MIRNA

MIRNA
episide 232



"Aaaaaaaarrrgh.."


Teriak Samudera yang ketakutan saat tertarik bersama longsoran tanah yang hampir menguburnya bersama Jasad Melly.


Angaksa yang berhasil menariknya kepermukaan membuat keduanya jatuh terduduk ditepian liang makam Melly.


Benar dugaan Angkasa, jika ada membongkar makam Melly. Sebab tali pocongnya bagian atas terbuka dan wajah Mellly yang terbungkus kain kafan telah dibuka, sehingga memperlihatkan wajah pucat tersebut.


"Bagaimana ini? Jika ada yang melihat hal ini maka mereka akan menuduh kita sebagai pelakunya" ucap Samudera.


Angkasa terdiam "Ayo kita pergi" Ajak Angkasa, lalu mereka pergi meninggalkan lokasi pemakaman.


pakaian ke duanya sangat kotor dan terkena noda tanah merah.


Seasampainya dirumah, mereka langsung membersihkan diri dan membersihkan pakaian mereka. keduanya membagi tugas, Angkasa mencuci pakaian yang ternoda tanah merah, sedangkan Samudera mengepel lantai karena kotor terkena injakan kaki mereka ditanah makam Melly.


Saat Angkasa membersihkan pakai untuk dicuci, tanpa sengaja Ia menemukan sebuah kacamata resep yang entah bagaiamaa caranya bisa tersangkut dipakaian bagian belakang kakaknya.


Angkasa mencoba menganalisa penemuannya.


"Apakah ini pemilik sipembongkar makam dengan secara tidak sengaja terjatuh saat ia berusaha menutup makam itu kembali.


Setelah membereskan pakaian kotornya. Angkasa menemui kakaknya "Kak, ingat siapa pemilik kacamata ini?" ucap Angkasa sembari memperlihatkan kacamata yang dipegangnya.


"Sepertinya aku pernah melihatnya? Tetapi siapa aku lupa" jawab Samudera dengan santai.


"Cobalah ingat siapa!" Desak Angkasa.


Samudera hanya mencebikkan bibirnya.


"Kamu dapat kacamata itu dari mana?" tanya Samudera penasaran.


Angkasa menatap sang kakak dengan tatapan yang membuat Samudera semakin bingung.


"Dari pakaian kakak yang pakai tadi saat terjatuh di pemakaman"


Samudera membolakan matanya "Berarti yang kita lihat subuh tadi pelakunya?"


"Ya."


"Tapi siapa?"


"Nanti kakak juga akan tahu"


Lalu keduanya saling pandang.


*****


Donny dibawa ke ruang penyidikan dan dicecar berbagai pertanyaan.


"Darimana kamu malam tadi?" tanya penyidik kepada Pemuda yang banyak mengalami luka-luka.


"Saya hanya berjalan-jalan" jawab pemuda dengan santainya.


Penyidik itu melihat jika pemuda ini tidak dapat dipercayai begitu saja.


"Lalu mengapa kamu membawa senjata tajam dan tubuh kamu penuh luka?" cecar penyidik.


Donny mendenguskan nafasnya dengan kesal. Ia menatap tak suka pada penyidik tersebut.


"Ini hanya pisau dapur dan mengapa begitu dipermasalahkan?"


"Harap kaku menjawab apa yang kami pertanyakan, jika kamu tidak ingin mendekam didalam jeruji besi ini!" hardik penyidik dengan nada kesal.


Donny mensedekapkan kedua tangannya didepan dada, dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Mengapa kalian mempertanyakan itu? Itu hanya sebuah pisau dapur, dan aku menggunakannya untuk mengupas mangga" jawab Donny yang semakin kesal.


"Lalu mengapa tubuhmu banyak luka?" tanya penyidik dengan penuh penekanan.


"Aku diserang oleh aanjing penjaga kebun mangga, dan aku menyelamatkan diri memasuki semak, dan tumbuhan berduri melukaiku" jawab Donny.


Saat bersamaan, petugas lain memasuki ruangan dan mengatakan jika salah satu tersangka mengalami kematian yang mengerikan dan baru saja terjadi.


Maka para penyidik menghentikan penyelidikannya kepada Donny dan melepaskannya.


Lalu pihak kepolisian kembali bergegas menuju ruangan perawatan. Mereka menemukan salah satu pelaku pembunuhan Melly baru saja mati mengenaskan dengan cara yang sangat sadis.


"Jika bukan Donny, lalu siapa?" tanya penyidik dengan Jhon kepada rekannya.


