
Yanti kembali menutup ikatan tali didalam plastik tersebut. Aroma Asin dan anyir juga menjadi satu.
Ia memikirkan bagaimana caranya agar jasad itu dapat hilang sebagai barang bukti.
Yanti teringat akan Didi. Pemuda pemburu biawak tersebut sepertinya dapat diandalkan.
Yanti ingin Didi mencarikan dua ekor biawak yang ditangkap hidup-hidup dan akan dipeliharanya untuk memamkan daging-daging dari korbannya.
Biawak merupakan hewan reptil paling rakus karena memakan segalanya. Jika memelihara buaya, Ia takut jika nanti Ia yang akan jadi korbannya.
Yanti akhirnya bernafas lega, Ia telah menemukan solusinya.
Kini Ia masih berfikir bagaimana caranya mencelakai Syafiyah tanpa terdeteksi, sebab Ia tidak jngin berurusan dengan polisi. Yanti harus memikirkan cara yang lebih rapih.
*****
Siang ini mentari bersinar sangat terik, Yanti sengaja duduk didepan warungnya, Ia sengaja menunggu dua pemuda yang biasanya melewati warungnya membawa hewan buruan.
Benar saja, tampak kedua pemuda itu menenteng hewan buruannya dan Yanti memanggilnya.
"Bang.. bang, sini Bang" teriak Yanti memanggil kedua pemuda itu.
Lalu Didi dan juga Dino menghampirinya. "Ada apa, Mbak? Mau borong semua?" ucap Didi yang merasa tak ingin berlama-lama didepan warung Yanti, sebab Ia merasakan ada hal aneh dan sangat janggal.
"Iya.. Saya borong semuanya, sekalian biawaknya" ucap Yanti bersemangat.
"Ya sudah, berapa Mbak mau bayarin?" tanya Didi tanpa basa-basi.
"Empat ratus ribu, deh" jawab Yanti dengan cepat.
"Ya sudah, neh barangnya" ucap Didi sembari menyerahkan hewan tersebut.
Yanti meraihnya, lalu membuka dompetnya dan menyerahkan uang yang disepakati.
Didi meraih uang tersebut dan ingin segera pergi dari warung itu "Bang, jangan pergi dulu, ada yang mau saya omongin" cegah Yanti dan ingin pemuda itu tidak dulu pergi.
Didi dan Dino menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya menatap Yanti.
"Ada apalagi, Mbak?" tanya Didi sedikit jengah.
"Ih.. Jadi anak lajang jangan jutek gitu, dong Bang" jawab Yanti ngedumel.
Didi menghela nafasnya dengan kasar "Iya.. Ada apalagi, Mbak?" ucap Didi menurunkan volume nada bicaranya.
"Saya mau pesan biawak berukuran besar, tetapi yang masih hidup, jangan yang sudah tewas begini" ucap Yanti sembari menenteng biawak yang sudah mati tersebut.
Didi mengerutkan keningnya "Emang untuk apaan Mbak?" tanya Didi penuh selidik.
"Kalau yang masih hidup disembelih itu rasa dagingnya lebih manis, Bang. Ketimbang yang sudah mati seperti ini" jawab Yanti mencari alasan yang yepat agar tidak dicurigai oleh Didi dan Dino.
"Mbak maunya kapan?" tanya Didi dengan penasaran.
"Ya secepatnya kalau ada sekarang ya lebih baik. Nanti saya bayarin satu juta" Yanti memberikan iming-iming yang menggiurkan.
Didi menatap pada Dino "Bagaimana, Din? Mau gak balik ke hutan?" tanya Didi kepada sahabatnya.
Dino meruncingkan bibirnya "Tambahin dong, Mbak.. Soalnya kalau yang hidup itu pakai perangkap, tidak ditembak.. Ya minimal 2 jutalah" Dino mencoba bernegoisasi dengan Yanti.
Yanti tampak berfikir, uang 2 juta baginya sangatlah kecil. "Baiklah, saya sepakat" ucap Yanti menyepakati harga yang diminta oleh Dino.
"Tetapi sekarang, Ya Bang" ucap Yanti mencoba memastikan pesanannnya akan didapat hari ini.
"Oke, Mbak.. Kami buat perangkapnya dahulu" jawab Didi lalu mereka berpamitan untuk pulang dan membuat perangkaip untuk mendapatkan biawak yang diinginkan oleh Yanti.
Kedua pemuda itu berjalan dengan riang, sebab akan mendapatkan uang yang lumayan sedikit banyak dari biasanya.
Sementara itu, Syafiyah terbangun dari tidurnya. Ia merasa kelelahan namun Ia masih bingung dengan sentuhan itu, sentuhan tak kasat mata, namun begitu nyata Ia rasakan.
Syafiyah teringat akan phonselnya, dan melihat jika panggilannya telah berakhir.
Namun lagi-lagi Ia kembali berfikir tentang sosok Mirna yang Ia lihat di sisi suaminya saat tadi sedang melakukan vedeo call.
Syafiyah beranjak dari ranjangnya, lalu bergegas menuju keluar dan menghampiri kamar Mirna.
Sesampainya didepan pintu kamar Mirna, Ia menggedor pintu dengan cepat.
"Mir.. Mirna" teriak Syafiyah kencang.
"Iya, Mbak" terdengar suara sahutan Mirna dari dalam kamar denga nada parau.
