
Setelah pukul 10 malam, ada beberapa pelanggan yang datang, yang semuanya rata-rata para pria yang sekedar hanya membeli kopi dan makanan ringan atau sekedar cuci mata melihat Lela janda muda yang masih bohai.
Semenjak keguguran, Lela rajin merawat tubuhnya dengan meminum jamu ramuannya, agar menjaga tubuhnya tidak melar serta mempercepat penyembuhan rahimnya.
"Di.. Pulang yuk, ngantuk" ajak Dino yang menyeruput terakhir syirupnya hingga habis.
"yuuk, lah.. Aku juga ngantuk, besok mau cari tupai lagi" ucap Didi menimpali dan meneguk habis sisa teh susu dinginnya.
"Mbak.. Berapa semuanya?" tanya Dino kepada Mbak Lela sedikit berteriak, sebab Lela masih membuat segelas kopi hitam pesanan sorang pria paruh baya.
"30 ribu, Di.. Semuanya" sahut Mbak Lela dari arah dapur, lalu berjalan membawa segelas kopi hitam untuk pelanggannya.
"Ini, Mbak. Uangnya" ucap Dino memberikan uang pas kepada Lela.
"Permisi, Mbak.. Kami pulang dulu, sudah malam" ucap Dino dengan sopan.
Lela menganggukkan kepalanya sembari memasukkan uang tersebut kedalam dompet keramatnya.
Lela duduk disudut warungnya, sembari mempersiapkan bumbu untuk lontongnya esok pagi.
Ia meracik bumbu tersebut beserta sayur mayur yang nantinya akan disimpan didalam lemari es agar esok masih segar.
Tanpa terasa, malam semakin larut, pukul menunjukkan pukul 12 malam, Lela mulai mengantuk dan berniat menutup warungnya.
Beberapa pelanggan telah berpualngan, dan tidak ada lagi pelanggan. Maka Lela mengemasi barang-barangnya dan mengunci dapur warung, lalu berniat masuk kedalam rumah.
Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
Lela memutar tubuhnya, tampak kakek Nugroho sedang berdiri diambang pintu depan warung menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Eh.. Kek.. Sudah malam mau kemana?" tanya Lela sopan.
"Mau kemari, ada segelas kopi hitam untuk Kakek?" tanya Pria berusia senja tersebut.
Kakek Nugroho berperawakan sedang, karena rajin bekerja dan juga menabung, tubuhnya masih terlihat sehat dan bugar meski usianya sudah mencapai 63 tahun.
Bahkan otot-otot dilengannya tampak begitu sangat kentara.
Mengenang semua kebaikan sang Kakek yang selama Ia hidup susah saat bersama almarhum suaminya, Lela menjadi sungkan.
"Saya buatin kopinya, tapi saya tinggal tidur, ya Kek.. Soalnya sangat sangat mengantuk sekali" ucap Lela dengan menguap.
"Iya.. Tak mengapa" jawab sang pria senja tersebut.
Lela kembali membuka kunci gembok dapurnya, lalu menyeduh kopi hitam permintaan sang kakek.
Suasana malam yang semakin gelap dan juga dingin, membuat Lela bergidik. Entah mengapa tiba-tiba saja Ia merasa kesepian. Ia mebutuhkan teman.
Tanpa diduga Lela, Kakek Nugroho telah berada dibelakngnya saat Lela hendak mengambil sendok dan hendak mengaduk kopi tersebut.
Lela terperanjat memandang pria senja itu. Entah mengapa dimatanya pria itu tampak begitu memancarkan aura yang sangat menawan malam ini.
"Sudah selesai kopinya?" tanya pria senja itu dengan nada yang sedikit berbeda.
"Sudah hampir selesai, Kek.. Hanya tinggal mengduknya saja" jawab Lela seperti tak berkedip memandang pria senja didepannya.
"Biar Kakek yang mengaduknya" ucap Kakek Nugroho, lalu berjalan menghampiri Lela yang masih berdiri mematung menatap pria tersebut.
Pria senja itu mengaduk kopi hitam yang berada dibelakang Lela. Tentu saja Lela yang tak menyingkir dari tempat itu merapat tubuhnya dengan pria senja yang tangannya mengaduk kopi dibelakangnya.
Lela bagaikan terhipnotis dengan aroma tubuh kakek Nugroho yang tak biasa. Ia memejamkan matanya, saat pria itu semakin merapatkan tubuhnya yang kini berhadapan denganya.
Bahkan Ia bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya saat tangan pria senja itu menjelajahi tubuhnya.
Lela merasa terbuai dengan apa yang dilakukan oleh pria itu, sehingga saat Ia tidak sadar jika pria senja itu melakukan penyatuan tubuh kepadanya.
Lela merasa melayang bagaikan terbang menuju puncak surgawinya.
Lela kelelahan dan tertidur dikursi dapurnya hingga terlelap.
Lela tersentak saat mentari pagi menyapanya. Lela terperanjat saat melihat dirinya tanpa busana tertidur dikursi dapur.
