MIRNA

MIRNA
episode 109



Yanti merasakan jika saat ini rahimnya masih sakit dan perih diarea organ intinya.


Meskipun keguguran, namun rahim sama halnya seperti melahirkan, sama-sama masih basah dan terkuka, maka sebab itu tidak dibenarkan memakan makanan terlalu pedas.


Yanti menjadi alergi pada irgan intinya dan Ia meminum jamunya untuk menghilangkan rasa alergi tersebut.


"Sial..!! Kenapa rasanya sangat gatal sekali?!" gerutu Yanti dengan sangat kesal.


Sementara itu, Tia tampak bingung melihat Yanti yang merupakan bosnya itu tampak seperti orang kebingungan dan terus menggaruk di bagian orga intinya.


"Apa yang terjadi dengan Mbak Yanti? Mengapa Ia tampak sangat begitu gelisah dan terus menggaruk" Guman Tia dalam hatinya.


di tempat lain, seorang pria sedang memanen kelapa sawit di sebuah perkebunan.


Pria pekerja itu bersama temannya sedang memanen kelapa sawit yang merupakan perkebunan perseorangan, namun kebun itu sangat luas.


Pekerja yang satu bertugas untuk menurunkan janjangan sawit yang masak dari atas pohon dengan cara di egrek, dan satunya bertugas membawa janjangan itu untuk menuju TPH (Tempat pengumpulan Hasil).


Sesaat pekerja egrek mencium aroma busuk yang sangat menyengat. Ia mengenduskan indera penciumannya dan dengan perasaan yang semakin mual Ia menuju sebuah parit yang berbatasan antara jalan utama dengan tanah perkebunan.


"Mes.. Kamu mencium bau bangkai gak sih?" ujar Jalu yang merasakan perutnya semakin mual.


"Iya, kang.. Baunya berasal dari arah parit itu" Mesran menimpali.


Keduanya merasa penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi didalam parit yang berisi air tersebut.


Tampak tumpukan pelepah kelapa sawit menimbun didalam parit. Mereka merasa heran karena mereka sebagai pekerja tidak pernah membuang pelepah sawit kedalam parit, sebab itu tidak dibenarkan.


"Apa ada ular sanca yang mati dibawah pelepah, Mes?" Jalu semakin penasaran.


"Ah.. Sudahlah , Kang.. Mungkin beneran ular sanca" Mesran tak begitu perduli, sebab pekerjaan mereka masih sangat banyak dan harus selesai sebelum sore.


Namun Jalu sangat penasaran, sebab banyak sekali lalat hijau yang berseliweran diarea tersebut dan matanya menangkap sebuah benda seperti helm motor.


"Mes, Mes.. Itu ada helm dibawah sana" teriak Jalu dengan suara yang bernada panik.


Ia meraih egreknya, lalu menyingkirkan pelepah-pelepah sawit itu keatas dan saat pelepah sawit itu sudah naik keatas, seketika mereka terbeliak saat melihat sebuah sepeda motor tampak membayang di bawah air berair keruh dan hal itu membuat keduanya semakin penasaran.


Jalu menggunakan egreknya untuk menarik sepeda motor itu kearah dekat jembatan, dan karena berair, memudahkan Jalu untuk memindahkannya kedekat jembatan.


Saat Sepeda motor itu berpindah je dwkat jembatan, maka bersamaan sesosok jasad menyembul kepermukaan air dan tampak membusuk dengan warna hijau kehitaman dan menimbulkan aroma busuk menyengat, serta kulit tubuhnya yang mengelupas.


Dengan spontan keduanya berteriak bersamaan dengan sekencang-kencangnya.


Suara teriakan keduanya mengundang kecurigaan terhada pengguna jalan dan juga rekan kerja mereka lainnya yang sedang memanen kelapa sawit.


Dalam sekejab warga berkumpul untuk melihat apa yang terjadi dan tampak mereka menutup hidung karena bau itu sangat menyengat.


Lalu mereka menelfon polisi dan seketika tempat itu menjadi lautan manusia yang merasa penasaran akan penemuan jasad tersebut.


Saat polisi tiba dilokasi, mereka mengevakuasi jasad berseragam SMA tersebut dan menaikkannya ke dari dalam parit.


Wajah dari jasad tersebut sudah tidak dapat di kenali, namun beberapa waktu yang lalu ada laporan dari sebuah keluarga yang menyatakan kehilangan satu anggota keluarganya yang masih dibawah umur dan belum kembali sejak berangkat ke sekolah.