"Oh.. Ya sudah" ucap Syafiyah datar "Sepertinya Dia tertidur, lalu siapa yang berada dikamar Mas Satria?" Syafiyah merasa sangat pusing memikirkannya.
Wanita mengacak rambutnya dan merasa masih bingung dengan apa yang Ia lihat.
Ia kembali ke kamarnya, dan membersihkan diri, sebab Ia merasa basah saat merasakan sentuhan tersebut.
Setelah selesai mandi, Ia mengenakan pakaian santai dan berniat akan berbelanja untuk menu makan malam.
Setelah selesai berdandan seadanya, Ia bergegas keluar, dan Ia melihat Mirna berada didapur, berkutat dengan piring kotor.
"Heeemm.. Ternyata Ia sudah bamgun, kirain masih molor" Guman Syafiyah ketus.
Lalu Ia meraih kunci mobilnya dan ingin pergi keluar untuk berbelanja. Seketika Mirna memanggilnya.
"Mbak.. Jangan keluar!" teriak Syafiyah dan menghentikan cucian piringnya.
Syafiyah menoleh ke arah Mirna yang tampak menghampirinya dan seperti memasang wajah garang.
"Apaan sih? Pakai teriak-teriak" jawab Syafiyah ketus.
"Coba Mbak lihat diluar, safak sudah menggantung dialngit, itu tandanya pergantian waktu menuju Maghrib sebentar lagi, dan banyak makhluk tak kasat mata berkeliaran" ucap Mirna sembari menunjuk langit berwarna jingga.
Syafiyah melihat ke arah yang ditunjuk Mirna "Masih terang, masih ada waktu, saya mau berbelanja" ucap Syafiyah menepis bahu Mirna agar tak menghalangi jalannya.
Mirna menangkap pergelangan tangan Syafiyah dan menatapnya tajam "Mas Satria meminta saya untuk menjaga Mbak, dan ini adalah tugas saya untuk melindungi Mbak, maka turuti perintah saya" ucap Mirna dengan nada penuh penekanan.
Seketika Syafiyah merasa kesal dengan apa yang diucapkan oleh Mirna.
"Eh.. Emangnya kamu siapa berani ngatur-ngatur saya, Ha?! Sok pakai mau ngelindungi saya segala, emangnya kamu wonder women?!" sergah Syafiyah dengan kesal.
Suara adu mulut itu terdengar sampai kerumah Bu Ratna, dan membuat wanita keluar untuk melihatnya.
"Waduuh, Mbak-mbak yang cantik, kenapa senja-senja begini pada ribut? Ngeributin apaan sih? Kalau sudah memiliki nasib harus bermadu ya terima saja kenyataannya" ucap Bu Ratna yang bingung mau mengatakan apa.
"Ini, Bu. Saya sudah larang Mbak Syafiyah agar tidak keluar senja hari, soalnya Mbak Syafiyah sedang mengandung dan itu tidak baik, karena banyak makhluk tak kasat mata yang akan mengincarnya" ucap Mirna membela diri.
Bu Ratna memandang Syafiyah "Nak Syafiyah, yang dikatakan oleh Mirna itu benar, kalau mau keluar itu habiskan waktu maghrib karena saat waktu para makhluk halus berkeliaran, dan kondisi bumi juga sedang tidak seimbang, lebih baik dirumah dulu, nanti kalau sudah lepas Maghrib baru keluar" ucap Bu Ratna mencoba menasehati Syafiyah.
"Pokoknya dari Senja hingga malam Mbak Syafiyah dirumah, tidak boleh keluar, itu pesan Mas Satria" ucap Mirna mulai menekan.
Syafiyah semakin kesal "Berisik banget sih Kamu, kamu fikir Mas Satria itu hanya milik kamu dan seenaknya saja kamu ngatur hidup saya.." balas Syafiyah.
"Mbak.. Tolong deh, ini demi kebaikan Mbak juga"Bu Ratna menimpali.
"Eh. Bu, jangan ikut campur urusan saya!" Syafiyah tersulut emosinya karena Bu Ratna mendukung Mirna.
"Eh, Mbak.. Saya kasih tau, Ya.. Saya juga gak mau ikut campur urusan, Mbak. Tapi karena suara Mbak terdengar ke rumah Saya, dan itu sangat mengganggu" Bu Ratna mulai kesal.
"Dan satu hal Mbak harus ingat, Mbak itu pendatang dikampung ini dan kebetulan membeli rumah almarhum Mbah Karso Kakeknya Mas Satria, dan dulunya dikampung ini ada teror kuntilanak pemakan janin, maka itu jangan ngeyel. Emang situ mau janinnya dimakan kuntilanak?!" ucap Bu Ratna kesal, lalu pergi meninggalkan keduanya.
Dan saat telah keluar dari teras, Ia memutar kembali tubuhnya "Anak saya pernah menajdi korban dari kuntilanak pemakan janin, jika masih ngeyel juga, terserah..!!" ucap Bu Ratna lalu pergi menuju rumahnya.
Syafiyah memandang Mirna dengan kesal, lalu kembali masuk kedalam kamar dan menghempaskan pintu kamar dengan sangat kuat, hingga membuat Mirna tersentak.
Lalu Mirna kembali menutup pintu rumah dan masuk menuju dapur.