
Satria duduk bersila dalam kebisuan. Ia diam dan bibirnya yang merapat tampak bergerak namun tidak kentara.
Jemarinya menggerak butir tasbih yang kini bergulir bersama tiap kata yang diucapkannya dengan kedua mata yang terpejam.
Ia berjalan menuju dimensi lain, Ia mencari keberadaan dimana Yanti dan ke tiga iblis sedang berada.
Ia tahu jika Yanti saat ini dalam masalah besar dan ini tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Sementara itu, Yanti duduk bersila untuk melakukan pertapaan bersama ketiga iblis yang bersemayqm didalam tubuhnya.
Baru saja Ia akan memulai pertapaannya, sosok kuntilanak kuning melintas dihadapannya, dan mencibirnya dengan kalimat yang sangat menjengkelkan.
"Yaelah.. Makin hari makin hancur saja tu muka" ucapnya sembari ngacir sebelum Yanti membalas ucapannya.
Seketika Ia kehilangn konsentrasi untuk melakukan pertapaannya.
"Dasar Kuntil kuning.. Mati bunuh diri karena patah hati saja banyak tingkah" Guman Yanti dengan sangat kesal.
Ia mencoba kembali fokus ke pertapaannya, meskipun rasanya Ia ingin segera mengejar kuntilanak kuning dan menghajarnya.
Tubuhnya yang kini sangat kacau harus segera diobatinya. Belatung sudah berada dimana-mana, bahkan bola mata kirinya sudah hampir meletus karena belatung itu berkerumun menggerogitinya.
Saat Ia akan memejamkan matanya untuk kembali bertapa, tiba-tiba angin yang bersemilir datang dengan sangat kencang dan menghantamnya.
Yanti terpental dari duduknya lalu menabrak sebatang pohon yang tak jauh dari tempat pertapaannya.
Wanita itu mengerang kesakitan. Seketika ketiga iblis yang ada didalam tubuhnya terperangah dan berusaha bangkit memaksa tubuh Yanti yang saat mereka kendalikan.
Ketiga Iblis itu tampak ketakutan, namun mereka percaya jika mereka bersatu maka kekuatan mereka akan sebanding dengan sosok yang kini berdiri dihadapannya.
Berbalik dengan ketiga iblis yang kini bersatu dalam kesatuan yang berada ditubuh wanita sesat itu, Yanti justru merasa terpana akan ketampanan pria dihadapannya, dan Ia merasa insecure dengan tampilannya yang sekarang.
Andai Ia kembali cantik seperti dulu, sungguh Ia ingin mendekap sosok didepannnya.
Cinta terpendam membuatnya begitu gila, hingga akhirnya membawa kesesatan yang nyata dan akhirnya Ia mergikan dirinya sendiri.
Tubuh dan jiwa yang bertolakan dengan ketiga iblis akhrinya saling bentrok, nakun kekuatan ketiga iblis dapat mengendalikan Yanti.
Mereka membuat Yanti mengikut segala apa yang diinginkan oleh ketga iblis itu.
Sosok yang kini berdiri dihadapan mereka tak lain adalah Satria.
Ia berdiri penuh kesahajaan menatap para makhluk laknat yang kini sedang bersatu untuk menguasai alam kegelapan.
Satria berharap dapat mengeluarkan ketiga makhluk itu dari tubuh Yanti, dan wanita itu hidup normal kembali.
Namun tampaknya ketiga iblis tersebut mengetahui apa rencana Satria.
Satria memutar kedua tangannya membentuk pola lingkaran, dan menggerakkan tasbih yang kini berada ditangannya dan dengan cepat melemparkannya kepada ketiga iblis yang kini sudah bersiap untuk melawannya.
Cahaya keperakan bergerak bersama terbangnya tasbih tersebut dan menuju kepada tubuh Yanti yang sudah sangat kacau tersebut.
Lalu dengan cekatan ketiga iblis itu memaksa tubuh Yanti untuk segera menghindar dan melesat menghindari serangan Satria.
kilatan cahaya keperakan itu akhirnya menghantam sebatang pohon yang tempat dimana tubuh kasar Yanti berada.
Kini tubuh Yanti sudah berada di pucuk pohon beringin yang menjadi tempat berlindungnya selama ini, Ia menatap Satria dengan tatapan sendu, namun ketiga Iblis marah kepadanya dan kini tatapannya berubah menjadi penuh amarah.
