
Bulan berganti. Kehamilan Mirna dan juga Shafiyah semakin membesar.
Tanpa terasa sebulan lagi akan memasuki bulan dimana detik-detik menanti kelahiran sang calon bayi.
Hal ini semakin membuat Nini Maru gelisah. Jika saja sampai bayi itu lahir dan Ia juga belum menyempurnakan tumbalnya, maka akan menjadi bencana besar bagi dirinya dan juga Rey yang digadang-gadang akan disatukan untuk mendapatkan keturunan yang tangguh dan menguasai dunia kegelapan.
Namun sepertinya Mirna banyak yang mengawalnya, hingga proses kelahiran sang calon pemusnah.
Begitu juga dengan anak Syafiyah yang memiliki darah manusia murni, namun sedikit memiliki kelemahan, tetapi merupakan keturunan yang berasal dari Ki Karso.
Nini Maru semakin gelisah, Ia masih membutuhkan banyak tumbal untuk penyempurnaannya. Namun semuanya selalu gagal karena ulah Mirna yang terus saja mengawasi gerak-geriknya.
Mirna sedang memasak makan malamnya. Sedangkan Syafiyah masih berada ditepian ranjangnya. Ia terpaksa mengambil cuti karena pergelangan kakinya yamg masih belum sempurnah.
Ia merasa jika kehamilannya semakin berat dan menyulitkannya untuk bergerak.
Mirna yang selalu membawa sarapan serta makan siang dan malamnya. Namun meskipun begitu, Ia masih belum dapat menerima kenyataan hidup se atap dengan Mirna.
Di lain sisi, Mirna selalu memenuhi kebutuhannya dan juga melayaninya dengan sangat baik tanpa mengeluh sedikitpun.
Dengan kondisi perut yang sama membuncitnya, hal itu membuat Mirna lebih banyak mengalah, sebab kondisi Ia dan Syafiyah sangatlah berbeda.
"Makan, Mbak.. Jangan sampai membahayakan Mbak serta anak yang didalam kandungan" ucap Mirna sembari meletakkan makanan tersebut diatas meja nakas.
Syafiyah mendengus kesal. Ia sangat bosan jika seharian harus berhadapan dengan Mirna. Ingin bekerja kondisinya tidak memungkinkan.
Mirna sudah hafal dengan sikap madunya, namun Ia masa bodoh dan mencoba mengaggapnya tidak terjadi apapun.
Dalam dirinya yang terpenting Syafiyah masih dapat Ia lindungi dari segala niat jahat Nini Maru dan rekan-rekannya.
"Kamu sudah hampir menuju lahiran. Sebaiknya Mas Satria kita panggil untuk pulang" Widuri menyarankan.
Mirna menganggukkan kepalanya "Ya.. Aku akan menemuinya, dan Aku menitipkan Mbak Syafiyah kepada kamu sebentar saja" pinta Mirna kepada Widuri.
Widuri tersenyum dan menyutujuinya. Lalu dengan kecepatan cahaya, Mirna melesat menemui Satria dengan perutnya yang membuncit.
Sebuah kamar yang sangat luas, tampak seorang pria tampan sedang fokus dalam dzikirnya. Ia menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah siapa yang mengunjunginya.
Mirna menghampirinya "Ada apa, Sayang?" tanya Satria dan menyudahi kegiatannya.
"Mas.. Kembalilah.. Sepertinya kelahiran bayi Mbak Syafiyah sebentar lagi, dan harap Mas mau menyambut kelahiran sang jabang bayi" ujar Mirna dengan sangat tenang.
Satria tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah.. Pulanglah terlebih dahulu, dan Mas akan menyusul." jawab Satria, lalu menghampiri Mirna dan membelai perut sang istri yang juga kian membuncit.
"Dia juga sebentar lagi akan lahir ke dunia, maka jagalah baik-baik" bisiknya dengan lembut. Lalu Ia mengecup kening Mirna "Pulanglah, Mas akan segera menyusul" ucap Satria dengan sangat lembut.
Mirna menganggukkan kepalanya, lalu melesat secepat cahaya dan meninggalkan Satria.
Sementra itu, Syafiyah sudah mulai dapat berjalan, namun tidak lagi dapat selincah dulu, sebab pergelangan kakinya belum begitu sembuh total.
Ia menuju ke arah dapur dengan tertatih. "Mirna..!" teriak Syafiyah dengan tangan kirinya nangkring dipinggangnya yang terasa sangat pegal, sedangkan tangan kanannya bertumpu pada tepian meja.
"Ada apa, Mbak?" tanya Widuri yang tampaknya baru muncul dari kamar Mirna.
