
Setelah adzan subuh, Jenazah Syafiyah dibawa oulang kerumah.
Satria mengabari Mala dan Bayu, Hadi dan yang lainnya, serta tak lupa ayah Sayafiyah.
Mala dengan cepat datang ke rumah Satria bersama Bayu. Menyiapkan segala keperluan untuk menyambut jenazah Syafiyah.
Ia merasa sedoh karena menantunya itu meninggal dalam kondisi melahirkan. Bagaimanapun sikap Syafiyah selama ini, namun Ia tetaplah menantu dirumahnya.
Kedatangan jenazah Syafiyah disambut dengan isak tangis keluarga terdekat, dan saat ini keluarga Syafiyah juga sudah berkumpul menyambutnya.
Mereka terlihat sangat berduka, apalagi Syafiyah menknggalkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan membutuhkan kasih sayangnya.
Saat bersamaan, Mirna turun dari mobil bersama Satria dengan menggendong bayi yang baru dilahirkannya, sedangkan bayi Syafiyah yang diberi nama Samudera sebagai amanah terakhir dari Syafiyah saat sebelum meninggal dunia, kini dalam gendongan Satria.
Para keluarga dan juga tetangga merasa sangat iba melihat bayi mungil itu harus kehilangan ibunya saat Ia masihembutuhkan kasih sayang tersebut.
Salah seorang kerabat Syafiyah bersikeras ingin mengadopsinya karena Ia tidak memiliki keturunan, namun Mirna menolaknya dengan tegas, sebab Syafiyah berpesan agar Samudera diasuh olehnya.
Keluarga Syafiyah tentu merasa tak senang, sebab Mirna hanyalah Ibu sambung atau ibu tiri yang juga sama melahirkan anaknya dihari yang sama. Mana mungkin mereka percaya akan Mirna untuk menyayangi anak Syafiyah.
Namun Satria sebagai ayah dari sang bayi mengatakan jika Samudera tetaplah diasuh olehnya dan Mirna. Meskipun keluarga Syafiyah tidak setuju, namun mereka tidak dapat membantah, karena Satria lebih berhak atas anak tersebut.
Fardhu kifayah untuk Syafiyah telah disempurnakan. Maka pemakamannya akan segera dimulai.
Isak tangis keluarga mengiringi kepergian Syafiyah ke liang lahat, begitu juga dengan Satria, meskipun terkadang Syafiyah sangat menjengkelkan, namun Ia meninggal saat melahirkan anaknya, dan itu sangat membuatnya terpukul.
Satria ikut membawa jenazah Syafiyah ke liang lahat, dan membisikkan kata jika Ia ridha atas Syafiyah, dan kalimat ini adalah yang sangat dijnginkan oleh seorang istri terhadap suaminya saat Ia sudah meninggal dunia.
Sebab keridhaan seorang suami adalah jalan untuknya menuju surga.
Sementara itu, Samudera merengek dan waktunya untuk menyusu.
Keluarga dan kerabat lainnya memcoba untuk menenangkannya, dan memberikan susu formula, namu Samudera menolaknya dan tak mau juga menyusu malalui botol dot berisi susu formula tersebut.
Saat seluruh keluarga dalam kebingungan, Mirna keluar dari kamarnya. Meskipun Ia harus beritirahat, namun Ia tak tega mendengar suara tangis Samudera.
Setelah anaknya yang belum sempat Ia beri nama itu tertidur, Ia segera keluar menghampiri Mala yang tampak kebingungan untuk menenangkan sang cucunya.
Mirna berjalan tertatih dan menghampiri Mala, lalu meminta bayi itu agar diberikan kepadanya.
Mala yang meski merasa ragu, namun memberikannya kepada Mirna. Saat bayi mungil itu berada dalam dekapan Mirna, Ia langsung terdiam dan Mirna membawanya masuk ke dalam kamar.
Seluruh pelayat yang melihatnya merasa heran saat melihat Samudera tampak begitu nyaman bersama Mirna.
Sesampainya dikamar, Mirna mulai mmeberikan ASI-nya kepada Samudera. Bayi itu menyusu dengan sangat lahab dan tampak tenang.
Hingga akhirnya bayi itu merasa kenyang dan tertidur lelap dalam pangkuan Mirna.
Lalu Mirna dengan perlahan memindahkan bayi tersebut dalam satu boks bersama bayinya.
