didepan pintu utama, Ia menghilang begitu saja, lalu sosoknya menjelma menjadi sosok hitam berbulu mengerikan dan memasuki sebuah rumah gubuk yang tak jauh dari warung Lela.


Sementara itu, Lela bergegas mengenakan pakaiannya dan memoles wajahnya dengan sedikit make up agar terlihat menawan dimata para pelanggannya nanti.


Lela menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya untuk menghilangkan sisa cairan kental berwarna hitam kehijauan yang masih tersisa diarea pangkal kakinya.


Saat Ia sibuk membersihkan tubuhnya, Ia mendengar dua orang pemuda memanggilnya untuk memesan makanan dan minuman. Dua pemuda itu tak lain adalah Didi dan Dino yang selalu masih menjadi pelanggan setianya.


"Mbak.. Mbak Lela.." Teriak Didi dari dalam warung.


"Iya.. Bentar.." sahut Lela dan mempercepat kegiatan bersih-bersihnya dan bergegas menuju warung, untuk menyiapkan pesanan Didi dan Dino yang mana Ia telah hafal dengan pesanan keduanya.


Selain daei Didi dan Dino, tampak dua orang pelanggan yang sudah lama tak datang ke warungnya kini juga tampak berkunjung dan memesan makanan dan minuman untuk menemani mereka bermain catur.