
Yanti keluar dari warungnya yang sebentar lagi akan rampung, dan esok Ia sudah dapat membukanya.
Jarak warung dan juga rumah Mirna yang hanya berjarak 50 meter membuatnya tanpa sengaja melihat mobil Satria terparkir didepan rumah kosong tersebut.
Yanti mengerutkan keningnya, Ia begitu teramat penasaran karena merasa sangat aneh jika kebetulan Satria berada dirumah yang menjadi tetangga satu-satunya itu.
Dengan rasa penasaran yang sangat kuat, Ia mengendap-ngendap untuk melihat kebenarannya apakah itu benar Satria sang pria tampan suami dari Syafiyah atau hanya sekedar dugaannya saja.
Yanti telah mencapi dapur belakang Mirna yang tertutup, Ia merasa begitu sangat penasaran dengan suara lenguhan dan rintihan dari seorang wanita.
Jantung Yanti berdegub kencang, rasa penasarannya semakin kuat untuk melihat siapa melakukan aksi panas diranjang ditengah siang hari bolong.
Ia memutar langkahnya menuju dinding kamar, mencari celah melalui jendela kamar dan mencoba mengintip.
Seketika Ia membolakan matanya dan membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ia melihat bagaimana liarnya Satria saat memacu tubuhnya bersama Mirna dan menjemput puncak surgawinya.
Yanti melihat keduanya terkapar sembari berpelukan, Ia dengan langkah berjinjit beranjak pergi dari rumah Mirna dengan dikuasi hasrat karena menyaksikan pergumulan keduanya.
"Gila.. Berarti benar kabar yang ku dengar saatendekam dipenjara, jika Satria menikahi gadis misterius itu" Gumannya dengan lirih.
Yanti merasa gelisah karena masih dipenuhi hasrat bergelora karena aksinya mengintip barusan.
Saat bersamaan, Kakek Nugroho muncul entah dari mana dengan tiba-tiba.
Pria senja itu membekap Yanti dan menyeretnya kedalam semak lalu melampiaskan hasrat Yanti yang sedang membutuhkan pelampiasan.
Karena merasa membutuhkan, Yanti hanya membiarkan tubuh pria berkeriput itu menggarapnya, toh Ia juga sedang menginginkannya.
Ditempat lain, Satria membersihkan dirinya, dan begitu juga dengan Mirna.
Setelah itu, keduanya berniat makan siang dengan membeli saja.
"Rumah ini terlalu panas, Esok akan diperbaiki untjk memasang platfom dan juga AC agar Kamu tidak merasa gerah" ucap Satria sembari mengamati setiap detail rumah mungil Mirna.
Mirna hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Satria, karena baginya semua itu tidak berpengaruh untuknya. Sebab menikah dengan Satria sudah membuatnya merasa adem dan selalu nyaman.
"Mas beli makan siang dulu, ya.." ucap Satria dengan lembut, sembari beranjak dari tempatnya.
Mirna hanya menganggukkan kepalanya dengan lembut.
Saat akan melangkah keluar, phonselnya berserjng, satu panggilan masuk dari Syafiyah.
"Iya, Sayang.. Ada apa?" tanya Satria dengan tenang.
"Mas dan Mirna lagi dimana?" tanya Syafiyah dengan nada penuh selidik.
Satria tersentak dengan suara Syafiyah yang terdengar kesal.
"Mirna minta diantarkan pulang kerumah untuk seminggu kedepan, jadi Mas antarkan" jawab Satria mencoba tenang.
"Oh.. Baguslah.. Ternyata Ia sadar diri juga" jawab Syafiyah dengan nada sinis.
Satria sudah menduga ini akan terjadi, namun ini bukan salahnya, sebab Syafiyah yang memulai bermain api, saat itu Satria sudah menolak untuk menikahi Mirna, namun Syafiyah yang memaksanya, dan setelah menikahi Mirna, ternyata Mirna lebih membuatnya nyaman dan tak ingin berpisah.
"Mas.. Koq diam saja, Sih?" tanya Syafiyah dengan kesal.
"Iya.. Ada apa?" tanya Satria dengan lembut.
"Belikan Fiyah nasi padang, Ya.. Pakai semur daging" titahnya dengan cepat.
Satria mendengus nafas berat, bukan Ia tak dapat membantah, namun Syafiyah juga menjadi takdir dari perjalanan hidupnya yang harus Ia terima.
"Ya sudah, Fiyah tunggu" ucap Sayfiyah dari seberang telefon.