Pemandangan itu disaksikan oleh Mala. Ia akhirnya mempercayai cucunya dari Syafiyah diasuh oleh Mirna sang Ibu sambung alias ibu tiri.
Mala kembali kepada para pelayat yang sudah datang dan ada yang berpamitan pulang semnari mengucapkan belasungkawa terhadap Mala atas meninggalnya menantunya tersebut.
Mirna segera mandi Wiladah atau mandi setelah melahirkan. Ia membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia kini merasakan seolah sedang memiliki anak kembar yang harus Ia rawat dengan cinta kasih yang sama.
Ia mengenakan pakaian tertutup untuk menghormati Syafiyah yang baru saja dikebumikan.
Sementara itu, saat orang-orang yang mengantarkan jenazah Syafiyah telah dimakamkan berpamitan pulang satu persatu, Satria masih diam termangu menatap pusara tersebut.
Ia masih mengingat bagaiamana awal mereka bertemu dan akhirnya menikah.
Tanah merah kini telah menimbunnya bersama jasad yang tak lagi dapat begerak, diam terpaku dalam kesendirian dan juga keheningan.
Setelah puas menatap gundukan tanah merah tersebut, Satria akhirnya beranjak dari tempatnya.
Ia berjalan melangkah meninggalkan pemakaman dan menuju arah pulang.
Sesampainya Ia dirumah, pelayat sudah banyak berpamitan pulang satu persatu.
Satria masih dalam masa berduka. Ia memasuki kamarnya. Dan saat Ia masuk kedalam kamar tersebut, Ia menatap ranjang dimana Syafiyah menghabiskan waktunya disana karena Ia belum begitu dapat berjalan karena pergelangan kakinya yang terkilir dan mengalami pergeseran.
Diranjang itu Syafiyah selalu mengatakan bosan jika berkurung saja dan ingin bekerja kembali, sebab menjadi wanita karier adalah impiannya.
Meskipun terkadang pertengkaran mewarnai kehidupan rumah tangga mereka, namun semua akan terkenang kembali saat irang tersebut sudah tiada.
Satria teringat akan anaknya, dan Ia keluar dari kamarnya menuju kamar Mirna.
Lalu Ia melihat kedua anaknya sudah tertidur dengan lelapnya. Begitu indah anugerah Rabb-Nya saat memandangi kedua bayinya.
"Mas.."sapa Mirna.
Satria menoleh kepadanya "Ya.."
"Bayi kita belum diberi nama" ucap Mirna lirih.
Satria menatap sang bayinya yang baru dilahirkan Mirna beberapa jam yang lalu.
"Kita berinama Ia Angkasa" jawab Satria, lalu membelai lembut pipi sang bayi lelakinya, lalu bergantian membelai pipi Samudera.
Mirna menatap pada sang suami "Bagus juga.. Maka mereka akan menjadi bayi Samudera-Angkasa. Dimana Samudera berada, maka Angkasa akan selalu menaunginya" jawab Mirna dengan setenang mungkin.
Satria menoleh ke arah Mirna "Ya.. Kau benar akan hal itu. Maka berilah keduanya kasih sayang yang sama dengan ketulusan dan tanpa membedakan satu sama lainnya" pesan Satria kepada Mirna.
Wanita itu menganggukkan kepalanya dan Ia benar-benar tulus menyayangi keduanya.
Sesaat Mala datang menjenguk ke kamar, dan memberitahu jika Hadi baru saja sampai bersama Shinta bersama anaknya.
Satria menganggukkan kepalanya "Bu.. Bantu bawa pindahkan Samudera ke kamar saya, dan Mirna, kamu ikut pindah ke kamar utama, sebab ini kamar Hadi, dan mereka baru saja tiba dan akan beristirahat" ungkap Satria.
Lalu Mirna hanya dapat menuruti ucapan suaminya, meski sebenarnya Ia merasa sungkan karena masih ingin menghormati Syafiyah yang baru saja dimakamkan.
Namun ia tak memiliki kuasa untuk membantah ucapan suaminya.
Dengan menggendong bayi Angkasa, Mirna mengikuti Mala yang sudah terlebih dahulu berjalan didepannya.
Sementara itu Satria menemui saudara laki-lakinya yang baru saja sampai dari kota.
"Kak.. Turut berduka cita, Ya.. Semoga almarhum kak Syafiyah husnul khatimah" ucap Hadi sembari memeluk kakaknya yang tampak tegar meski sebenarnya sangat rapuh.