Syafiyah melirik ke arah Widuri "Aku bukan panggil kamu, tapi panggil Mirna.. Lagian ngapain sih, Kamu betah banget tinggal disini" omel Syafiyah dengan nada ketus.
"Saya kan dipinta Satria untuk jagain, Mbak" jawqb Widuri dengan cepat.
"Halaah. Alasan saja kamu. Yang iyanya kamu itu mau cari perhatian sama suami saya" jawab Syafiyah kesal.
"Kok tau, Mbak?" jawab Widuri yang semakin membuat telinga Syafiyah panas.
Sesaat Mirna datang dengan membawa kantong kresek yang berisi berbagai bahan pokok untuk makan mereka siang ini.
"Sudahlah.. Mengapa kalian ini kalau bertemu selalu ribut saja" ucap Mirna menengahi keduanya yang selalu terlibat percekkokan.
Syafiyah mendengus kesal, sedangkan Widuri tersenyum nakal.
Mirna meletakkan kantong kresek diatas meja dan syafiyah menarik kursi kosong dan duduk disana.
"Mirna.. Buatin bubur ayam" pinta Syafiyah dengan kesal, sepertinya Ia masih jengkel dengan Widuri.
Mirna menganggukkan kepalanya. "Bentar, Mbak, saya suapkan bahannya.." jawab Mirna, lalu membuat bubur didalam magic com untuk mempercepatnya.
Sementara itu, Ia kemudian meracik bahan-bahan yang diperlukan. Widuri menghampiri Mirna yang berada diwashtafel mencuci daging ayam yang sudah dibersihkan.
"Apakah Kau sudah bertemu dengan Satria?" bisik Widuri, dan hampir tidak terdengar oleh Syafiyah.
Syafiyah memperhatikan Widuri dan juga Mirna yang tampak sangat serius dengan obrolannya, namun Ia tidak dapat mendengarnya.
"Sudah.. Dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang" jawab Mirna.
"Oh.. Syukurlah.." jawab Widuri dengan tatapan nanar.
Mirna melihatnya, ya.. Tatapan yang tak biasa, dan Ia tahu jika itu sebuah rasa yang penuh harapan.
"Bisa bantu gorengkan ayam ini setengahnya, untuk toping dan Aku ingin membuat bawang goreng serta bumbunya" pinta Mirna kepada Widuri.
Lalu Wanita peri itu menganggukkan kepalanya dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Mirna.
Dalam waktu satu jam, bubur ayam yang dipinta oleh Syafiyah telah siap santab.
"Ini, Mbak.. Bubur ayamnya sudah siap, moga suka" ucap Mirna sembari menghidangkan bubur ayam tersebut.
Syafiyah meraihnya dan menyantabnya "Enak.. Jawabnya dengan jujur, lalu menghabiskannya dalam sekejab.
Mirna menatap Widuri "Kamu mau?" tanya Mirna.
Widuri menganggukkan kepalanya, lalu Mirna menyajikan satu porsi untuk wanita peri tersebut.
Sedangkan Syafiyah beranjak pergi ke teras untuk mencari sinar mentari.
Widuri menatap bubur ayam yang dihidangkan oleh Mirna, lalu menyerap sari makanan tersebut dan meninggalkan ampasnya.
Syafiyah sudah beberapa hari ini mulai berjemur dan berjalan-jalan di agar kelahirannya lancar.
Namun Ia berfikir jika setelah melahirkan nanti, Ia akan bekerja kembali. Namun Ia bingung jika anak nanti akan diasuh siapa? Sebab Mirna juga akan melahirkan.
"Bagaimana jika diasuh dengan Widuri? Tetapi Aku tak menyukainya. " Syafiyah merasa dilema.
Saat Ia sedang dalam kegalauan. Ia melihat sesook wanita dibalik pohon rambutan yang tampaknya sedang mengintainy sedari tadi.
Syafiyah merasa penasaran dengan sosom yang menggunakan dress berwarna putih dengan rambut panjang terurai.
"Siapa Dia..? Mengapa beberapa hari ini Ia selalu berada ditempat itu?" Syafiyah berguman lirih.
Mirna yang merasakan kehadiran aura kegelapan, melesat keluar dan menghampiri Syafiyah "Mbak.. Sudah berjemurnya.. Lebih baik Mbak masuk saja, karena tidak baik berlama-lama diluar" titah Mirna.
Syafiyah melirik kepada Mirna dan mendengus kesal, namun Ia akhirnya memilih masuk, sebab Iabtak ingin melihat Widuri datang dan ikut mengomelinya.