MIRNA

MIRNA
episode-278



Kriiiiiiing...


Suara Alrm dari phonsel milik Samudera berbunyi oukul 23.45. Wib. Itu pertanda keduanya harus bangun dan segera bersuci lalu bersiap untuk melakukan puasa pertama mereka.


"Dik.. Dik.. Bangun!!" ucap Samudera pada adiknya yang sedang tertidur, sembari mengguncang tubuh Angkasa.


Angkasa menggeliatkan tubuhnya dengan dan tersentak bangun lalu pergi ke kamar mandi dan segera bersuci.


Keduanya keluar dari kamar dan menuju ruang shalat untuk bertemu dengan sang Ayah yang ternyata belum tidur juga dan masih tetap berdzikir untuk terus memohon pada sang khaliq agar Mirna tetap selalu dalam lindungan-Nya.


Menyadari kedua puteranya sudah terbangun. Maka Satria membuka matanya. Ia melihat Sanudera dan Angkasa sudah tampak bersiap dengan segala apa yang akan mereka kerjakan.


"Duduklah, dan Ayah akan mengajarkan mantra yang akan kalian rafalkan setelah selesai shalat sunah hajat.." titah Satria kepada ke duanya.


Lalu kedunya mengambil tempat masing-masing dan duduk menghadap sang ayah.


"Doa dari ajian segoro geni yang harus kalian rafalkan ialah: Bismillahirrahmanirrahim..


Niat ingsun amatek ajian segoro geni.


Diijabah marang gusti kang nggadah geni. Amarga ingsun anyakseni.


Siro kang kasebut ratuning geni


Siro kang Kasebut jagade geni


Siro Kang kasebut segoro geni.


Ratuniro...ratuning Geni..


Jagadniro.. Jagad geni.


Segoroniro.. Segorogeni


Yaa Allah yaa hu 3x.." Satria menyampaikan ajian itu kepada kedua puternya.


(Jangan salah gunakan ya reader.. ajian ini konon untuk kewibawaan, bungkam, melawan makhluk halus, dan sebagainya. Namun ajian ini dapat luntur jika si penggunanya berlaku maksiat!)


"Apakah kalian sudah mengingatnya?" Tanya Satria kepada ke duanya.


Samudera dan Angkasa menganggukkan kepalanya kemudian mencoba terus-menerus membacanya hingga benar-benar sangat hafal.


"Baiklah, sekarang mulailah untuk shalat sunah hajat dua rakaat dan tata caranya harus sama seperti apa yang telah ayah ajarkan!" ucap Satria kenudian beranjak dari tempatnya dan mempersilahkan untuk kedua puteranya melakukan ritual pertamanya.


Lalu Samudera dan Angkasa mulai mengangkat takbir dan melaksanakan shalat hajatnya.


Sementara itu Satria mengawasi kedua puteranya yang sedang melakukan laku ritual untuk mendapatkan ajian tersebut.


Malam yang cerah tiba-tiba saja semakin menggelap. Awan hitam yang terdiri dari ribuan penghuni kegelapan berarak menuju atap rumah Satria. Lalu petir tiba-tiba menyambar dengan dahsyat mencoba memecah konsentrasi kedua bocah itu.


Angin kencang bertiup dengan begitu dahsyat dan menerbangkan apa saja yang dapat mereka terbangkan sehingga menimbulkan suara gaduh yang sangat dahsyat.


Sedangkan hujan turun mengguyur dengan sangat lebat menambah suasana semakin begitu ributnya.


Suara-suara makhluk tak kasat mata begitu riuh mencoba terus mengganggu ke dua bocah itu untuk melupakan satu baris bait ayat yang akan mereka baca sehingga membuat kesalahan dan batal.


Satria mencoba untuk keluar dari rumah. Ternyata para iblis itu sudah berkumpul membentuk gumpalan awan hitam yang siap mengacau jalannya ritual yang sedang dilakukan Angkasa dan Samudera.


Suara tangisan dari cucu Bu Ratna yang ketakutan akibat suara petir yang menyambar-nyambar dan disertai dengan angin kencang juga huajn lebat.


Cucu Bu Ratna merasakan kehadiran para iblis tersebut sehingga membuatnya ketakutan dan menangis.


Satria meraih kerisnya, dan meminta Chakra Mahkota untuk membereskan para iblis laknat tersebut.