"Bisa jadi pelakunya lebih dari satu?" jawab Fandy.


Penyidik Jhon menggelengkan kepalanya " tidak mungkin luka robek yang diciptakan sama dengan luka yang lainnya dan..


Mata penyidik Jgon melihat ada serpihan kaca tertinggal disana.


"Ini serpihan kaca, dan pelakunya menggunakan pecahan kaca untuk menghabisi korbannya" jawa Jhon yang mengambil serpihan kaca tersebut.


"Bukankah botol itu yang kita temukan dilokasi penemuan mayat Melly?" tanya penyidik Fandy dengan selidik.


Seketika penyidik Jhon menatap rekanya "Ya.. coba hubungi kantor, dan tanyakan kepada mereka apakah barang bukti botol minuman itu masih ada" titah Jhon kepada Fandy.


Lalu Fandy meraih phonselnya dan menghubungi kantor untuk menanyakan botol itu apakah masih ada atau hilang.


Lalu pihak kantor menjawab jika barang bukti masih ada dan terkunci didalam lemari loker.


Keduanya seperti kehabisan akal dan terus berfikir untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan tersebut.


****


Sementara itu, pihak keluarga heboh dengan pemberitahuan jika makam Melly mengalami keruntuhan dan tali pocong hilang dengan kain pocong terbuka dan memperlihatkan wajah Melly yang pucat pasi.


Lalu pihak keluarga menghubungi kepolisian untuk mengadukan perihal kehilangan tali pocong tersebut.


Seketika Jhon dan Fandy bergegas menuju ke lokasi pemakaman dan sesampainya disana,.warga sudah banyak berkerumun. Terdapat ada beberapa bekas kembang dan dupa yang baru saja dibakar.


Sepertinya ada ritual pemujaan dimakam Melly.


Warga mulai bebisik-bisik dan mereka menduga jika ada seseorang yang memanfaatkan kematian Melly untuk tujuan tertentu, apalagi Melly meninggal dalam kondisi keguguran dan juga teraniaya.


"Apa mungkin ini dari tindak sebuah ritual ilmu hitam?" tanya Fandy yang mulai mengarah pada ranah ghaib dan supernatural.


Jhon menatap pada rekannya "Jangan percaya hal begituan. Bagaiamana mungkin seseorang yang sudah meninggal dunia dapat melakukan pembunuhan, itu hal yang tidak masuk akal" Jhon menepis apa yang menjadi pendapat bagi rekannya.


Fandy tersenyum datar "Ada kalanya terkadang kita harus dapat mempercayai hal-hal seperti itu. Sebab hal ghaib itu ada, contohnya ruh kita yang tidak pernah kita deteksi dimana keberadaannya" jawab Fandy menjelaskan.


Jhon masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan rekannya. Sebab baginya yang menganut Atheis hal tersebut tidaklah ada dan segala sesuatu itu harus dilandasi oleh kemampuan yang dapat diterima oleh akal.


Fandy hanya menghela nafasnya dan tidak ingin berdebat dengan orang yang tidak sependapat dengannya.


Lalu mereka mencoba menemukan sidik jari dikain kafan Melly yang pasti tertinggal dikain kafan Melly saat akan mencuri tali pocong tersebut.


Setelah itu, alat pembakaran dupa dan juga kembang yang menjadi alat ritual itu mereka sebagai alat bukti.


polisi kembali meminta pihak keluarga untuk menguruk makam tersebut dan makam itu dipasang garis polisi agar warga tak mendekati makam tersebut untuk guna penyelidikan.


Kabar Remon yang kehilangan alat lato-latonya dan juga kematian 3 pelaku remaja yang merupakan pembunuh dari Melly dikaitkan oleh warga atas pemujaan jin qorin Melly untuk membalaskan pembunuhan terhadap gadis remaja itu.


Ibunda Melly tampak syok melihat kejadian yang menimpa makam puterinya. Bagaimana seseorang dapat berbuat keji seperti itu.


Cara kematian puterinya yang sangat mengenaskan itu saja sudah membuatnya sangat begitu nelangsa, apalagi kini desas-desus arwah puterinya menjadi gentayangan dan menuntut balas dendam kepada para pelaku yang


membuatnya mati mengenaskan.


Sementara itu, Ayah Melly hanya tersenyum sinis melihat makam puterinya yang tampak dibongkar oleh seseorang. Dan kabar tentang pelaku yang mati mengenaskan membuatnya merasa senang, setidaknya para pelaku mengalami mati yang mengenaskan juga.