Ketiga iblis itu bersatu mengirimkan serangan balik kepada Satria.
Sebuah cahaya ungu yang berpendar ke seluruh arah membuat mata silau memandang.
Satria memejamkan kedua matanya, lalu kembali menarik tasbihnya, dan Ia membuat gerakan yang sama dan saat bersamaan, keduanya saling mengirimkan serangan yang mana cahaya itu saling beradu dan menimbulkan dentuman yang maha dahsyat dan membuat alam bergetar.
Satria mundur beberapa langkah, sedangkan tubuh Yanti kembali tepental dan kini nyangkut di sebatang dahan pohon yang tak jauh darinya.
Satria memegangi dadanya yang sedikit nyeri, dan ditubuh kasarnya yang masih berada dikamar, tampak darah mengalir dari sudut bibirnya.
Ternyata ketika ketiga iblis itu bersatu, maka kekuatan mereka sedikit tangguh untuk melawannya.
Satria kembali mengembalikan hawa murni ketubuhnya, mencoba mengobati luka dalamnya.
Sedangkan tubuh kasar Yanti semakin parah, dimana bola mata kirinya yang dipenuhi belatung itu mencuat keluar dan hampir putus, nakun tetap bergelantungan dari rongga matanya.
Ketiga iblis itu terus memaksa tubuh kasarnya untuk memberikan perlawanan yang harus dilakukan oleh ketiganya.
Rasa minder dalam diri Yanti yang sesungguhnya membuatnya serba salah.
Satria kembali melancarkan serangan tersebut. Kali ini ajian segoro geni akan dijadikannya sebagai pemusnah kehancuran bagi ketiga iblis itu, meskipun tubuh Yanti harus menjadi korbannya.
Setidaknya mengorbankan satu orang demi menyelamatkan banyak orang mungkin itulah yang kini ada dibenak Satria.
Dengan gerakan cepat, Satria merafalkan mantra ajian segoro geni, lalu kembali menggerakkan tasbihnya.
Seketika hawa panas mulai datang dan setiap iblis ataupun jin yang berada disekitarnya meraung kesakitan dan merasa seakan terbakar karena pendaran hawa panas tersebut.
Bahkan beberapa iblis yang mencoba menyaksikan pertarungan antara ketiga iblis itu dengan Satria ikut terbakar dan ngacir melarikan diri.
Sementara ketiga iblis itu mencoba bertahan dan memberikan perlawanan.
Ketiga bersatu mengeluarkan segala kemampuan yang mereka miliki, lalu mengimkan serangan yang secara bersamaan dengan Satria.
Gulungan api dan cahaya jingga itu melebur menjdi satu, hingga membuat pendaran api dari ajian segoro geni itu menghantam tubuh Yanti dan mengenai ketiga iblis tersebut.
Tubuh kasar Yanti terpental jauh. Ketiga iblis itu meraung kesakitan kerena api yang membakar tubuh mereka.
Sedangkan Satria terpental beberpa meter dari posisinya berdiri.
Dengan cepat Ia segera bangkit dan melesat menghampiri tubuh kasar Yanti yang tampak mengejang karena ketiga iblis yang berada ditubuhnya tak juga ingin pergi dan tetap bertahan dalam raganya yang sudah tidak karuan lagi.
Satria ingin segera menghabisi segera ketiga iblis tersebut. Ia merafalkan doa yang akan mengeluarkan ketiga iblis dari tubuh Yanti, namun tiba-tiba sebuah kelebatan bayangan dengan cepat melayangkan tendangan kepada Satria.
Tubuh Satria terpental beberap meter, dan belum sempat Satria melihat siapa penyeranganya, kini kelebatan itu sudah membawa pergi tubuh kasar Yanti bersama ketiga iblis laknat tersebut menembus kegelapan malam yang pekat.
Satria memegangi dadanya yang terasa nyeri, lalu Ia kembali menyalurkan hawa murni ke tubuhnya, dan memilih kembali ke raganya.
Sukmanya menyatu kembali kedalam raganya yang kini sedang duduk bersila menghadap kiblat dan Ia membuka matanya, lalu mengjela nafasnya dengan berat. Ia melirik jam didindingnya yang menunjukkan pukul 2 dini hari, lalu Ia melanjutkan shalat lailnya dua rakaat dan satu witir saja, lalu bermunajat kepada Rabb-Nya.