
Angkasa mencoba menahan senjata tajam itu agar tak menembus jantungnya.
Telapak tangannya sudah robek dengan mata parang panjang tersebut, sehingga darah mengalir dengan deras.
Saat ujung senjata tajam itu hampir menembus dadanya, sebuah tembakan mengenai lengan dan betis pria tersebut.
Duuuuuuuaaaar...
Suara tembakan itu membahana dan..
Aaaarrgggh...
Suara erangan kesakitan dan disertai robohnya pria itu dengan tersungkur ketanah.
Beberapa polisi datang menghampiri Angkasa yang mengalami luka robek ditelapak tangan, dan lengannya.
"Kamu terluka parah" ucap Seorang anggota kepolisian dan mencoba membantu Angkasa berdiri.
Samudera berlari menghampiri adiknya, lalu memapahnya. Kita ke puskesmas, lukamu cukup parah" ucap Samudera dengan perasaan cemas.
"Bagaimana dengan remaja itu? Apakah sudah sadar?" tanya Angkasa penasaran.
"Nanti saja ceritanya, yang terpenting kita obati dulu lukamu" jawab Samudera.
Lalu Angkasa menganggukkan kepalanya dan mereka menuju motor yang diletakkan tak jauh dari lokasi tersebut.
Polisi meringkus sosok pria tersebut dan ke empat remaja yang mengalami luka-luka dan untuk dibawa ke rumah sakit polri untuk melakukan perawatan dan juga akan dimintai keterangannya.
Samudera membonceng Angkasa ke puskesmas, dan mereka disambut dengan hormat, sebab Ayah dan Ibu mereka dulunya bekerja dipuskesmas tersebut.
Pihak medis memberikan penanganan kepada Angkasa yang menglami luka menganag.
Samudera terus menunggui Angkasa yang saat ini sedang didijahit dibagian lukanya yang menganga.
Sementara itu, Mirna dan Satria hanya memandangi anak mereka yang terluka dari dimensi lain "Mas, apakah kita tidak keterlaluan membiarkan Angkasa terluka seperti itu" ucap Mirna kepada Suaminya.
"Mereka akan menghadapi bahaya yang lebih besar lagi, dan ini belum seberapa, maka mereka tidak boleh cengeng" jawab Satria.
Mirna hanya menghela nafasnya, memandang tak tega pada buah hatinya. Namun Ia harus menempa puternya agar tidak cengeng.
Perawat sudah menjahit luka yang dialami oleh Angkasa, dan juga luka lebam dibagian punggungnya.
Lalu Samudera membawa adiknya pulang ke rumah dan nantinya polisi akan meminta keterangan darinya atas peristiwa yang terjadi.
Sesampainya dirumah, Samudera membuat segelas susu hangat dan memberikannya pada Angkasa.
"Minumlah, agar kau merasa baikan" titah Samudera kepada adiknya.
Lalu Angkasa meraihnya dan meneguknya hingga habis. Setelah itu memberikan gelas kosong tersebut kepada kakanya.
Angakasa menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang.
"Bagaimana kondisi Dody?" tanya Angkasa lagi.
"Ia sudah sadar dan memberikan kesaksian dikantor polisi, sehingga mereka mempercayai aduan kakak dan mencoba memberikan pertolongan kepada kamu untuk menangkap Pak Remon dan para kakak kelas brandal tersebut.
"Aku masih tak percaya jika guru olahraga itu tega melakukannya kepada Melly, apalagi sampai membuat Melly mengandung dan membunuhnya karena tidak ingin bertanggung jawab" ucap Angkasa dengan nada lirih.
Samudera hanya menganggukkan kepalanya.
"Terkadang pakaian dapat mengundang kejahatan. Bukankah Melly selama ini selalu berlakaian tidak sopan? Sudah berulang kali diingatkan dan diberi nasehat, namun Ia tidak mengindahkannya" jawab Samudera.
"Ya.. Semuanya tidak ada yang bisa dibenarkan" Samudera mencoba menimpali ucapan adiknya.
"Ya, sudah.. Kamu istirahat saja dahulu" titah Samudera, lalu Angkasa menganggukkan kepalanya dan membaringkan tubuhnya diranjang.
Sementara itu, keempat remaja yang mengalami luka-luka dan seorang oknum guru olahraga bernama Remon sedang mendapati perawatan.
Hasil visum dari cairan kental dan sidik jari yang ada ditubuh Melly mengarah kepada ke enam pelaku dan mereka akan mendapatkan hukuman sesuai dengan pasal yang berlaku dan perbuatannya.
