
Yanti merasa bangga menjadi wanita yang diminati banyak pria. Ia merasa paling cantik dan primadona yang dapat menaklukan banyak pria.
Setelah melayani 2 pria me- sum yang hari ini meminta jasa layanannya.
Setelah pukul 11 malam, Yanti berpamitan pulang setelah bagi hasil sewa kamar dan jasa layanannnya dengan Lela.
Yanti mengenderai sepeda motornya menuju rumah yang sedikit jauh dari rumahnya karena berada dikelurahan yang berbeda.
Saat melintasi jalanan sepi, Yanti melihat sekelebat bayangan yang menghalangi jalannya.
Sosok wanita berwmbut panjang dan bergaun merah sedang melayang dan duduk disebuah dahan pohon rambutan yang tumbuh ditepi jalan.
Yanti mendadak menghentikan sepeda motornya dan menepi.
"Nini Maru?" gumannya lirih.
Aroma kembang kenanga menyeruak disekitar lokasi tempat Nini Maru bertengger.
"Ada apa, Ni? Mengapa menemuiku ditempat ini?" tanya Yanti dengan nada penasaran kepada makhluk itu.
"Aku ingin mengingatkanmu, dua minggu lagi Kau harus mempersembahkan tumbal janin, darah ayam cemani dan juga darah burung gagak kepadaku, Ingatlah.. Jangan sampai Kau melupakan perjanjian kita" Ucap Nini Maru dengan nada parau.
"Masih dua minggu lagi kan Ni? Masih juga lama, Nini ini menggangguku saja" jawab Yanti dengan sedikit ketus, sebab Ia merasa capek karena seharian bekerja ditempat Lela.
"Heei.. Dasar lu, pengabdi gak tau diri, Aku cuma mengingatkan agar kamu tidak lupa dengan kewajibanmu" hardik Nini Maru dengan kesal.
"Lagian, Aku ini capek, Nini gak sabar nunggu Aku sampai rumah baru mengingatkan" jawab Yanti dengan kesal.
"Karena itu kamu yang bodoh.. Sudah menjadi pengabdiku, sekarang menjadi pengabdi manusia pula" cibir Nini Maru kepada Yanti.
Yanti membolakan matanya, dan menatap marah pada Nini Maru yang mengatakannya bodoh.
"Enak saja Kamu, Ni.. Ngatain Aku bodoh" ucap Yanti dengan kesal.
"Ya memang Kamu bodoh bin tolol, coba Kamu buka usaha sendiri dan jenis yang sama seperti budaknya Nugroho, pasti Kamu akan menghasilkan banyak uang" ucap Nini Maru sembari tertawa mengejek dan menghilang.
Yanti tersentak kaget melihat Nini Marunyang tiba-tiba menghilang. Ia kembali memacu sepeda motornya dan menuju pulang, sebab pukul sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Sesampainya didepan pintu rumah, tampak Ibunya mengomel sembari membukakan pintu.
"Anak perempuan pulang jam 12 malam, memangnya kamu kerja apa? Apakah Kamu sudah menjadi wanita penghibur sehingga baru pulang?" omel ibunya Yanti dengan geram.
Yanti tak menyahuti omelan ibunya, Ia masuk kedalam rumah sembari mendorong memasukkan sepeda motornya kedalam rumah.
Sesampainya didalam kamar, Ia merenungi ucapan Nini Maru. Ia harus membuka usaha sendiri dan tidak terikat oleh Lela yang menjadi bos-nya saat ini.
"Aku harus keluar dari rumah ini.. Setidaknya Aku harus membuat warung yang sama seperti mbak Yanti ditempat yang berbeda" Guman Yanti dalam hatinya.
Yanti merasa jika Ia harus menghasilkan uang dan ketenaran. Ia membuka lemarinya dan melihat motak brankas sederhana dan berisi emas permata.
Yanti yakin jika emas dan juga permata lainnya itu akan berguna untuk membeli lahan dan mendirikan warung.
Yanti berkeinginan keluar dari rumahnya, karena Ia tidak ingin mendapat omelan dan juga sindiran terus menerus dari Ibunya yang membuatnya sangat kesal.
****
Keesokan paginya Yanti menghubuni Lela dan mengatakan nika Ia tidak masuk kerja dengan alasan lelah.
Yanti keluar dari rumahnya, lalu membawa emas yang dimilikinya dan menjualnya ke beberapa toko emas.