Pihak keluarga datang dan melihat apa yang ditemukan oleh pekerja perkebunan.


Dan alangkah terkejutnya mereka saat membaca satu nama yang tertulis di seragam SMA itu benar adalah anak mereka.


Seketika sang Ibu berteriak histeris mendapati anaknya tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan.


Lalu yang terasa janggal Ialah celana yang dikenakan outera mereka terbuka dan alat vitalnya tidak ada, tampak seperti dicabut paksa.


Seketika wargapun mulai berspekulasi. Sebab kejadian kehilangan alat Vital bagi jasad laki-laki bukanlah hal pertama kalinya terjadi. Sebab di kecamatan sebelah juga sudah ada kejadian serupa dan hal itu sangat membingungkan, sebab polisi belum dapat mengungkap siapa pelaku sebenarnya hingga kini.


Ibu dari korban tersebut tak sanggup membayangkan dan melihat anaknya yang tampak sangat mengenaskan dan akhirnya tak sadarkan diri.


Polisi mencoba mengidentifikasi mayat dan membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.


Seketika warga mulai membubarkan diri satu persatu setelah polisi membawa jasad tersebut, dan kedua pekerja yang menemukan jasad itu pertama kalinya dan kedua orangtuanya untuk dimintai keterangan.


Lokasi kejadian di beri garis polisi dan dilarang melintas.


Kejadian penemuan mayat itu mulai menyebar dan menjadi berita yang kemudian viral karena korbannya anak berseragam sekolah dan kehilangan alat vitalnya.


Berita itu terdengar oleh Yanti yang sedang sibuk menggaruk organ intinya yang masih terasa gatal, hingga menimbulkan luka lecet dan ruam.


Yanti merasa sedikit khawatir, Ia memasuki kamar rahasianya dan membakar dupa serta kemenyan.


"Datanglah.." ucap Yanti memanggil sosok bayangan hitam dengan rasa khawatir yang juga membuatnya sedikit merasa ciut.


Sesaat sesosok bayangan itu datang menjelma menjadi sosok manusia berbulu tipis dengan wajah yang gak ada manis-manisnya.


Wajah itu mirip dengan paduan antara manusia dan juga sosok genderuwo yang sangat menyeramkan.


"Ada apa?" tanya sosok itu dengan suara parau.


Yanti menoleh kesumber suara tersebut dan merasa sangat begitu sedikit khawatir.


"Mereka menemukan jasad remaja itu, apakah kamu dapat membereskannya?" tanya Yanti dengan nada khawatir.


"Tenanglah.. Mereka tidak akan menemukan sidik jarimu disana, aku sudah menutupnya dengan sidik jariku yang tidak mungkin terdeteksi" ucap Sosok Rey dengan santai.


Seketika Yanti bernafas lega dan Ia tidak ingin terseret ke kantor polisi.


"Apakah hanya itu yang ingin Kau tanyakan?" ucap Rey dengan cepat.


Yanti menganggukkan kepalanya dan menghilang begitu dari hadapan Yanti.


Yanti kemudian keluar dari kamar rahasia itu dan menguncinya.


Tia tampak duduk diruang karaoke dan sedang berseluncur di dunia maya. Lalu Yanti menghampirinya "Kamu sedang apa?" tanya Yanti penasaran.


"Ini, ada berita tentang penemuan remaja SMA yang sudah beberapa hari menghilang, dan alat vitalnya juga tidak ditemukan" ucap Tia dengan terus membaca beberapa ulasan tentang penemuan jasad tersebut.


"Ih.. Gila. ternyata dia temen sekelasku" ucap Tia terlonjak karena sudah tidak pernah masuk sekolah dan membolos terus sehingga Ia tidak mengetahui berita hilangnya sahabatnya.


"Apa? Teman sekelasmu?" tanya Yanti berpura-pura terkejut.


"Iya, Mbak.. Dan kami pernah bercinta di sekitar kebun sawit itu" Jawab Tia dengan santainya.


"Jadi temanmu itu emang suka begituan?" tanya Yanti penasaran.


Tia menganggukkan kepalanya "Dia itu playboy dan juga anak orang kaya, makanya Aku waktu itu mau diajak bercinta dengannya karena dibayar pakai shabu dan juga uang" ucap Tia dengan bangganya.


Yanti tersenyum menyeringai, ternyata Tia jauh lebih nakal dari dirinya.