Ia celingukan kesana kemari, mencoba memikirkan apa yang terjadi padanya. Namun Ia merasa seperti bingung dengan apa yang terjadi.
Lela segera mengenakan pakaiannya yang berserakan dilantai, dan Ia juga mencoba mengingat jika terakhir kali sedang membuatkan kopi untuk Kakek Nugroho, Lela melihat keatas meja, dan tidak menemukan gelas kopi yang diseduhnya.
"Apakah Aku hanya berhalusinasi? Namun mengapa alat vitalku basah seperti ini?" Lela merasakan area sensitifnya basah oleh cairan yang tak biasa.
Lela segera bergegas masuk kedalam rumahnya sebelum teangga melihatnya. Ia buru-buru mandi dan membersihkan diri.
Setelah itu Ia begegas memasak sayur untuk lontongnya. Ia membuka warungnya dan mencoba melupakan kejadian semalam, sebab Ia merasa jika Ia sedang berahlusinasi karena sudah lama tidak tersentuh oleh pria.
Setelah membuka warungnya, beberapa warga datang membeli sarapan lontongnya.
Dan mendadak saja warung Lela ramai dikunjungi pembeli dan dagangan lontongnya ludes terjual pagi ini. Lela begitu sangat senang dan melupakan kejadian malam itu.
Disisi lain, Mirna merasakan kegelisahan hatinya karena Satria tidka mengunjunginya sudah hampir seminggu lebih lamanya.
Setelah mandi dan berdandan seadanya, Mirna memutuskan untuk mengunjungi pria itu, meski sejanak untuk melihat wajahnya saja sudah mampu menghapus rasa rindunya terhadap pria pujaannya.
Ia tak tahu mengapa, jika tak ada satupun pria yang mampu menyentuh hatinya. Ia hanya menginginkan Satria dan juga cintanya, namun Ia ingin pria itu yang memulainya.
Mirna berjalan dengan kecepatan yang tak biasa, bahkan tak terlihat oleh mata kasar manusia awam.
Mirna telah sampai didepan rumah Satria, Ia memandang rumah tersebut dengan tatapan nanar.
Ia lalu berjalan menuju ambang pintu tempat dimana Ia pernah dibawah pria itu masuk kerumahnya.
Lisa yang baru saja selesai mengepel lantai terperanjat saat melihat seorang gadis cantik berdiri diambang pintu majikannya tanpa berkata apapun.
"Siapa, Kamu? Sedang mencari siapa?" tanya Lisa dengan nada tak suka, sebab Ia merasa gadis itu terlalu cantik dan sangat berbahaya jika bertemu dengan majikannya.
Melihat Mirna hanya diam mematung ditempatnya membuat Lisa semakin kesal.
"Siapa Kamu? Apa managih seauatu?" tanya Lisa dengan suara sedikit keras, membuat Satria merasa penasaran dan keluar dari kamar dan ingin melihat kejadian apa yang terjadi diruangan tengah.
Satria membolakan matanya saat melihat Mirna berada diambang pintu, dan Ia juga baru mengingat jika Ia telat mengantar jatah Mirna untuk sebulan.
Satria menduga jika Mirna meminta jatah bulanannya yang sudah habis.
"Oh.. Kamu.. Masuklah.. tunggu sebentar, saya ambil uang di ATM, kamu masuklah.." ucap Satria, lalu beranjak dari tempatnya dan bersiap berangkat ke ATM untuk mengambilkan sejumlah uang untuk Mirna.
Sementara itu Lisa pergi kekamar mandi untuk meletakkan alat pelnya.
Saat Satria berpapasan dengan gadis itu, Mirna menyesap aroma parfum tubuh dari tubuh pria itu, Ia begitu menyukainya, dan tidak dapat melupakannya.
Mirna berjalan menuju Sofa, lalu dudum bersandar disana.
Sesaat Lisa datang dari arah kamar mandi setelah menyelesaikan pengepelannya.
Ia memandang sinis pada Mirna yang duduk santai.
Lalu Lisa memasuki kamar Satria untuk memunguti pakaian kotor. Ia begitu kesal memandang Syafiyah yang terbaring tak berdaya.
Saat itu Lisa melihat Syafiyah sedang tertidur, dan entah bagaimana Ia tergiur melihat perhiasan Syafiyah yang terletak di atas meja nakas. Lisa berniat mengambilnya, karena Ia berfikir jika mengambil salah satunya maka tidak kemungkinan tuannya tidak akan menyadarinya.
Mirna merasakan sesuatu yang tidak beres dari wanita tersebut, karena terlalu lama didalam kamar. Mirna beranjak dari sofanya, lalu berdiri diambang pintu dan benar saja, Ia melihat Lisa mengambil satu buah liontin milik Syafiyah.
Mirna tersenyum seringai, lalu menggerakkan jarinya, dan membuat liontin itu melayang diudara.
Lisa tersentak melihat kejadian aneh itu, dan berbalik arah, lalu melihat Mirna berada diambang pintu memandang perbuatannya.