
Sosok ceking dengan tubuh kurus kering itu melayang dengan meninggalkan suara lengkingan yang sangat mengerikan.
Daya sengatan yang dilancarkan oleh tubuh Angkasa membuatnya terasa sangat menyakitkan.
"Siaallan..!! Bagaimana mungkin cucu buyutku sendiri yang membuatku harus terluka seperti ini.." gerutu pria ceking itu dengan sangat penuh amarah.
Ia tidak pernah membayangkan, jika cucu buyutnya telah membuatnya luka dalam dan hampir kehabisan energi.
Ia melesat menembus kegelapan malam dan menuju ke goa.
Sesampainya didalam goa, Ia masih melihat Yanti dengan tiga iblis didalamnya melakukan pertapaan dan Ia tidak ingin mengganggunya.
Energi sudah hampir habis terkuras saat memberikan hawa kurni kepada Yanti dan 3 iblis itu saat menderita serangan dari Satria, kini Ia yang harus mengalami serangan dati anak Satria yang tak lain adalah cucu buyutnya sendiri.
"Masih bocah saja Ia sudah membuatku seperti ini, bagaimana kelak jika Ia mewarisi ajian segoro geni milik Satria, bisa hangus aku dibuatnya" guman Ki Kliwon dengan kesal.
Ia menuju ke lorong goa. Mencari tempat pertapaan yang sepi, dan Ia ingin mengembalikan energinya yang sempat tersedot oleh Angkasa.
"Ternyata benar, bocah itu di jaga oleh Chakra Mahkota, dan ini sangat berbahaya" guman Ki Kliwon dengan lirih.
Ia kemudia memilih batu besar dan melesat duduk di atasnya, lalu duduk bersila sembari memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya didepan dada dan berkonsentrasi mengembalikan tenaga dalamnya.
Saat menjelang tengah malam, Ki Kliwon mendengar rintihan Nini Maru yang sangat menyayat hati. Ia menghentikan semedinya dan melesat untuk melihat apa yang terjadi.
Tampak Yanti mengejang dengan tubuh yang terguncang.
"Ni.. Ada apa ini..?" tanya Ki Kliwon dengan suara parau.
"Ki.. Tolong aku.. Aku butuh janin dan darah, Ki.. Aku merasakan sakit yang kuar biasa dari pukulan Satria" ucap Nini Maru parau.
Tubuh Yanti terus bergerak tak karuan dan kejangnya semakin kuat bagaikan orang yang hendak menghabiskan nyawa.
"Aku sudah berusaha, Ni.. Tapi malam ini Aku gagal mendapatkannya" ucap Ki Kliwon menjelaskan.
Tubuh Yanti semakin bergetar hebat, Ia bahkan sampai terlempar dari duduknya dan terjerambab di lantai goa dan membuat kepalanya terbentur lantai batuan cadas hingga tubuh kasarnya mengalami luka dibagian kepalany dan menimbulkan benjolan serta darah yang mengalir dari kuka tersebut.
"Ini sakit sekali, Ki.. Aku seperti merasa terbakar" keluh Nink Maru kepada ki Kliwon.
"Kalau darah Baabi hutan mungkin bisa untuk sementara mengurangi rasa sakitmu, sembari aku menemukan janin sebagai penwarnya" Ki Kliwon menyarankan.
"Terserah saja, Ki.. Aku lagi butuh darah secepatnya.." jawab Nini Maru yang tak sanggup lagi menahan rasa panas didalam tubuhnya kareba terkena ajian segoro geni yang dilancarkan oleh Satria saat pertarungan tadi.
Tubuh Yanti tampak meneteskan darah karena terkena ge-sekan dari lantai goa yang terbuat dari batuan cadas.
Seketika rasa gatal timbul karena kuman yang berada dilantai itu melekat pada luka boroknya.
Ki Kliwon dengan segera melesat mencari hewan baabi hutan saat tengah malam ini.
Dan sangat mudah baginya menemukannya, karena hewan itu beraktifitas pada malam hari.
Segerombolan hewan itu sedang mencari makan, dan membuat Ki Kliwon menangkap salah satunya dan memanggul dipundaknya, lalu melesat membelah kegelapan malam dan menuju goa.