Sedangan Remon akan dikenakan pasal berlapis tentang penodaan anak dibawah umur, dan perencanaan pembunuhan. Remon terancam hukuman mati ataupun penjara seumur hidup.
Sementara itu, sosok yang merobek jalan lahir Melly dan mengambil janinnya masih misteri, karena tidak ditemukan sidik jari yang mengarahkan bukti kepada seseorang.
Jasad Melly telah dikembalikan kepada keluarganya dan untuk disemayamkan, sedangakan para orangtua remaja brandal itu dipanggil ke kantor polisi untuk memberikan keterangan dan pendampingan kepada para pelaku.
Para orangtua histeris melihat putera mereka dikantor polisi dan terlibat hukum yang membuat nyawa seseorang melayang.
Ditempat lain, Sosok Makhluk mengerikan begaun merah itu sedang menikmati resapan tumbalnya yang didapatnya malam itu. Selama sepuluh tahun lamanya Ia bertapa untuk mengumpulkan kekuatan yang Ia miliki bersama para rekannya untuk mengambil kembali puterinya yang telah menempuh jalan lurus menuju kesucian diri.
Ia tidak merelakan hal tersebut. Ia harus melenyapkan Satria dan keluarganya serta cucunya yang menjadi sumber petaka nanti baginya.
"Tunggulah pembalasanku, Ki Karso!! Semua akan aku hancurkan, semua keturunanmu akan aku binasakan tanpa tersisa!!" Teriak Sosok bergaun merah yang tak lain adalah Nini Maru.
"Aku akan kembali mengambil Mirnaku..! Aku tidak akan membiarkannya menempuh jalan lurus, dia itu milikku.. Hanya milikku!" teriak Nini Maru dengan penuh kebencian dan dendam yang membara.
Saat itu ruangan goa menggema dan dindingnya bergetar menahan suara teriakan Nini Maru yang penuh amarah.
Ki Kliwon, ki Genderuwo, Rey dan Juga jkn qorin Yanti datang mengerumininya.
"Apakah kita akan memulai untuk penghancuran?" tanya mereka dengan sangat penuh dukungan.
Apalagi Rey yang tampak berbinar, karena hari yang ditunggunya untuk mendapatkan Mirna akan semakin dekat.
"Ya.. Kita akan memulai dari yang terlemah! Akan aku binasakan mereka satu persatu, hingga Ki Karso akan melihat kehancuran keturunannya dari balik dinding neraka" ujar Nini Maru yang sangat terbakar dendam.
"Baiklah, Ni.. Kami akan membantumu, karena kita semua memiliki satu tujuan yang sama dan dendam adalah motivasi untuk kita menjadi kuat" ucap Ki Kliwon yang dulunya merupakan musuh bebuyutan Ki Karso sebagai sesama dukun hitam yang saling bersaing.
"Aku membituhkan satu janin lagi sebagai penyempurnaan, dan setelah aku mendapatkannya, kita akan mulai untuk melakukan misi ini!" ucap Nini Maru menangguhkan perencanaan mereka. Sedangkan Rey membutuhkan dua pasang lato-lato lagi untuk penyempurnaan bentuknya.
Maka mereka sepakat untuk menunggu Nini Maru mendapatkan tumbal janinnya.
Lalu mereka kembali ketempat masing-masing. Sedangkan Rey melesat menembus kegelapan untuk mencari tumbal lato-lato yang dibutuhkannya.
Sorot matanya kian memancarkan kengerian. Ia melayang diudara dalam wujud yang tak terlihat dan memanfaatkan kelengahan warga yang mulai kerkeliaran pada malam hari.
Rey seketika mendapatkan sebuah petunjuk. Ia melesat ke rumah sakit polri tempat dimana ke enam orang pelaku pembuat kemaksiatan yang yang sangat keji.
Ia berjalan tanpa wujud menuju ranjang seorang pria yang tengah berbaring karena betisnya yang tertembus timah panas saat akan melukai seorang bocah.
Rey sangat menyukai lato-lato pria itu karena sudah digunakan untuk perbuatan kemaksiatan.
Dan...
Aaaaaaarrrgghhhh...
Suara erangan kesakitan ditengah malam yang sunyi dan membuat beberapa polisi yang sedang berjaga berlari mencoba memeriksa apa yang terjadi pada kamar tersangka pembunuhan gadis remaja di Sebuah SMA tersebut.
Saat melihat kedalam kamar mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan. Dimana dibagian pangkal Remon mengucur darah segar karena lato-laonya tercabut paksa.