
Satria memasuki kamar. Ia melihat Mirna dalam kondisi sedang berkonsentrasi dalam pengendalian tubuhnya dan sedang menyalurkan tenaga dalamnya.
Satria duduk bersila di belakang Mirna, lalu kedua telapak tangannya Ia tempelkan dipunggung Mirna dan Satria memejamkan kedua matanya, lalu merafalkan dzikirnya dan memberikan hawa murni kepada istrinya.
Tak berselang lama, Mirna terbatuk dan mengeluarkan segumpal darah hitam. Gumpalan darah hitam itu adalah racun yang diberikan oleh Ki Kliwon saat menggores betisnya saat pertarungan tadi.
Mirna mengerjapkan kedua matanya, dan Satria menarik kedua telapak tangannya dari punggung Mirna.
"Kamu sudah kembali, Mas?" tanya Mirna lirih.
Satria beranjak bangkit dan menggendong tubuh Mirna ke atas tepian ranjang.
"Mereka datang ingin menjemputku!" ucap Mirna lirih.
"Dan tak akan ku biarkan mereka membawamu!" jawab Satria yang kini melucuti pakaian Mirna hingga tanpa sehelai benangpun.
Ia menatap dada kiri Mirna, lalu menekan jemari telunjuk dan jemari tengahnya didekat posisi jantung istrinya.
"Uhhhhuuuuk.."
Mirna terbatuk dan kembali darah kental hitam keluar dari mulut Mirna.
Satria meraih handuk kecil diatas meja nakas dan menyeka darah tersebut.
Satria menyelimuti tubuh polos Mirna menggunakan Badcover dan membawa pakaian kotor penuh noda darah itu kedalam keranjang pakaian kotor.
"Apakah masih ada sisa racunya?" tanya Mirna dengan lirih.
"Sedikit lagi, dan aku akan membantunya keluar hingga habis" jawab Satria yang menghampiri Mirna ditepian ranjang. Ia menyingkap selimut tersebut dan memperlihat tubuh indah milik istrinya.
Satria mulai mencumbu sang istri. Saat hasrat Mirna mulai terbakar, maka darah hitam akan keluar dari sudut bibirnya.
Satria memberikan sentuhan lembutnya yang terus membakar hasrat Mirna, hingga akhirnya membuat Mirna mengejangkan tubuhnya mencapai puncak surgawinya dan secara bersamaan darah hitam kental itu menyembur dengan kuat dari mulutnya dan mengotori tubuh indahnya.
Satria beranjak ke kamar mandi, lalu meraih handuk kecil dan membasahinya dengan air, lalu Ia menyeka setiap darah yang mengotori tubuh Mirna.
Setelah mulai bersih, Satria memberikan cairan madu cintanya dan membuat Mirna kembali tersentak, dan ****** ***** itu membasahi rahimnya.
Lalu darah kental hitam terakhir kembali menyembur keluar dari mulutnya dan tidak tersisa lagi.
Satria membawa Mirna ke kamar mandi, lalu membersihkan tubuh wanitanya disana.
"Apakah sudah merasa baikan?" tanya Satria saat menyabunkan sabun cair keseluruh tubuh istrinya.
Mirna menganggukkan kepalanya, dan Ia merasakan jika tubuhnya sedikit lebih ringan.
Lalu Satria menyelesaikan ritual mandinya bersama sang istri dan kembali membopong tubuh indah itu keranjang.
Dengan penuh kesabaran Ia memakaikan pakaian kepada Mirna dan menyisir rambutnya.
"Angkasa mempertanyakann masalah siapa jati dirinya" ucap Mirna lirih.
"Dan Mas sudah menjawabnya, maka Ia tidak akan lagi bertanya padamu"
"Mas, Jawab apa?" tanya Mirna penasaran.
"Tidak Ku ciptakan Jin dan manusia kecuali hanya menyembah kepada-Ku" jawab Satria mengutip sebuah ayat.
Mirna memandang kepada suaminya "Kami menjawab itu?" tanya Mirna penasaran.
Satria menganggukkan kepalanya "Kamu telah menjadi Muslim, maka masuklah secara kaffah! Mereka tidak akan dapat membawamu kembali pada jalan mereka yang penuh dengan kesesatan. Andai suatu saat nanti mereka memaksamu, jangan pernah menjual imanmu kepada para Iblis tersebut. Apakah kau mengerti?" ucap Satria kepada Mirna.
Mirna menganggukkan kepalanya.
Lalu Satria memakai pakainnya. Ia menggelar sejadahnya, lalu menggunakan tasbihnya untuk memlakukan dzikir pemurnian.
