
Sosok itu membawa tubuh Rey ke dalam goa. Tubuh Eey sudah terlihat sangat parah.
"Nini.. Mengapa Kau memerintahkan anakku untuk menempuh bahaya, bahkan tubuhnya juga belum sembuh dari luka yang terkena ajian segoro geni, kini ajian tapak geni hampir saja merenggutnya.!!"
Nini Maru yang diomelin oleh Ki genderuwo merasa tidak senang, sebab itu semua juga karena salah Rey yang menggarap Rina dan membuatnya harus melepaskan diri terlebih dahulu dari raga Rina, sehingga membuat Rina melarikan diri.
"Heei.. Ki! Kamu juga kalau tidak tahu masalahnya jangan ikut campur! Lagian ngapain kamu ikut kedalam goa ini? Bukannya kemaren kamu mengusirku hanya karena si Lela!" balas Nini Maru sengit.
Ki Genderuwo menatap tajam "Lagian kamu juga pakai berdiri didepan warungnya, buat warungnya menjadi gelap dan tidak ada pembeli!" jawab Ki Genderuwo dengan sengit.
Lalu Ki genderuwo meletakkan tubuh Rey diatas bebatauan yang runtuh akibat hantaman yang diciptakan oleh Nini Maru saat melempar Rey barusan.
"Makanya jadi iblis jantan itu jangan taunya urusan ranjang saja! Begini jadinya-kan?! Gak anak Gak bapak sama saja!" balas Nini Maru dengan kesal.
Keributan yang terjadi membuat Ki Kliwon menjadi terganggu, dan Ia tidak dapat fokus untuk bertapa.
Lalu Ia melesat menuju ruangan tempat terjadinya keributan.
"Ada apa ini?" tanya Ki Kliwon yang selalu pusing melihat Nini Maru mengomel setiap saat.
Lalu Ia memandang kepada keduanya dan mencoba membaca apa yang terjadi.
Ki Kliwon menghampiri Rey yang tampak terluka parah dan penuh dengan kekacauan.
"Kita harus segera mengobatinya. Dia butuh tumbal lato-lato dan ini untuk mempertahankan energinya yang hilang" ucap Ki kliwon menjelaskan
Ki genderuwo menghela nafasnya dengan berat "Aku akan mencoba mencarikan untuknya" jawab Ki Genderuwo.
"Dengarkan ucapanku! Setelah kejadian ini, jangan ada diantara kita yang keluyuran dahulu, masalah raga Rina biarkan saja. Dan Kamu, Nini. Harap fokuslah bertapa dan mengembalikan tenaga dalam yang hilang. Kita harus bersatu dan fokus mengembalikan energi negatif kita yang sudah terserap keluar!" titah Ki Kliwon kepada para iblis sekutunya.
Sesaat mereka terdiam dan mencoba mendengarkan apa yang dititahkan oleh Ki Kliwon kepada mereka.
"Cepatlah, Ki Genderuwo, carikan lato-lato buat Rey, agar Ia dapat segera disembuhkan!" ucap Ki Kliwon kepada Ki Genderuwo.
Lalu Ki Genderuwo melesat keluar goa dan mencari tumbal yang dititahkan.
Sementara itu, Yanti memandang wajah Rey yang terkelupas kulitnya dengan sinis, dan disekujur tubuhnya penuh luka lebam serta buluu-buulunya yang terbakar.
"Rasain, Kamu! Tadi saja kamu mengejekku, kini kamu kena tulahnya bukan?!" guman Yanti dalam hatinya.
Tampak Rey mengerang kesakitan, darah hitam keluar dari luka wajahnya yang terekelupas dan itu sangat membuatnya sakit.
Ditempat lain, Mirna kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia masih mendapati Satria dengan duduk bersilanya dan memejamkan matanya.
Mirna ikut dudk bersila menghadap tubuh Rina yang tampak masih tak sadarkan diri.
Lalu tiba-tiba tubuhnya terbalut cahaya kuning keemasan dan membawanya terangakat ke udara setinggi 50 meter dari atas lantai.
Cahaya itu membalutnya dari ujung kali hingga ujung kepala. Tampak tubuh Rina diam tak bergerak. Sesaat cahaya itu memudar bersama dengan turunnya kembali tubuh Rina ke atas lantai yang beralaskan ambal tebal.
