
Dino berlari meningalkan Sahabatnya dengan perasaan kesal. Ia tak dapat mersa jika Didi terlalu bersikap berlebihan kepadanya.
Bukankah mereka sudah sama-sama dewasa dan hal seperti itu wajar jika dilakukan jika tidak merugikan siapapun, lalu mengapa Didi terlalu ikut campur dengan urusan hal pribadinya?
Ia berlari menuju rumahnya. Lalu masuk ke kamar dan menguncinya. Untuk menuntaskan hasratnya, Ia memilih melanjutkan bermain solo dengan ditemani menonton film dewasa.
Didi menatap kepergian sang sahabatnya yang tampak marah dan juga kesal padanya.
Namun Didi merasa jika ada sesuatu yang aneh dalam setiap kejadian yang menimpa warga selama ini.
Dimulai dari seorang remaja bernama Anang, Gugun almarhum suami Mbak Lela, dan masih banyak lagi rentetan peristiwa yang terasa sangat janggal karena adanya korban laki-laki yang meninggal secara mengenaskan dan kehilangan alat vitalnya. Dan semua korbannya selalu dalam kondisi habis bercinta secara tidak halal.
Didi menyimpulkan jika sosok yang mengambil lato-lato tersebut selalu memilih para pria yang berbuat maksiat dan melakukan perzinahan.
Tiba-tiba Didi teringat akan 3 remaja yang pernah tersandung kasus rudal paksa terhadap Yanti tempo hari dan ketiga nasib remaja itu tewas mengenaskan di kebun jagung dengan cara yang mengenaskan.
"Apakah ada hubungan Mbak Yanti dengan semua ini? Lalu bagaimana dengan Mbak Lela? Ataukah ada pelaku lain yang memanfaatkan kedua wanita itu?" Didi mulai menerka-nerka.
Lalu Ia terus melangkah menuju pulang. Sesampainya didepan teras rumahnya, Ia melihat jika orangtua Dino sedang mengeluarkan sepeda motor dari teras rumah dan ingin pergi.
Didi beranjak bangkit dan menyapa ke duanya untuk menanyakan keberadaan Dino.
"Buk Dhe, Dino nya ada?"
"Eh.. Didi.. Itu ada, didalam kamar, masuk dan panggil saja, sebab Buk Dhe dan Pak Dhe mau keluar" jawab Ibunda Dino.
Didi menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam rumah sahabatnya, sedangkan Ke dua orangtua Dino sudah pergi menggunankan sepeda motor.
Didi mencoba mengetuk pintu kamar sahabatnya.
Tok..tok..tok..
"Din.. Dino.. Buka pintunya" ucap Didi mencoba memanggil sahabatnya itu.
Namun tampaknya Dino masih marah padanya dan tak membuka pintu kamar itu untuknya.
"Din.. Maafkan Aku.. Namun.."
"Pergilah.. Aku ingin sendiri dulu" jawab Dino dari dalam kamarnya.
Didi terdiam, dan Ia akhirnya memilih untuk pergi, dan tak lupa menutup pintu depan rumah Dino agar tak ada orang sembarangan masuk dan Ia kembali ke rumahnya yang hanya berjarak 10 meter dan berhadapan dengan rumahnya.
Didi kembali duduk diteras rumahnya, Ia bingung bagaimana caranya mengatakan semua ini pada Dino. Andaipun Ia memberitahukan apa yang dilihatnya, apakah sahabatnya itu akan percaya padaanya? Didi dalam dilema.
Sementara itu, Yanti menngerutu akan sikap Didi yang sembarangan saja masuk ke dapur dan menarik Dino yang masih asyik menyusu, hinhga membuat benda miliknya hampir putus jika Dino tidak cepat melepaskannya.
"Brenseek banget Si Didi, kalau narik itu gak kira-kira" Yanti mengomel sembari mengobati luka di barang antiknya.
Saat bersamaan, Rey kembali muncul dihadapannya.
"Apaan sih?" muncul tiba-tiba saja dan ngagetin tau..?!!" hardik Yanti, kemudian mengenakan pakaiannya kembali.
"Kau harus membantuku mendapatkan korban lain yang akan menjadi tumbal untukku"
"Sabar dikit ngapa?! Kamu gak tau ini barangku hampir putus karena digigit si Dino" sergah Yanti terbakar emosinya.