Sesampainya di goa, Ia mencabik leher leher hewan tersebut dan mengucurkan darahnya kepada tubuh Yanti dan menampungkannya ke mulut wanita itu hingga terminum dengan sangat rakus.
Setelah puas, Nini Maru berhenti mengge-linjang, namun naluri Iblis Rey bangkit, dan bola mata Yanti terbuka.
Yanti tidak menyadari dengan apa yang terjadi, sebab kini Ia sedang dikendalikan oleh sosok iblis tersebut.
Dengan rakusnya Rey menyantab hewan tersebut hingga tanpa sisa, dan Rey tidak menyadari, jika didalam hewan itu teradapat ratusan farasit yang tumbuh didalam daging hewan tersebut dan kini berpindah ke tubuh Yanti karean Rey memakannya tanpa proses pemasakan.
Tubuh kasar Yanti terlentang dilantai karena kekenyangan.
Namun farasit yang tadi masuk kedalam tubuhnya kini memiliki tempat untuk menjadi sarana mengambil nutrisi yang ada didalam tubuh Yanti.
Tubuh itu kini penuh dengan farasit yang tak lain adalah cacing pita yang sangat berbahaya bagi tubuhnya.
Fatasit itu dengan cepat menyebar keseluruh organ tubuhnya dan bahkan ada yang bertelur.
Yanti merasakan tubuhnya tiba--tiba sangat gatal dan Iapun mulai menggaruknya.
Ki Kliwon yang melihat kondisi Yanti semakin bingung, dimana saat Nini Maru sudah berhenti mengeluh, kini tubuh Yanti pula yang harus mengalami gatal-gatal.
Ki Kliwon merasa bingung harus mengahadapi masalah para sekutunya.
Melihat hal tersebut, Ki Kliwon melesat dengan cepat dan menuju ke arah batu besar untuk kembali melakukan pertapaan dan membiarkan tubuh kasar Yanti terus menggaruk karena merasa sangat gatal.
Baginya Nini Maru sudah tidak cerewet lagi itu yang terpenting.
Nini Maru mencoba menenangkan Yanti yang merasa sangat gatal pada tubuhnya.
Kini tubuh kasar Yanti kembali penuh luka dan darah yang mengalir dari luka tersebut membuat Ia kembali mengerikan.
sementara itu, Jauh disana, Satria yang saat ini mengetahui jika kedua anaknya berusaha diculik oleh Ki Kliwon melakukan peringatan kepada makhkuk ceking tersebut.
Saat Ki Kliwon sedang melakukan semedi, Satria melakukan tirakatnya menembus alam ghaib.
Sukmanya bertemu dengan sukma Ki Kliwon, lalu mereka saling bertatapan satu sama lain "Sekali lagi kamu berani mencoba menganganggu puteraku, maka ku pastikan kau akan hangus terbakar dan tak akan lagi ada sukmamu yang dapat kau andalka" ancam Satria.
Ki Kliwon mencibir dengan tatapan sinis "Heeei.. Angkasa itu adalah cucu buyutku, dan Aku memiliki hak atasnya" jawab Ki Kliwon dengan tatapan tak suka.
"Dia bukan titisanmu, maka menyingkirlah" Satria mencoba mengingatkan.
Dengan cepat Ki Kliwon tertawa terbahak "Bagaimanapun Ia adalah titisanku, dan Kau tidak dapat melarangku untuk memilikinya..!" ucap Ki Kliwon dengan cepat.
Seketika Satria tak ingin lagi berdebat, dan Ia merafalkan dzikirnya, lalu melemparkan tasbih tersebut ke arah pria ceking tersebut.
Ki Kliwon terperangah dan dengan cepat melesat menghindari serangan Satria yang tiba-tiba saja.
Namun Ia terlambat, tasbih itu mengenai punggunggnya saat berniat akan berlari menghindar.
"Aaassrrrgghh.." teriak Ki Kliwon saat tasbih itu menghantam punggungnya.
Rasa panas menjalar ditubuhnya dan membuatnya segera menghilang.
Ki Kliwon terjerembab dilantai goa. Tubuh kurusnya menghantam lantai goa dengan sangat keras dan membuat tersungkur.
Ia merasakan panas yang luar biasa, dan ini adalah yang dimaksud oleh Nini Maru saat mengeluh rasa panas pada tubuhnya.