Setelah itu, Satria membuka matanya, lalu menatap pada Rina. Kemudian Ia menatap pada Mirna yang kini duduk disisi kirinya.
"Uhuuk..uhuuk.."
Darah hitam itu berasal dari darah ayam cemani dan juga darah burung gagak yang dipaksa oleh Ki Brewok untuk diminumnya.
Sedangkan cairan kental hitam itu adalah cairan milik Rey yang saat tadi menggarapnya didalam goa.
Rina telah disterilkan dari segala sesuatu yang tidak diinginkannya.
Rina mulai menajamkan pandangannya. Dan alangkah tersentaknya Ia saat melihat sesesok pria tampan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya didesanya dan juga seorang wanita yang ayu rupawan sedang berada disisinya.
Rina milhat dilantai yang beralaskan ambal tebal terdapat muntahan darah dari mulutnya yang berceceran mengotori ambal tersebut.
"Si-siapa kalian?" tanya Rina tergugup. Namun Ia merasa senang sebab kini tubuhnya merasa sangat ringan karena hawa panas itu tidak ada lagi didalam tubuhnya.
Mirna menatapnya teduh "Tenanglah. Kami sudah membuang energi negatif dari tubuhmu, dan kini kamu sudah terbebas dari pra iblis laknat itu" Mirna mencoba menjelaskan.
Rina bernafas lega "Syukurlah. Aku tidak ingin lagi tinggal di desa ini. Aku ingin pulang ke kampung oramgtuaku. Namun aku takut jika sewaktu-waktu dalam perjalanan para iblis itu menceagahku diperjalanan" ucap Rina.
Lalu Mirna menatap pada Satria, dan pria itu mengerjapkan ke dua matanya.
"Tidurlah. Esok kamu boleh pulang ke kampung halamanmu tanpa gangguan apapun" ucap Mirna kepada Rina.
"Aku boleh menginap disini malam ini?" tanya Rina penasaran.
Mirna menganggukkan kepalanya "Ya.. Aku akan mengantarmu ke kamar belakang" ucap Mirna, lalu beranjak mengantar Rina ke kamar belakang dan Rina mengikutinya dari arah belakang.
Setelah sampai dikamar belakang, Rina memasukinya, lalu Mirna meniupkan hawa mengantuk kepada Rina agar tertidur lelap.
Rina memasuki kamar dan menuju tepian ranjang, lalu menguap dan tertidur lelap.
Dengan cepat Mirna mengangkat tubuh Rina dipundaknya, lalu mmebawanya melesat kesebuah tempat menembus kegelapan malam yang sunyi.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Mirna kembali pulang. Saat melintasi sebuah tempat, Ia melihat sekelebat bayangan menuju sebuah pos ronda yang saat ini tampak dihuni beberapa orang pemuda yang sedang bermain game online sembari menjaga desa.
Mereka tampak serius dengan phonsel masing-masing.
Saat itu, sekelebat bayangan hitam yang berbulu sedang berdiri tak jauh dari pos ronda.
Ia sedang memilah siapa diantara para pemuda itu yang akan dibawanya ke dalam goa dan dijadikan sebagai tumbal untuk menyembuhkan Rey.
Mirna mengawasi dari jauh apa yang akan dilakukan oleh sosok tersebut.
Lalu tampak seorang remaja yang turun dari pos ronda, tampaknya Ia seperti ingin buang air kecil dan menuju ke belakang ronda.
Sosok berbulu yang tak lain adalah Ki Genderuwo itu melesat menghampiri sang pemuda dan bersiap akan membawanya.
Namun dengan cepat Mirna melesat melayang dan menghantam Ki Genderuwo dengan selendangnya, sehingga membuat Ki Genderuwo terpental jauh.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan para remaja itu, Mirna mengguncang pos ronda dengan kencang yang membuat para remaja itu kebingungan dan tanpa aba-aba mereka ngacir ketakutan dan pulang ke rumah masing-masing.
Mereka berlarian karena merasa sangat aneh, tidak ada angin tiba-tiba pos ronda dapat berguncang sendiri.