"Kemarilah, pakai mukena itu, dan genggam tanganku" titah Satria kepada Mirna dan wanita itu menurutinya.
Lallu keduanya memejamkan kedua matanya dan melakukan perjalanan ke dimensi lain.
Ia membawa Mirna berkunjung dan mmeperkenalkannya kepada qorin Maulana.
"Selamat datang cucuku" ucap qorin Maulana melihat kehadiran sang cucu yang membawa satu sosok makhluk yang ayu rupawan.
Mirna datang menyalim qorin Maulana yang sudah tampak sepuh.
"Dia Mirna, Kek.. Istriku" jawab Satria memperkenalkan Mirna kepada qorin Syech Maulana.
Sosok qorin itu tersenyum sembari menyambut ramah Mirna.
"Duduklah" titah qorin Syech Maulana yang duduk diatas permadani berwarna hijau tua.
Lalu Satria dan juga Mirna duduk bersila menghadap pada qorin Syech Maulana.
Lalu qorin Syec Maulana mengambil tasbihnya. Ia memejamkan kedua matanya dan tampak begitu fokus dan berkonsentrasi dengan dzikirnya. Setelah sekian lama, akhirnya Syech Maulana menyelesaikanya. Lalu Ia mengalungkan tasbih itu leher Mirna, dan..
"Aaaaaaarrggh..."
Mirna mengerang kesakitan dan tubuhnya berkeringat karena merasakan bagai terbakar.
Lalu Ia menggeliat menahan rasa sakit ditubuhnya dan tiba-tiba sebuah asap hitam melesat dari tubuhnya dengan diiringi suara jeritan kesakitan dan melesat menghilang.
Sementara itu, sebuah cahaya keperakan datang dan membalut tubuh Mirna hingga terbungkus seluruhnya.
Tubuh Mirna terangkat satu meter dari tempatnya duduk, lalu cahaya itu menurunkan tubuh Mirna dan perlahan menghilang.
Mirna mengerjapkan kedua matanya dan memandang kepada qorin Syech Maulana.
"Sekarang kau telah bersih seutuhnya. Mereka tidak akan dapat mempengaruhimu lagi!" ucap Syech Maulana kepada Mirna.
"Terimakasih, Kek.. Kami ijin pulang" ucap Satria dengan sopan dan berpamitan untuk pulang.
"Tunggu, minumkan ini kepada cucu buyutku Angkasa, sebab Iab sangat rentan" ucap Syech Maulana kepada Satria.
Lalu Satria meraih satu botol berisi air bening didalamnya.
"Terimakasih, Keq" ucap Satria dan mereka berpamitan pulang.
Sukma mereka kembali ke raganya. Lalu keduanya tersentak saat mereka berhasil kembali.
Satria lalu beranjak dari duduknya.
"Kamu beristirahatlah, Mas akan menemui Angkasa" titah Satria kepada Mirna yang dijawab dengan anggukan.
Lalu Mirna beranjak ketepian ranjang, sedangkan Satria keluar dari kamarnya menuju kamar puteranya.
Tampak Samudera membukakan pintu kamar dengan mata sembab.
"Kamu kenapa menangis?"
"Ayah dengan ibu kemana saja? Sudah seminggu tidak pulang dan Angaksa demam parah. saya sudah membawanya ke puskesmas, namun tidak ada perubahan!" ujar Samudera yang menangisi Angkasa terbaring lemah diatas ranjang.
Samudera baru menyadari jika kepergian mereka berkunjung ke dimensi lain diistana Syech Maulana yang hanya beberapa jam saja, ternyata sudah seminggu waktu dunia.
"Maafkan Ayah dan Ibu" ucap Satria mencoba tenang.
Lalu Ia berjalan menuju ranjang tempat tubuh Angksa berbaring.
Satria memegang kening puteranya, dan panasnya sangat tinggi, lalu Satria membuka tutup botol berisi air pemberian Syech Maulana dan membuka bibir Angkasa, Lalu meminumkan air tersebut kepada Angkasa hingga habis.
Dan tampak asap hitam bergulung-gulung keluar dari tubuh Angkasa, dengan diiringi suara jeritan yang mengerikan lalu hilang lenyap.
Samudera tercengang melihat apa yang terjadi dan rasanya ini seperti mimpi.
Setelah asap hitam itu menghilang, maka Angkasa terbatuk dan ia mengerjapkan kedua matanya. Seketika panas ditubuhnya menghilang dan Ia tersentak kaget saat melihat ayahnya berada didalam kamarnya dan hal ini tak biasa.
Samudera bernafas lega, akhirnya adiknya itu kembali sembuh seperti semula.