Satria menatap Mirna, namun sebuah senyuman terlukis dibibir wanita yang penuh pesona tersebut.
"Pergilah, Mas.. Mirna masih ada stok mie instan di rumah, Mirna bisa memasaknya" ucap Mirna dengan lembut.
Satria mengamggukkan kepalanya "Nanti malam akan Mas usahakan untuk datang, meski sejenak" ucap Satria mencoba berjanji kepada istri keduanya.
Satria melangkah pergi dan mengendarai mobilnya untuk membeli nasi padang pesanan dari Syafiyah.
Setelah mobi suaminya menghilang ditikungan jalan, Mirna menuju dapurnya untuk memasak.
Seaat Ia terdiam, lalu memejamkan matanya dan tersenyum sinis. Ia membuka pintu dapurnya, lalu mengambil sebutir batu kerikil yang terdapat di depan pintu dapur, dengan jemari telunjuk dan juga jempolnnya, Ia menjentikkan batu kerikil itu, lalu menembus semak belukar dengan kecepatan tinggi dan mengenai bokong seorang wanita yang sedang bergumul dengan cara berdiri sembari memegangi sebatang pohon.
Seketika suara pekikan kesakitan keluar dari mulut wanita itu yang tak lain adalah Yanti.
Namun pria berkulit keriput itu tak menghiraukan pekikan kesakitan Yanti karena Ia ingin segera menuntaskan permainannya.
Yanti merasakan bokong bagian samping kirinya sangat sakit dan berdarah, hingga akhirnya Kakek Nugroho mengakhiri permainannya, dan melepaskan Yanti.
Yanti memeriksa luka dibagian samping bokongnya yang tampak berdarah dan membengkak karena sebuah benda keras mendarat dengan sangat keras.
Yanti meringis kesakitan, dan Kakek senja itu melihatnya.
Kakek Nugroho tersenyum mencibir, Ia tahu siapa pelaku tersebut, dan akan membuat perhitungan dengannya.
Yanti sudah mengenakan pakaiannya, Ia beranjak dari semak meninggalkan kakek Nugroho dan masih bingung siapa yang telah berbua jahil dengannya.
Seaampainya diwarung tersebut, tukang bangunan itu sudah menyelesaikan pekerjaannya dan esok Yanti sudah dapat membuka warungnya.
Sementara itu, Kakek Nugroho keluar dari semak dan menuju rumah Mirna.
Tatapan tajamnya memandang dapur Mirna. Ia tahu jika Mirna saat ini sedang makan mie instan.
Semenjak Mirna menikah dengan Satria, Kakek Nugroho menjadi berubah dan menaruh rasa sakit hati serta dendam kepada Mirna.
Sorot matanya memancarkan kebencian kepada Mirna. Saat ini Mirna merasakan hawa panas yang bersal dari belakang dapurnya.
Mirna menghabiskan suapan terakhirnya dengan cepat, lalu Melemparkan sendok garpu yang dipegangnya dan melesat dengan cepat melalui jendela kaca dapur yang terbuka dan menuju sasarannya.
Dengan gerakan cepat pria senja itu menangkap sendok garpu tersebut dengan jemari tengah dan telunjuknya.
Pria itu tersenyum sinis, lalu kembali melemparkanya kearah pintu dapur Mirna dan tertancap disana.
Kakek Nugroho beranjak meninggalkan rumah Mirna dengan penuh amarah dan kekesalan.
Ia akan membalaskan semua dendamnya, jika waktunya telah tiba nanti.
Mirna menatap lurus pintu dapurnya yang masih tertutup, Ia merasakan hawa panas tersebut telah menghilang dan memastikan makhluk setengah iblis itu telah pergi dari belakang rumahnya.
"Pengacau" ucap Mirna sembari beranjak bangkit dan mencuci piring kotornya.
Tak berselang lama, Ia mendengar suara deru mesin mobil berhenti didepan rumahnya, Ia bergegas keluar dan melihat didepan rumahnya sebuah mobil yang membawa bahan bagunan.
Mirna menduga jika itu untuk platfom rumahnya, sebab tadi Satria mengeluh jika rumahnya sangat panas dan membuatnya berkeringat.
"Ini rumah Mbak Mirna?" tanya seorang sopir pick up untuk memastikan.
Mirna menganggukkan kepalanya untuk membenarkan. Lalu sopir dan satu orang kenek menurunkan bahan yang dikirim kerumahnya.