Seekor naga berwana jingga keluar meliuk dari dalam keris dan mengepakkan sayapnya lalu menyemburkan api kepada gumpalan awan hitam yang merupakan dari jelmaan iblis dan berbagai siluman yang ingin mengacau.


Dengan cepat para iblis itu membubarkan dirinya dan mencari keselamatan masing-masing saat semburan api itu menyentuh mereka.


Seketika hujan mereda dan suara petir menghilang.


Satria kembali ke dalam rumah, lalu pergi ke dapur dan menyediakan dua porsi nasi putih dan dua gelas air putih untuk sahur Angkasa dan juga samudera.


Keduanya masih membacakan ajian tersebut sebanyak 333x setelah selesai shalat hajatnya.


Setelah menyelesaikan merafalkan ajian sesuai dengan yang disaran, keduanya bersahur dengan apa yang sudah disediakan oleh ayahnya.


"Ingatlah.. Jangan apai ada hal yang membatalkan puasa kalian! Seperti puasa Ramadhan pada umumnya, puasa akan batal jika sampai makan dan minum disiang hari, dan jangan melakukan kemaksiatan!" Satria mengingatkan.


Samudera dan Angkasa menganggukkan kepalanya. Mungkin rasanya aneh makan hanya dengan nasi putih saja, namun mereka harus dapat melewati semuanya.


Bayangan wajah sang ibu membuat mereka harus dapat lolos dari semua ujian yang akan mereka hadapi.


"Dan ingat, Jangan sampai terlupakan oleh kalian, agar ilmu ajian yang kalian pelajari tidak sia-sia. Kalian berdua harus rajin ber-istiqomah untuk memelihara bacaannya setiap selesai sholat wajib 5 waktu walaupun cuma 1x bacaan dengan tahan nafas untuk selalu membacanya" Satria kembali mengingatkan.


"Iya, Ayah.. Kami akan mengingatnya" jawab Angkasa dan Samudera.


Keduanya mendengarkan dengan seksama dan mencoba mengingat semua pesan yang disampaikan oleh ayahnya agar tidak berprilaku sombong ketika memiliki ilmu tersebut, apalagi untuk disalah gunakan.


"Ajian ini juga membuat kalian kebal senjata tajam. Maka kalian tidak akan tergores sedikitpun jika ada yang mencoba mencelakai kalian dengan senjata tajam ataupun peluru" ucap Satria.


Keduanya terperangah. Bukankah itu sangat fantastis ketika seseorang kebal akan senjata? Jika digetok musuh dari belakang maka tidak akan terluka atau benjol.


Keduaanya semakin bersemangat dan ingin menyelesaikan lelaku ritualnya hingga sempurnah.


"Makasih Ayah.. Kami akan berusaha untuk dapat menyelesaikannya dan ini kami lakukan untuk dapat menyelamatkan ibu" ucap keduanya dengan bersemangat. Lalu menyelesaikan sahurnya.


"Baiklah.. Setelah sahur, pergilah untuk tidur, dan jangan lupa waktu subuh, selesai shalat subuh kalian jangan lupa untuk membaca ajiannya meski hanya satu kali saja, dan sapukan keseluruh tubuh.. Semoga kalian berhasil" ucap Satria, lalu beranjak meninggalkan ke dua puteranya yang sudah selesai bersahur.


Keduanya menganggukkan kepalanya dan segera beranjak dari tempatnya dengan membawa piring kotor ke washtafell lalu mencucinya dan segera tidur hingga menunggu waktu subuh.


Tak lupa mereka mengatur waktu alarm di phonselnya agar tidak kesiangan karena dapat membatalkan lelaku ritual mereka.


****


Pagi menjelang. Keduanya bersiap untuk berangkat ke sekolah, setelah semalaman mereka melakukan ritual untuk lelaku mendapatkan ilmu kanuragan yang akan diturunkan kepada keduanya.


Mereka berpamitan dan pergi ke sekolah dengan tanoa sarapan sebab sudah bersahur pukul 2 dini hari.


"Ayah.. Kami pergi ke sekolah" ucap Keduanya, lalu berpamitan. Saat ini masih masuk dalam ujian semester kenaikan kelas dan mereka harus dapat menyelesaikannya dengan baik.


Sesampainya di sekolah. Tasya menghampiri mereka dengan menbawa satu kantong kresek berisi gorengan yang biasa mereka beli dikantin.


"Nih.. Aku beli gorengan banyak, ambillah" ucap Tasya sembari menyodorkan gorengan tersebut.