Rey membolakan matanya dengan tajam, lalu mendengus kesal dan menghilang.
Ia harus menyempurunakan tumbalnya agar mencapai lesempurnaan dan dapat melawan kekuatan Satria.
Jika tumbal lato-lato itu belum sempurnah, bagaimana Ia akan dapat melaksanakan tugas Nini Maru untuk mencelakai Syafiyah, sedangkan kini wanita itu tengah dipingit didalam rumah oleh Satria dan juga Mirna.
Sedangkan saat ini Yanti sudah berani membangkangnya, dan ini mmebuatnya semakin kesal.
Ia ingin pergi ke tempat Lela, namun Kakek Nugroho yang juga merupakan ayahnya tidak akan merelakan jika Lela akan digarap pria lain.
Maka Ia akan kembali malam nanti ke rumah Yanti untuk mencari lato-lato sebagai tumbal yang akan menambah energinya.
Sementara itu, Yanti keluar dari kamarnya, Ia mencoba mengeksekusi hewan buruan yang dibelinya dari Didi siang tadi.
Ia memenggal kepala baabi hutan itu dengan pisau jagalnya, lalu darah mengucur dengan deras dari leher hewan tersebut dan Ia menampung darah tersebut untuk dijadikan saren/dideh .
Meskipun Ia tahu jika makanan itu haram, namun Ia tak perduli, baginya adalah uang segalanya.
Setelah menampung darah dari hewan tersebut, Yanti melemparkan kepala hewan itu kepada biawak peliharaannya, lalu mengolah daging hewan itu menjadi masakan yang akan dijualnya malam nanti untuk para peminum tuak dan alkohol yang menjadi pelanggang diwarungnya.
Saat Ia sedang asyik memasak, Ia mendengar suara Tia yang masuk ke dalam warungnya.
"Mengapa Tia sudah datang jam segini?" Yanti berguman lirih dan mengecilkan api kompornya, lalu menuju ke warungnya yang menyatu dengan rumahnya.
Tia tampak membawa dua orang pria, lengkap masih berseragam SMA.
Saat melihat Yanti menghampirinya, Tia tersentak dan cengengesan.
"Eh, Mbak Yanti.. Saya mau ngamar dulu, Mbak.. Nanti saya bayar sewa kamarnya deh" ucap Tia tanpa sungkan.
Yanti mendenguskan nafasnya, dan ini belum jadwal masuk bekerja, maka Tia hanya dikenakan sewa tempat saja.
"Terserah.. Jangan lupa rapikan lagi sepreinya" jawab Yanti dengan cepat.
"Oke, Mbak.."
Lalu gadis itu membawa dua orang pria paruh baya kedalam kamar itu sekaligus.
Sepertinya Tia baru saja mengkonsumsi shabu dan dalam kondisi sakaw, sebab Ia terkadang meracau tak jelas.
Yanti melirik ke luar dan melihat jika pria yang dibawa Tia menggunakan mobil, sebab ada mobil yang terpakir dihalaman warungnya.
Lalu mereka memasuki kamar, dan mengunci pintunya.
Tak berselang lama, seorang pria yang tadi masuk bersama Yanti keluar dari kamar dan memesan bir kepada Yanti sebanyak 3 botol.
Setelah Yanti memberikan minuman yang diinginkan pelanggannya, pria itu membayarnya, lalu masuk kedalam kamar itu kembali.
Yanti kembali ke dapur dan menyelesaikan masakannya.
Tiba-tiba saja Rey muncul di sisi kanannya dan membuat Yanti tersentak karena kaget.
"Hei.. Mengapa Kau mengagetkanku?" hardik Yanti dengan kesal.
"Apakah Kau tidak melihat ada dua korban yang datang sendiri kemari?" bisik Rey tepat ditelinga Yanti.
Yanti menoleh ke arah Rey dengan kernyitan keningnya.
"Maksudmu dua pria itu sekaligus?"
Yanti membolakan matanya "Jangan ke duanya.. Kau akan merepotkanku dengan bangkainya yang terbiar begitu saja" ucap Yanti kesal.
"Jika kau repot, ya Masak saja dagingnya" jawab Rey santai.
Hal tersebut membuat Yanti terperangah..