MIRNA

MIRNA
episode 183



Yanti masuk kedalam kamar tanpa terlihat oleh Wanda. Ia sibuk dengan mengkipas tubuhnya menggunakan kertas agar menghilangkan gerah dalam tubuhnya.


Sementara itu, Didi merasakan perasaannya tidak sangat nyaman dan hal itu membuat Ia mengkhawatirkan Wanda, sebab aroma itu adalah ciri khas kemunculan dari makhluk laknatullah yang selama ini menjadi perbincangan yang terus-menerus tiada henti diwarga desa.


Sebab makhluk itu terus mengincar para wanita yang sedang mengandung.


Yanti dapat menyamarkan tubuhnya setelah aura kegelepan yang berada didalam tubuh Mirna telah dilepaskan oleh Satria dan saat itu niatnya dikembalikan kepada Nini Maru, namun kini bersarang juga ditubuh Yanti, sebab Yanti dan Nini Maru masih menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.


Wanda membaringkan tubuhnya dengan posisi miring, karena Ia merasa serba salah untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Ia merasa gelisah dan ditambah rasa gerah yang sangat berbeda malam ini.


Namun tiba-tiba Ia merasakan hawa dingin yang sangat dingin dan seolah seperti berhembus dibelakang punggungnya karena saat ini Ia sedang tidur dalam posisi miring.


Seketika bulu kuduknya meremang dan Ia merasakan ada sesuatu yang berada dibalik punggungnya.


Namun untuk menolehkan wajahnya Ia tidak memiliki keberanian.


Sesaat Ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh punggungnya. Sesuatu yang terasa kasar, dan tampaknya terasa seperti tangan orang yang bekerja keras dan tidak pernah memakai lotion hingga terasa begitu kasar.


Sesaat Wanda melihat sebuah tangan dengan jemari keriput dan berkuku runcing menjalar dari punggung dan kini merayap keperutnya yang membuncit.


Wanda membolakan matanya, Ia ingin berteriak dan namun suaranya tercekat ditenggorokannya dan wajahnya memucat.


Ia hanya dapat menggerakkan bibirnya, namun tidak dengan anggota tubuh lainnya. Ia terpaku diam dalam ketakutan yang sangat mencekam.


Nafasnya tersengal dan degub jantungnya memburu karena sangat begitu takutnya.


Keringat mengucur dengan deras, Ia ingin rasanya memanggil Didi, suaminya yang saat ini sedang mengobrol bersama Dino diteras rumah dan tepat berada didepan dinding kamar mereka.


Namun jangankan untuk berteriak, jika mengegerakkan jemarinya saja Ia tak bisa.


Tangan itu kini sudah mendarat diperut Wanda yang membuncit, lalu tangan iblis yang satunya turun kebawa dan hendak menyingkap kakn sarung yang dipakai oleh Wanda.


gerakan jemari itu membuat kuku panjang nan runcing tersebut menggores pangkal kaki Wanda, yang mana menimbulkan rasa perih dikulit wanita tersebut.


Wanda memejamkan matanya dan merapatkan giginya karena rasa takut dan perih dikulitnya.


Dan saat jemari itu ingin menerobos masuk ke organ inti Wanda, tiba-tiba saja Didi masuk kekamar dan membanting pintu dengan kasar.


Saat itu Ia melihat makhluk iblis tersebut sedang berusaha untuk mencuri janinnya, dengan cepat Didi meraih senter yang terdapat dimeja rias dan saat Yanti akan melesat keluar dari jendela, Didi menggetok kepalanya dengan senter dan membuat Yanti menatap marah, dan Didi menggetoknya sekali lagi, lalu saat Yanti akan membalasnya, Didi sudah bersiap ingin menggetoknya lagi, dan Yanti kabur sembari memegangi kepalanya.


Yanti melesat menembus kegelapan malam dan nangkring disebuah dahan pohon sukun.


Ia memegangi kepalanya yang sakit "Dasar Didi Siaalaan.!!" maki Yanti dengan kesal.


Nini Maru hanya dapat mendehem saja dengan apa yang dirasakan oleh Yanti.


Lalu Nini Maru memcium aroma janin lainnya, yang mana aromanya begitu sangat kuat dan juga manis.


"Aku mencium aroma janin lain, ayolah.. Kita akan menemukan janin yang lezat.. Hasil perbuatan kemaksiatan" ucap Nini Mari dengan rasa tak sabar.