"Makasih, Tasya.. Tapi hari ini kami.." Samudera menghentikan ucapannya. Tidak ada yang bileh tahu jika mereka sedang melakukan puasa mutih dan harus dirahasiakan.


"Sedang apa?" tanya Tasya penasaran.


Sedang tidak boleh makan gorengan, sebab mengalami radang tenggorokan" jawab Angkasa berbohong.


Tasya memanyunkan bibirnya dan menarik kembali kantong kresek berisi gorengannya.


"Apakah kamu ada yang terluka saat kejadian begal semalam?" tanya Samudera daat mengingat peristiwa semalam.


Tasya mengerutkan keningnya sembari mengunyah gorengannya.


"Dibegal, semalam? Perasaan aku gak ada dibegal!" jawab Tasya.


Seketika ke duanya tercengang "Jangan bercanda deh, Tasya.. Semalam kamu saat pulang sekolah sewaktu melintasi jalanan sepi ada dua orang pengendara sepeda motor mencoba mebegal kamu" ucap Angkasa mengingatkan.


Tasya mengangkat kedua pundaknya "Yaeelah.. Aku semalam pulang sama Dessy, motorku masuk bengkel, kalau gak percaya tanya saja sama Dessy" jawab Tasya sembari mempertahankan penjelasannya.


Samudera dan Angkasa saling Pandang "Oh.. Ya sudahlah.. Baguslah jika kamu baik-baik saja, dan mjngkin saja kami salah lihat orang" ucap Samudera.


"Kalian ini kadang lucu, gemes tapi juga kadang aneh, Ya" ucap Tasya sembari tertawa geli.


Obrolan ke tiganya terhenti saat suara bel berbunyi. Lalu mereka bergegas masuk ke dalam kelas.


Hari ini adalah ujian praktek olah raga, dan para siswa diharuskan menggunakan pakaian olahraga san segera bersiap untuk berkumpul dilapangan.


Permainan kasti menjadi pilihan guru olah raga tersebut. Lalu mereka dibagi menjadi dua tim untuk bertanding.


Saat ini keduanya menjadi satu tim yang sama dan giliran untuk berjaga.


Alex si paling sok cool memegang tongkat kasti dan siapa memukul bola yang dilemparkan dan memukulnya dengan sempurnah, lalu bola melesat dengan kenncang, namun sayangnya Samudera yang berjaga dibelakang berhasil menangkapnya dengan tepat, lalu tanpa sengaja Ia melemparkan bola itu kepada Akex yang berlari menuju tempat untuk berlindung dan..


Wuuuussshh..


Sssttttt.


Bola kasti yang dilemparkan oleh Samudera menghantam betis Alex dan membuat remaja itu terjungkal sebelum dapat memasuki garis lingkaran, dan..


"Aaaaarrgh.." Teriaknya kesakitan saat bola kasti itu menyentuh betisnya lalu Ia tersungkur dilapangan.


Ia mengerang kesakitan dan tak dapat menggerakan kakinya. Seketika suasana menjadi ricuh. Permainan kasti akhirnya dihentikan dan guru olahraga itu menghampiri Alex yang tampak kesakitan dan terluka.


Saat celananya diangkat sebatas betis untuk memeriksa kondisinya, ternyata terdapat luka lebam dan membiru. Semuanya tercengang melihat kondisi Alex. Jika hanya lemparan bola kasti tidak mungkin sampai separah itu. Ini sangat aneh, kemudian Alex dibawah keruangan UKS untuk mendapatkan perawatan.


Samudera merasa bengong. Ia tidak berniat untuk melukai Alex dan tidak tahu jika sampai terjadi seperti itu.


Semua siswa menatap pada Sanudera, dan Ia hanya merasa bingung mendapatkan tatapan itu, sebab itu murni bukan kesengajaan melainkan hanya sebuah kesalah fahaman belaka.


Samudera menghampiri Alex ke ruangan UKS, dan tampak Alex meringis kesakitan. Ia masih terbaring lemah di ranjang pasien.


"Lex.. Maafin, Aku.. Tidak ada niat untuk melukaimu" ucap Sanudera dengan tulus. Alex menatap Samudera, Ia juga bingung harus mengatakan apa, tetapi ini sangat sekali dan Ia tidak dapat mengatakan apapun.


Samudera memegang betis Alex yang membiru "Mengapa bisa sampai seperti ini? Bukankah ilmu kanuragan itu belum sempurnah?" guman Samudera lirih dalam hatinya.