Setelah mendapat sejumlah uang yang diperlukan, Yanti mulai melihat-lihat lokasi yang akan dijadikan tempat untuk mendirikan warungnya.
Tanpa sengaja Ia melihat sebuah papan pengumuman yang menyatakan jika tanah itu dijual dan jaraknya tak jauh dari rumah milik Mirna.
Yanti langsung menghubungi nomor yang tertera dipapan pengunguman tersebut.
Setelah sambungan telefon tersambung, maka Ia dan pemilik tanah mengadakan perjanjian pertemuan. Yanti mengatakan jika Ia menunggu dilokasi tanah yang akan dijual.
Tak berselang lama, Seorang pria berusia sekitar 40 tahun datang menghampiri Yanti.
Karena lokasi mereka bertemu sangat terpapar sinar matahari, mereka berinisiatif kerumah Mirna yang kini kosong.
Keduanya memilih dibelakang rumah Mirna yang mengarah kesungai.
Keduanya melakukan tawar menawar harga tanah. Yanti harus mendapatkan harga murah dari harga yang ditawarkan oleh pria itu. Sebab Ia akan menggunakan setengah uangnya untuk mendirikan warung dan mengisi isi warungnya dan membeli berbagai perlengkapan lainnya.
"Janganlah segitu, Pak.. Turunin harganya, sebab saya akan membuat modal usaha ditanah ini nantinya" pinta Yanti sedikit dengan nada manja.
Pria itu tampak gelisah, sepertinya Ia tidak fokus sejak bertemu dengan Yanti sedari tadi, karena Yanti menggunakan pakaian super ketat dan rok yang sangat pendek.
"Saya turunin harga tanahnya, tapi boleh naikin, Mbaknya gimana?" pria itu berkata sedikit ngawur karena tidak fokus sedari tadi.
"Ya.. Kira-kira harganya berapa yang bapak turunin?" tanya Yanti mulai memancing.
"Baiklah.. Tanah saya panjangnya sampai ketepi sungai itu Mbak, dan lebarnya memang tidak begitu lebar, tapi panjangnyakan lumayan, Mbak" ucap Pria itu menjelaskan.
"Iya, panjang, Pak.. Semoga sama panjangnya dengan Anu bapak" pancing Yanti mulai menaklukkan pria itu.
"Wah.. Si Mbaknya bisa saja buat saya pusing kepala bawah" jawab Pria itu dengan tatapan mulai tak sabar.
"Baiklah, Mbak.. Saya turunin seperempat harganya, bagaimana? Setuju gak?" tanya pria itu tak sabar.
"Baiklah, Pak.. Saya setuju" jawab Yanti menyepakati perjanjian jual belinya.
Pria itu tampak sumringah. Lalu mengeluarkan kwitansi penjualan dan surata tanah yang sudah dibawanya sedari tadi.
Yanti membayar seperti kesepakatan mereka. Setelah selesai, keduanya saling memberikan hak dan kewajibannya. Yanti lalu membayar cash uang pembelian tanahnya.
"Mbak.. Ini masih kurang" ucap pria itu setelah menghitung uangnya yang sudah pas.
"Hitung lagi, Pak.. Tadi saya hitung juga pas koq..!" jawab Yanti menjelaskan.
"Uangnya sih pas, Mbak.. Tapi kesepakatan yang tadi belum mbak kasih" jawab Pria itu sembari cengengesan.
Yanti tersenyum mencibir. "Dasar, laki-laki" ucap Yanti dengan sindiran "Terus.. Mau main dimana?" tanya Yanti memperhatikan lokasi sekitar.
Di tangkahan sungai itu saja, Mbak.. Mumpung sepi" pria itu menyarankan.
Yanti melongo ketempat tangkahan pemandian. lalu Ia menganggukkan kepalanya dan menyetujuinya.
Sesampainya ditempat itu, pria itu menggarap Yanti dengan tak sabar "Waah.. Body mbaknya mantab sekali ya.. Depan belakang berisi" ucap pria itu sembari memacu hentakannya dan terus meracau tak jelas.
Setelah merasa puas, pria itu kembali mengenakan pakaiannya yang sudah terlepas semuanya.
"Wah.. terimakasih, Mbak.. Mantab pokoknya" ucap pria itu memberikan dua jempol kepada Yanti.
Yanti memungut pakaiannya yang tercecer ditangkahan dan mengenakannya.
Sepasang mata memperhatikan perbuatan keduanya, dari tikungan sungai, yang beeada diatas sampan kecil.