Yanti mendengus kesal "Sabarlah, Ni.. Apa tidak lihat kalau kepalaku abis digetok senter sama Didi?!" protes Yanti dengan perasaan kesal.


"Ayo, kita bergerak.." ucap Nini Maru yang mengeluarkan semua kekuatannya untuk menggerakkan tubuh Yanti meskipun wanita itu menolaknya, namun Nini Maru dapat menguasainya.


Iblis itu tak dapat lagi menahan keiinginannya untuk segera mendapatkan sang tumbalnya.


Ditempat lain, remaja yang sedang menjalani masa karantina dipusat rehabilitasi sedang berada didalam kamar mandi yang menyatu dengan toilet.


Sejak tadi Ia merasakan perutnya sangat memulas, Ia ingin buang air besar, namun tak juga ada tanda akan akan buang air.


Setelah kejadian Ia terpeleset dilantai siang tadi, Ia merasakan perutnya begitu sangat sakit.


Ia tidak menyadari jika dirinya sedang mengandung, dan itu karena sebab Ia adalah anak yang juga mengalami keterbelakangan mental yang mana dengan mudahnya dipermainkan oleh kedua sahabatnya yang berada satu sekolah dengannya.


Sahabatnya itu selallu mencekokinya dengan sabu dan minuman berakohol, lalu menggilirnya tanpa merasa bersalah.


Sedangkan Ia hanya bisa tertawa saja, tanpa mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh kedua sahabatnya itu telah merusak masa depannya dan juga kesehatannya.


Hingga malam ini terjadi, Ia melihat ada bercak darah diarea pakaian dalamnya, dan itu Ia anggap sebagai tamu bulanannya yang setiap bulan rutin selalu datang.


Namun sudah 3 bulan ini Ia tidak kedatangan tamu tersebut, namun karena kurangnya edukasi terhadap dirinya, membuatnya menganggap itu biasa saja.


Ia masih betah diatas toilet, dan terus mengejan karena berharap buang airnya segera berakhir, dan rasa sakit itu semakin intens terjadi.


Sementara itu, Yanti yang kini dikuasai oleh Nini Maru hanya dapat mengikuti apa yang diperintahkan oleh iblis tersebut.


Keduanya telah berada dipusat rehabilitasi. Ia berdiri ditembok luar kamar mandi. Aroma amis darah yang keluar dari organ inti seseorang dibalik tembok tersebut membuatnya semakin terasa begitu tak sabar.


Yanti menyelinap dari balik ventilasi kamar mandi dan merayap turun dari dinding dengan menyebarkan aroma kembang kenanga.


Lalu dengan cepat Ia berdiri tegak dihadapan gadis remaja itu, dan menatapnya dengan tajam.


Seketika gadis itu membolakan matanya dan menatap ketakutan pada sosok dihadapannya.


Lalu tanpa menunggu lama, Yanti menuju area organ inti sang remaja, lalu meneroboskan jemarinya yang keriput dengan kuku runcingnya dan dengan cepat menarik paksa janin tersebut hingga keluar, dan tindakannya itu membuat sang gadis remaja membolakan matanya menahan sakit.


Bibir sang gadis bergetar saat melihat dengan kepala matanya sendiri saat Yanti memakan janinnya. Bahkan tak hanya itu, Yanti juga menyesap darah dari sisa keguguran paksa tersebut.


Setelah merasa puas dengan apa yang diinginkannya, Yanti kembali menyesap darah itu, lalu memuntahkannya ketelapak tangannya dan menyapukannya keseluruh tubuhnya, sehingga Ia berlulurkan darah.


Aroma amis menyeruak keruangan kamar mandi tersebut, lalu Ia melesat menghilang.


Gadis remaja itu merasakan pandangannya berkunang dan akhirnya Ia mencoba menjaga kesadarannya.


Lalu dengan sisa tenaganya, Ia mencoba membersihkan sisa noda darah yang masih menempel dikakinya.


Kemudian Ia berjalan dengan tertatih dan wajah pucat pasi karena Ia banyak mengeluarkan darah akibat disesap oleh Yanti.


Dengan wajah pucat seputih kapas, Ia mencoba keluar dari kamar mandi menuju koridor tempat kamarnya berada.


Dan tanpa Ia sadari, pandangannya kembali gelap, dan akhirnya terjerembab dilantai.